Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
25. Kejujuran Defan



Semenjak pertemuan kembali dengan Ana. Hati Defan menjadi tidak tenang. Ada kegelisahan di dalam hatinya. Di dalam mobil, dia hanya diam dengan wajah dingin. Bahkan Rafa pun tidak berani bertanya apapun.


"Ke panti asuhan Harapan Bangsa!" katanya.


Rafa segera membelokan mobilnya ke arah panti asuhan yang biasa mereka kesana. Pada jam segini, biasanya Anin ada disana untuk mengajar dan bermain. Semenjak Defan melarangnya bekerja. Anin jadi memiliki banyak waktu untuk pergi ke panti asuhan.


Benar saja, Defan melihat Anin yang sedang mengajar anak-anak panti asuhan bersama beberapa relawan yang lain. Namun, Defan tidak mendekat. Dia memilih untuk duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat Anin. Lalu memperhatikan istrinya yang sedang mengajar.


"Kak Anin, itu ada kak Defan." tunjuk salah satu anak panti tersebut.


Anin segera menoleh ke arah dimana anak itu menunjuk. Ia melihat suaminya yang sedang memperhatikan dirinya. Anin pun tersenyum senang.


"Kalian kerjakan tugas ini sampai selesai. Siapa yang sudah selesai bisa main! Kak Anin mau kesana bentar!" kata Anin meninggalkan anak-anak panti dengan tugas yang harus mereka kerjakan.


Ia melangkah mendekati suaminya. Wajahnya terlihat sangat ceria. "Hai, udah lama?" tanya Anin.


"Baru aja kok." jawab Defan dengan lembut.


"Sendirian aja?"


"Sama Rafa. Dia sedang beli makanan."


"Oh. Emang nggak ada kerjaan kok kesini?" tanya Anin lagi.


Defan segera menarik Anin ke dalam pelukannya. "Aku kangen sama kamu." kata Defan.


Anin pun tersenyum kemudian juga memeluk suaminya. Dia belum sadar jika kedatangan Defan ingin menenangkan hatinya yang kacau. Entah kenapa, semenjak kehadiran Anin. Saat Defan sedang gelisah, dia hanya perlu dekat dengan Anin dan perasaannya akan kembali membaik.


"Udah makan?" tanya Anin. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Nin, jangan pernah tinggalin aku ya!" bisik Defan.


Meskipun Anin merasa aneh. Tapi dia tahu jika Defan sedang butuh perhatian. "Nggak janji. Kalau kamu sakiti aku, ya aku pasti tinggalin kamu lah." jawab Anin. Dia sebenarnya hanya menggoda Defan saja.


"Aku pasti akan bahagiain kamu. Aku janji." seketika Defan melepaskan pelukannya. Tapi, sesaat kemudian dia kembali memeluk Anin.


"Di dunia ini, ada dua wanita yang paling aku cintai. Pertama ibuku, yang kedua kamu." lirih Defan membuat Anin terpaku.


Seseorang yang dingin seperti Defan bisa mengatakan hal semesra itu. Anin tersenyum kecil. "Bohong ah, kamu pasti juga pernah cinta sama Ana. Kalau nggak, mana mungkin kamu mau nikahin dia." ujar Anin.


Defan kembali terdiam. Dia kembali teringat perkataan Ana tadi siang. Ana menagih janji Defan untuk menikahinya. Bahkan Ana rela menjadi istri kedua Defan.


"Pasti cinta banget kan?"


Defan melepas pelukannya. Tatapannya kosong ke depan. Dia tidak menjawab pertanyaan Anin mengenai perasaannya ke Ana.


Merasa dicuekin. Anin memilih untuk meninggalkan Defan. Namun, Defan menahan tangannya. "Mau kemana? Temenin aku makan!" katanya.


Dengan wajah cemberut, tapi tetap nurut juga. Anin menemani Defan makan di tempat kesukaan mereka. Sky View.


Defan juga mengajak Anin ke rooftop tempat biasa mereka melihat langit. Wajah Anin masih cemberut. "Nin, kamu mau nggak dengerin cerita aku?" tanya Defan.


Dia bukannya tidak peka dengan sikap Anin. Tapi Defan menjaga agar supaya mereka tidak bertengkar. "Dulu, ada seorang anak yang lahir karena sebuah kesalahan. Lalu untuk menebus kesalahan, sang ayah membawanya pulang. Tapi sayang, istri ayahnya tidak suka kepadanya. Setiap hari dia disiksa, dihina bahkan dimaki." meskipun Anin hanya diam. Tapi Defan tetap bercerita.


