Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
29. Hal Lain



Ketika Anin dan Sandra sedang makan di kafe yang berada diujung jalan kampus. Tiba-tiba seseorang mendekatinya. "Hai Nin, apa kabar?" tanya seorang lelaki yang dia kenal.


Mata Anin membulat saat melihat lelaki itu. Ya, lelaki yang dia pacari selama lebih dari setahun dan pergi tanpa kabar.


Begitu juga Sandra yang juga mengenal lelaki itu. Yah, dia adalah Arya Rajendra, pacar Anin yang menghilang tanpa kabar beberapa waktu lalu.


"Apa kabar San?" Arya juga menyapa Sandra yang nampak bengong.


"Ba..baik.." jawab Sandra.


"Nin, aku minta maaf karena nggak kasih kabar ke kamu. Mama aku mutusin semua komunikasi kita." Arya mendekati Anin yang terlihat dingin.


"Nggak apa kok." Anin masih bersikap dingin. Bukan karena dia marah ke Arya. Tetapi, karena dia menjaga perasaannya agar tidak lagi jatuh cinta kepada Arya. Dia sudah bersama Defan sekarang.


"Kamu marah sama aku? Aku beneran minta maaf!" kata Arya lagi.


"Aku nggak marah kok. Memang awalnya aku marah dan kecewa. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa menerima semuanya." jawab Anin tanpa ekspresi apapun.


"Nin, apakah kita masih bisa bersama?" tanya Arya tanpa rasa malu sedikit pun. Dia yang telah pergi meninggalkan Anin. Sekarang dia memohon untuk kembali.


"Maaf Arya, kita udah selesai. Aku punya kehidupan baru dan kamu carilah kebahagiaan kamu!" Anin langsung menolak.


"Aku janji akan memperjuangkan hubungan kita. Aku nggak akan kalah lagi dari mama aku. Aku janji Nin..!" Arya tetap memohon. Dia meraih tangan Anin dan menggenggamnya.


Dengan sekuat tenaga Anin menarik tangannya. "Aku nggak bisa, Arya. Lepasin aku!" pintanya.


"San, tolong!" Anin meminta bantuan Sandra agar membantunya menarik tangannya.


"Nin, aku mohon!" Arya tidak mau melepaskan tangan. Dia semakin erat menggenggam tangan Anin.


"Lepasin Arya!" seru Sandra sembari membantu Anin menarik tangannya.


"Tolong.. Tolong.. Tolong.." Anin dan Sandra berteriak untuk menarik perhatian orang-orang disekitar.


Benar saja, beberapa orang datang menolong Anin. Mereka bahkan hampir menghajar Arya yang bertingkah berlebihan.


"Jangan beraninya sama perempuan!" seru salah satu orang yang menolong Anin.


"Kita hajar aja!"


Sebelum menyulut amarah yang lain. Arya segera melepaskan Anin kemudian dia lari terbirit-birit. Dia takut akan dihajar oleh orang-orang dikafe tersebut.


Arya pergi dengan kesal. "Sial*n, dia udah nggak aku bodohi." gumannya dengan kesal.


"Ehem.." namun tiba-tiba Arya dikagetkan oleh seseorang yang berdiri di balik tiang listrik dipinggir jalan.


Seketika Arya menoleh. Tatapannya lekat dengan senyuman yang melebar. Matanya juga berbinar. "Be..la?" ucapnya.


"Ini beneran kamu? Aku kangen.." ucapnya lagi sembari maju hendak memeluk Ana.


Namun, dengan cepat Ana mendorong Arya. Sebenarnya dia masih kesal karena dikurung oleh Arya di kastil tua itu. Arya juga mengakui sebagai pacarnya sewaktu dia kehilangan ingatan. "Namaku Ana bukan Bella." kata Ana.


"Kamu masih berani bilang kangen setelah apa yang kamu lakukan ke aku? Untung aku nggak lapor polisi. Karena ulah kamu, aku kehilangan calon suami aku." seru Ana dengan marah.


"Maaf.. Maafin aku Bella eh Ana. Jangan laporin aku ke polisi. Aku khilaf, semua aku lakukan karena aku cinta sama kamu." mendengar akan dilaporkan ke polisi. Arya menjadi takut.


"Oke, aku akan pertimbangkan untuk melaporkan kamu. Asalkan kamu mau bantuin aku!"


"Iya aku bantuin. Aku mau bantuin kamu. Tapi jangan lapor ke polisi!" Arya ketakutan dengan ancaman Ana.


"Baik. Kalau gitu kamu harus lakuin..."


****


Karena Sandra harus pulang ke rumah. Anin menjadi kesepian. Akhirnya dia memutuskan untuk main ke kantor Defan. Selama ini dia belum pernah pergi ke kantor suaminya. Anin sengaja membawakan makanan untuk suaminya.


