
Tidak sabar. Defan pergi menemui Anin sesuai dengan lokasi yang ia dapat. Ternyata Anin pergi ke panti asuhan. Defan sempat berpikir kenapa Anin pergi kesana. Apa mungkin ia mendapat tugas dari kampus untuk pergi kesana.
Sekitar lima belas menit kemudian. Defan sampai di sebuah panti asuhan. Dengan segera dia turun dari mobil dan bergegas masuk untuk mencari Anin.
"Maaf, apa Anindya ada disini?" tanyanya kepada pengurus panti.
"Anindya? Oh iya, ada. Anda siapa?" tanya pengurus panti tersebut.
"Suami Anindya." pengurus panti tersebut nampak terkejut.
"Suami? Mbak Anin sudah punya suami?" gumam pengurus panti tersebut.
"Anindya dimana?" tanya Defan dengan sopan.
"Oh.. Silahkan ikut saya!" Defan mengikuti pengurus panti tersebut ke belakang panti.
Disana, Anin sedang bersendau gurau dengan beberapa anak panti asuhan. Anin memang sudah lama menjadi relawan di panti asuhan tersebut. Saat dia memiliki waktu senggang. Dia akan pergi ke panti asuhan tersebut untuk sekedar bersendau gurau, atau mengajar di panti asuhan tersebut.
Anin tidak sendirian. Dia memiliki beberapa teman relawan di panti asuhan tersebut.
"Anin sudah lama menjadi relawan di panti asuhan ini. Dia anaknya baik banget, meskipun kadang nampak jutek tapi sebenarnya Anin itu baik. Anak-anak disini sangat menyukainya." kata si pengurus panti tersebut.
"Alasan dia menjadi relawan disini karena dia merasa senasib dengan anak-anak ini. Katanya, sejak kecil dia belum pernah ketemu orang tuanya sama sekali." imbuh pengurus panti tersebut.
"Maaf nama anda siapa?"
"Defan." jawab Defan dengan sopan.
"Oh ya, nak Defan sudah lama menikah dengan Anin?"
"Baru sebulan." mata Defan tiba-tiba membesar. Dia melihat Anin yang sedang bermain dengan anak-anak panti asuhan. Tapi apa yang membuat Defan kaget karena adanya seorang lelaki yang bersama dengan Anin.
"Itu nak Aknan, teman relawan Anin." jelas pengurus panti saat melihat wajah Defan yang seketika berubah.
"Anak-anak, kak Anin sama kak Aknan capek, biarin istirahat dulu ya!" pengurus panti tersebut mendekati mereka yang sedang bermain bersama Anin dan Aknan.
Tapi, mata Anin membulat saat tanpa sengaja dia melihat Defan di tempat tersebut. "Ngapain dia kesini?" gumam Anin segera mendekati Defan.
Defan tersenyum sembari melambaikan tangannya. "Ikut aku!" Anin menarik tangan Defan agak menjauh.
"Ngapain kesini?" tanya Anin dengan marah.
"Lagian tahu dari mana kalau aku disini?" tanyanya semakin kesal. Bisa-bisanya Defan tahu dimana dia berada.
Defan menunjuk dadanya sendiri. Kemudian menunjuk dada Anin. "Kita kan sehati, jadi aku tahu dimana kamu berada meskipun kamu nggak pamit." katanya.
Anin memutar bola matanya. "Ngapain kesini? Disini nggak cocok untuk kamu." tutur Anin.
"Siapa bilang? Aku juga sama kayak kamu. Aku suka anak-anak juga." jawab Defan.
"Makan yuk! Aku belum makan dari siang." ajak Defan sembari menarik tangan Anin.
"Nggak mau. Makan aja sendiri!" Anin menolak ajakan Defan dengan ketus.
Defan pun sedikit memaksa dengan terus menarik tangan Anin. Sementara Anin terus meronta.
Aknan yang melihat kejadian tersebut segera mendekat. Dia melihat Anin yang sepertinya tidak mau pergi dengan Defan. "Kalau Anin nggak mau jangan dipaksa!" Aknan memegangi tangan Anin.
Melihat itu Defan menjadi kesal. Dia menatap Aknan dengan tajam. "Lepasin tangan dia!" pintanya.
"Anda yang lepasin tangan anda. Anin tidak mau ikut dengan anda! Kalau anda maksa, saya akan-"
"Akan apa? Akan pukul saya? Silahkan pukul!" Defan mendekatkan wajahnya ke Aknan.
"Defan!" Anin menarik tangan Defan agar menjauh.
"Maaf Nan, aku nggak apa-apa kok. Cuma ada masalah dikit aja. Kamu nggak perlu khawatir!" kata Anin kepada Aknan.
Sementara Aknan dan Defan saling bertatapan dengan tajam. Seperti singa yang sama-sama ingin menerkam.
"Mau kamu apa?" tanya Anin dengan marah.
"Mau aku gampang. Balas chat aku! Lagipula kenapa kamu pergi pagi-pagi sekali? Kenapa nggak masakin buat aku? Melayani aku adalah tugas kamu."
