
Di taman kota sore hari pada hari Minggu. Anin bersama dengan Defan pergi kesana untuk menemui seseorang. Hati Anin berdebar tak karuan. Dia merasa gugup karena ini kali pertamanya Defan memperkenalkan Anin kepada sang kakak.
Anin putar balik hendak kabur. Untung Defan bisa menahannya dengan cepat. "Aku gugup Def, lain kali aja ya ketemunya!" mohon Anin yang tubuhnya bergetar saking gugupnya.
Senyuman melekuk dibibir Defan. "Kamu berani lawan mama tiri aku, tapi gugup ketemu kakak aku?" tanyanya sembari tersenyum kecil.
"Waktu itu kan di rumah, jadi aku berani." Anin tetap beralibi.
"Udah ayok! Kakakku nggak akan gigit kamu." Defan tetap menarik tangan Anin.
Disana, sudah ada Reno dan Julian yang menunggu. Awalnya mereka ingin ke rumah Defan. Tapi berubah pikiran karena ingin jalan-jalan dulu. Sudah sangat lama Reno tidak keluar jalan-jalan di taman bersama adik-adiknya.
Julian melihat ke kanan dan ke kiri untuk menemukan kakak keduanya. "Nah, itu dia kak Defan." Julian menunjuk ke arah dimana Defan dan Anin berjalan.
Seketika Reno pun menoleh. Matanya memicing dan keningnya mengerut. Seperti tidak asing dengan perempuan disamping adiknya tersebut.
"Kak.." Julian melambaikan tangannya.
Setelah Defan mendekat. Reno teringat akan sosok wanita yang bersama dengan Defan tersebut. "Anindya? Kamu Anindya kan?" tanya Reno.
Anin sempat terkejut. Tapi sesaat dia teringat siapa lelaki itu. "Kak Reno? Jadi kak Reno kakaknya Defan?" Anin juga ingat siapa sosok lelaki yang memakai kursi roda itu.
Sedangkan Julian dan Defan saling berpandangan. Tak pernah menyangka jika ternyata Anin dan Reno sudah saling mengenal. "Kalian udah kenal?" tanya Defan.
"Ini wanita yang pernah aku bilang waktu itu. Aku ingin kenalin dia ke kamu. Eh ternyata kalian malah sudah menikah." kata Reno.
Defan teringat kata Reno beberapa waktu yang lalu. Ya, saat itu Defan masih terpuruk karena Ana yang menghilang dalam sebuah kecelakaan itu. Reno ingin mengenalkan adiknya dengan sosok wanita ceria, yaitu Anin.
Reno dan Anin kenal tanpa sengaja saat Anin hendak ke panti asuhan. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Tanpa sengaja melihat Reno yang kesulitan menjalankan kursi rodanya. Dan Anin pun membantu Reno.
"Kakak disini sama siapa?" tanya Anin saat membantu mendorong kursi roda Reno.
"Ada sama temen. Makasih ya udah bantu aku." kata Reno.
"Iya kak." setelah menunggu lama. Hujan pun mulai reda.
Namun, teman Reno masih belum datang juga. Sampai akhirnya Anin yang tidak tega membiarkan Reno sendirian. Mengajak Reno untuk ke panti asuhan. "Ikut aku aja yuk kak, abis dari sana nanti aku anter ke rumah kakak." ajaknya.
"Hmm, boleh.." Reno yang memang ingin keluar jalan-jalan karena jenuh dengan pekerjaannya. Akhirnya Reno ikut dengan Anin ke panti asuhan.
Reno senang melihat Anin yang baik dan ceria. Setelah kejadian itu, mereka masih ketemu beberapa kali. Dan karena Anin juga-lah, Reno menjadi donatur di panti asuhan tersebut. Sesekali saat dia tidak ada kerjaan, dia akan datang ke panti asuhan tersebut.
Saat Defan terpuruk. Reno memiliki ide untuk menjodohkan Anin dengan Defan. Ia yakin dengan karakter Anin yang ceria mampu membuat Defan kembali bersemangat.
Ternyata, takdirlah yang menuntun mereka ke dalam rencananya. Senang, bahagia, haru bercampur menjadi satu saat mengetahui ternyata Anin adalah istri dari adiknya.
On.
"Ternyata takdir yang mempertemukan kalian." kata Reno sembari tersenyum senang.
"Aku juga nggak nyangka ternyata kak Reno kakaknya Defan. Gimana kabarnya kak?" tanya Anin merasa lega. Karena ternyata kakaknya Defan adalah orang yang dia kenal.
"Baik. Masih sering ke panti asuhan?" Anin menganggukan kepalanya.
"Oh ya kak, makasih ya karena kakak sudah menjadi donatur terbesar di panti asuhan. Semoga semua kebaikan kakak mendapat balasan yang setimpal." tutur Anin mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama Anindya." kata Reno lagi.
