
Jika Defan dan Anin terlihat romantis. Berbeda dengan Julian dan Sandra. Mereka ribut mulu karena saling menginjak. "Bisa dansa nggak?" tanya Julian sembari menahan sakit.
"Maaf. Sengaja." jawab Sandra dengan wajah meledek.
Julian tidak terima dengan ledekan itu. Lalu dia dengan sengaja juga menginjak kaki Sandra. "Maaf, sengaja." katanya membalas perkataan Sandra sebelumnya.
Sandra yang kesal langsung menepi. Dia tidak mau lagi berdansa. Diikuti oleh Julian dengan wajah penuh kemenangan. Sandra selalu menghindar dari Julian. Dia mencari tempat yang sepi untuk istirahat.
"Brengs*k emang tuh laki." gumamnya dengan kesal.
"Kamu sama Julian bener pacaran?" tiba-tiba seseorang mendekatinya. Itu Rafa.
Sandra menoleh dan kaget melihat Rafa. Kemudian dia sadar jika Rafa dan keluarga Julian juga dekat. Sudah pasti dia ada di tempat itu juga.
"Hai Raf.." Sandra menyapa Rafa dengan gugup.
"Kamu bener pacaran sama Julian?" tanya Rafa lagi karena tidak mendapat jawaban dari Sandra.
Sandra menggelengkan kepalanya. Buk. Buk. Sandra menepuk sifa disampingnya. Mengisyaratkan agar Rafa duduk di sampingnya. Namun, demi menjaga keributan. Rafa memilih duduk di seberang Sandra.
"Aku sama Julian dijodohkan. Kami sengaja pura-pura pacaran biar kesannya kita tidak membangkang. Nanti setelah satu bulan, kita akan pura-pura putus dengan alasan tidak cocok. Agar kita tidak lagi dijodohin. Setidaknya kita udah turutin apa mau orang tua kita." Sandra menjelaskan kepada Rafa. Selama ini mereka cukup dekat. Sandra tak mau Rafa akan salah paham.
"Oh, maaf. Nggak seharusnya aku maksa kamu buat jelasin." kata Rafa menundukan kepalanya. Tapi, sejak melihat Sandra datang bersama dengan Julian dan dikenalkan sebagai pacar Julian. Entah kenapa perasaan Rafa menjadi aneh. Ada amarah yang sulit untuk dijelaskan.
"No problem." ucap Sandra. Dia juga nggak tahu kenapa dia harus banget jelasin semuanya ke Rafa dan takut Rafa akan salah paham.
"Oh ya Raf. Ana kan kembali, apa Defan dan Anin akan segera bercerai?" tanya Sandra sembari terus memperhatikan Ana yang kesal dan juga sahabatnya yang sedang berdansa dengan Defan.
"Enggak. Defan nggak akan ceraiin Anindya." jawaban singkat Rafa tersebut membuat Sandra menjadi lega.
"Tapi kan Ana udah kembali. Itu artinya Anin akan dicuekin Defan?" Sandra mulai tidak tenang lagi.
Sementara Rafa hanya tersenyum kecil. "Kamu lihat kan siapa yang dicuekin Defan?" tanyanya.
Seketika Sandra tersadar. Dia kembali menatap Anin yang berbahagia dan juga Ana yang terlihat kesal. Benar juga apa kata Rafa. Bukan Anin yang dicuekin Defan. Melainkan Ana yang nampak kesal karena bahkan Defan tidak mengalihkan pandangannya dari istrinya sedikitpun.
"Pertemuan Defan dengan Anindya itu merupakan takdir yang tak terduga." ucap Rafa lagi.
"Hem.. Tes.." tiba-tiba seseorang ingin berbicara menggunakan mic.
"Malam semuanya. Apa kabar semua? Aku Anastasya, atau sering kalian panggil Ana. Senang banget akhirnya aku bisa pulang dan berada di tengah kalian." ucap Ana.
"Dua bulan lebih di desa terpencil membuat aku sangat menderita. Aku bahkan mengira jika tempat itu adalah neraka. Aku merindukan keluargaku, merindukan teman-temanku, merindukan calon suamiku." Ana bercerita dengan sedih.
"Tapi, setelah aku bisa pulang dengan berbagai upaya. Ternyata, calon suami aku sudah menikah dengan orang lain. Aku tak tahu apa yang membuat dia bisa dengan begitu mudah melupakan aku. Tapi aku tetap bahagia untuk dia."
Bukan Defan yang merespon perkataan provokasi Ana tersebut. Melainkan Anin yang tidak terima dengan tuduhan jahat kepada Defan. Anin hendak maju untuk meluruskan semua. Namun, tangannya terus digenggam oleh Defan.
