
Rafa buru-buru menemui Defan di ruangannya. Saat itu Defan sedang memegangi kepalanya sambil tertidur. Rafa memicingkan matanya, baru kali ini dia melihat Defan tertidur saat bekerja.
"Def, kamu sakit?" Rafa menepuk pelan pundak Defan membuat Defan kaget.
Seketika dia membuka matanya. "Kamu sakit?" tanya Rafa yang terlihat khawatir.
"Nggak kok. Aku cuma capek aja." jawab Defan.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku dapat info dari anak buahku. Ternyata itu benar Ana. Dia datang ke rumah sakit untuk menemui psikiater. Kayaknya dia memiliki trauma besar setelah menghilang." Defan membulatkan matanya.
"Itu benar Ana?" Rafa mengangguk dengan cepat.
"Ke rumah tante Ranti sekarang!" Defan langsung beranjak dan langsung meninggalkan semua pekerjaannya.
Dia bersama dengan Rafa pergi ke rumah orang tua Ana untuk memastikan apakah kabar yang dia terima itu benar adanya. "Apa yang akan kamu lakukan kalau Ana memang kembali?" pertanyaan Rafa tersebut membuat Defan membisu cukup lama.
Dia masih belum merencanakan sesuatu. Tapi, dia yakin untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Anin.
"Kamu akan ceraiin istri kamu?" tanya Rafa lagi.
"Nggak. Nggak akan terjadi." jawab Defan dengan cepat.
"Lalu? Kamu akan nikahin Ana dan memiliki dua istri?" Defan kembali terdiam. Beban dipundaknya semakin berat.
"Kamu mau jodohin Ana dengan Reno? Apakah Ana akan mau, kamu tahu sendiri sudah berapa kali Reno ditolak Ana." semakin Rafa berbicara. Defan semakin terdiam di dalam kebingungannya.
Sampai di rumah orang tua Ana. Defan segera turun dan mengetuk pintu rumah. "Ana dimana?" tanyanya kepada pembantu yang membukakan pintu untuknya.
"Nona.. Eh.. Nona.." pembantu itu menjadi gugup karena kedatangan Defan yang tiba-tiba.
"Siapa bi? Eh Defan?" Ranti juga terkejut dengan kedatangan Defan.
Ranti mengisyaratkan agar pembantunya masuk ke dalam. "Ada apa Def?" tanya Ranti dengan lembut.
"Ana dimana tante? Ana sudah kembali kan?" tanya Defan semakin tidak sabar.
Ranti terdiam sesaat. Di kota ini, dia sadar jika tidak bisa menyembunyikan apapun dari Defan. Namun, untuk apa dia mencari anaknya lagi. Bukankah dia sudah memiliki istri saat ini.
Akan tetapi, Ranti memiliki rencana untuk terus mendesak Defan menikahi anaknya. Tidak peduli jika Defan telah menikah. Karena Defan telah berjanji kepada mendiang mama mertuanya jika Defan akan menjaga dan menikahi Ana.
"Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu sudah menikah? Kenapa mencari Ana lagi?" Ranti sengaja bersikap tidak ramah untuk mengingatkan Defan akan janjinya.
"Ana dimana tante? Aku ingin bicara dan jelaskan semuanya." tanya Defan lagi.
Namun tiba-tiba Ranti menangis. Tentu saja itu membuat Defan dan juga Rafa menjadi kaget serta bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. "Tante Ranti kenapa? Kenapa tante tiba-tiba nangis? Ana dimana? Ana sudah kembali kan?" Defan mendekati Ranti dan memapahnya ke ruang tamu.
"Hiks.. Ana.. Hiks.. Ana Def, Ana.." Ranti semakin terisak.
"Ana kenapa tante?"
"Pada saat kecelakaan itu, Ana ditolong oleh seorang pemuda."
*Flasback*
Malam itu sangat sepi. Ana mengendarai mobilnya dengan keadaan mabuk. Dia pulang dari pesta ulang tahun temannya. Tapi, ternyata mobil yang ia kendarai bermasalah. Akhirnya Ana mengalami kecelakaan itu.
Untungnya, ada seorang pemuda yang lewat dan melihat keadaan Ana. "Nona, bangun nona! Nona tidak kenapa-napa?" tanya pemuda itu.
Dan ternyata pemuda itu terpesona dengan kecantikan Ana. Pemuda yang sebenarnya ingin melarikan diri dengan pacarnya. Akhirnya membawa Ana bersamanya.
Mereka tinggal di sebuah kastil tua peninggalan kakek buyut pemuda itu.
"Uh.." Ana membuka matanya setelah dua hari tidak sadarkan diri.
"Kamu udah bangun?" tanya pemuda itu.
"Nama kamu siapa?" tanya pemuda itu.
Namun Ana yang sepertinya hilang ingatan hanya menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu." jawabnya pelan.
