Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
13. Godaan Anindya



Defan sendiri yang mengangkat Anin ke kamar mereka. Dia menolak bantuan dari pengawalnya. Tidak ingin istrinya dipegang orang lain. Perlahan dan penuh kehati-hatian Defan meletakan Anin di atas kasur.


"Good night." katanya dengan lembut sembari mengelus rambut Anin.


Defan masih belum bisa tidur. Dia berjalan menuju balkon. Menyalakan rokok dan menikmati malam gelap. "Kamu sudah terima pesan dari aku? Aku ingin secepatnya dia mendapat balasan!" katanya melalui telepon.


Entah Defan menghubungi siapa. Tapi dari perkataannya dia ingin melakukan pembalasan kepada seseorang. Entah kepada siapa, dia ingin balas dendam.


Tanpa disadari, Defan telah menghabiskan tiga batang rokok. Karena semakin larut dan udara juga semakin dingin. Defan segera mematikan rokok di tangannya. Kemudian masuk kembali ke kamar untuk istirahat.


Keesokan paginya.


Anin bangun pagi sekali. Dia sengaja menyiapkan sarapan sendiri untuk suaminya. Anin ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang baik.


"Laa.. Laa.. Heeemm.." sembari bersenandung, Anin menyiapkan sarapan di meja makan. Dia benar-benar bersemangat pagi ini.


"Udah selesai semua. Saatnya mandi terus siap-siap ke kampus." gumamnya saat dia selesai menyiapkan makanan di atas meja.


Anin segera kembali ke kamar. Dan dia mendapati Defan sedang sibuk dengan laptop di depannya. Defan terlihat amat serius. Bahkan saat Anin masuk untuk mandi. Dia sama sekali tidak tahu.


"Udah bangun? Mau sarapan sekarang atau?" tanya Anin setelah selesai mandi dan bersiap.


"Eh.. Iya sebentar, aku mandi dulu." Defan yang kaget segera menutup laptopnya.


Anin pun memicingkan matanya. Tapi dia tidak berniat untuk kepo. "Oke, aku tunggu di bawah." katanya.


"Kamu masak lagi?" Anin menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Hmm.." dia pun segera keluar dari kamar.


"Aku tunggu dibawah." ucapnya sekali lagi.


Saat berjalan menuju meja makan. Pikiran Anin bertanya-tanya apa yang Defan lakukan sehingga dia terkesan kaget saat Anin mendekatinya. Tapi untungnya pikiran itu hanya pikiran semata. Dia tidak mau menjadi kepo. Ya, mereka resmi menikah. Tapi mereka memiliki privasi masing-masing.


Mata Anin tiba-tiba membulat saat melihat Julian di meja makan. Dia dengan rakus memakan makanan yang Anin buat.


Dengan segera Anin menghentikan Julian yang sedang menikmati makanannya. "Stop.. Ini buat Defan.." katanya sembari merebut piring Julian.


"Yaelah, ini kan masih banyak. Lagian kak Defan nggak suka makanan laut seperti ini. Apalagi yang rasa asam kayak gini. Kak Defan punya penyakit lambung." kata Julian yang membuat Anin terbelalak.


Defan tidak suka makanan seafood? Dia juga tidak suka makan asam? Lalu kenapa semalam dia makan lahap sekali?


Melihat Anin yang melongo. Julian memiliki kesempatan untuk merebut piringnya kembali. "Aku kasih tahu ya, makanan kesukaan kak Defan itu chicken steak atau beef steak." kata Julian sembari dia mengambil makanan lagi.


"Lagian kenapa sih kamu bisa nikah sama kak Defan? Makanan kesukaan kak Defan aja nggak tahu." imbuh Julian.


"Mungkin karena kamu agak mirip sama calon istri kak Defan dulu." kata Julian lagi.


Namun, Anin tidak terlalu mempedulikan perkataan Julian tersebut. Pikirannya masih melayang-layang dengan berbagai pertanyaan. Kenapa Defan tidak menolak masakannya kalau emang dia tidak suka. Dan kenapa para pembantunya juga tidak bilang.


Tak lama kemudian Defan turun dari kamar. Dia terkejut melihat Julian yang sudah berada di rumahnya dan sedang menyantap sarapan. "Kapan kamu datang?" tanya Defan.