"Def, dia udah keterlaluan." kata Anin.
"Biarin aja." jawab Defan masih dengan tenang.
"Oh ya Def, aku mau tanya ke kamu. Apa yang membuat kamu bisa dengan mudah lupain aku? Padahal kita udah deket dari kecil. Kamu dirawat, dibiayai, dan disayang oleh nenek aku." Ana masih bisa tersenyum seolah dia merasa biasa saja dengan pernikahan Defan. Dan dia sengaja mengingatkan Defan akan janjinya kepada neneknya Ana.
"Iya Def, kenapa kamu tidak tahu diri banget. Kamu udah dirawat dan dibiayai tapi malah sakiti hati Ana." ucap salah satu kerabat yang belum tahu dimana duduk perkaranya.
Ana dan ibunya tersenyum. Mereka merasa bisa memojokan Defan dan membuatnya malu.
"Defan bukannya tidak mencari Ana. Tapi karena memang tidak ada petunjuk sama sekali. Dan Defan juga berhak melanjutkan hidupnya." Reno tidak terima dengan tuduhan bahwa Defan tidak tahu diri karena telah menyakiti Ana.
Sementara Defan hanya tersenyum kecil. Dia menepuk pundak Reno agar Reno tidak lagi menjelaskan apapun. "Def kamu harus jelasin semuanya. Supaya mereka tidak sembarangan menuduh kamu!" gumam Reno menjadi kesal.
"Sudah ngomongnya? Ada yang ingin ditanyakan lagi?" Defan mulai membuka suaranya. Dia berjalan mendekati Ana.
"Karena kita semua kerabat. Jadi biar aku jelasin semuanya. Dulu, aku memang berjanji dengan neneknya Ana untuk menjaganya. Tapi, menjaga bukan harus menikahinya kan? Meskipun aku sudah menikah, tapi aku tetap akan jaga Ana sebagai adikku. Aku tidak pernah mencintai Ana. Aku hanya menganggapnya sebagai adik." Defan mengisyaratkan agar Rafa maju ke depan. Sepertinya Defan telah menyiapkan semuanya. Dia telah menduga jika semua ini akan terjadi.
Rafa maju dengan membawa dokumen ditangannya. Lalu menyerahkannya kepada Defan.
"Ini adalah kompensasi aku untuk Ana. Ini ada 3% saham perusahaanku untuk Ana. Untuk menjamin kehidupannya." tutur Defan lagi.
Defan menyerahkan dokumen tersebut kepada Ana. "An, kamu kira aku tidak mencari kamu?" Defan tersenyum tipis.
"Aku cari kamu bahkan sampai sebulan penuh. Tapi jejak kamu tidak pernah ditemukan. Aku kira kamu sudah tidak ada." imbuhnya.
"Lalu kamu dengan mudah menikahi wanita lain? Wanita yang baru kamu kenal, wanita yang tidak jelas asal usulnya. Aku yakin dia pasti goda kamu kan? Dasar wanita mur*han." Ana tidak bisa mengendalikan amarahnya. Apalagi setelah Defan mengatakan jika dia hanya menganggap Ana sebagai adik.
"Sebelum kenal kamu. Aku sudah lebih dulu mengenal dia. Aku sudah mencintai selama bertahun-tahun. Dan aku juga yang memaksanya untuk menikahi aku." hati Ana semakin sakit dengan jawaban Defan tersebut.
"Aku minta maaf karena mungkin kamu terluka. Tapi kamu harus ingat, ada seseorang yang menyayangi kamu dari dulu, dan rasa sayang itu masih tetap sama. Jadi hargai dia!" ucap Defan sembari menatap Reno.
Ya, Reno memang masih memiliki perasaan untuk Ana. Dulu, mereka sempat dekat. Tapi sayangnya Reno mengalami kecelakaan dan lumpuh. Sehingga membuat Ana berpaling kepada Defan.
Defan meletakan dokumen itu ke tangan Ana. Lalu dia segera mendekat ke istrinya lagi. "Selamat ulang tahun, Ren. Aku pamit dulu." katanya sembari menarik tangan Anin meninggalkan rumah Reno.
Dan saking kagetnya para kerabat itu hanya melongo saat melihat Defan menggenggam tangan Anin dan mengajaknya untuk pergi. Disusul oleh Rafa yang merasa lega atas semuanya.
Akhirnya Defan memilih wanita yang dia cintai. Bertanggung jawab bukan harus menikahinya. Defan akan tetap menjaga Ana, tapi tidak untuk menikahinya. Di dalam hidupnya, dia hanya ingin menikahi Anin. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta selama bertahun-tahun.