"Bella? Pacar kamu?"
"Iya. Kamu aku bawa kesini karena sebelumnya kamu hampir diculik, aku takut terjadi apa-apa dengan kamu." pemuda itu memeluk wanita yang bernama asli Ana tersebut.
"Diculik?"
"Iya. Untuk semantara kita tinggal disini ya!" kata pemuda itu.
"Namaku Arya, kamu ingat nggak?" Ana menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, mungkin kamu masih shock." Arya semakin erat memeluk Ana. Dia memang jatuh cinta kepada Ana pada pandangan pertama.
Seiring berjalannya waktu. Ana dan Arya hidup bersama di kastil tersebut. Ana tidak diperbolehkan keluar sama sekali dengan alasan takut Ana akan diculik lagi.
Hari-hari Ana lalui dengan terkurung di kastil tua tersebut. Sampai ketika dia ingatannya kembali. Ana menyadari bahwa dia telah diculik oleh pemuda yang mengaku sebagai pacarnya tersebut.
"Ana mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu. Dia berlari bahkan hampir lima hari sampai ada seseorang yang menolong dan membawanya pulang." cerita Ranti dengan air mata yang tak bisa ia kendalikan.
"Sekarang Ana dimana tante?" tanya Defan.
"Dia di kamar. Dia masih trauma dengan kejadian dia alami. Dia mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari setelah dia kembali." jawab Ranti dengan sedih melihat kondisi anaknya.
"Coba kamu kesana, siapa tahu dia akan pulih saat melihat kamu." imbuh Ranti.
Defan pun segera menuju kamar Ana. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Tok. Tok. Tok. "An, bukain pintunya, ini aku. Defan." ucap Defan di depan pintu kamar Ana.
Tak lama, pintu kamar Defan terbuka. Wanita yang keluar dari kamar itu segera memeluk Defan dengan erat. "Defan, aku kangen sama kamu. Aku takut Def." katanya seraya menangis.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa, ada aku disini." kata Defan juga memeluk wanita yang merupakan calon istrinya dulu.
Defan masuk ke kamar Ana. Dia mendengar semua cerita Ana yang sama persis dengan apa yang mamanya ceritakan. "Kamu pasti marah dan kecewa sama aku?" tanya Ana dengan masih terisak.
"Nggak. Aku bersyukur karena kamu masih bisa kembali. Maafin aku yang nggak bisa jagain kamu." Defan menyentuh kepala Ana dengan sangat lembut.
"Apakah kamu masih mau menepati janji kamu ke mendiang nenek? Apa kamu masih mau menikahi aku?" pertanyaan Ana yang membuat Defan langsung terdiam.
"Aku tahu kamu pasti nggak mau karena aku sekarang kotor. Aku nggak pantas sama kamu." imbuh Ana saat dia mendapati kebisuan Defan.
"Bukan seperti itu. Aku sudah punya istri sekarang."
"Aku udah tahu. Bahkan aku tidak peduli jadi istri yang kedua atau ketiga." sahut Ana.
"Darimana kamu tahu?"
"Waktu aku kembali, aku rumah yang kamu beli. Aku melihat kamu bersama dengan seorang wanita. Waktu itu aku kesal jadi aku tidak mendekat. Lalu setelah aku pulang, mamaku bilang kalau wanita itu istri kamu."
"Kenapa kamu jahat Def? Kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu nggak cari aku?" Ana marah, dia memukul Defan karena mengira bahwa Defan tidak pernah berusaha mencari dirinya.
"Aku cari kamu, Ana. Tapi hasilnya nihil."
"Kalau gitu kamu ceraikan istri kamu sekarang juga. Lalu nikahin aku!" seru Ana memaksa Defan untuk segera menikahinya.
"Maaf, aku nggak bisa."
"Kenapa Defan? Apa kamu cinta sama istri kamu? Kenapa kamu tega sama aku Def? Waktu kamu terpuruk, aku yang ada buat kamu. Tapi kenapa kamu milih wanita lain?" Ana yang marah mulai menghancurkan barang-barang di kamarnya.
"Tenang dulu, Ana! Aku minta maaf. Tapi aku janji akan kasih kompensasi untuk kamu."
"Aku nggak butuh kompensasi Defan. Aku mau kamu.."
"Maafin aku." jawaban Defan tersebut membuat hati Ana semakin sakit.
"Reno yang sangat mencintai kamu. Pertimbangkan untuk dia. Besok dia ulang tahun, aku harap kamu dan Reno akan menemuikan jalan yang terbaik untuk kalian." lagi-lagi perkataan Defan tersebut membuat hati Ana sakit.
Ana meminta Defan untuk pergi. Dia ingin menenangkan dirinya. Karena semakin dia melihat Defan. Dia akan semakin marah.
"Sekali lagi aku minta maaf." kata Defan sebelum keluar dari kamar Ana.