
Julian juga mengatakan kepada ibunya bahwa dia telah putus dari Sandra. Julian meminta ibunya supaya memahami perasaannya dan tidak lagi memaksanya menikah dengan wanita pilihan ibunya.
"Ma, aku ingin nikah dengan wanita pilihan aku sendiri." kata Julian.
Santika terdiam. Dia tidak marah atau berekspresi apapun. Tapi, justru itu membuat Julian panik. "Ma, maafin aku yang mungkin telah mengecewakan mama." imbuh Julian.
Tak lama, Santika menatap anak bungsunya sembari tersenyum. "Maafin mama yang tidak mengerti perasaan kamu." katanya.
Tentunya perkataan Santika tersebut membuat Julian tersenyum bahagia. "Mama nggak marah?" tanyanya.
"Nggak." jawab Santika menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Makasih ma. Aku sayang sama mama." Julian langsung memeluk mamanya. Mungkin baru kali ini Julian benar-benar merasakan kasih sayang mamanya yang luar biasa. Baru kali ini mamanya mau mengerti perasaannya.
"Muah.." Julian berulang kali mencium pipi mamanya.
Reno melihat pemandangan itu kemudian mendekat. Ia penasaran apa yang membuat mama dan adiknya bisa sedekat itu. Pasalnya mereka selalu bertengkar setiap kali bersama. "Tumben kamu cium mama?" tanya Reno.
"Iya dong kak, mama kan kesayangan aku." jawab Julian sembari mencium mamanya lagi.
Sepertinya Reno tahu kenapa Julian begitu sangat bahagia dan terus-terusan mencium mamanya. Sebelumnya, Julian cerita mengenai hubungannya dengan Sandra. Mungkin mamanya mau mengerti jadi Julian merasa sangat bahagia.
"Ma, aku juga mau ngomong sesuatu." kata Reno.
"Apa nak?"
"Aku mau kembali dengan Ana. Aku harap mama bisa dukung aku." kata Reno.
"Ana? Tapi bukannya Ana suka sama anak pembawa sial itu? Kenapa tiba-tiba mau balik sama kamu?"
"Ma, kak Defan bukan pembawa sial. Mama jangan benci terus ke kak Defan dong. Kak Defan tuh orang baik banget tahu." sahut Julian yang selalu tidak terima saat Defan dihina.
"Iya ma, jangan hina Defan seperti itu. Biar bagaimanapun Defan tidak bersalah. Dia hanya hasil dari kesalahan papa." timpal Reno yang juga sedih saat mendengar Defan dihina oleh ibunya.
Santika terdiam. Benar apa kata Reno. Sebenarnya Defan sama sekali tidak bersalah. Dia hanya korban dari kesalahan yang dilakukan oleh suaminya. Tentunya jika harus memilih, Defan juga tidak mau lahir sebagai anak dari selingkuhan papanya.
"Ana menyadari kesalahannya dan dia ingin menjalin hubungan dengan aku. Aku mau mencoba karena aku juga masih suka sama dia." kata Reno lagi.
"Kamu yakin Ana mau menerima kamu? Kamu nggak trauma saat dia tinggalin kamu dulu?" tanya Santika. Ia ingin memastikan bahwa anak-anaknya akan selalu bahagia.
"Ana udah jelasin semuanya ma. Dia juga mau rawat aku. Dia tidak mau terus mengejar Defan, dia ingin dicintai." jawab Reno.
"Nak, mama terserah kamu aja. Apapun yang membuat kamu bahagia, mama pasti akan dukung." jawab Santika.
"Bagi mama yang terpenting adalah kebahagiaan kalian berdua." imbuh Santika.
"Makasih ma." berbeda dengan Julian. Reno hanya berterima kasih tanpa memeluk mamanya. Meskipun begitu, dia tetap sayang sama mamanya.
"Nanti malam kita makan malam bersama! Undang Ana!" kata Santika.
"Dan ajak adik kamu juga!" imbuhnya.
Reno dan Julian saling berpandangan. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar. "Adik? Maksudnya Defan?" tanya Reno mengkonfirmasi.
"Siapa lagi.." jawab Santika.
"Oh oke ma."