Begitu memasuki kantor Defan. Anin dihentikan oleh penerima tamu di depan. "Mbaknya mau kemana?" tanya resepsionis di kantor Defan.


"Mau anter makanan?" tanyanya lagi dengan sewot.


"I...ya.." resepsionis itu menatap Anin dengan sinis.


"Hadeh, kenapa ya orang-orang pada tidak tahu malu. Demi merayu bos rela sok-sok'an anter makanan." gumam resepsionis judes tersebut.


Anin yang mendengar perkataan itu hanya mengernyitkan keningnya. "Merayu bos?" tanyanya.


"Iya. Kamu orang ke seratus yang datang dengan alasan mengantar makanan, padahal hanya ingin merayu bos." jawabnya lagi dengan ketus.


"Jadi, boleh nggak aku ke ruangan bos?" tanya Anin.


"Tunggu aja disini! Bos lagi ada meeting diluar, paling sejam lagi sampai." resepsionis tersebut menyuruh Anin agar menunggu di lobby.


"Oh, oke.." Anin segera duduk di lobby perusahaan Defan sesuai perintah sang resepsionis.


"Bener-bener nggak tahu malu." gumam resepsionis itu lagi. Dia belum pernah ketemu Anin. Dia menganggap Anin sama dengan para wanita yang sering datang untuk merayu Defan dengan alasan yang sama, mengantar makanan.


Anin menunggu cukup lama. Sekitar tiga puluh menit Anin menunggu. Untung yang dia bawa adalah makanan ringan. Sesekali Anin melihat ke arah jam.


Sang resepsionis saling berbisik. Mereka mengakui kegigihan Anin karena mau menunggu cukup lama. Biasanya, para wanita itu akan menyerah setelah menunggu lebih dari setengah jam. Tapi Anin tidak, dia masih menunggu Defan dengan tenang.


Tak lama kemudian. Defan bersama Rafa dan Dilla salah satu sekretarisnya masuk ke perusahaan. "Selamat siang pak." sapa kedua resepsionis perusahaan itu.


Defan hanya menganggukan kepalanya dengan wajah dingin seperti biasa. Namun, begitu melihat Anin. Defan langsung tersenyum dan langsung mendekati istrinya tersebut.


"Udah lama? Kenapa nggak nunggu di ruangan aku?" tanya Defan.


Melihat Defan yang akrab dengan Anin. Kedua resepsionis tersebut membulatkan matanya. Mereka saling berpandangan dengan wajah takut. Apalagi saat Defan menatap mereka dengan tajam.


Anin tidak mengadu, tapi dia hanya menggerakan kepalanya. Dan Defan tahu apa yang terjadi. "Kalian tidak membolehkan istriku ke ruanganku?" tanya Defan dengan dingin.


Kedua resepsionis itu tambah terkejut. 'Jadi wanita itu adalah istrinya bos. Matilah kita.' batin mereka.


Melihat wajah resepsionis yang ketakutan. Anin hanya tersenyum. Dia meminta suaminya supaya jangan marah tapi segera membawanya ke ruangannya.


"Dah, aku mau rayu bos kalian dulu yah.." kata Anin dengan gaya meledek.


Kemudian dia bersama dengan suaminya, Rafa dan Dilla naik ke lift khusus.


"Mamp*s, ternyata dia istrinya bos. Duh gimana dong ini? Bos pasti marah banget, aku pasti dipecat.." gumam mereka berdua ketakutan.


Sementara Anin masuk ke ruangan suaminya dengan kagum. Baru kali pertama dia masuk ke ruangan kerja suaminya. "Kenapa tiba-tiba kesini?" Defan merasa senang dengan kedatangan Anin. Dia memeluk Anin dari belakang.


"Anter makanan. Di rumah nggak ngapa-ngapain jadi bosen." jawab Anin.


"Nggak main sama Sandra?"


"Dia dijemput anak buah kakeknya. Nggak tahu ada apa."


"Jadi aku dijadiin pelampiasan nih." bisik Defan.


"Nggak juga. Aku kesini juga karena aku kangen sama kamu." Anin berbalik badan di dalam pelukan Defan. Dia mengalungkan tangannya dileher Defan. Kemudian mengecup pipi Defan dengan lembut.


Defan menatap Anin dengan lekat. "Kamu mau nggak rasain hal lain?" tanyanya.


"Rasain hal lain?" Anin masih belum ngerti apa maksud Defan.


"Hem.." Defan tiba-tiba mengangkat tubuh Anin. Dia membawa Anin ke ruang istirahatnya.


"Kita lakuin di kantor." bisik Defan.


"Lakuin di kantor? Defan kamu jangan gila.. Uhm.." Defan mencium Anin tanpa peringatan.


Diruangan kecil itu, Anin dan Defan melakukan hubungan suami istri. Kamar kecil itu dipenuhi dengan suara des*h*n dan dipenuhi dengan keringat. Hal lain yang baru mereka rasakan.