Mereka berempat pun kemudian jalan-jalan sejenak menikmati keramaian taman kota pada hari Minggu. Anin yang mendorong kursi roda Reno.
"Kita makan malam di rumah ya!" ajak Reno. Dia juga ingin memperkenalkan Anin kepada mamanya.
"Ya." jawab Defan. Dia tidak mungkin menolak ajakan Reno.
"Aku sudah suruh orang rumah siapin makan malam untuk kalian." ujar Reno.
"Awas lho, setelah ini kamu akan ketemu mama. Kemarin kamu lawan dia kan? Siap-siap aja kena omel." kata Julian menakut-nakuti Anin.
"Anindya kakak ipar kamu, jadi kamu harus lebih sopan sama dia!" kata Reno.
"Iya kak." Julian bahkan tidak berani membantah perkataan kakaknya.
"Dengerkan?" gumam Anin dengan wajah meledek Julian.
Namun, mata Defan segera membulat. Dia juga memperingati Anin supaya jangan memprovokasi Julian. "Orang dia duluan yang mulai. Kenapa melototin aku." gerutu Anin.
"Perlakukan Anindya dengan baik Defan. Perlakukan dia selayaknya seorang istri!" tutur Reno kepada adiknya.
"Iya." Defan kembali melototi Anin.
"Kenapa melototin aku?"
"Defan!" seru Reno.
Defan menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. Maksudnya untuk menahan emosinya.
Sedangkan Anin malah menjulurkan lidahnya membuat Defan dan Julian menjadi semakin kesal. Anin telah mengambil perhatian Reno.
Sampai di rumah. Anin ragu untuk melangkahkan kakinya. "Ayo masuk! Ini rumah Defan juga yang artinya juga rumah kamu." kata Reno.
"Enak aja rumah Defan. Dia hanya haram, tidak punya hak atas rumah ini." Santika berseru dari dalam rumah.
"Ngapain kalian kesini? Aku nggak mau ya rumahku terkena sial karena kalian berdua. Udah bagus nggak pulang, kenapa mesti kesini sih." imbuh Santika.
"Ma, Defan berhak atas rumah ini karena juga anak papa. Lagian aku kepala keluarga di rumah ini. Dia tamu aku." tutur Reno menyiratkan bahwa dia berhak membawa siapapun ke rumah karena kepala keluarganya.
"Reno, kamu sudah dihasut oleh mereka berdua. Jadi kamu berani melawan mama?" seru Santika dengan marah.
"Aku nggak mau ribut ma. Mereka tamu aku, eh bukan tamu, ini juga rumah Defan."
"Mbak, makan malam yang aku minta udah siap?" tanya Reno kepada pembantu rumah tangganya.
"Sudah tuan."
Reno lalu mengajak Defan dan Anin untuk makan malam bersama. Sementara Santika tidak mau ikut satu meja dengan mereka. Santika mengurung diri di dalam kamar.
"Ju, kamu bawain makanan untuk mama! Mama belum makan!" kata Defan yang mengkhawatirkan mama tirinya.
"Nggak perlu! Kalau mama lapar nanti juga keluar sendiri." Reno melarang.
"Tapi Ren?"
"Udah nggak apa. Nanti biarin aku yang antar makanan ke kamar mama. Kita lanjut makan aja."
Makan malam tersebut terasa begitu hangat dan menyenangkan. "Kalian tidur sini aja!" pinta Reno.
Seketika Anin dan Defan saling bertatapan. "Nggak usah kak, aku sama Defan pulang aja. Lain kali aja kita nginepnya." jawab Anin.
Baik Anin maupun Defan tidak mau membuat Santika dan Reno semakin bertengkar karena kehadiran mereka berdua. Mau gimana pun Santika adalah mamanya Reno. Anin dan Defan tidak ingin melihat mereka ribut.
Tak lama, Anin dan Defan berpamitan. Raut wajah sedih terlintas diwajah Reno. "Kalian harus sering jenguk kakak kalian ini!" kata Reno.
"Tentu." jawab Defan.
"Iya kak. Kapan-kapan aku main deh ke kantor kakak sama Defan anterin makanan untuk kak Reno." ucap Anin.
"Aku tunggu."
Reno sebenarnya sedih kenapa Defan tidak mau tinggal di rumah itu. Rumah peninggalan papa mereka. Tapi, ketika teringat mamanya. Reno berpikir jika lebih baik Defan tinggal di rumahnya sendiri.
Yang membuat Reno salut dengan Defan. Dia tidak pernah marah atau membalas hinaan mamanya. Defan akan selalu menerima penghinaan itu. Bahkan sama sekali tidak melawan.