Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
30. Takdir Seseorang Berbeda-Beda



Hari demi hari dilalui Anin dan Defan dengan bahagia. Meskipun sesekali Ana mencoba untuk merayu Defan kembali. Tapi jawaban Defan masih tetap sama. "Maaf An, aku cinta sama Anin. Aku akan kehilangan dia kalau aku punya wanita lain." kata Defan saat Ana mendatangi kantornya.


Mata Ana nampak sayu. Kebahagiaan yang dulu pernah dia impikan dan akan berhasil. Kini semuanya sirna. Kehadiran Anin merubah semua mimpi indahnya.


Ana terus menatap Defan yang kembali fokus dengan pekerjaan di depannya. Bahkan dia sama sekali tidak melirik Ana yang duduk dengan anggun di depannya. Ia juga tidak mengusir Ana. Hanya memperlakukannya seperti angin.


"Apa yang Anin punya yang tidak aku punya?" tanyanya pelan.


Defan menghentikan tangannya yang sedang mengetik sebuah dokumen. Menatap Ana yang nampak kasihan. Akan tetapi, semua itu tidak membuat perasaan Defan goyah.


"Kenapa Anin bisa miliki kamu tetapi aku tidak?" imbuh Ana mulai menaikan nada suaranya.


"An, jika dibanding Anin, kamu jauh lebih beruntung. Kamu memiliki ibu yang begitu sangat menyayangi kamu, bahkan rela lakuin apapun untuk kamu. Kamu punya harta yang bisa mewujudkan semua keinginan kamu. Tapi, takdir orang berbeda-beda. Kita tidak tidak ditakdirkan satu sama lain." jawab Defan sekaligus memperjelas lagi perasaannya untuk Ana.


"Tapi kenapa dulu kamu janji mau nikahin aku?" seru Ana mulai tersulut. Dia semakin tidak sabar.


"Aku tidak pernah berjanji untuk menikahi kamu. Aku hanya janji ke nenek kamu untuk jagain kamu. Lagipula dari awal cintaku cuma untuk Anin." kata Defan lagi. Dia masih santai menghadapi Ana yang semakin tidak masuk akal.


"Kamu aja baru kenal Anin setelah aku hilang kan?" ternyata Ana juga menyelidiki kenapa Anin dan Defan bisa menikah.


"Aku kenal Anin sudah dari aku kecil, sebelum aku dititipkan di rumah nenek kamu." Ana tentu saja terkejut dengan jawaban Defan. Tapi kenapa hasil penyelidikannya menunjukan jika Anin dan Defan menikah karena insiden tak terduga di bar.


"Kamu pasti bohong kan? Terus kenapa selalu ini aku tidak tahu?" Ana masih tidak mau percaya dengan apa yang Defan katakan.


"Kamu jahat tahu nggak, Def!" seru Ana dengan kesal.


"Kamu sengaja lakuin ini agar supaya aku kembali sama Reno kan? Kamu hanya ingin aku merawat Reno kan?" Ana menjadi marah. Dia menganggap bahwa Defan telah berlaku curang. Ana beranggapan Defan mengorbankan pernikahan mereka demi kakak lelakinya.


"Dulu aku memang dekat dengan Reno. Tapi lambat laun aku sadar jika orang yang aku cintai itu kamu, Defan." Ana semakin meninggikan nada bicaranya. Bahkan dia menangis sesegukan. Dia tak menyangka jika Defan akan sejahat itu.


Defan menatap iba ke arah Ana yang menangis. Ia pun bangkit dan mendekati Ana yang duduk di depan meja kerjanya. Defan merunduk sembari mengusap air mata Ana. "An, coba kamu pikir lagi! Seandainya kecelakaan itu menimpa aku, bukan Reno. Apakah kamu masih akan mengatakan kalau kamu cinta aku?" tanya Defan masih dengan begitu lembut. Meskipun hatinya bergejolak saat teringat kecelakaan yang merengut senyumannya itu.


"An, Reno seperti itu karena dia menolong aku. Apakah kamu pikir aku akan mencintai wanita yang ia cintai? Lalu dimana hati aku?" Defan menekan semua amarahnya. Bayang-bayang kecelakaan itu masih sangat jelas dibenaknya.


Hari naas itu terjadi saat Defan dan Reno juga Julian hendak pergi camping di salah satu pegunungan tempat biasa mereka hiking waktu masih kecil bersama papa mereka.