"Suatu hari sang ayah meninggal. Lalu ibu tirinya mengirim anak tadi ke orang yang masih kerabatnya. Dia dididik, dirawat bahkan dibiayai dengan baik. Tapi, karena anak itu belum bisa balas budi. Dia berjanji akan menjaga dan merawat cucu satu-satunya."


Defan menoleh, menatap Anin dengan lekat. Dia menganggukan kepalanya. "Itu jawaban untuk pertanyaan kamu tadi." jawab Defan.


"Maksud kamu?" Anin mengerutkan keningnya.


"Aku menikahi Ana bukan karena aku cinta sama dia. Tapi karena aku sudah janji dengan neneknya untuk menjaganya." jawab Defan.


"Dan sekarang, Ana kembali." imbuh Defan yang membuat Anin membulatkan matanya.


"An... Ana kembali?" tanyanya.


"Iya."


"Oh, jadi maksud kamu cerita ke aku, kamu mau aku ceraiin kamu, supaya kamu bisa tepati janji kamu ke neneknya Ana?"


"Bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya. Bahwa aku hanya mencintai kamu, bukan Ana." Defan meraih tangan Anin.


"Nin, sekarang aku sudah punya uang banyak. Aku bisa kembaliin uang keluarga Ana untuk merawat aku dulu. Aku nggak mau pisah sama kamu. Karena aku sangat mencintai kamu." imbuh Defan. Ia berharap Anin akan mempercayainya. Bahwa sebenarnya memang Defan hanya mencintai Anin sejak mereka bertemu.


Defan lalu memeluk Anin dengan erat. "Jangan pernah tinggalin aku! Aku bisa kehilangan semua termasuk harta, kecuali kamu." ucapnya lagi.


"Aku akan temani kamu melewati masa sulit kamu." tutur Anin sembari membalas pelukan Defan.


Defan pun merasa sangat bahagia. Dia merasa lega karena telah jujur kepada Anin mengenai hubungannya dengan Ana. "Terus rencana kamu apa?" tanya Anin.


"Emm. Pertama aku akan kasih kompensasi ke Ana. Kedua aku akan atur supaya Ana dan Reno bisa kembali dekat. Dulu, mereka sempat deket sebelum kecelakaan yang menimpa Reno." jawab Defan yang kembali membuat Anin terkejut.


"Itu alasan kamu tidak mau mencintai Ana? Kamu takut menyakiti hati Reno karena Reno masih menyukai Ana?" tanya Anin lagi.


"Bukan. Karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai. Udahlah, jangan bahas itu lagi. Besok kamu bantu aku buat bujukin Reno, supaya dia mau memperjuangkan perasaannya lagi!" pinta Defan ingin melibatkan Anin dalam rencana perjdodohan Reno dengan Ana.


"Oke, beres.." jawab Anin dengan santai.


"Aku denger Julian juga akan datang dengan pacarnya. Tapi aku belum tahu siapa pacarnya." kata Defan.


"Idih, laku juga tuh orang. Kok ada yang mau ya sama laki-laki nyebelin kayak si Julian." ucap Anin.


Tuk..


Defan mengetuk kening Anin pelan. "Gitu-gitu dia adik ipar kamu." Defan lalu merebahkan tubuhnya dengan menjadikan paha Anin sebagai bantal.


"Oh ya Def, mama tiri kamu nggak akan ngamuk kalau kita datang ke ulang tahun kak Reno?"


"Nggak tahu juga. Emang kamu masih takut kalau dia ngamuk? Aku sih udah nggak peduli, orang tiap hari juga diamuk." jawaban santai Defan itu membuat Anin terkekeh.


"Benar juga. Kalau ngamuk cuekin aja biar ngomong sendiri." ucap Anin sembari tertawa kecil.


Defan kembali menatap Anin dengan lekat dan lembut. "Sakit nggak kakinya?" tanyanya.


Mengingat berat badannya yang lebih besar dari Anin. Ia takut menyakiti kaki Anin. "Nggak kok." jawab Anin tak kalah lembut. Dia juga mengelus rambut Defan dengan penuh kasih sayang.


"Aku cinta sama kamu." kata Defan.


"Aku juga." matanya yang kecil berkedip pelan. Mereka saling bertatapan dengan penuh kasih sayang. Kebahagiaan tergambar jelas di raut wajah keduanya. Sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta.