Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
19. Menjadi Donatur Panti



"Ah capeknya.." keluh Rafa yang seharian menemani Defan meeting.


"Mau langsung pulang atau kemana? Hari ini jadwal meeting sudah kelar." tanyanya kepada Defan.


"Aku mau ke panti asuhan. Tolong bawakan beberapa makanan dan mainan! Setelah itu kamu bisa pulang istirahat!" jawab Defan sembari menatap ponselnya. Dia sepertinya sedang sibuk membalas chat seseorang.


"Terus kamu?"


"Aku nanti bawa mobil, kamu biar diantar sopir!"


"Iya." Rafa tidak berani menentang Defan. Dia tahu Defan pasti akan menjemput istrinya.


Rafa senang dengan kehadiran Anin. Karena Anin mampu membuat Defan lebih ceria dan menjadi lebih baik lagi.


Tak butuh waktu lama. Defan sampai di panti asuhan. Diikuti oleh Rafa yang membawa begitu banyak mainan dan juga makanan untuk anak-anak panti.


Tentunya itu membuat bahagia anak-anak panti asuhan tersebut. Senyuman bahagia menghiasi wajah anak-anak kurang beruntung tersebut. Penuh semangat mereka memilih mainan yang disediakan oleh Rafa.


"Makasih kak Defan, kak Rafa.." seru anak-anak tersebut bersamaan.


"Iya." jawab Defan juga merasakan perasaan lega. Ada sesuatu yang membahagiakan di dasar hatinya. Apalagi saat melihat wajah bahagia anak-anak panti.


"Makasih ya Def, karena kamu sudah membuat mereka bahagia." kata Anin pelan.


"Hmm.. Tapi ini nggak gratis." seketika Anin menoleh menatapnya dengan tajam.


"Kamu harus masakin makanan yang enak untuk aku! Juga harus temenin aku nonton!" ujar Defan.


"Nonton apa?"


"Em.. Masih aku pikirin. Tapi kamu janji dulu!"


Anin pun tersenyum mendengar perkataan Defan. "Iya." jawabnya singkat sembari tersenyum kecil.


"Mas Defan, terima kasih banyak karena udah bawain makanan sama mainan untuk anak-anak." kata ketua pengurus panti asuhan.


"Oh iya, ternyata mas Defan adiknya mas Reno?" Defan menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"Mas Reno salah satu donatur terbesar panti asuhan ini." imbuh pengurus panti yang sering dipanggil bunda tersebut.


Defan kemudian mengulurkan tangannya di depan Rafa. Segera Rafa mengeluarkan cek berisi uang yang cukup banyak. Dia pun menyerahkannya kepada pengurus panti tersebut. "Ini sedikit bantuan dari aku. Tolong diterima!" katanya.


"Terima kasih banyak mas Defan. Semoga segala kebaikan mas Defan mendapat ganjaran yang setimpal." ucap pengurus panti yang kaget dengan nominal yang Defan tulis dalam cek tersebut. Menginjak dua digit angka.


"Terima kasih Anin."


"Iya bunda." Anin juga merasa sangat bahagia karena ternyata Defan juga seorang yang dermawan.


Rafa pulang duluan. Sementara Defan dan Anin masih tinggal di panti asuhan tersebut. Mereka berdua masih ingin bermain dengan anak-anak panti.


Saat Defan sedang bermain dengan anak-anak dengan penuh kegirangan. Anin memperhatikan suaminya tersebut. Ternyata dibalik wajah dan sikap dinginnya. Defan juga bisa bertingkah selayaknya anak kecil. Dia juga terlihat begitu menikmati kebersamaannya dengan anak-anak panti.


Saat perjalanan pulang. Anin kembali mengucapkan terima kasih karena Defan telah menyumbang beberapa uang, makanan dan juga mainan untuk anak-anak panti. Sebagai relawan, Anin merasa begitu gembira.


"Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba mau jadi donatur panti?" tanya Anin.


Tuk. Dengan tangan kirinya Defan mengetuk kening Anin. "Ya karena kamu-lah. Masa istri aku relawan panti aku nggak mau jadi donaturnya. Semua aku lakukan demi kamu, agar kamu bahagia." jawab Defan.


Seketika mata Anin membulat. Dia tak menyangka jika Defan akan melakukan semua itu demi dirinya. Dia pun mulai terharu dengan apa yang Defan lakukan.


****


Di sebuah desa terpencil. Ada sebuah kastil tua. Disana terdapat sepasang anak manusia yang hidup dengan bahagia. Selama hampir dua bulan mereka tinggal di kastil tua tersebut.


