
Semakin hari hubungan antara Defan dan Anin semakin membaik. Layaknya suami istri, mereka terlihat begitu akrab. Defan juga terlihat lebih ceria sekarang. Mungkin karena keceriaan Anin yang ditularkan kepadanya.
Sore itu, sepulang dari kantor. Defan mengajak Anin untuk nonton bioskop. Dia bahkan sampai menyewa satu bioskop hanya untuk mereka berdua. Alasannya karena biar terkesan romantis.
Wajah Anin nampak kusut. Dia menyayangkan tindakan Defan tersebut. "Biaya sewa satu bioskop ini bisa buat aku jajan selama setahun." gerutunya.
Anin tidak ingin Defan menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tak bermanfaat. Namun, Defan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yang terpenting istrinya bahagia. "Uang bukan apa-apa bagi aku." katanya.
"Tapi kan sayang Def."
"Kamu sayang aku?" Defan mulai menggoda Anin.
"Sayang uangnya." seru Anin dengan kesal.
"Oh, kirain." ucap Defan sembari tersenyum kecil.
"Uang bisa dicari. Tapi kebahagiaan kamu, susah nyarinya." imbuhnya.
"Siapa bilang? Bikin aku bahagia gampang kok. Cukup aja aku lihat langit dan kasih makanan enak, aku udah bahagia." jawab Anin sembari tersenyum kecil.
Karena sudah menyewa. Mau tak mau mereka harus menggunakannya. Sayang uangnya juga kan. Defan dan Anin menikmati adegan demi adegan dari film yang diputar. Tanpa sadar mereka pun terhanyut dalam suasana romantis.
Anin dan Defan berciuman dengan penuh gairah di dalam bioskop tersebut. "Uhm.." seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.
Namun, saat tersadar mereka pun segera melepaskan ciumannya. "Maaf, maaf," kata Anin dengan wajah memerah.
Defan hanya tersenyum sembari mengelap bibirnya yang penuh dengan air liur. "Kita suami istri, jadi wajar untuk kita melakukan hal tersebut." ucapnya.
Akan tetapi, Anin hanya terdiam. Dia merasa sangat malu karenanya. Seharusnya dia tidak terbawa suasana seperti tadi. Kini, bahkan dia sama sekali tidak berani menatap Defan.
Setelah menonton. Mereka berdua jalan-jalan di mall terlebih dahulu. Defan mengajak Anin untuk memilih baju pesta karena sebentar lagi kakaknya akan ulang tahun. "Kita harus datang ke acara ulang tahun Reno, biar dia nggak sedih!" kata Defan.
"Iya. Apalagi kak Reno secara langsung mengundang kita." jawab Anin juga tidak ingin mengecewakan kakak iparnya.
"Kayaknya ini cocok untuk kita." Defan menunjuk baju couple di depannya.
Dia juga meminta karyawan di toko tersebut untuk mengantar Anin mencoba gaun tersebut. Sementara dia juga akan mencoba setelan jas-nya juga.
Ketika Defan sedang berkaca untuk melihat apakah dia cocok menggunakan pakaian tersebut. Tiba-tiba seseorang menyapanya. "Defan?"
Seketika Defan menoleh mendengar namanya disebut. Sesosok wanita cantik berdiri di depannya. Wanita itu seperti sedang memilih baju juga. "Ya." jawab Defan dengan sopan. Dia kenal wanita itu.
"Gimana kabar kamu? Aku dengar kamu nggak jadi nikah sama Ana ya? Gimana Ana? Sudah ketemu atau belum?" tanya wanita yang ternyata teman Ana tersebut.
"Aku baik. Kamu kan temannya, harusnya kamu tahu beritanya lebih lanjut." jawab Defan.
"Def, aku tahu kamu sedih karena seharusnya sekarang kamu nikah sama Ana. Kamu yang sabar ya! Aku yakin kamu akan dapat pengganti yang lebih baik." wanita itu mendekati Defan dan juga menyentuh pundak Defan.
