Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
7. Aku Mau Menikah Dengan Kamu



Lampu yang bergerlapan, musik DJ yang membuat suasana menjadi seru. Pengunjung yang berjoget mengikuti alunan musik disco. "Huu..."


'Ajebbb.. Ajebbb.. Huuu'


"Ladies and gentleman, saatnya kita menyaksikan pole dance dari pendatang baru kita. Mari kita sambut, please wellcome and check it out..." seru DJ.


"Huuu.." seruan serta tepukan tangan bergemuruh di dalam ruangan remang tersebut.


Mereka menikmati pertunjukan pole dance yang disajikan. Sembari bergoyang mengikuti alunan musik Disc Jockey.


Anin, yang semula menjadi pelayan di bar tersebut. Kini mulai merambah ke dunia tari. Dia memang pandai menari sejak kecil. Akhirnya bakat tersebut menjadi modal dia untuk mencari nafkah.


Sudah tiga hari dia menjalani peran baru tersebut. Selama itu juga banyak yang tertarik dengan tariannya. Mereka menyukai tarian pole dance Anin.


Sebenarnyq Anin enggan melakukan pekerjaan tersebut. Tapi karena dia harus membayar biaya kuliahnya. Anin pun melangkah dengan yakin menggeluti pekerjaan tersebut. Gajinya sebagai pelayan dan juga guru nari tidak cukup untuk biaya kuliah dan kebutuhan yang lain.


Dari tempat agak jauh. Defan terus memperhatikan Anin yang begitu lihai menari. Wajahnya berubah kusam, namun dia tidak ingin semua orang tahu. Akhirnya dia hanya terus memperhatikan sembari minum beberapa botol alkohol.


"Lihai juga dia menari.." gumam Rafa yang juga memperhatikan gerakan demi gerakan yang dilakukan oleh Anin. Rafa juga ikutan bergoyang.


Sementara Defan terus menatap Anin. Meski sesekali dia mengalihkan pandangannya. Tapi, Defan tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


Selesai menari. Anin segera ke belakang. Dia menghela nafas lega karena telah melewati malam ini dengan cukup baik. Akan tetapi, ada seseorang yang mengikutinya.


"Hai.." sapa lelaki yang mengikuti Anin tersebut.


"I...ya.." jawab Anin dengan gugup. Apalagi saat lelaki itu menatap Anin dengan penuh gairah dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas.


Tiba-tiba lelaki tersebut menarik tangan Anin. Tentu saja Anin terkejut, dan langsung menepis tangan lelaki itu. "Jangan kurang ajar!" kata Anin dengan marah.


"Halah, jangan sok polos. Aku udah bayar mahal ke temen kamu." kata lelaki itu seperti sedang mabuk.


"Jangan pegang-pegang!" seru Anin merasa jijik.


"Temenku siapa? Aku nggak punya teman disini."


"Tessa." mata Anin pun melotot.


"Ish,, masih aja ya dia." gumam Anin dengan kesal.


Anin pun segera melarikan diri dari tempat tersebut. Namun ternyata lelaki itu membawa teman, jadi Anin dengan mudah tertangkap.


Anin meronta dan sempat berteriak tapi tidak ada yang peduli karena semua orang sudah mabuk. Anin berusaha melepaskan tangannya tapi sia-sia.


Angin segar terasa saat dia melihat Defan berjalan mendekat. "Def, tolong aku!" katanya sembari mengulurkan tangannya dan masih meronta saat dia dibawa ke sebuah ruangan.


Namun, ternyata Defan hanya melewatinya begitu saja. Dia bahkan hanya melirik dan tersenyum kecil. Padahal Rafa sudah berusaha menghentikannya. Tetapi, tetap saja Defan tidak mengindahkan Anin.


"Def, itu.."


"Jangan campurin urusan orang lain, nanti dia merasa terganggu!" kata Defan seolah ingin menyindir Anin.


"Def... Tolong.." Anin tetap berteriak meminta bantuan. Dia sama sekali tidak peduli meskipun Defan cuekin dia.


Tapi, karena Defan tidak mau membantu. Rafa juga tidak berani berbuat apa-apa. Meskipun sebenarmya Rafa nampak sangat khawatir.


"Tol... Uhm.."


"Def, kamu beneran biarin dia dibawa para lelaki itu?" tanya Rafa yang tidak yakin jika Defan bisa setega itu.


Langkah Defan terhenti. Tapi dia kembali melanjutkan langkahnya setelah beberapa saat.


Sementara para lelaki itu membawa Anin ke sebuah kamar. Mereka berkata telah membeli Anin dari temannya, yaitu Tessa. Para lelaki itu memaksa Anin untuk melayani mereka. Namun, Anin berusaha keras untuk melawan. Dia bahkan memukul lelaki tersebut.


Bukk.. Bukk.. Pukulan Anin tepat mengenai pipi. Dia masih melawan meskipun yang dihadapi adalah tiga orang pria. Beruntung, ketiga telah terpengaruh minuman keras. Jadi Anin bisa sedikit melakukan perlawanan.


"Brengs*k, pegangi dia! Kita gantian." kata salah satu dari mereka.


Kedua lelaki memegangi tangan Anin. Mereka juga merobek baju Anin. Pada saat itu, Anin berusaha melawan tapi dia tetap kalah. Akhirnya dia memejamkan matanya, pasrah atas apa yang akan terjadi. Air matanya tak berhenti mengalir.