Sore menjelang malam, wanita cantik nan anggun sedang berjalan-jalan di taman depan rumah. Pikirannya terus melayang-melayang, ingin sekali rasanya keluar dari rumah tua tersebut.


"Bella, ayo kita makan!" seru kekasihnya dari dalam rumah.


"Aku sudah masak untuk kamu." imbuhnya sembari berjalan mendekati wanita tersebut.


Wanita itu bahagia saat pacarnya mendekat. Selama ini si lelaki itulah yang melayani semua kebutuhannya termasuk masak untuk dirinya. Wanita bernama Bella tersebut segera memeluk sang kekasih.


"Terima kasih karena sudah sangat baik sama aku." kata Bella.


"Its ok. Kamu istriku, sudah pasti aku baik ke kamu." kata pemuda itu sembari mengecup kening Bella dengan lembut.


Mereka berdua lalu makan malam dengan bahagia seperti biasanya. Tapi tiba-tiba wajah Bella menjadi kusut. "Kenapa sayank?" tanya sang kekasih.


"Arya, kenapa aku nggak boleh keluar? Diluar ada apa?" tanya Bella.


"Diluar tidak ada apa-apa sayank. Aku takut kamu akan diculik orang jahat. Kamu kehilangan ingatan kamu karena hampir diculik orang jahat." jawab Arya. Dia memang tidak pernah membiarkan Bella keluar.


"Tapi aku jenuh di rumah terus."


"Lusa ya, lusa kita keluar jalan-jalan!" kata Arya menenangkan kekasihnya yang ngotot ingin keluar rumah.


"Beneran?" Arya menganggukan kepala.


"Ah makasih teddybear-ku." kata Bella dengan penuh bahagia.


"Teddybear?" Arya memicingkan matanya. Pasalnya baru kali ini Bella memanggilnya teddybear.


"Eh.. Maaf, kenapa tiba-tiba aku manggil kamu teddybear ya? Aku spontan, kayak lagi manggil kesayangan aku." Bella juga heran kenapa dia bisa memanggil teddybear. Sepertinya panggilan itu begitu akrab dengannya.


Arya mengerutkan keningnya. Kemudian dia menjadi panik. Takut jika ingatan Bella akan pulih kembali. "Kamu habisin makanan kamu! Besok kita jalan-jalan!" pinta Arya.


"Beneran?" Arya tesenyum kecil sembari menganggukan kepalanya.


Bella kemudian menyantap makanannya dengan lahap.


Keesokan paginya. Arya menepati janjinya. Dia mengajak Bella untuk jalan-jalan diluar kastil. Arya membawa Bella ke pasar. Kebetulan bahan makanan mereka habis.


Bella merasa begitu senang. Seperti seorang burung yang keluar dari sarangnya. Dia terus menarik tangan Arya dengan bahagia.


"Kamu bahagia?"


"Banget. Makasih ya Arya.." Bella memeluk Arya dengan bahagia.


"Iya.." jawab Arya sembari tersenyum. Namun, entah kenapa ada rasa tak nyaman yang ia rasakan.


Dua jam sudah ia membawa Bella keluar dari kastil. Segera dia mengajak Bella untuk kembali. Namun ternyata Bella masih belum puas. Dia merajuk tidak mau kembali. Tapi Arya memaksanya.


"Aku masih pengen jalan-jalan Arya.." katanya.


"Besok lagi, aku janji akan ajak kamu jalan-jalan!" jawab Arya memaksa Bella untuk segera pulang.


Bahkan Arya harus menggunakan sedikit kekerasan untuk membawa Bella kembali ke kastil tua tersebut. Karena tindakan Arya tersebut. Bella pun menjadi kesal dan marah.


Dia langsung berlari masuk ke kamar dan mengunci dirinya. Dia bingung kenapa Arya tidak mengizinkannya mengetahui dunia luar. Bella pun menangis karena saking kesalnya.


"Aku kan jenuh di rumah tua ini terus. Aku juga pengen tahu dunia luar." gumam Bella seorang diri.


Tok! Tok! Tok!


"Bel, bukain pintunya! Maafin aku, tapi aku lakuin semua untuk kamu. Aku takut kamu akan diculik lagi!" seru Arya dari luar kamar.


Akan tetapi, Bella yang marah malah menutup telinganya menggunakan bantal. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan Arya. Ia sudah merasa sangat kesal.


"Bodo amat.." gumamnya memilih untuk tidur dan tidak mempedulikan Arya.