
Di acara ulang tahun Defan yang diadakan di rumahnya dan hanya mengundang kerabat terdekat saja. Anin datang bersama dengan Defan. Memakai baju yang berwarna senada membuat pasangan tersebut terlihat begitu serasi.
Di depan semua tamu undangan. Defan memperkenalkan Anin sebagai istrinya yang sah. Kerabatnya yang jarang bertemu pun menjadi kaget. "Bukannya kamu akan menikahi Ana?" tanya mereka.
Akan tetapi, hanya terdiam tanpa menjawab. Dia terus menggenggam tangan Anin dan memperkenalkannya kepada kerabatnya yang lain. Senyuman Anin semakin mengembang dan itu menambah kecantikannya.
Banyak yang memuji kecantikan Anin. Namun, tak sedikit yang membandingkannya dengan Ana. Beberapa dari mereka bahkan beranggapan jika sekilas, Anin mirip dengan Ana.
"Tapi coba perhatiin lagi deh! Dari samping dia mirip Ana."
"Tapi masih cantikan Ana dong."
"Jelas kalau itu. Aku yakin Defan nikahin dia juga karena dia mirip dengan Ana."
Anin mendengar dengan jelas perkataan-perkataan tersebut. Akan tetapi, dia tidak mau ambil pusing. Karena Anin sendiri belum melihat Ana secara langsung. Biarkanlah anjing menggogong.
"Selamat ulang tahun kak Reno. Panjang umur dan sehat selalu. Aku punya hadiah buat kak Reno." Anin mengucapkan selamat serta memberikan sebuah bingkisan untuk kakak iparnya tersebut.
"Terima kasih Anindya. Tapi, harusnya nggak perlu repot-repot." ucap Reno.
"Nggak repot kok, kak."
"Ngapain kalian kesini?" tanya Santika dengan ketus.
"Hadirin acara ulang tahun kak Reno lah, apa lagi." kata Anin sembari memutar bola matanya.
"Kurang ajar ya kamu, tidak punya sopan santun." seru Santika mulai terpancing.
"Ma, jangan bikin malu!" Reno menarik tangan mamanya.
"Kamu terus belain mereka berdua, jadinya mereka pada kurang ajar sama mama." Santika menjadi kesal.
"Emangnya situ punya aturan? Tanya ke orang dengan nada seperti itu." gumam Anin kembali memutar bola matanya.
"Tuh kamu lihat. Kurang ajar sekali kan dia." Santika tetap kesal.
"Ini acara aku, jangan bikin malu ma!" pinta Reno. Seketika Santika pun mulai mengatur emosinya. Dia tidak ingin membuat kekacauan di acara ulang tahun putra sulungnya.
"Julian masih belum datang?" Santika mulai mencari anak bungsunya yang belum kelihatan.
"Belum ma, katanya dia jemput pacarnya." jawab Reno.
"Nin, makan aja makanan yang tersaji ya!" kata Reno dengan tersenyum lembut. Dia memang sangat menyukai Anin. Dan berharap jika hubungan adiknya akan langgeng.
"Oke kak."
"Makan yang banyak, kapan lagi bisa makan makanan enak kaya gini." sindir Santika.
"Hah, cuma makanan doang. Kalau aku mau pesawat pribadi pun, suamiku bisa beliin." kata Anin membuat Santika menjadi geram.
Santika kesal karena Anin selalu menjawabnya. Bahkan tidak takut sama sekali kepadanya.
"Ajarin tuh istri kamu sopan santun!" Santika melampiaskan kekesalannya kepada Defan. Karena dia tahu Defan tidak akan menjawabnya.
Dan benar saja. Defan hanya menganggukan kepalanya saja tanpa menjawab sepatah katapun. Setelah Santika agak jauh. Defan mulai mengetuk kening Anin. "Dasar.." katanya sembari tersenyum.
"Maafin ya kak, karena aku berani mamanya kak Reno." namun Anin merasa tidak enak dengan Reno. Karena biar bagaimanapun, Santika tetap ibunya Reno.
"Its ok." Reno tak masalah. Karena menurutnya mamanya juga keterlaluan.
Tak lama sebelum acara di mulai. Julian telah tiba bersama dengan wanita yang dijodohkan oleh mamanya. "Tuh Julian." kata Reno.
Seketika Anin dan Defan menoleh. Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat Sandra datang bersama dengan Julian. "Itu.. Itu yang dijodohin mama dengan Julian?" tanya Defan.
"Sepertinya iya." Reno memicingkan matanya. Dia seperti pernah melihat wanita tersebut.
"Kok nggak asing ya?" gumamnya.
"Sandra?" baru saat Anin menyebut nama wanita itu. Reno segera ingat jika wanita itu adalah teman kuliah Anin.
