
Di kantor, Defan kepikiran Anin yang tidak sarapan tadi. Dia lalu meminta Rafa untuk mengantar makanan ke kampus. "Antar makanan untuk Anin! Sekarang!" perintahnya.
"Dia tadi nggak sarapan." imbuh Defan.
"Def, dia udah gede loh. Kamu nggak perlu khawatir sampai segitunya. Nantu kalau lapar, dia pasti makan sendiri." Rafa tak menyangka jika Defan sebegitu tidak masuk akalnya. Hanya karena Anin tidak sarapan tadi.
"Dia istriku, jadi dia bos kamu juga. Harusnya kamu khawatir juga."
"Tapi kita ada meeting."
"Meeting biar aku yang handle sendiri. Kamu cepat antar makanan untuk Anin. Kalau nggak, aku potong gaji kamu!" ancam Defan.
"Hah.. Iya aku beliin dan aku antar ke kampus sekarang juga." Rafa tidak berani melawan bos-nya. Akhirnya dia ngalah, dan mengantar makanan ke kampus Anin.
"Bilangin kalau aku ada meeting jadi nggak bisa nganter!" imbuh Defan.
"Hah.. Iya." Rafa keluar dengan menggerutu.
"Ngeselin juga kalau orang lagi bucin." gumamnya seorang diri.
Lima belas menit kemudian. Rafa meminta Sandra untuk keluar kelas. Setelah malam itu, mereka berdua mulai bertukar nomer telepon.
Sandra mengira Rafa datang ingin menemuinya. Segera dia keluar dari kelas dan berdalih ingin ke toilet. Dia segera berlari menuju taman. "Hai.." sapanya.
"Kenapa kesini?" tanya Sandra.
Rafa mengangkat bungkusan yang dia bawa. "Disuruh Defan nganterin sarapan untuk Anin." tuturnya.
"Oh.." wajah Sandra nampak agak kecewa. Dia pikir Rafa datang untuk menemuinya. Tapi ternyata dia suruh oleh bos-nya.
"Yang satu untuk kamu. Beef lada hitam." barulah saat itu wajah Sandra kembali berseri.
"Ma..makasih." lirihnya.
"Bilang ke Anin, kalau Defan sedang meeting jadi nggak bisa datang langsung. Tapi Defan nitip salep ini kok untuk Anin." Rafa kembali mengeluarkan salep titipan Defan.
Sandra mengerutkan kening. Tapi kemudian dia teringat pipi Anin yang agak bengkak. Tentu saja situasi tersebut membuat Sandra menjadi kesal. Dia berpikir jika Defan telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dan sekarang dia sedang meminta maaf ke Anin.
Karena saking kesalnya. Sandra pun menarik kerah baju Rafa. "Heh, bilangin ke teman atau bos kamu itu. Kalau dia berani pukul Anin lagi, dia akan berhadapan dengan aku!" katanya dengan marah.
"Dan bawa lagi makanan ini. Nggak butuh!" Sandra mengembalikan makanan yang telah ia terima tadi.
Pastinya Rafa menjadi bingung karena tiba-tiba Sandra kembali sewot dan bahkan marah. "Hei, tunggu dulu!" Rafa segera menarik tangan Sandra yang hendak pergi.
"Maksud kamu apa? Defan nggak mungkin melakukan kekerasan ke cewek. Pipi Anin bengkak karena tamparan mama tiri Defan." Rafa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Makanya jangan emosian!" kata Rafa dengan lembut sembari menyerahkan makanan yang dikembalikan oleh Sandra.
"Kok bisa mama tiri Defan? Bukankah mereka tinggal di rumah Defan sendiri?" Sandra masih bingung.
"Nanti tanya sendiri ke Anin. Aku harus ikut meeting, Defan udah cari aku." Rafa sekalian pamitan.
"Jangan mudah marah!" katanya sembari mencolek dagu Sandra. Kemudian dia berlari menuju kantor lagi.
Sandra pun tersenyum dengan apa yang Rafa lakukan. Bahkan dia terus memegangi dagunya setelah dicolek oleh Rafa.
Sandra kembali ke kelas dengan wajah berseri. "Nin, ada titipan makanan buat kamu. Aku taruh di loker." bisik Sandra dengan wajah bahagia.
"Dari siapa?"
"Suami kamu." Anin pun menoleh.
"Dia kesini?"
Sandra menggelengkan kepalanya. "Bukan dia. Tapi Rafa, katanya Defan sedang meeting." jawab Sandra.
"Dia juga nitip ini." Sandra mengeluarkan salep yang dibawa oleh Rafa tadi.
