
Ana masih tak menyerah. Dia menguntit kemana Defan pergi. Bahkan saat Defan meeting di salah satu kafe. Ana dengan sengaja mengikutinya.
"Terima kasih pak, senang kerja sama dengan anda." Defan menyalami kliennya setelah meetingnya selesai.
"Sama-sama pak Defan."
"Eh, Defan? Makan disini juga?" tanya Ana yang tiba-tiba mendekat.
"Ini?"
"Adik saya." jawab Defan membuat Ana semakin kesal.
"Oh, kalau gitu saya pamit dulu pak Defan."
"Silahkan pak."
Begitu klien pergi. Defan segera menarik tangan Ana. "An, aku mohon jangan kayak gini! Jangan ikutin aku terus!" kata Defan dengan kesal. Ia merasa privasinya terganggu karena ulah Ana.
"Maksud kamu apa sih Def?" Ana berpura-pura bodoh.
"Kamu ikutin aku kan? Kamu sengaja muncul di depan klien aku agar semua orang mengira kamu pasangan aku kan?" Defan mulai merasa kesal dengan apa yang Ana lakukan.
"Bahkan Anin saja tidak pernah melakukan hal seperti itu." Defan mulai membandingkan Ana dengan Anin.
Tentu saja itu membuat Ana menjadi kesal. Dia tidak suka dibanding-bandingkan apalagi dibandingkan dengan Anin. Wanita yang paling dia benci saat ini.
"Anin.. Anin.. Anin terus." seru Ana menjadi kesal.
"Bisa nggak sehari aja nggak sebut dia? Aku muak.." Ana mulai menaikan nada bicara.
"Dia istriku, sudah sewajarnya aku sebut atau ingat dia. An, aku minta tolong, jangan rusak rumah tanggaku atau aku akan benci kamu selamanya." tutur Defan.
Ana membulatkan matanya mendengar apa yang Defan katakan. Dia tak menyangka jika Defan begitu sangat setia.
Defan meninggalkan Ana begitu saja. Dia segera kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Namun, Defan tetap tidak tega membiarkan Ana sendirian. Dia meminta Rafa untuk mengantarnya pulang. "Aku naik taksi aja." ucap Defan.
Rafa tidak menolak perintah Defan. Dia mengawal Ana sampai ke rumahnya. Memastikan bahwa Ana sampai di rumah dengan selamat. Setelah itu Raga kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ma, apa sih bagus wanita itu? Kenapa Defan bisa tergila-gila padanya?" tanya Ana dengan kesal.
"Kalau aku tak jadi nikah dengan Defan, lalu gimana nasib perusahaan keluarga kita? Aku nggak mau jatuh miskin, ma.." keluh Ana.
"Tenang Ana, kamu kan masih punya saham 3 persen yang dikasih Defan waktu itu. Mama rasa itu cukup untuk menjaga agar perusahaan kita tidak bangkrut." jawab Ranti.
"Lagi pula, kamu kan masih punya Reno. Kalau kamu nikah sama dia, hidup kamu akan terjamin." imbuh mamanya Ana.
"Mama mau aku nikah sama laki-laki lumpuh itu? Aku nggak mau, ma." tentu saja Ana menolak. Dia tidak mau mengabdikan hidupnya untuk lelaki lumpuh seperti Reno.
"An, coba kamu tanya hati kecil kamu! Apakah kamu masih mencintai Reno atau nggak. Mama yakin kamu berpaling karena tidak mau repot mengurus Reno kan?" tanya Ranti. Dia tahu betul seperti apa perasaan anaknya untuk dua bersaudara itu.
"Reno sekarang punya banyak uang. Dia bisa sewa suster untuk merawatnya, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi." kata Ranti lagi.
Sebenarnya, dia hanya tidak mau melihat anaknya terus-terusan bersedih karena penolakan Defan. Lagipula, Ranti juga mengenal Reno sebagai pribadi yang baik dan sopan. Ia yakin, Reno pasti bisa membahagiakan anaknya.
"Tapi ma.."
"Ingat waktu kamu masih dekat dengan Reno? Waktu kamu sakit, dia yang merawat kamu. Dia bahkan tidak jijik, karena apa? Karena dia mencintai kamu."
"Nak, menikahlah dengan lelaki yang mencintai kamu, karena dia tidak akan pernah menyakiti kamu. Dia akan selalu berusaha membahagiakan kamu." imbuh Ranti menasehati anak semata wayangnya.
Sebagai seorang ibu, kebahagiaan anaknya adalah yang utama. Tentu saja dia ingin melihat anaknya bahagia dan memiliki banyak cinta.
"Dulu, mama juga sangat mencintai ayah kamu. Tapi ternyata ayah kamu lebih memilih wanita yang dia cinta dibanding mama."
"Mama nggak mau kamu merasakan hal yang sama. Mama ingin kamu bahagia dan memiliki banyak cinta." kata Ranti lagi.
Ana terdiam. Sepertinya dia mulai memikirkan perkataan mamanya. Dia juga kembali teringat akan masa lalunya bersama dengan Reno.
"Tapi, apa Reno mau sama aku? Aku udah sakiti dia." lirih Ana masih ragu.
"Nanti mama yang bilang ke Reno dan tante Santika!"
"Oke deh ma." Ana telah mengambil keputusan untuk melepaskan Defan. Semakin dia mengejar Defan. Semakin Defan menjauh. Mungkin memang takdir mereka tidak untuk bersama.