Saat itu Defan mengendarai mobil sendiri. Sedangkan Reno mengendarai mobil sendiri. Dan Julian bersama dengan Rafa dalam satu mobil. Saat melewati jalan curam dan sepi. Tiba-tiba dari arah depan, ada sebuah truk yang hendak menabrak mobil Defan. Karena mobil Defan berada paling depan. Namun tiba-tiba Reno memacu mobilnya dengan kencang. Dia melindungi Defan dengan cara menghadang truk tersebut.


Brakkk..


Truk yang melaju kencang menabrak mobil Reno yang mengakibatkan Reno terhimpit diantara mobil Defan dan juga truk tersebut. Untung Reno bisa diselamatkan, tapi kakinya mengalami kelumpuhan akibat himpitan tersebut.


Sejak saat itu, Defan menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Dia merasa karena dialah, Reno mengalami semua hal buruk ini.


Ana yang tahu jika Defan merasa tak nyaman segera memeluk Defan. "Maafin aku Def, aku bukan mau mengingatkan kamu tentang kecelakaan itu. Maafin aku." katanya sembari memeluk Defan.


Sudah lama Ana tidak seintim itu dengan Defan. Sudah lama dia tidak mencium aroma tubuh Defan yang wangi.


"Ada yang ingin aku katakan ke kamu lagi, Def." lirih Ana.


"Lelaki yang mengurung aku, ternyata suruhan Anin. Dia adalah pacar Anin yang bernama Arya. Coba kamu sediliki pacar Anin itu!" kata Ana lagi.


Defan terbelalak. Dia segera mendorong tubuh Ana. Ia menatap Ana dengan tajam. "Aku nggak bohong. Aku nggak tahu apa maksud dia mengurung aku, karena sebelumnya kita tidak pernah kenal. Tapi aku rasa itu pasti sudah direncanakan oleh mereka berdua." Ana segera menunjukan sebuah foto dimana Arya dan Anin sedang berpelukan.


"Waktu aku jalan-jalan, aku nggak sengaja melihat itu lalu aku foto. Aku juga kaget, nggak nyangka kalau ternyata mereka pacaran." imbuh Ana semakin membuat Defan kesal.


"Aku yakin mereka sengaja menculik aku, lalu menjebak kamu di bar agar kamu menikahi dia. Mereka hanya ingin harta kamu mungkin." cerocos Ana.


Sementara Defan hanya terdiam sembari terus menatap foto Anin dan Arya berpelukan. Tanpa sadar tangan Defan mengepal, matanya nampak menyala. Dia marah.


Defan segera memanggil Rafa. Dia juga meminta Rafa segera membawa Arya ke hadapannya. "Bawa dia segera ke tempat eksekusi!" katanya.


"Baik." melihat wajah Defan yang marah. Rafa tidak berani bertanya dan menolak. Dia segera pergi menemui anak buahnya agar segera membawa Arya ke tempat yang diminta oleh Defan.


Saking marahnya, Defan juga melempar ponsel Ana sampai hancur. "A.. Defan, ini ponsel aku.." seru Ana melihat ponselnya hancur.


"Nanti aku ganti. Maaf." Defan mulai tersadar akan apa yang dia lakukan. Tapi, itu tidak menyurutkan amarahnya sama sekali.


Meskipun Ana kesal karena ponselnya hancur. Tapi dia tersenyum senang karena telah berhasil memprovokasi Defan. Ia yakin sebentar lagi Defan akan bertengkar dengan Anin.


"Mudah-mudahan habis ini mereka cerai." gumam Ana seorang diri sembari diam-diam tersenyum puas.


Ana belum pernah melihat Defan semarah itu. Kecuali saat mendapat kabar bahwa Reno lumpuh. Ana jadi yakin jika rumah tangga Defan dan Anin sedang diujung tanduk. Defan tipe orang yang tidak bisa melihat barang miliknya disentuh orang lain, apalagi istri.


"Def, kamu tenang dulu ya!" Ana mendekati Defan dan menyentuhnya. Namun, Defan menghindar.


"An, lebih baik kamu pulang! Aku masih ada urusan." kata Defan.


"Oh, baik. Jaga emosi kamu ya! Meskipun mereka bersekongkol untuk memisahkan kita. Tapi kamu juga harus menunjukan rasa kemanusiaan kamu!" pesan Ana sebelum pergi.


Ana sangat mengenal Defan. Dia pasti akan menghabisi Arya dan Anin karena telah mempermainkannya. Apalagi karena telah berani menculik dirinya. Defan tidak akan memberi ampun.