"Sebenarnya, aku sudah lama suka sama kamu, Def. Gimana kalau kita deket dulu? Siapa tahu aku bisa buat kamu lupain Ana." imbuh wanita itu berbisik di telinga Defan. Dia bahkan meniup telinga Defan agar Defan terpancing.
"Maaf Dita." Defan menghindar. Dia sama sekali tidak tertarik dengan teman Ana tersebut.
"Apa hebatnya Ana? Aku juga bisa lakuinnya." kata Dita lagi.
Dulu, dia adalah teman terbaik Ana. Tapi kenapa sekarang dia justru malah menggoda Defan.
Ternyata, Anin mendengarkan semuanya. Termasuk perkataan Defan yang mengatakan jika tidak ada seorangpun yang bisa seperti Ana. Seketika hatinya terasa tertusuk. Namun Anin mencoba biasa saja. Tidak juga tak tahu kenapa hatinya terasa sakit.
Anin tidak langsung keluar dari ruang ganti. Tapi dia kembali berganti pakaian. "Bungkus ini aja mbak, aku suka ini kok!" katanya.
Lalu Anin segera keluar setelah berganti pakaian kembali. Senyumnya serasa berat. "Loh kok nggak jadi coba bajunya?" tanya Defan yang masih menunggunya.
"Udah tadi. Udah dibungkus mbaknya juga. Aku suka kok." jawab Anin dengan dingin.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Defan mendekat dan hendak menyentuh Anin. Tetapi, dengan cepat Anin mundur.
"Nggak kok, aku nggak kenapa-napa." jawab Anin dengan senyuman yang dipaksa.
Defan bingung dengan perubahan Anin yang tiba-tiba. Sebelumnya dia masih terlihat ceria. Tapi sekarang dia nampak murung. Bahkan sampai di dalam mobil.
"Kita pulang aja!" kata Anin.
"Nggak jadi ke Sky View?" tanya Defan semakin merasa aneh.
"Nggak. Aku capek."
"Oh.. Oke.." Defan masih nampak kebingungan dengan perubahan sikap Anin yang tiba-tiba.
Sesampainya di rumah pun Anin langsung segera tidur. Tidak seperti biasanya, dia akan selalu mendengarkan cerita Defan terlebih dulu.
"Nin, kamu beneran udah tidur?" tanya Defan.
"Iya Defan, aku ngantuk." jawab Anin.
"Kamu nggak mau dengerin cerita aku dulu?"
"Besok aja ya Def, aku capek banget."
"Ya udah deh, met bobok ya hello kitty-ku." Defan menganggap jika Anin memang sedang capek. Dia pun membiarkan Anin tidur. Lalu kemudian dia juga ikutan tidur.
Sementara Anin memunggunginya. Sebenarnya Anin masih belum tidur. Dia hanya tidak mau semakin terjerumus ke dalam perasaannya. Karena yang dia tahu, Defan masih belum bisa melupakan Ana.
"Anj*r kenapa aku musti kesal? Harusnya aku sadar, kalau pernikahan ini hanya sebuah perjanjian. Harusnya aku sadar kalau aku cuma pelarian." gumamnya dengan kesal.
"Aku nggak boleh baper. Ingat Anin, dia baik sama kamu karena itu kewajibannya sebagai suami. Untuk perasaan, bukan untuk kamu." lanjutnya.
"Ah bodo amat, mending tidur." Anin semakin kesal, dia pun menarik selimut dan menutupi dirinya dengan selimut tersebut.
Ternyata, Defan juga belum terlelap. Dia kaget saat Anin menarik selimut. Defan mengerutkan keningnya, menatap Anin menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
"Kenapa? Kamu kedinginan? Aku matiin AC-nya ya!" Defan mengira Anin kedinginan.
Akan tetapi Anin tidak menjawab. Dia malah berpura-pura mendengkur agar Defan mengira jika dia sudah tidur.
Karena tidak mendapat jawaban dari Anin. Defan pun mematikan AC kamarnya. Dia masih mengira jika Anin kedinginan. Lalu dia kembali tertidur.