
Defan memicingkan matanya saat menerima pesan notifikasi penarikan dari bank. Namun, dia tidak masalah dengan pengeluaran tersebut. Itu adalah hak Anin sebagai istrinya.
Tak lama kemudian, dia menerima pesan dari Anin. "Kamu pulang jam berapa? Makan di rumah aja, aku udah masakin buat kamu." Anin juga mengirim video kegiatan memasaknya. Perlahan senyuman Defan merekah.
"Ya. Setengah jam lagi aku sampai rumah." balasnya.
"Oke😉." senyuman Defan semakin melebar.
Dia segera meletakan ponselnya dan kembali fokus dengan kliennya. Setelah mencapai kesepakatan. Defan pun segera berpamitan. "Oke kalau gitu, saya pamit. Senang bekerja sama dengan anda." katanya.
"Senang bekerja dengan pak Defan."
"Pak Defan tidak makan dulu?" tanya kliennya.
"Nggak pak. Saya ada janji dengan seseorang." jawab Defan segera membereskan dokumennya dan segera pergi.
Ia berjalan dengan cukup cepat. Membuat Rafa harus berlari kecil untuk menyusulnya. "Kamu ada janji sama siapa sih? Anindya?" tanya Rafa.
"Ya. Dia udah masak buat aku. Nggak mungkin kan aku makan di luar?" Rafa memutar bola matanya.
"Kamu jatuh cinta sama Anindya?" tanya Rafa yang sempat menghentikan Defan yang hendak membuka pintu mobil.
Namun kemudian dia segera menyuruh Rafa masuk dan menyetir. Defan bahkan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rafa.
"Hah.. Aku makin nggak ngerti sama dia." gumam Rafa seorang diri. Selama ini, Defan memang tidak menjelaskan secara terperinci alasan dia menikahi Anin. Yang dia tahu hanyalah, semenjak kehadiran Anin. Defan mulai berubah. Untungnya itu berubah ke arah lebih baik.
Sementara di rumah.
Anin menunggu Defan di meja makan. Sesekali dia akan melihat jam di ponselnya. Dan pada saat itu, jam menunjukan pukul 20.30 malam. "Hoam.. Katanya setengah jam sampai?" gumamnya sembari menguap.
Sebenarnya, Anin sudah mengantuk. Tapi dia harus menunggu Defan untuk memberikan penjelasan mengenai uang yang dia pakai untuk beli sepatu bersama dengan Sandra.
Karena merasa jenuh. Anin pun keluar rumah. Ia menunggu Defan di teras depan rumah. Udara dingin menusuk ke tulang. Anin mendekap tangannya, dan sesekali mengelus lengannya untuk menciptakan kehangatan.
"Nyonya harus pakai jaket biar nggak kedinginan!" kata salah satu penjaga memberikan jaket untuk Anin.
"Makasih." ucap Anin.
"Nyonya nungguin tuan?" Anin tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
Tak lama kemudian, mobil terdengar suara mobil berhenti di depan. Anin menoleh dan tersenyum saat melihat Defan keluar dari mobil tersebut. Dia juga bangkit dan berlari mendekati Defan. "Kamu sudah pulang?" tanyanya.
"Hmm.. Kenapa nunggu diluar? Nggak takut kedinginan?" Defan melepas jas-nya. Kemudian melempar jaket yang kenakan oleh Anin. Dia tahu jika jaket itu bukan milik Anin. Karena itu adalah jaket pria.
"Eh.. Pak ini jaket bapak." Anin mengambil jaket itu kemudian mengembalikan kepada pemiliknya.
Lalu Defan memakaikan jas-nya ke Anin. Dia juga sempat mempelototi penjaga yang meminjamkan jaket ke Anin. "Maaf tuan." penjaga tersebut menundukan kepalanya kemudian berjalan mundur.
"Pipi kamu masih sakit?" Defan memeriksa pipi Anin.
"Udah nggak. Makasih salepnya." jawab Anin.
"Yuk makan, aku udah masak buat kamu." Anin menarik tangan Defan dan mengajaknya masuk ke rumah. Dia tidak ingin penjaga itu merasa terintimidasi dengan tatapan Defan.
Sedangkan Rafa yang dicuekin menjadi kesal. Dia segera melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Defan menuju rumahnya sendiri. "Dasar bucin." gumamnya dengan kesal.
Defan dan Anin makan bersama dengan bahagia. Anin melakukan tugasnya sebagai istri dengan sangat baik. Dia melayani Defan dengan lembut.
"Enak nggak?" tanya Anin.
"Hmm.. Bener kata orang, masakan istri itu jauh lebih nikmat." kata Defan.
"Def, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan." lirih Anin. Dia takut untuk berkata jujur ke Defan mengenai uang untuk membeli sepatu tadi.
Defan pun akhirnya menyadari jika kebaikan Anin tersebut ternyata ada maksud tersembunyi. Defan mengelap bibirnya. "Bicara nanti, aku mau mandi dulu." dia segera bangkit dan berjalan menuju kamar.
Anin tahu jika mungkin Defan kecewa kepadanya. Tapi dia tetap harus menjelaskan mengenai uang dalam black card yang dia pegang.
