
"Kenapa mukanya kecut?" tanya Sandra ketika melihat Anin murung sepanjang hari.
"Nggak apa kok." jawab Anin masih belum jujur kepada Sandra.
"Pasti lagi berantem sama Defan?" tebakan Sandra sangatlah tepat.
"Kenapa? Bukannya akhir-akhir ini kalin baik-baik aja, bahkan kelihatan romantis banget." tanya Sandra penasaran.
Seketika wajah Anin menjadi kecut. Dia menyendarkan kepalanya dibahu Sandra. Seperti tak memiliki semangat sama sekali. "Ternyata semua kebaikannya hanya sebatas kewajiban sebagai suami." lirihnya.
"Maksudnya?" Sandra tak mengerti tapi semakin penasaran.
"Dia masih belum bisa move on dari calon istrinya yang hilang itu. Bahkan dia juga mengatakan jika tidak ada wanita yang sama seperti dia, termasuk aku." Anin berkata dengan marah. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Jawab aku dengan jujur! Kamu baper kan dengan kebaikan Defan selama ini?" Sandra kembali menebak isi hati Anin.
Anin terdiam sejenak. "Ya." jawabnya dengan jujur.
Harus diakui jika selama beberapa hari terakhir. Anin menjadi baper karena perilaku Defan yang romantis. Dia juga tak ingin seperti itu. Tapi perasaannya tidak bisa ditahan.
"Kamu jatuh cinta sama suami kamu?" Anin menganggukan kepalanya pelan.
"Tapi jangan bilang ke siapapun! Aku nggak mau dia tahu kalau aku baper, bisa diledekin aku. Apalagi ternyata semua hanya kewajiban saja." imbuh Anin memohon kepada Sandra agar sahabatnya itu tidak cerita ke siapapun.
"Tapi aku rasa Defan juga memiliki perasaan yang sama seperti kamu." kata Sandra.
"Sok tahu. Orang dia sendiri yang bilang kalau aku tak akan bisa seperti calon istrinya." sanggah Anin. Dia masih kesal saat teringat perkataan Defan tadi pagi.
Sandra mengerutkan keningnya. Padahal dia sangat yakin jika Defan sebenarnya menyukai Anin. Terlihat jelas dari perilaku Defan selama ini. "Ya udah, daripada kesal gitu. Mending kita ke mall yuk! Katanya mau temenin aku beli baju." ajak Sandra yang tidak ingin melihat Anin semakin sedih.
"Yuk!"
Mereka lalu pergi ke mall untuk jalan-jalan sekalian mengantar Sandra membeli baju. Mereka juga main sampai lupa waktu. "Udah hampir petang, kamu nggak siap-siap?" tanya Anin.
"Kalau gitu pulang yuk!" ajak Sandra.
Sambil berjalan keluar dari mall. Mereka berbincang-bincang terlebih dahulu. "Kamu kenal sama gebetan kamu dimana?" tanya Anin penasaran dengan kencan buta Sandra. Karena selama ini dia tidak melihat Sandra dekat dengan siapapun kecuali dengan Rafa.
"Saudara aku yang kenalin. Bukan gebetan, masih mau ketemu belum jadi gebetan." jawab Sandra dengan lesu. Sejujurnya, dia tidak mau melakukan kencan buta tersebut. Tapi dia tidak bisa menolak. Mau tidak mau dia harus melakukannya.
"Kamu mau ikut?" tanya Sandra.
"Nggak. Aku nggak mau ganggu kamu." jawab Anin. Sebagai sahabat, Anin ingin Sandra bahagia dan berharap Sandra segera menemukan tambatan hatinya.
"Nin..." tiba-tiba seseorang memanggil nama Anin.
Anin dan Sandra segera menoleh. Seorang laki-laki berlari mendekati mereka berdua. "Aknan?" gumam Anin.
"Itu temen kamu yang relawan panti itu?" Sandra bertanya sembari menyenggol lengan Anin.
"Iya."
"Hai Nin, hai San..Sandra kan?" Aknan menyapa Anin dan juga Sandra. Dia mengingat-ingat nama Sandra sebelumnya.
"Iya. Apa kabar Aknan?" tanya Sandra.
"Baik. Kalian mau pulang?" tanya Aknan karena melihat Anin dan Sandra berjalan menuju pintu keluar.
"Hmm... Kamu sama siapa?" tanya Anin.
"Sendirian. Mau beli peralatan sekolah untuk anak panti."
