
Defan merasa lega karena telah mengatakan semua yang ingin dia katakan. Selama ini, dia harus menanggung semuanya sendiri. Kini, beban dipundaknya perlahan hilang.
Defan menghentikan mobilnya di sebuah tempat dengan hamparan rumput yang luas. Dia mengajak Anin untuk turun dan menikmati malam yang begitu indah ini.
Defan memakaikan jas-nya untuk Anin. Udara malam yang dingin menusuk sampai ke tulang. Meskipun dingin, namun cuaca malam itu cukup indah. Bintang berjajar begitu banyaknya. Rembulan bersinar terang dan penuh.
Sejoli itu duduk bersandar satu sama lain menikmati pemandang malam yang begitu luar biasa cantik. "Def, lihat deh bintang yang paling terang itu!" Anin menunjuk sebuah bintang yang paling terang.
"Kata nenek, itu ibu dan ayahku." imbuhnya.
"Kamu kangen nggak sama mereka?" tanya Defan.
"Kangen sih. Tapi apa yang aku kangenin? Aku bahkan tidak memiliki kenangan apapun sama mereka." Anin tersenyum kecil.
Dia bahkan belum pernah melihat ayah dan ibunya. Yang dia tahu, dia hanya memiliki nenek angkat yang merawatnya.
"Kamu kangen sama papa dan ibu kamu?" tanya Anin balik.
"Pasti. Tapi ada kamu, aku jadi nggak terlalu kangen sama mereka." Anin pun tersenyum lagi.
"Manis banget mulutnya." Anin menyenggol Defan menggunakan bahunya.
"Def, kamu beneran nggak nyesel karena udah nolak Ana?" Defan menatap Anin sembari tersenyum kecil.
"Aku akan nyesel seumur hidup kalau lepasin kamu." ucap Defan.
"Nin, aku cinta banget sama kamu." katanya sembari mengecup kening Anin dengan lembut.
Anin hanya tersenyum. Dia juga memeluk Defan dengan erat. Tidak ingin merusak momen bahagianya. Entah takdir atau apa. Tapi mereka bertemu secara tak sengaja dan sama-sama memiliki kesamaan, yaitu pengagum langit.
Karena menurut mereka berdua. Disanalah orang-orang yang mereka sayang berada.
****
Beberapa hari setelah acara ulang tahun Reno. Anin dan Sandra baru bertemu, karena Sandra lama tidak ke kampus.
Pagi itu, Sandra berlari saat melihat Anin sedang duduk sendirian di kantin. "Anin.." serunya memanggil Anin sembari melambaikan tangannya. Segera dia berlari mendekati Anin.
"Aku kangen banget sama kamu." ucapnya sembari memeluk Anin.
"Kirain udah lupa kalau punya temen." sindir Anin.
"Ya nggaklah. Mana mungkin aku lupa sahabat kayak kamu." ucapnya kembali memeluk Anin.
"Sebagai ucapan terima kasih, aku traktir kamu deh." imbuhnya.
"Serius?"
"Iya. Kalau gitu setelah kelas, kita ke kafe di ujung jalan!"
"Nj*r, pinter amat sih kamu. Tapi, oke lah.." jawab Sandra dengan santai.
"Iya deh aku jujur. Sebenarnya aku dari keluarga pengusaha. Aku kabur karena aku kesal dijodohin terus." ucap Sandra.
"Kamu sama Julian?"
"Itu kita juga dijodohin. Aku akhirnya mau karena biar papa dan kakekku berhenti jodohin aku. Dikira aku nggak laku apa ya pakai acara dijodohin." kata Sandra dengan kesal.
"Lalu aku sama Julian pura-pura terima perjodohan itu. Nanti sebulan kemudian kita akan cari cara untuk putus. Setidaknya kita udah penuhi keinginan orang tua kita kan." imbuh Sandra.
"Oh, gitu. Tapi kenapa kamu nggak jujur kalau kamu sebenarnya anak orang kaya? Kamu mau nggak enak sama aku karena aku hanya anak yatim piatu dan miskin?"
"Bukan. Bukan. Bukan gitu Nin, aku cuma ingin rasain punya temen yang tidak melihat status sosialku." Sandra menatap Anin dengan dalam. Dia tidak ingin Anin salah paham kepadanya.
"Aku senang punya sahabat yang tulus kayak kamu. Maafin aku." Sandra kembali memeluk Anin.
"Aku juga senang punya sahabat kayak kamu." Anin menepuk tangan Sandra.
Mereka bertemu saat pertama masuk ke universitas tersebut. Kemudian dekat lalu bersahabat karena kebetulan ngekos bareng. Tapi sayangnya, Anin tidak tahu siapa Sandra yang sesungguhnya.
Yang dia tahu, Sandra adalah sahabatnya yang selalu ada untuk dia. Sahabat yang setia dan bahkan mau menerima semua kekuarangan Anin. Bagi Anin, seperti itu sudah cukup. Karena semakin kita mengenal seseorang, semakin kita bisa berpotensi menjadi musuh.
"Kalau kamu sama Julian, terus Rafa gimana?" tanya Anin lagi. Dia tahu jika sebelumnya Sandra deket dengan Rafa.
"Aku udah jelasin ke dia semuanya." jawab Sandra.
"Jelasin semuanya? Kalian pacaran?" Sandra menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa pakai acara jelasin semuanya?" Sandra membulatkan matanya mendengar pertanyaan Anin.
"Kamu suka sama dia? Kamu takut dia salah paham?" tebak Anin.
"Nggak. Aku nggak, dia kan bertanya dan aku hanya menjawab." Sandra berdalih. Faktanya dia memang takut jika Rafa akan salah paham kepadanya. Makanya dia menjelaskan semuanya ke Rafa.
"Eh btw, aku nggak nyangka banget kalau Defan akan mengakui bahwa kamu adalah istrinya di depan semua kerabatnya. Dia gentle juga ya." Sandra mulai mengalihkan pembicaraan.
"Dan si Ana itu. Sumpah greget banget aku. Dia sengaja memojokan Defan supaya semua orang mengira jika Defan jahat dan kamu perebut laki orang. Ketebak banget niatnya." Sandra kesal saat teringat Ana. Untungnya Defan orang yang pintar. Jadi dia bisa mengendalikan semuanya.
"Biarin aja sih. Asal Defan tidak terpengaruh, aku juga tidak akan terpengaruh."
"Tapi aku yakin, si Ana itu pasti akan cari cara untuk memprovokasi hubungan kalian." Sandra menebak apa yang akan terjadi. Karena kebanyakan memang seperti itu.
Sementara Anin hanya tersenyum kecil. Dia tidak terlalu memikirkan akan hal tersebut. Semoga saja Defan orang yang setia. Hanya itu harapannya.
"Kamu nggak takut?"
"Nggaklah, kalau Defan memang yang terbaik. Dia tidak akan terpengaruh oleh apapun, termasuk masa lalunya. Kalau dia terpengaruh, berarti dia bukan yang terbaik."
"Kecewa dan sakit hati tentunya ada. Tapi, mau gimana lagi? Tuhan tidak akan mengambil yang baik tanpa menggantinya dengan yang lebih baik." imbuh Anin.
Takdir, tidak ada seorang pun yang tahu akan terjadi. Kita adalah pemeran utama di dalam kehidupan masing-masing. So, jalani hidup dan takdirmu dengan keikhlasan. Yakinlah, akan ada pelangi setelah hujan. Akan ada kemudahan setelah datangnya kesulitan. Itulah hidup.