"Def, aku minta maaf." katanya saat Defan keluar dari kamar mandi. Namun, Defan mengacuhkannya.
"Aku nggak bermaksud untuk gunain uang kamu. Tapi tadi Tessa dan teman-temannya menghina aku. Makanya aku terpaksa gunain uang kamu buat beli sepatu, juga beliin Sandra. Maaf, tapi aku janji akan ganti uang kamu. Aku janji." cerocos Anin.
Defan masih tetap diam. Namun, dia mulai tersenyum tipis. Ternyata itu alasan kenapa Anin menunggunya sampai malam.
Bukk. Bukk. Bukk.
Defan menepuk kasur agar Anin mendekat. Dan Anin pun nurut. Dia naik ke ranjang dan perlahan mendekati Defan. "Aku pasti akan ganti. Tapi nyicil." katanya lagi.
"Jadi itu alasan kamu nungguin aku, pakai segala masakin aku?" tanya Defan menatap Anin dengan lekat.
Anin menganggukan kepalanya. "Tapi sebagai istri kan itu memang kewajiban aku, masakin kamu, layani kamu." imbuh Anin.
"Sebenarnya uang dalam kartu itu juga hak kamu sebagai istriku. Kamu boleh gunakan uang itu sesuka kamu." Defan menyentuh kepala Anin dengan lembut.
"Jadi kamu nggak marah?"
Defan menggelengkan kepalanya. "Uangku uang kamu juga. Apa yang menjadi milikku juga menjadi milik kamu."
"Ah.. Gomawo.." Anin merasa senang dan bisa bernafas lega. Padahal dia takut banget Defan akan marah. Karena uang yang ia gunakan tidaklah sedikit. Bahkan sampai puluhan juta.
"Ikut aku yuk!" Defan menarik tangan Anin.
"Kemana?"
Defan tidak menjawab. Dia terus menarik tangan Anin sampai ke taman yang ada di samping rumahnya. Di sana ada sebuah taman yang cukup luas. Dan dari sana juga bisa melihat ke langit yang luas.
Defan merebahkan dirinya diatas rerumputan yang terawat dengan baik. Dia juga menarik tangan Anin agar ikut rebahan. "Wow langitnya indah banget yak dari sini.." seru Anin kegirangan.
Defan hanya tersenyum melihat Anin yang kegirangan. "Kamu suka langit juga?" tanya Anin.
"Hmm.. Karena saat aku menatap langit. Masalah yang aku hadapi tidak sebanding luasnya dengan langit itu." jawab Defan.
"Dan saat aku menatap langit, atau berbicara sendiri dengannya. Aku seperti sedang berbicara dengan ibu dan papaku." imbuh Defan.
Seketika Anin menoleh. "Sama. Aku juga ngerasa gitu. Karena kata nenek, orang tuaku ada disana." tutur Anin.
"Aku belum pernah ketemu sama orang tuaku." Anin tersenyum pahit.
"Eh, kamu bilang ibu kamu diatas sana? Berarti ibu kamu udah nggak ada?" Defan menganggukan kepalanya pelan.
"Terus yang tadi?"
"Mama tiri aku." Anin melongo mendengar jawaban Defan.
"Aku anak haram yang tidak diinginkan. Papaku selingkuh dengan ibuku, kemudian lahir aku. Itu sebabnya mama tiriku benci banget sama aku." Defan mengungkapkan identitasnya kepada Anin.
"Aku dibawa ke rumah setelah ibuku meninggal. Kemudian mama tiriku dan papa sering ribut. Tak lama papa kecelakaan, lalu meninggal. Terus beberapa tahun yang lalu, kakak tiriku mengalami kelumpuhan karena berusaha menyelamatkan aku dari sebuah kebakaran gudang. Satu setengah bulan lalu, calon istriku menghilang dalam sebuah kecelakaan tungal dan sampai sekarang belum di temukan. Itu sebabnya mama benci banget sama aku, dan menganggap aku sebagai anak pembawa sial." meskipun namoak tabah, tapi jelas sekali jika Defan merasa sakit saat menceritakan hal tersebut.
Anin yang merasa kasihan pun kemudian menggenggam tangan Defan. "Kamu orang pilihan. Karena Tuhan percaya kamu kuat." katanya dengan lembut.
Defan menatap Anin dengan lekat. Senyuman tipis menghiasi wajah tampannya. "Kapan-kapan aku kenalin sama kakakku ya." katanya.
"Boleh. Tapi bilangin ke kakak ipar agar tidak jatuh cinta ke aku. Secara aku kan cantik, imut, manis, uh.." kata Anin memuji dirinya membuat Defan tersenyum riang.
"Dan nyebelin." sahut Defan.
"Biarin.."
"Hoahmmm.. Aku ngantuk, mau tidur nanti kalau masuk aku dibangunin ya!" kata Anin memejamkan matanya.
"Iya." sedangkan Defan masih ingin menikmati pemandangan langit malam ini.
Tak butuh waktu lama, Anin pun segera terlelap disamping Defan. "Dasar anak kecil." gumam Defan sembari menyelimuti Anin dengan jaket yang ia kenakan. Defan juga mengelus pipi mulus Anin dengan lembut.