
Defan menunggu Anin di ruang tamu. Wajah dingin dengan kedua tangan saling berdekapan. Sesekali dia melirik ponsel yang ada di depannya. Sudah pukul 9 malam, tapi Anin belum pulang.
Tak lama, setelah melihat sosok yang ia tunggu masuk ke rumah. Dia mulai menata posisi duduknya. "Ehem.. Baru pulang? Darimana aja?" tanyanya.
Anin yang tidak tahu jika Defan menunggunya, sempat terkejut. "Eh, dari panti." jawab Anin tidak mau berbohong.
"Kenapa belum tidur?" tanya Anin.
"Nggak bisa tidur, laper." jawab Defan dengan ketus.
"Kalau laper makan lah. Ngapain laporan." Anin tersenyum sinis.
"Kamu lupa tugas kamu? Urusan makanku itu tugas kamu." tutur Defan kemudian dia beranjak, lalu menarik tangan Anin.
"Mau kemana?" tanya Anin kebingungan.
"Mau masak buat aku atau temenin aku makan diluar?" tanya Defan.
"Makan diluar aja, aku capek soalnya." jawab Anin. Ya, seharian ini dia memang kurang istirahat. Makanya dia memilih untuk menemani Defan aja makan diluar.
Defan segera melepas jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Anin. Kemudian mereka keluar untuk mencari makan.
Disepanjang perjalanan. Keduanya terlihat begitu canggung. Mungkin karena efek pertengkaran mereka tadi pagi. Bahkan saat makan pun mereka hanya bicara sekedarnya.
Saat di dalam mobil dan perjalanan pulang pun mereka masih saling diam. "Kamu dianter cowok kan tadi?" Defan mulai membuka percakapan.
Defan tahu kemana aja Anin pergi. Bahkan pergi dengan siapa. Dia mendapat laporan dari anak buahnya.
"Hmm.. Kamu pasti atur orang untuk memata-matai aku?" jawab Anin sembari tersenyum sinis.
"Def, tolong banget! Aku mohon jangan ganggu privasi aku!" ucap Anin merasa tak nyaman karena Defan terus memata-matainya.
"Kamu istriku, aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu." jawab Defan tanpa menoleh sedikitpun.
"Tapi aku nggak nyaman Defan. Aku punya privasi aku sendiri." seru Anin yang mulai geram.
"Aku akan campuri privasi kamu karena kamu istriku. Kamu juga boleh campuri privasi aku!" jawab Defan yang membuat Anin semakin kesal.
"Apa yang menjadi milikku itu juga milik kamu. Kebahagian kamu itu tanggung jawab aku. Aku udah janji sama nenek kamu." kata Defan.
"Def, jangan terlalu baik sama aku!" pinta Anin. Ia tidak ingin semakin terjerat dengan perasaan dan kebaikan Defan.
"Kenapa? Kamu istriku, sudah sewajarnya aku baik sama kamu. Kalau bukan aku yang baik sama kamu, terus siapa? Temen relawan kamu di panti itu?" sindir Defan. Dia sebenarnya kesal saat mengetahui jika Anin pergi bersama dengan Aknan.
"Kayaknya pukulanku waktu itu kurang, sampai dia masih berani ngajak jalan istri orang." imbuh Defan.
"Jangan limpahin kesalahan kepada orang lain! Aknan tidak bersalah, aku yang ingin pergi dengan dia." seru Anin menjadi kesal karena Defan membahas tentang Aknan.
"Kesalahan? Emang apa salahku? Kamu tiba-tiba marah sama aku. Apa salahku?" tanya Defan lagi.
"Masih nanya apa salah kamu?" Anin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udahlah." Anin tidak mau memperpanjang pertengkaran tersebut.
Defan menghentikan laju mobilnya. Tiba-tiba dia memeluk Anin. "Aku minta maaf kalau aku salah." ucapnya.
"Tapi kamu harus dengerin penjelasan aku dulu!" pinta Defan masih memeluk Anin. Sementara Anin seketika terdiam. Dia tidak menyangka jika Defan akan meminta maaf kepadanya.
"Maksud aku bukan mau bandingin kamu dengan Ana. Tapi kalian adalah dua orang berbeda. Jadi kamu tidak akan bisa seperti dia. Dan dia juga tidak akan bisa seperti kamu. Kalian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing." kata Defan mencoba menjelaskan kepada Anin.
Anin masih terdiam. Dia bingung mau bereaksi seperti apa. Seharusnya dia tidak marah atau kesal. Tapi, rasa cemburunya membuatnya menjadi kesal.
