
Di ruangan gelap. Hanya sebuah lampu yang menyala. Defan menunggu kedatangan Rafa bersama dengan pesanan yang dia minta. Ya, dia menunggu Arya dibawa ke hadapannya.
Pikirannya masih melayang kepada foto di ponsel Ana tadi. Hatinya mulai tak tenang dan menjadi kesal. Dia tidak sabar untuk menghajar lelaki yang berani menyentuh istrinya.
Tak lama, seseorang membuka pintu ruangan eksekusi tersebut. Ruangan yang disiapkan Defan untuk menghukum siapapun yang membuatnya marah.
Rafa mendorong seorang lelaki ke depan Defan. Lelaki itu berlutut di depan Defan dengan wajah penuh luka dengan mata tertutup kain berwarna hitam. Sepertinya Rafa harus bersusah payah membawa lelaki itu.
"Ampun.. Ampuni aku!" kata Arya ketakutan. Apalagi dia berada di ruangan yang cukup gelap. Hanya ada sebuah lampu yang menyala tepat diatas kepalanya.
"Aku ngaku bersalah." imbuhnya saking ketakutan.
Alis Defan terangkat. Padahal dia belum membuka mulutnya. Tapi kenapa lelaki itu sudah mengaku salah. "Apa salah kamu? Coba katakan!" suruh Defan.
"Aku salah karena aku udah culik calon istri kamu. Tapi aku hanya disuruh Anindya. Ampuni aku!" katanya lagi.
Defan memicingkan matanya. "Oh, jadi kamu pacar Anin yang tak berguna itu?" tanya Defan dengan nada mengejek.
"Kenapa Anin minta kamu buat culik calon istriku? Apa keuntungan buat dia?" tanya Defan lagi.
"Karena Anin ingin menjadi istri kamu. Anin ingin merubah nasibnya yang buruk." jawab Arya sesuai dengan perintah Ana sebelumnya.
Ana mengancam akan melaporkan Arya ke polisi dengan tuduhan penculikan. Jika Arya tidak mengarang cerita bahwa Anin-lah dalang dibalik menghilangnya Ana.
Mendengar jawaban Arya tersebut Defan pun tersenyum kecil. Jika bukan karena dia telah mengenal Anin. Defan mungkin akan percaya dengan alasan itu. Sayangnya, Defan lebih percaya dengan istrinya dibanding dengan omongan orang lain.
"Selain tidak berguna, kamu ternyata juga bodoh." kata Defan lagi.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan perkataan kamu? Aku lebih percaya dengan istriku dibanding orang yang tak berguna seperti kamu." imbuh Defan.
"Asal kamu tahu, Anin tidak sepolos yang kamu pikir! Dia sengaja menjebak kamu supaya menikahinya. Dia hanya ingin merubah nasibnya, dia bosan menjadi miskin." seru Arya terus memprovokasi Defan supaya membenci Anin.
"Bagus dong dia tinggalin cowok kere kayak kamu. Aku bisa puasin semua keinginan dia." jawab Defan. Ia sama sekali tidak goyah. Kepercayaannya kepada Anin jauh melebihi ekspetasi.
"Mana tangan yang memeluk istriku tadi?" Defan mulai marah.
Tujuannya meminta Rafa membawa Arya ke hadapannya. Karena ingin memberi pelajaran kepada Arya karena berani menyentuh istrinya.
"Patahkan tangan yang berani menyentuh istriku!" perintah Defan.
"Jangan. Ampuni aku. Aku akan jujur satu hal, asalkan kamu mau mengampuni aku!" seru Arya yang sudah ketakutan. Bahkan dia telah kencing dicelana karena ketakutan.
Defan yang hendak meninggalkan tempat tersebut. Seketika berbalik badan. Ia berjalan mendekati Arya kembali. "Bicara!" katanya dengan dingin.
"Sebenarnya.. Sebenarnya aku bukan disuruh Anin. Aku membawa Ana pergi karena jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Aku yang menyelamatkan Ana dari kecelakaan itu." kata Arya. Dia mulai mengaku karena dia melihat bahwa Defan selalu percaya kepada Anin meskipun sudah difitnah.
"Lalu kenapa kamu fitnah Anin? Apa yang kamu harapkan dari dia?" tanya Defan.
"Aku.. Aku.. Aku.." Arya sempat terhenti. Dia takut untuk berkata, karena kalau dia mengaku. Itu sama saja dengan menghancurkan rencana Ana. Itu artinya Ana akan melaporkannya ke polisi.
"Kamu kenapa? Jawab!" bentak Defan yang mulai tidak sabar.
"Kenapa kamu fitnah istriku?" seru Defan lagi.
Arya kembali membisu. Tentu saja itu menyulut kemarahan Defan. "Potong tangannya!" perintah Defan.
"Ampun, jangan!" Arya kembali ketakutan. Dia memohon agar Defan tidak bertindak kejam.
"Aku diminta Ana." Arya menjawab dengan cepat.