"Oke aku telepon kak Defan sekarang." Julian dan Reno merasa sangat bahagia. Apakah itu artinya Santika mulai menerima Defan.
****
Malam hari tiba.
Makan malam itu membahas mengenai kedekatan Reno dengan Ana yang kembali terjalin. "Aku janji akan jaga Reno." kata Ana di depan keluarga Reno.
"Def, maafin aku karena selama ini berusaha menggoda kamu." imbuh Ana.
"Nggak masalah. Banyak wanita yang menggoda aku. Tapi tidak ada yang bisa membuat aku berpaling dari istriku." jawab Defan sembari menggenggam tangan Anin.
"Nin, maafin aku. Kita akan jadi keluarga. Aku harap kamu bisa maafin aku!" kata Ana kepada Anin.
"Ya. Sama-sama." Anin begitu bermurah hati. Ia tidak ingin memperpanjang masalah, apalagi juga telah mengakui kesalahan dan berbesar hati meminta maaf.
Suasana makan malam tersebut terasa hangat setelah mereka saling mengaku salah dan meminta maaf. Lalu setelah selesai, Defan dan Anin pamit pulang.
"Ren, kita pulang dulu ya! Makasih untuk makan malamnya." kata Defan.
"Kenapa buru-buru? Udah nggak betah disini? Udah nggak mau tidur sini karena rumah ini tidak semewah rumah kamu?" sahut Santika dengan sinis.
Namun, meskipun Santika berkata dengan sinis. Defan mampu menangkap maksud dari perkataan Santika tersebut. "Aku akan nginep dan pulang besok pagi-pagi sekali." kata Defan.
"Terserah. Kamar kamu sudah dibersihkan." kata Santika sembari berjalan meninggalkan meja makan.
Senyuman mengembang dibibir Defan. Meskipun Santika menunjukan wajah tak suka. Tapi, Defan melihat jika sebenarnya Santika telah menerimanya. "Makasih ma." ucap Defan sembari tersenyum.
"Kita nginep disini ya!" lirih Defan kepada Anin.
"Iya." tentu saja sebagai istri, Anin harus nurut apa kata suaminya.
...
Di kamar loteng, dulu adalah kamar Defan. Dia sengaja diberi kamar disana oleh Santika. "Dulu ini kamar kamu?" tanya Anin. Ia tak menyangka jika Santika akan begitu kejam kepada Defan.
"Iya.."
"Tega banget sih mama tiri kamu?"
"Nggak apa-apa. Aku justru seneng kok. Saat aku galau, aku biasanya duduk di depan sana sembari menatap langit dan bercerita tentang kegundahan hatiku." Defan merebahkan tubuhnya diatas kasur yang lama tidak ia pakai.
"Kamu mau tahu kenapa aku suka lihat langit dan kapan aku jatuh cinta sama kamu?" Anin menggelengkan kepalanya.
"Kamu inget nggak pernah menghibur seorang anak kecil yang tinggal oleh orang tuanya di bukit?"
Pikiran Anin kemudian melayang ke masa dimana Defan membawanya untuk mengingat masa lalu. Lama kelamaan, dia mulai ingat siapa Defan.
"Jadi itu kamu?" Anin tak pernah menyangka dengan takdir yang serba kebetulan ini.
"Hmm.."
"Jadi itu alasan kamu menikahi aku? Tapi apa kamu pernah mencari aku?"
"Ya. Aku mencari kamu setelah aku dewasa. Tapi katanya, kamu kuliah di kota. Lalu aku meyakini kalau kita pasti akan bertemu. Dan aku akan tepati janji masa kecilku untuk menikahi kamu." kata Defan sembari menatap Anin dengan lekat.
"Aku kira pertemuaan kita hanyalah kebetulan semata. Tapi ternyata semuanya adalah takdir kita." kata Anin lalu memeluk Defan.
"Terima kasih karena sudah setia menjaga hati kamu. Terima kasih karena telah menepati janji." imbuhnya.
"Aku berharap kita tidak akan pernah berpisah lagi. Jadilah bagian hidupku!" kata Defan juga memeluk Anin dengan erat.
_END_
Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung karya saya. Mari kita fokus ke karya selanjutnya. Salam sukses untuk kita semua. Sehat selalu dan senantiasa bahagia.
~Salam sayang, Author~