Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
15. Bingung



Tessa datang ke tempat dimana dia janjian dengan Defan. Disana, Defan telah menunggu di dalam private room. Dengan gaya angkuh, menyilangkan kakinya. Defan menatap Tessa dengan tajam.


Berbeda dengan Tessa yang merasa sangat bahagia saat melihat Defan yang terlihat begitu menawan. Dalam hatinya berkata, "jadi itu beneran Defan." Ia tersenyum senang.


"Def, maaf kalau menunggu lama." Tessa berjalan mendekati Defan. Dia juga memegang lengan Defan. Seolah dia sudah sangat akrab Defan.


Namun, secara refleks tangan Defan terangkat. Itu tanda untuk orang-orang disekitarnya. Dia ingin pengawalnya menyingkirkan Tessa darinya. Seketika majulah dua anak buah Defan yang menarik Tessa menjauh dari Defan.


"Kalian apa-apaan? Lepasin!" tentu saja Tessa menjadi kesal.


"Def, ini apa-apaan?" tanya Tessa yang tak tahu apa-apa.


Defan berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan pelan mendekati Tessa. "Kamu Tessa temannya Anindya? Anindya Larasati." tanya Defan menatapnya dengan tajam.


"I...iya." Tessa menjadi takut karena tatapan Defan tersebut.


"Aku sudah pernah peringatkan ke kamu, jangan pernah sentuh Anindya! Tapi kenapa kamu masih ngeyel?" tanya Defan lagi dengan mata melotot.


"Aku sudah bilang, dia calon istriku." imbuh Defan.


"Tapi Anin sendiri yang bilang dia menolak kamu. Dia bilang nggak suka sama kamu. Dan sekarang dia deket sama om-om." jawab Tessa sekaligus memprovokasi Defan.


"Waktu itu aku kesel karena dia bilang tidak suka kamu bahkan nolak kamu. Aku kesel karena dia sombong, berani tolak Defan Aleandro. Makanya aku kasih dia pelajaran." tutur Tessa dengan gugup. Apalagi kedua anak buah Defan memegangnya dengan sangat erat.


Sementara Defan tidak mudah terprovokasi dengan perkataan Tessa. Dengan kasar dia mencepit kedua pipi Tessa dengan satu tangan. "Ini peringatan terakhirku, kalau kamu masih berani provokasi atau sentuh Anindya. Kamu akan mendapatkan lebih dari ini!" kata Defan.


Lalu dia menjentikan jarinya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Defan meminta anak buahnya untuk memberi pelajaran untuk Tessa. Agar tidak kapok dan tidak berani lagi menyentuh Anin. Entah dengan tangannya sendiri atau melalui tangan orang lain.


"Defan aku minta maaf, aku tidak akan ganggu Anin lagi. Lepasin aku Defan!" seru Tessa yang ketakutan.


"Lagipula kenapa kamu peduli dengan Anin? Dia aja nggak suka sama kamu. Dia sudah punya pacar, dan sekarang dia dengan om-om, tadi pagi dia diantar ke kampus." seru Tessa yang membuat langkah Defan terhenti.


Defan mundur beberapa langkah sampai di depan Tessa kembali. "Bukan urusan kamu." kata Defan dengan dingin.


"Kalau kamu berani sentuh aku. Papa aku akan tuntut kamu." seru Tessa sudah frustasi.


"Oh.." Defan tersenyum sinis mendengar ancaman Tessa.


"Silahkan! Kebetulan aku juga punya beberapa bukti kalau papa kamu tidak taat bayar pajak. Sekalian aja aku laporin yak.."


"Jangan! Oke Defan, aku salah. Aku minta maaf, tolong jangan sentuh keluargaku. Aku tidak akan ganggu Anin lagi." mohon Tessa tapi sama sekali tidak digubris oleh Defan.


Dia segera meninggalkan tempat tersebut dengan tersenyum sinis. Diikuti oleh Rafa yang masih setia menemani Defan.


"Reno sama Julian sudah sampai?" tanyanya kepada Rafa.


"Sudah. Mereka menunggu kamu." jawab Rafa.


Segera keduanya bergegas ke kafe dimana Defan janjian dengan kedua saudaranya. Moment itu sangatlah langka, jadi Defan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


Rafa, Defan, Julian dan juga Reno terhanyut dalam kenangan masa kecil mereka. "Seandainya papa masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia melihat kita tumbuh seperti sekarang." kata Reno.


"Def, kamu jangan terlalu memikirkan apa kata mama ya! Aku sama Julian sayang sama kamu." imbuh Reno.


"Iya Ren. Aku nggak apa kok."


"Oh iya, kata Julian kamu sudah nikah? Kenapa nggak kasih tahu keluarga?" tanya Reno lagi.


"Terus kenapa nggak kamu ajak sekalian?"


"Kita nggak adain acara apa-apa kok. Kapan-kapan aku ajak dia ke rumah." jawab Defan dengan santai.


"Mending jangan ketemu istrinya kak Defan deh kak, orangnya nyebelin banget." sahut Julian yang masih kesal dengan Anin.