Dalam pasrahnya Anin berkata dalam hatinya. "Siapapun yang menolong aku. Aku janji akan jadiin dia pacar, kalau cowok. Dan akan jadiin dia saudara jika cewek." gumamnya dalam hati.


Brakk.


Namun, siapa sangka keberuntungan masih milik Anin. Seseorang menendang kamar tersebut lalu memukul ketiga lelaki itu tanpa ampun. "Urus mereka!" kata seseorang tersebut.


Lelaki itu kemudian melepas jas-nya dan memakaikannya ke Anin. Saat Anin membuka matanya, dia terkejut melihat Defan memakaikan jas-nya. "Defan.." Anin yang merasa lega langsung memeluk Defan dengan erat.


"Aku takut banget.." katanya pelan masih dengan memeluk Defan.


Defan pun sempat terkejut karena Anin tiba-tiba memeluknya. Tangannya hendak memeluk balik Anin. Tapi ia urungkan.


"Kenapa kamu jahat? Kamu tadi cuekin aku. Kalau sampai mereka lakuin hal itu gimana? Katanya kamu mau tanggung jawab ke aku? Tapi kenapa kamu jahat.." Anin menangis sembari memukul dada Defan pelan. Lalu dia mulai pingsan.


Defan menggendong Anin keluar dari tempat tersebut. Dia membawa wanita itu ke rumahnya. Di mobil, ia nampak khawatir karena berulang kali menggosokan minya angin ke hidung dan tangan Anin.


Rafa melirik dari kaca depan sambil fokus menyetir. Dia merasa lega juga karena mereka belum terlambat menyelamatkan Anin. Kalau tidak, mungkin Defan akan membunuh mereka bertiga.


Selama menjadi teman Defan. Rafa belum pernah seemosional itu selain saat Reno kecelakaan. Bahkan saat Ana menghilang, dia memang marah tapi tidak seemosional itu.


Begitu sampai di rumahnya. Bahkan Defan sendiri yang menggendong Anin. Dia tidak memperbolehkan siapapun menyentuh Anin. Bahkan Rafa sekalipun.


"Biar aku gendong!" kata Rafa.


"Nggak perlu. Kamu panggil dokter untuk periksa dia saja!" jawabnya.


"Ya.." Rafa segera menghubungi dokter yang biasa memeriksa Defan.


Dia juga meminta para pelayan menyiapkan makanan dan juga peralatan untuk Anin. "Def, aku sudah-."


Saat Rafa masuk ke kamar, dia melihat Defan sedang mengganti pakaian Anin. "Keluar!" katanya dengan dingin.


Dengan segera Rafa keluar dari kamar Defan. Dia kembali merasa aneh karena Defan membaringkan Anin di tempat tidurnya. Padahal semua orang juga tahu kalau Defan sangat tidak suka jika kasurnya dipakai orang lain.


Defan dengan hati-hati mengganti pakaian Anin. Dia bahkan tidak minta bantuan pembantu perempuan. Tapi melakukannya sendiri. Karena tidak ada pakaian wanita. Defan memakaikan kemejanya untuk Anin.


Tak lama, dokter datang dan memeriksa Anin. "Tuan tidak perlu khawatir! Nona juga kaget saja. Saya tulisan resep vitamin untuk nona." kata dokter tersebut.


Defan pun mulai merasa lega.


Keesokan paginya.


Anin membuka matanya dan kaget saat melihat Defan tidur disebelahnya. Dia mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Termasuk perkataannya ke Defan sebelum ia pingsan.


Bibirnya menyungging. Dia menatap Defan yang masih terlelap. Ya, harus diakui jika lelaki itu memang terlihat sangat tampan. "Makasih ya karena udah tolongin aku!" kata Anin pelan takut membangunkan Defan.


"Hmmm.. Iya." jawab Defan dengan mata terpejam.


"Kamu tidak tidur? Kamu hanya pura-pura tidur?" seru Anin dengan kesal. Dia juga mendorong tubuh Defan pelan.


"Nyebelin.." ucap Anin yang sebenarnya merasa malu.


Defan hanya tersenyum kemudian bangkit. "Laper nggak? Aku minta bibi untuk siapin sarapan." kata Defan hendak berjalan ke dapur.


"Def!" namun tiba-tiba Anin memanggilnya.


"Kenapa?"


"... Aku mau nikah sama kamu." setelah terdiam cukup lama. Anin pun akhirnya membuka suaranya.


Defan memicingkan matanya. "Bentar, bentar, aku minta bibi siapin sarapan dulu. Kayaknya kamu ngigau karena laper deh." kata Defan.


"Nggak Def, aku serius. Aku mau nikah sama kamu." kata Anin lagi.


"Alasannya? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Defan penasaran.


"Karena aku bilang kalau ada yang tolongin aku, aku akan nikahin dia kalau laki-laki."


"Oh, jadi kamu merasa berhutang budi?"


"Bukan karena itu. Tapi karena aku merasa aku memang butuh perlindungan. Lagi pula kan kamu yang udah ambil kesucianku.."


"Oke, oke, aku nggak peduli apa alasan kamu. Kita makan dulu, nanti baru dibicarakan lagi!" kata Defan.