"Ana?" Defan tersenyum kecil. Dia bahkan tidak terkejut sama sekali. Ia telah menebaknya sejak Ana mulai memprovokasinya tadi.
"Jadi kamu lakuin semua ini demi cinta? Bukannya Anin pacar kamu? Itu artinya kamu nggak pernah cinta sama Anin?" tanya Defan.
"Dulu aku suka sama dia. Tapi dia membosankan. Aku pacaran sama Anin supaya dia mau kerjain tugas aku." jawab Arya dengan jujur. Dia berpikir jika dia berkata jujur, Defan akan melepaskannya.
"Oh.." Defan bersenandung.
"Orang yang masuk sini, biasanya kembali tanpa nyawa. Karena kamu mantan pacar istriku, dan kamu udah selamatin adikku. Kamu bisa pulang ke rumah." ucap Defan.
Paruh pertama Arya semakin ketakutan. Namun, diparuh kedua ia kembali tenang.
"Pulangin dia! Tapi aku mau tangan dia tidak bisa lagi berguna!" perintah Deran sebelum dia melangkah menuju pintu keluar.
Tiba-tiba Defan berbalik. "Jangan pernah berani lapor polisi! Kalau nggak, kamu dan seluruh keluarga kamu akan habis. Ini termasuk kemurahan hatiku karena kamu udah berani fitnah dan sentuh istriku." kata Defan lalu dia berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.
Dari ruangan gelap itu terdengar teriakan dan erangan Arya yang begitu menyedihkan.
****
Defan pulang ke rumah.
"Nyonya dimana?" tanyanya kepada salah satu assiten rumah tangganya.
"Di dapur tuan, sedang memasak makan malam untuk tuan." Defan segera menuju dapur.
Ia melihat Anin yang masih sibuk menyiapkan makan malam untuk suaminya. Ia melangkah pelan mendekati istrinya. Tapi, wajahnya agak kaku. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya saat teringat Arya yang memeluk Anin.
Tiba-tiba Defan memeluk Anin dari belakang. Tentu saja itu membuat Anin kaget. "Eh. Def, udah pulang? Makanannya belum mateng." kata Anin sembari membalikkan badan.
Ia melihat wajah Defan yang nampak kusut. Anin berpikir jika Defan hanya lelah. Karena memang akhir-akhir ini Defan mengatakan jika pekerjaannya sangat banyak.
"Gomawo." gumamnya.
Seketika Defan menatapnya dengan lekat. Anin lalu menyentuh pipi Defan dengan lembut. "Terima kasih." ucapnya lagi.
"Untuk?"
"Untuk semua hal yang telah kamu lakuin buat aku." jawab Anin.
Sebenarnya Defan menanyakan kenapa Arya bisa memeluk Anin. Tapi dia masih enggan untuk bertanya.
Cup.
Defan mengecup bibir Anin. "Sejak menikahi aku, kebahagiaan kamu adalah kewajibanku." katanya dengan lembut.
Anin kembali tersenyum. Ia mengalungkan tangannya dileher Defan. Kemudian Defan mengangkatnya, sehingga Anin duduk di meja dapur. Dengan tangan kirinya mematikan kompor. Defan segera menyamb*r bibir istrinya.
"Uhm.."
Anin membalas ciuman itu. Mereka pun saling berciuman di dapur. Tak peduli jika assisten rumah tangga mereka akan melihat.
Defan menggendong Anin, ingin mrmbawanya ke kamar. "Makan dulu aja, aku laper!" bisik Anin membuat hasrat Defan seketika hilang.
Namun, dia tidak berani membantah apa kata istrinya. Dia menurunkan Anin kembali.
"Makan yang banyak karena malam ini kamu akan kehilangan banyak energi!" ucap Defan sembari tersenyum.
"Malam ini aku tak akan kalah." jawab Anin sembari menggoda Defan. Ia sengaja menunjukan lekuk tubuh indahnya di depan Defan yang masih makan.
Melihat tubuh indah istrinya. Hasrat Defan kembali memuncak. Namun masih ia tahan karena Anin masih makan.
Begitu suapan terakhir. Defan segera berdiri lalu menggendong Anin ke kamar. Ia melempar tubuh kecil Anin ke kasur. Dan dengan segera membuka semua pakaiannya. Lalu menerkam Anin tanpa ampun.
Tiga jam berlalu. Defan masih memiliki stamina yang kuat. Napsu disertai rasa cemburu membuatnya semakin bersemangat.
"Am..pun Def.. Aku capek.. Hah.." Anin mulai menyerah. Dia tidak menyangka jika Defan akan melakukan dengan semua kekuatannya.
"Nin, aku tak.. Mau kamu.. disentuh orang lain.. Kamu.. Hanya boleh.. Menjadi... Milikku..ah.." Defan terus menggerakan tubuhnya dengan cepat.
Sedangkan Anin hanya menganggukan kepalanya sembari memejamkan matanya, menikmati perlakuan Defan yang tanpa ampun.