"Oh ya kalau gitu biar ditemenin Anin." sahut Sandra sambil mendorong Anin mendekati Aknan.
Anin mempelototi Sandra yang sembaranga bertindak. "Udah nggak apa aku balik sendirian. Itu kan demi anak panti juga." kata Sandra.
"Kamu nggak keberatan kan ditemenin Anin sekalian anter dia pulang?" tanya Sandra kepada Aknan.
"Enggak."
"Eh, aku sih nggak apa-apa temenin kamu." jawab Anin.
"Kamu bisa pulang sendiri?" tanyanya kepada Sandra.
"Beres. Cuma deket ini kok." jawab Sandra. Dia kemudian berpamitan dan membiarkan Anin dan juga Aknan masuk ke dalam mall.
"Dah.." Sandra melambaikan tangannya.
"Hati-hati!" seru Anin.
Sementara Sandra hanya tersenyum sembari mengacungkan ibu jarinya.
Anin dan Aknan berbelanja alat-alat sekolah untuk anak-anak di panti asuhan. "Nin, kita makan dulu ya! Kamu udah makan?" ajak Aknan.
"Boleh. Abis ini kita ke panti anterin barang-barang ini kan?" Aknan menganggukan kepalanya.
Anin dan Aknan memilih makan di kafe depan mall. Karena di foodcourt mall penuh. "Mau pesen apa?"
"Samain aja." jawab Anin.
Anin memesan makanan yang sama dengan Aknan. "Nan, aku minta maaf ya karena perbuatan Defan waktu itu." ucap Anin.
"Ya elah, iya Anindya.. Kamu udah berapa kali bilang maaf."
"Aku cuma masih nggak enak aja." kata Anin.
"Aku denger-denger, suami kamu adiknya Reno, donatur terbesar panti?" Anin menganggukan kepalanya.
"Selamat ya Nin, atas pernikahan kamu."
"Makasih ya Nan."
****
Di sebuah kafe yang cukup mewah. Julian celingukan, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. "Mana sih?" gumamnya.
Julian melirik jam tangannya. Wajahnya udah terlihat kusut mungkin karena kelamaan menunggu. "Nggak tepat waktu banget." gumamnya dengan kesal.
Kalau bukan karena dia tidak ingin mendengar ocehan mamanya. Dia pasti sudah pergi dari tempat itu. Karena dia paling tidak suka dengan orang yang tidak bisa tepat waktu.
"Maaf, aku terlambat. Tadi macet." seorang wanita berdiri di depan mejanya. Gaun berwarna biru tua selutut yang pas dengan bentuk badan wanita itu. Menjijing tas keluaran terbatas.
Mata Julian melihat dari atas ke bawah. Sosok wanita cantik itu mampu membuatnya terpana sesaat.
"Udah lama? Maaf ya? Oh ya kenalin aku Sandra Wijaya." wanita itu mengulurkan tangannya.
"Julian." jawab Julian juga mengulurkan tangannya.
"Oh ya langsung aja ya. Maaf sebelumnya, sebenarnya aku nggak setuju dengan perjodohan ini." Sandra langsung berkata intinya.
"Oh, aku juga sama. Aku nggak setuju dengan perjodohan ini. Kita masih muda, masih bisa mencari jodoh sendiri." kata Julian.
"Oke kalau gitu. Kalau kamu juga nggak setuju. Kamu tolong bilang ke orang tua kamu untuk membatalkan perjodohan ini. Bilang aja kalau kamu sudah punya pacar." pinta Sandra.
"Kenapa nggak kamu aja yang bilang ke orang tua kamu?"
"Aku nggak bisa, karena papa aku pasti akan marah besar." jawab Sandra.
"Kamu pikir mamaku juga nggak akan marah?" tanya Julian balik.
"Terus gimana? Aku belum siap nikah. Aku masih kuliah dan baru akan wisuda satu tahun lagi."
Julian dan Sandra sama-sama terdiam. Mereka memikirkan cara agar bisa menolak perjodohan mereka. "Gimana kalau kita pura-pura menerima perjodohan ini. Lalu setelah sebulan, kita bilang ke orang tua kita kalau kita nggak cocok? Sembari mencari alasan yang pas. Setidaknya kita udah nurut apa mau mereka kan?" kata Julian.
"Em, boleh juga sih. Oke kalau gitu. Deal." Sandra setuju dengan ide Julian.