"Ya aku tahu. Aku tahu melayani kamu adalah tugasku. Tapi aku juga berhak marah kalau suami aku kencan dengan wanita lain kan?" Anin tidak kuat menahan perasaannya sendiri. Dia akhirnya meluapkan apa yang dia rasakan.
"Maksud kamu?"
"Kemarin kamu makan malam sama Tessa kan? Aku nggak masalah kalau kamu mau kencan sama siapapun. Tapi kamu tahu kalau Tessa itu musuh aku. Kamu sengaja ajak dia kencan supaya dia bisa pamer ke aku kan?" tanya Anin dengan marah.
Defan akhirnya paham apa yang membuat sikap Anin berubah dari kemarin. Dia terus meraih tangan Anin yang meronta-ronta. "Dengerin dulu! Aku bisa jelasin semuanya!" kata Defan.
"Nggak perlu dan nggak butuh."
"Hei, kamu cemburu?" Defan malah menggoda Anin membuat Anin semakin kesal.
"Nggak. Bilang dulu kalau kamu cemburu!"
"Ngaco. Siapa juga yang cemburu. Lepasin nggak!" seru Anin mencoba menarik tangannya.
Sekali lagi. Pemandangan tersebut membuat Aknan menjadi kesal. Dia mengira jika Defan memaksa Anin. Segera dia mendekat kemudian memukul wajah Defan.
Bukkk..
"Jangan bertindak tidak sopan dengan wanita!" kata Aknan.
Seketika Anin menjadi terkejut dengan tindakan Aknan. "Def?" Anin mendekati Defan dan melihat wajah Defan yang lebam akibat pukulan Aknan.
Defan pun membalas perbuatan Aknan. Dia memukul Aknan secara membabi buta. Dan perkelahian tidak bisa dihindari.
"Stop Defan!" Anin menarik tangan Defan supaya Defan tidak lagi memukuli Aknan.
Namun, Aknan yang justru memukuli Defan. "Aknan stop!" seru Anin.
Namun, Anin tidak bisa menghentikan perkelahian tersebut. Dan perkelahian itu membuat kegaduhan bagi anak-anak panti asuhan.
"Def, stop!" Anin memeluk pinggang Defan. Seketika Defan terhenti.
....
Anin mengobati luka Defan. Sementara pengurus panti mengobati luka Aknan. "Aw.. Sakit.." erang Defan.
"Nggak usah manja!"
"Kenapa? Manja sama istri sendiri emang nggak boleh?" kata Defan sembari menatap Aknan. Ia sepertinya ingin menunjukan siapa dirinya di depan Aknan.
Sedangkan Aknan menatap Defan dengan tajam. Dia juga terkejut saat mengetahui jika Defan adalah suami Anin.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang menghampiri Defan. Dia membawakan segelas minuman untuk Defan. "Untuk kakak." kata anak tersebut.
"Makasih ya." jawab Defan sembari menyentuh kepala anak tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanya Defan.
"Arka kak. Nama kakak siapa?"
"Nama kakak, kak Defan. Kamu mau makan pizza nggak?"
"Mau kak.." Arka dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Aku juga mau kak."
"Aku juga."
"Aku juga mau." sahut anak-anak panti yang lain.
"Oke, kakak beliin. Tapi kalian harus bantu kakak dulu!"
"Apa kak?" tanya Arka.
"Kalian harus bantu kakak, bujukin kak Anin supaya mau cium kakak!" Defan menunjuk pipinya sendiri.
"Defan!" Anin memukul lengan Defan pelan. Wajahnya seketika memerah.
"Ayo kak cium kak Defan. Kan kalian udah nikah jadi nggak usah malu-malu!" kata Arka membujuk Anin.
"Iya kak."
"Cium."
"Cium."
"Cium."
"Husss, anak kecil nggak boleh ngomongin kayak gitu!" Anin menjadi malu.
"Kak, kakak nggak kasihan sama kita? Kita kan udah lama banget nggak makan pizza." Arka menatap Anin dengan wajah memelas. Belum lagi anak-anak panti yang lain.
Anin menghela nafas. Akhirnya dia menuruti apa mau anak-anak panti. Anin mencium pipi Defan di depan anak-anak panti, pengurus panti dan juga Aknan.
"Yeay..." seru mereka kegirangan.
Tak lama kemudian. Rafa datang dengan membawa beberapa kotak pizza dan juga mainan untuk anak panti. Tentu saja apa yang Defan lakukan itu membuat anak-anak panti bahagia sekali. Terlihat dari raut wajah mereka.
"Jangan berebut! Semua pasti dapat." seru Anin yang juga merasa senang sekali saat melihat wajah ceria anak-anak panti asuhan tersebut.
"Makasih ya Def. Hal yang paling menyenangkan ialah melihat wajah bahagia mereka." ucap Anin.
"Hmm. Asal kamu nggak marah lagi, aku mau lakuin apa aja." jawab Defan yang kembali membuat Anin tersipu.