Sementara Reno, Defan dan Rafa hanya tertawa kecil mendengar perkataan Julian. "Jangan gitu! Dia kan kakak ipar kamu." kata Reno.


"Raf, makasih ya udah jagain Defan." kata Reno kepada Rafa.


"Iya Ren. Udah sewajarnya sih aku selalu bersama Defan. Setelah orang tuaku meninggal, hanya dia keluargaku." jawab Rafa.


Sesampainya di rumah. Defan segera menuju kamar. Sebelumnya, dia mendapat laporan dari kepala pembantu dirumahnya jika Anin tidak keluar kamar dari tadi sore juga tidak makan malam.


Defan pun segera bergegas ke kamar. Takut terjadi apa-apa dengan Anin. Klik. Defan menyalakan lampu. Dia melihat Anin yang sudah tertidur. Segera dia mendekat dan duduk di sebelah Anin.


"Nggak demam." gumamnya setelah menyentuh kening Anin untuk mengecek suhu tubuh Anin.


"Nin, Anindya!" katanya membangunkan Anin. Dia juga menggoyang-goyangkan tubuh Anin.


"Hemm.. Kenapa sih?" tanya Anin dengan sewot.


"Kenapa nggak makan malam? Kamu sakit?" tanya Defan.


"Nggak. Aku ngantuk." Anin menarik selimutnya lalu menutupi dirinya dengan selimut.


"Ikut aku!" Defan menarik tangan Anin.


"Aku ngantuk. Jangan ganggu deh." bentak Anin dengan mata yang masih terpejam.


Akhirnya Defan mengalah. Dia membiarkan Anin melanjutkan tidurnya. Defan masih berpikiran positif. "Ah mungkin dia capek karena banyak tugas." pikirnya.


"Ya udah, met bobok ya!" katanya dengan begitu lembut.


Setelah selesai mandi. Defan juga ikut tidur karena dia memang sudah lelah bekerja seharian. Meskipun dia merasa aneh dengan sikap Anin. Tapi, dia tetap berpikiran positif.


Keesokan paginya.


Saat Defan membuka mata. Dia tidak menemukan keberadaan Anin disampingnya. Dia berpikir mungkin Anin sedang memasak. Sama seperti biasanya.


Namun, saat Defan turun. Dia tidak menemukan Anin. Hanya pembantu yang menyiapkan sarapannya. "Nyonya kemana?" tanya Defan.


"Nyonya sudah pergi dari pagi tadi, tuan. Katanya ada kelas pagi." jawab pembantu tersebut.


Defan sudah mulai merasa aneh. Tapi dia tetap tidak mau berpikiran negatif. Selesai sarapan, dia segera pergi ke kantor. Sebelumnya dia mengirim pesan ke Anin.


"Kenapa berangkat pagi-pagi sekali? Sudah sarapan belum? Aku minta Rafa anterin sarapan untuk kamu ya!" tulisnya.


Tapi, sama sekali tidak di balas oleh Anin. Bahkan juga tidak dibaca. "Pulang jam berapa? Aku jemput ya?" Defan kembali mengirim pesan untuk Anin.


Tapi sama sekali tidak dibalas oleh Anin. Ditelepon juga tidak diangkat. Defan menjadi kesal sendiri. Bahkan saat meeting, dia sama sekali tidak fokus. Berulang kali dia ngecek ponselnya dengan wajah kesal. Membuat karyawannya menjadi takut.


Brakkk.


"Jadi kesimpulannya kalian nggak bisa kerja?" tanya Defan dengan marah.


Para pegawai yang ikut meeting menjadi kaget sekaligus takut. Mereka sama sekali tidak ada yang berani menatap Defan. "Aku nggak mau tahu, kalian perbaiki kesalahan kalian sekarang juga!" seru Defan.


Rafa meminta para karyawan itu untuk kembali mengaji laporan mereka. Dan meminta mereka kembali ke meja kerja masing-masing. Satu per satu karyawan itu keluar dari ruang meeting tanpa berani berucap sepatah katapun.


"Kamu kenapa sih Def?" tanya Rafa yang belum pernah melihat Defan seperti ini.


"Kenapa dia nggak balas pesan aku? Kemana dia? Pagi-pagi sudah pergi nggak pamit juga." kata Defan dengan kesal.


"Anindya?" Defan menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Kalian ribut?" Defan menggelengkan kepalanya.


"Kemarin pagi masih baik-baik saja. Kenapa sekarang dia kayak gini?" Defan memijat pelipisnya secara perlahan.


"Coba tanya ke Sandra kemana Anin pergi!" perintahnya kepada Rafa.


"Tapi Sandra dari kemarin di rumah saudaranya. Aku nggak yakin kalau mereka bersama."


Brakk..


"Terus kemana dia?" Defan kembali menggebrak meja karena kesal.


"Aku coba lacak dia melalui gps diponselnya." Rafa belum pernah melihat Defan yang seperti ini bahkan waktu bersama Ana sekalipun.