Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
6. Merasa Terganggu



"San, aku harus pergi, nenek sakit.." kata Anin dengan cemas. Dia bersiap menata pakaiannya ke dalam tas.


"Mungkin aku akan lama, tolong salinin catatan untuk aku ya!" pintanya.


"I..iya. Kamu hati-hati!" Sandra juga cemas tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja tanpa izin terlebih dahulu.


Anin naik bus menuju rumah neneknya. Nenek yang merawatnya dari kecil. Perjalanan menuju rumah neneknya memakan waktu 4 jam. Hati Anin merasa tidak tenang, mengingat neneknya sudah sangat tua dan rentan sakit.


Begitu sampai, Anin segera berlari ke rumah neneknya. Rumah yang dulu dia tempati semasa masih kecil. "Nek, nenek baik-baik saja?" tanya Anin dengan khawatir.


Baru sampai di depan rumah Anin sudah berteriak-teriak. Namun dia merasa aneh, kenapa neneknya tidak ada di kamar.


Anin pun segera mencari ke dapur. Ternyata neneknya bisa berdiri dan sedang memasak. "Nek, katanya sakit? Kenapa masak? Biar aku aja yang masak!" kata Anin dengan khawatir.


"Kamu sudah pulang? Nenek baik-baik saja kok, sudah minum obat juga. Tadi pacar kamu yang bawa nenek berobat." kata neneknya Anin.


"Pacar? Arya?" Anin menjadi bingung.


"Bukan, bukan Arya. Namanya Defan, masa sama pacar sendiri lupa namanya?" Anin memicingkan matanya.


"Dimana dia sekarang?" tanya Anin.


"Katanya mau jalan-jalan bentar. Dia bilang kamu sibuk, jadi dia datang sendiri." lanjut neneknya.


"Oh, yaudah nenek istirahat aja! Biar aku yang masak." Anin meminta neneknya untuk istirahat. Sementara dia yang melanjutkan pekerjaan neneknya.


Anin mengikat rambutnya terlebih dahulu sebelum memasak. Dia sangat pandai memasak karena sejak kecil dia sudah belajar dari neneknya.


Karena saking fokusnya. Anin tidak sadar jika Defan menatapnya dari belakang. Dia bersandar dikusen pintu ke arah dapur. Memperhatikan Anin yang sedang memasak.


"Emang bisa masak?" tanya Defan mengagetkan Anin.


Sesaat Anin menoleh. Tapi kemudian dia memalingkan wajahnya kembali. "Ngapain sih kamu kesini, bilang kalau pacar aku segala." protes Anin tanpa melihat ke arah Defan.


Defan berjalan mendekat. "Nenek kamu sama keras kepalanya dengan kamu. Dia menolak bantuanku karena merasa tidak kenal. Jadi terpaksa aku bilang kalau aku pacar kamu." jawab Defan.


"Jangan mikir neko-neko! Aku cuma ingin bawa nenek kamu berobat." imbuh Defan dengan tersenyum.


"Ugh.."


"Neko-neko apaan?" Anin menyikut perut Defan membuat Defan kesakitan.


"Darimana kamu tahu kalau nenek aku sakit? Oh, kamu masih selidiki aku?" tanya Anin dengan kesal.


"Sebagai calon suami.. Akh.. Akh.." Anin mencubit perut Defan.


"Apa yang nggak aku tahu tentang kamu?" Defan meralat perkataan karena Anin masih belum mau melepaskan cubitannya.


"Tolong dong jangan lakuin ini terus! Aku nggak mau punya utang budi ke kamu." Anin semakin tidak nyaman dengan apa yang Defan lakukan.


"Aku merasa terganggu." imbuh Anin.


"Padahal aku cuma mau tanggung jawab aja. Kalau kamu merasa terganggu, ya udah, aku nggak akan ganggu kamu lagi." kata Defan dengan kesal kemudian meninggalkan dapur tersebut.


Dari dapur Anin mendengar perkataan neneknya kepada Defan. Seperti Defan pamit mau pulang. "Kamu mau kemana, nak? Anin baru aja datang, kenapa kamu mau pergi?" tanya nenek Anin.


"Iya nek, aku masih ada pekerjaan." jawab Defan dengan sopan.