"Eh kakak, baru aja kak. Masakan kakak ipar enak." jawabnya sembari memuji masakan Anin yang menurutnya enak.


"Kelak, kalau cari istri seperti Anindya yang pintar masak." ujar Defan. Dia hendak mengambil nasi tapi ditahan oleh Anin.


"Sarapan yang lain aja ya! Aku ambilkan roti sebentar." katanya.


"Nggak usah, aku makan ini aja. Kamu kan udah masak untuk aku. Masa nggak aku makan." tutur Defan dengan lembut.


"Kamu ngomong apa?" Defan belum mengerti apa yang dimaksud oleh Anin.


"Kamu nggak suka makan seafood kan? Tapi kenapa kamu makan masakan aku? Kamu juga tidak bisa makan asam, tapi kenapa kamu memaksa makan masakan yang aku buat?" air mata Anin hampir jatuh. Dia tidak menyangka jika Defan sengaja melakukan semua untuknya.


"Hei, kamu sudah masak untuk aku. Masa iya aku nggak makan? Nggak suka bukan berarti nggak doyan kan? Dan juga, aku punya obat untuk lambung aku. So, jangan terlalu khawatir!" kata Defan yang membuat Anin tidak bisa menahan air matanya.


"Lagipula masakan asam manis kamu enak banget. Masa aku anggurin gitu aja. Yuk makan! Keburu dihabiskan si rakus ini." Defan mengolok Julian sebagai seseorang yang rakus.


"Ayok.." Defan melambaikan tangannya meminta agar Anin segera duduk dan sarapan.


"Catet makanan kesukaan kamu. Nanti kalau aku masak biar nggak salah lagi!" kata Anin dengan suara serak karena menahan tangis.


"Idih cengeng." sahut Julian mengolok-olok Anin.


"Berisik. Udah numpang makan, masih berani ngeledek." kata Anin dengan kesal.


"Numpang gimana? Ini rumah kakakku, kamu kalik yang numpang." Julian tidak terima dikatain numpang makan.


"Lah aku istrinya Defan. Nyonya rumah. Mau apa?" Anin meladeni perdebatan Julian.


"Bodo amat, yang penting aku adiknya."


"Aku istrinya, yang temenin dia tidur.." Anin tetap tak mau kalah.


"Woi, waktu kecil, kak Defan juga tidur sama aku."


"Cuma tidur kan?" Anin bangkit dan mulai mendekati Defan. Dia bahkan duduk dipangkuan Defan.


"Bisa peluk gini nggak? Bisa cium gini nggak?" demi supaya tidak kalah dengan Julian. Anin bahkan mencium pipi Defan di depan Julian.


Tentu saja apa yang Anin lakukan itu membuat Julian terkejut sekaligus kesal. Dan bukan hanya Julian, melainkan Defan sendiri juga terkejut dengan apa yang Anin lakukan.


"Kamu berani goda aku? Kamu akan tahu betapa hebatnya si jamur enoki." bisik Defan membuat Anin kaget. Dia sadar akan kesalahannya.


"Aku cuma bercanda." bisik Anin menggertakan giginya. Segera dia turun dari pangkuan Defan. Tapi Defan menariknya kembali.


"Def, aku udah telat." rengek Anin yang sebetulnya salah tingkah karena perlakuan Defan.


"Telat berapa bulan? Udah diperiksa?"


"Bukan telat itu. Telat ke kampus!" seru Anin sambil memukul lengan Defan.


"Def, udah siap? Waow.. Apa ini?" Rafa yang baru datang pun terkejut melihat Anin yang berada dipangkuan Defan.


"Oh pamer kemesraan?" imbuhnya saat melihat Julian juga ada di meja makan.


"Sabar Ju, maklumi aja orang lagi bucin." kata Rafa lagi sembari menepuk pundak Julian.


"Tahu tuh kak. Nggak kasihan apa sama adiknya yang jomblo." gerutu Julian.


"Def, yuk!" ajak Rafa.


Karena hari semakin siang. Defan pun segera berangkat ke kantor. Dia juga membawa Julian dan Anin sekalian. "Aku anterin!" katanya.


"Ya." jawab Anin tidak menolak karena dia juga harus segera sampai kampus.


Sementara Julian ikut kakaknya ke kantor. Karena dia merasa bosan diam di rumah. Apalagi saat mendengar omelan mamanya.