"Denger nggak? Aku cemburu, Anin. Aku nggak rela kamu deket sama lelaki lain. Kamu istriku." imbuh Defan sembari menatap Anin.
Mata mereka saling bertatapan cukup lama. Mulut Anin seolah terkunci. Ia tak bisa mengucapkan apapun. Tangan Defan menyentuh wajah Anin dengan lembut. "Denger nggak?" seru Defan karena Anin terus diam.
"Kenapa cemburu? Kenapa nggak rela?" tanya Anin.
Defan menatap Anin dengan dalam. Senyuman melekuk dibibirnya. Dia tahu apa yang ingin Anin dengar dengan pertanyaan itu. Defan menghela nafas untuk mengatur irama detak jantungnya yang tak beraturan.
"Karena aku cinta sama kamu." jawab Defan.
Anin terbelalak. Meskipun sebenarnya dia bisa menebak jawaban Defan. Tapi, hatinya tetap merasa sangat bahagia. Bahkan jantungnya hampir melompat karena kegirangan.
"Malah diem. Aku cinta sama kamu, Anindya Larasati. Kamu cinta nggak sama aku?" tanya Defan.
Mata kecil Anin berkedip pelan. Wajah bahagia terlukis jelas diwajahnya. Senyuman tipis mengembang dibibir tipisnya. Tak menyangka jika cintanya akan terbalas.
"Jadi selama ini kebaikan dan sikap romantis kamu bukan sekedar kewajiban kamu sebagai suami?" Anin masih bertanya-tanya.
Defan pun akhirnya tahu maksud dari permintaan Anin tadi. Dia hanya tersenyum kecil. "Itu memang kewajiban aku untuk bersikap baik sama kamu. Tapi selain itu, apa yang aku lakukan itu karena aku memang mencintai kamu." jawab Defan.
"Terus Ana?"
"Dia hanya masa lalu aku. Lagipula, ada sesuatu hal yang nggak kamu tahu."
"Apa?"
Defan kembali menatap Anin dengan lekat. "Rahasia. Yang terpenting itu tidak ada hubungannya dengan hubungan kita." jawab Defan.
Anin sebenarnya kepo dengan rahasia itu. Tapi, saat ini hatinya telah berbunga-bunga. Karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Defan juga memiliki rasa yang sama seperti dirinya.
Anin pun segera memeluk Defan dengan erat. "Aku juga cinta sama kamu." bisiknya membuat Defan tersenyum bahagia.
Defan membalas pelukan Anin. Dia juga mengecup puncak kepala Anin dengan lembut. Mereka merasa sangat bahagia dan lega karena sudah jujur mengenai perasaan mereka satu sama lain.
"Tapi kamu tetap tidak boleh deket dengan laki-laki lain!" kata Defan.
Anin tersenyum mendengar perkataan cemburu Defan. "Kamu juga harus jaga hati kamu!"
"Itu pasti." Defan kembali menatap Anin dengan lembut dan dalam.
Anin mengalungkan tangannya dileher Defan. Mereka saling bertatapan dengan jarak kurang dari 5 centi. Hati mereka berdegup cukup kencang, bahkan mungkin terdengar satu sama lain.
Semakin mendekat, dan semakin dekat. Sampai akhirnya bibir mereka saling bersentuhan. Defan mengecup lembut bibir tipis Anin. Ternyata Anin merespon dengan baik. Mereka lalu memautkan bibir mereka. "Uhm.." mereka berciuman di dalam mobil tersebut.
Untung kaca di mobil tersebut tidak bisa tembus dari luar. Jadi tidak ada orang yang melihat apa yang dilakukan sejoli itu di dalam mobil.
Defan mengecup leher panjang Anin. Dia memang telah kecanduan dengan tubuh wangi istrinya. Setelah menikah, mereka sudah beberapa kali melakukan hubungan layaknya suami istri. Tapi itu mereka lakukan karena kewajiban mereka.
Tetapi kali ini, mereka melakukan atas dasar saling cinta. Dan tentunya itu membuat kenikmatan tersendiri bagi mereka.
Defan segera melajukan mobilnya menuju rumah. Lalu dia membopong Anin menuju kamar tidur mereka. Keduanya terhanyut dalam perasaan masing-masing. Dan tak bisa mengendalikan hasrat mereka.
Malam yang panjang bagi sepasang suami istri tersebut. Tubuh indah terus menari-nari di bawah cahaya rembulan. Seolah tak ada habisnya tenaga keduanya.
"Beri aku anak!" bisik Defan sembari terus memompa hasratnya.
Anin tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Dia memeluk tubuh suaminya. Ia juga tak bisa berkata-kata selain ******* yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya terguncang seiring dengan hentakan yang Defan lakukan.