"Kamu sama dia?" tanya Anin kebingungan.
"Ceritanya panjang. Nanti aku jelasin." jawab Sandra yang justru tidak kaget sama sekali. Sebelumnya, dia sudah tahu jika ternyata kencan butanya adalah adik tiri Defan.
"Jadi kalian sudah kenal?" tanya Julian.
"Pantes sama. Sama-sama nyebelin." gumam Julian yang langsung mendapat pelototan dari Sandra dan juga Anin.
"Oh jadi kamu cucunya tuan Wijaya?" tanya Defan yang kenal dengan kakeknya Sandra yang merupakan pengusaha juga.
"Ini Sandra? Ya ampun cantiknya." puji Santika yang langsung mendekatinya. Dia juga melirik sinis ke arah Anin. Menurutnya, Anin tidak sebanding dengan Sandra.
"Malam tante. Dapat salam dari kakek." ucap Sandra.
"Salam balik untuk kakek kamu ya." Santika memeluk Sandra dengan senang. Dia juga dengan bangga memperkenalkan Sandra sebagai pacar Julian di depan para kerabatnya.
Dan tentu saja mereka membanding-bandingkan Anin dengan Sandra.
Acara pun segera di mulai. Reno memberi sambutan dan mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah menghadiri acara ulang tahunnya. "Terima kasih untuk ucapan kalian, untuk cinta dan kesetiaan kalian." ucap Reno.
"Oke saatnya tiup lilin. Tapi make a wish dulu dong kak!" Anin sebagai MC-nya.
Namun tiba-tiba lampu padam. Tentu saja itu sempat membuat kegaduhan. "Tolong tetap tenang! Biar aku cek." seru Defan meminta agar semuanya tetap tenang.
Sebelum Defan beranjak. Tiba-tiba lampu kembali hidup. "Selamat ulang tahun Reno.." sesosok wanita membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin berjalan dari arah belakang.
Kedatang wanita tersebut membuat semua kembali heboh. Pasalnya mereka mengira bahwa wanita itu adalah hantu. "Itu hantunya Ana?"
"Ah.. Hantu.."
Keributan kembali terjadi. "Tenang! Tolong tenang!" seru Defan kembali.
"Itu bukan hantunya Ana. Tapi itu beneran Ana. Kalian lihat kakinya masih napak!" imbuh Defan.
Mereka pun kembali tercengang. Tapi sesaat kemudian mereka senang. Karena salah satu kerabat mereka ternyata selamat.
Sebelum mereka reunian. Acara ulang tahun Reno pun dilanjutkan. Ana mendekati Reno dan meminta Reno untuk meniup lilin di kue yang ia bawa.
"Make a wish dulu!" kata Ana dengan lembut.
Reno nurut apa kata Ana. Karena dia saking kagetnya melihat Ana. Jadi tidak bisa berkata-kata. "Sekarang potong kue-nya dan kasih ke orang special!" kata Ana.
Pertama-tama, Reno memberikan potongan pertama untuk mamanya. Kemudian untuk Defan dan Julian. Lalu memberikan potongan kue selanjutnya untuk Anin. Ana belakangan setelah Anin.
"Makasih kak Reno.." ucap Anin dengan senang.
Ana menatap Anin dengan tajam dan menakutkan. Dia seperti menatap musuhnya.
"Makasih." jawab Ana sembari tersenyum kepada Reno.
Acara dilanjut dengan acara dansa. Tentu saja Defan mengajak istrinya untuk berdansa. Defan menatap Anin dengan lekat dan dalam. Membuat semua yang melihatnya menjadi meleyot.
"Jangan lihat aku kayak gitu!" ucap Anin sembari tersenyum.
"Aku jadi meleleh. Baper tauk." imbuhnya.
Namun, Defan tidak menjawab. Dia hanya terus menatap istrinya yang menjadi pasangan dansa-nya. Alunan musik yang lembut membuat suasana menjadi romantis.
"Calon istri kamu melotot terus tuh." kata Anin.
"Calon istri? Kamu mau dimadu?" tanya Defan.
Seketika Anin melotot. "Kamu berani?" tanyanya dengan kesal.
"Enggak. Aku cukup punya kamu seorang." jawab Defan sembari meniup telinga Anin.
"Ish.." Anin menjadi tersipu. Dia langsung memeluk Defan dengan erat.
"Awas aja kalau berani macem-macem." kata Anin.
"Mau kamu apain?"
"Aku potong tuh junior."
"Waduh, sadis amat. Iya nggak berani. Ini semua milik kamu. Jangankan tubuh aku, jiwa ragaku aja untuk kamu."
"Gombal.." Anin tersenyum sembari mempererat pelukan. Dia tidak peduli dengan sepasang mata yang menatapnya tajam. Tatapan seseorang yang ingin menerkam.