"Kamu beneran ditampar ibunya Defan?" tanya Sandra penasaran.
"Aku pikir Defan melakukan kekerasan dalam rumah tangga." tutur Sandra.
"Nggak. Dia nggak. Aku juga nggak tahu apakah bener wanita itu adalah ibunya. Tapi dia kayak benci banget sama Defan. Tapi dia panggil 'mama'." Anin masih kesal saat teringat Santika yang begitu kejam memarahi dan menghina Defan.
****
Sepulang dari kampus, Anin merasa bosan. Kelas dansa-nya libur karena ada sesuatu hal. Sementara dia sudah tidak bekerja di bar lagi. Tubuhnya menggeliat ke kanan dan ke kiri. Dia merasa jenuh juga bosan di rumah sendiri.
Defan mengirimi pesan jika dia pulang malam karena ada meeting dengan klien dari luar kota. "Aku pulang malam, jangan nunggu aku! Kamu makan sendiri dulu." begitu bunyi pesan dari Defan.
"Ya. Tapi aku boleh kan main ke tempat Sandra? Aku bosen di rumah?" Anin membalas pesan tersebut.
"Ya. Tapi jangan malam-malam pulangnya. Biar diantar sopir."
"Siap bos😙." balasan Anin tersebut membuat bibir Defan merekah.
Tak butuh waktu lama. Anin segera bergegas menemui Sandra di tempat kerjanya. Dia dengan sabar menunggu sahabatnya itu sampai selesai kerja.
"Jalan-jalan yuk!" ajak Anin ketika Sandra telah menyelesaikan jam kerjanya.
"Boleh. Tapi lihat-lihat aja ya! Aku belum gajian." kata Sandra.
"Iya, aku juga nggak punya uang. Yang penting kita healing."
"Oke.."
Mereka berdua jalan-jalan ke mall terdekat. Mall dimana biasanya dia dan Sandra kesana.
Akan tetapi, saat mereka sedang melihat-lihat sepatu. Tiba-tiba muncullah Tessa dengan teman-temannya. Mereka menghina Anin dan Sandra yang hanya mampir untuk melihat-lihat saja.
"Mbak, tolong usir mereka berdua. Takutnya ada yang hilang." kata Tessa dengan sombongnya.
"Iya mbak, kalau hilang atau rusak, mereka nggak sanggup ganti." sahut Rani, teman Tessa. Mereka mengolok Anin dan Sandra sambil tertawa puas.
"Makanya jadi orang jangan sok. Sok-sok'an nolak Defan, nolak temen aku juga." bisik Tessa dengan maksud mengolok-olok Anin.
"Atau mau aku kenali sugar daddy?" kata Tessa lagi dengan pelan. Dia juga sengaja memamerkan barang-barang mahal yang telah ia beli.
"Ogah. Mending nggak punya apa-apa." jawab Anin sembari memutar bola matanya melihat gaya Tessa bersama kedua temannya.
"Mbak, bungkus yang ini yak! Ini juga. Kamu mau yang mana San? Biar aku yang bayar sekalian." kata Anin yang mengagetkan semua orang.
"Katanya kamu nggak punya uang?" tanya Sandra berbisik.
"Tenang. Aku bawa kartu Defan. Yang penting kita permaluin dia dulu aja. Masalah Defan, nanti aku yang urus." jawab Anin pelan.
"Hahahahaha Emang punya uang?" tanya Tessa masih belum percaya jika Anin sanggup membeli semua barang-barang tersebut.
"Paling juga jual ginjel.." sahut Wina, teman Tessa yang lain.
Perkataan tersebut lalu disambut tawa oleh Tessa dan juga Rani. "
Anin yang kesal dengan kesombongan Tessa dan kawan-kawannya. Segera dia mengeluarkan black card yang beberapa hari lalu diberikan oleh Defan.
"Aku bayar pakai ini mbak." Anin bahkan dengan sengaja menggoyang-goyangkan tangannya di depan Tessan dan teman-temannya.
Tentu saja perbuatan Anin tersebut membuat Tessa dan kedua temannya sempat melongo. Mereka tidak percaya jika Anin memiliki black card.
"Kamu mau apa lagi San? Pilih aja sesuka kamu!" seru Anin dengan lantang.
"Udah aja Nin."
"Oke. Itu aja mbak." Anin menyerahkan kartu miliknya ke kasir. Setelah itu, mereka berdua meninggalkan Tessa dan kedua temannya yang masih melongo.
Sementara Anin dan Sandra keluar dari toko tersebut dengan senyuman penuh kemenangan. Diam-diam mereka juga bertos ria karena berhasil membuat Tessa menjadi cengo.