"Kamu marahan sama Anin? Dia emang masih kanak-kanak, kamu harus lebih sabar ya sama dia!" kata neneknya.


"Pulang besok sama Anin ya! Ini sudah malam." pinta neneknya Anin.


"Uhuk... Uhuk.. Nenek mohon, nenek nggak tega kamu pulang sendirian." kata neneknya Anin lagi.


"Uhuk.. Kamu ajak pacar kamu makan! Jangan berantem sama dia! Dia lelaki baik!" kata neneknya menasehati Anin.


"Nenek lebih suka sama nak Defan dibanding pacar kamu si Arya Arya itu. Orangnya tidak sopan." lanjut neneknya.


Anin tidak berkata apapun. Dia hanya menghela nafas dengan wajah kesal. Dia masih menyalahkan Defan yang mengaku-ngaku sebagai pacarnya di depan neneknya.


"Kita makan dulu yuk!" Anin menuntun neneknya ke meja makan.


"Mari nak Defan!" namun, neneknya mengajak Defan.


"Anin!!" neneknya melotot.


Setelah kembali menghela nafas. Anin mengajak Defan untuk makan malam. "Makan dulu, pulang besok sama aku." katanya dengan terpaksa.


Defan tidak ingin mengecewakan neneknya Anin yang begitu baik kepada. Dia akhirnya ikut makan dan memutuskan untuk pulang besok bersama dengan Anin.


Keesokan paginya.


Anin kembali ke kota bersama dengan Defan. Awalnya Anin ingin tinggal lebih lama. Tapi ternyata Defan sudah mempekerjaan orang untuk merawat neneknya Anin.


"Anin disini dulu ya nek!" meskipun begitu Anin masih belum tenang.


"Hei, kamu kan harus kuliah. Sudah, tenang saja. Nenek baik-baik saja. Ada mbak perawat juga yang nemenin nenek." Anin kembali memeluk neneknya. Dia masih begitu khawatir.


"Udah sana, jaga kesehatan kamu!"


"Nenek juga.." air mata Anin tidak bisa dibendung. Dia melambaikan tangannya sembari menangis.


****


Sejak pulang dari rumah nenek Anin. Defan mulai kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia bahkan sudah tidak mau kepo dengan urusan Anin lagi.


"Aku perhatiin kamu udah tidak cari informasi tentang anak kecil itu. Kamu udah sadar kalau kamu tidak bisa lupain Ana?" tanya Rafa.


"Aku cuma nggak mau ganggu dia aja. Nggak mau kalau dia merasa terganggu." jawab Defan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada di depannya.


"Aku denger dia sekarang bukan hanya jadi pelayan di bar, tapi juga jadi penari. Kayaknya dia butuh banyak uang." kata Rafa memberikan informasi kepada Defan.


Sejenak Defan menghentikan aktifitasnya. Tapi sesaat kemudian dia kembali dengan pekerjaannya. Sepertinya dia sudah benar-benar tidak peduli dengan Anin.


Rafa memicingkan matanya. Dia melihat Defan tidak bereaksi setelah mendengar informasi darinya. "Kamu sudah nggak peduli sama dia?" tanyanya penasaran.


"Aku memang nggak pernah peduli. Apa yang aku lakukan hanya sebagai bentuk tanggung jawab." kata Defan menyangkal bahwa dia peduli dengan Anin.


"Oh, bentuk tanggung jawab, oke.." gumam Rafa.


"Kalau gitu aku kembali ke ruanganku!" Rafa beranjak dan hendak meninggalkan ruangan Defan.


"Nanti malam temani aku minum. Aku suntuk." kata Defan menghentikan langkah Rafa.


"Bilang aja kalau mau ketemu anak kecil itu.." Rafa menggoda Defan.


"Mau temani aku atau lembur?"


"Oke.. Aku temenin.." Rafa tersenyum geli saat keluar dari ruangan Defan. Dia bahkan tidak menyangka jika Defan memiliki sifat seperti itu.


Rafa pun semakin yakin jika Defan bukan hanya ingin bertanggung jawab. Tapi dia sudah mulai jatuh cinta dengan Anin.


"Aku sih hanya berharap kamu akan selalu bahagia, bro.." gumam Rafa.