
Anin pulang bersama dengan Defan dengan wajah bahagia. Ternyata Defan tidak seburuk yang dia kira. "Makan malam dulu ya!" ajak Defan.
"Terserah."
"Sekalian aku jelasin masalah teman kamu, Tessa." Anin menoleh menatap Defan yang fokus menyetir.
"Nggak usah."
"Biar clear dan kamu nggak cemburu lagi!"
"Aku nggak cemburu. Dibilang juga aku nggak cemburu." Anin menjadi semakin kesal. Karena Defan terus menuduhnya cemburu.
"Iya nggak cemburu, cuma kesel aja."
"Terserah." Anin semakin kesal.
Defan mengajak Anin ke sebuah restoran yang berada di sebuah perbukitan. Di sana, mereka bisa makan sembari menikmati keindahan malam dari ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut.
Konsep restoran tersebut memang agar pengunjung bisa menikmati indahnya malam. Dan juga bisa menatap langit lebih dekat.
Restoran bernama Sky View tersebut menyajikan pemandangan kota dari atas bukit. Dan juga pemandangan langit yang begitu indah dari ketinggian tersebut.
"Waow indah banget pemandangannya.." Anin terpukau dengan keindahan yang ada di depannya.
"Kita bisa lihat bintang lebih dekat ya?" katanya dengan senang.
"Hmm. Untung aja cuacanya juga bagus. Kamu mau makan apa?"
"Apa aja." Anin masih mengagumi tempat tersebut. Dia berjalan kesana kemari untuk melihat keindahan yang baru pertama kali ia lihat.
Defan tersenyum melihat betapa konyolnya Anin. Dia bahkan jingkrak-jingkrak membuat pelayan tersenyum geli. Bahkan Anin tidak mempeduli orang-orang sekitar yang sempat menertawakannya.
Tak lama, hidangan mewah tersaji diatas meja. Anin segera menyantap makanan tersebut. "Makan kayak anak kecil." ucap Defan sembari mengelap pipi Anin yang belepotan.
"Makanan ini juga enak banget." kata Anin.
"Apalagi dessert-nya, aku suka banget.. Kamu harus sering bawa aku kesini." tutur Anin.
Sementara Defan hanya tersenyum kecil mendengar review makanan yang dilakukan Anin. Suasana semakin romantis saat pemain musik mulai mengalunkan melodi yang indah.
"Mau lihat langit?" tanya Defan saat mereka selesai makan.
"Mau." dengan cepat Anin menjawab.
Defan kemudian mengajak Anin naik ke rooftop kafe tersebut. Disana, pemandangan bawah semakin indah. Dan pemandangan langit semakin jelas.
"Waow.." Anin semakin kegirangan.
"Kok kamu tahu tempat sebagus ini?" tanya Anin lagi.
"Kamu pasti sering kesini?"
"Hmm.."
"Sama Rafa." Anin membulatkan matanya.
"Jadi kamu sama Rafa?"
Defan menyentil kening Anin. Tuk. "Aw..." Anin mengelus keningnya.
"Aku cowok normal." tutur Defan.
Defan mengajak Anin untuk duduk. Entah darimana ada kursi dan meja di rooftop tersebut. Sepertinya sudah disiapkan sebelumnya.
"Aku sama Tessa nggak ada hubungan apa-apa." Defan mulai menjelaskan alasannya.
"Iya aku memang ajak dia ketemu. Tapi aku cuma kasih pelajaran ke dia agar tidak lagi gangguin kamu." imbuh Defan yang membuat wajah Anin menjadi merah. Dia tersipu dan tak menyangka jika Defan akan berkata seperti itu.
"Aku nggak peduli kamu mau kencan dengan siapa pun."
"Tapi aku peduli." sahut Defan dengan cepat.
"Aku tidak mau image papaku selalu dihubung-hubungankan dengan kehidupanku. Padahal sebenarnya papa dan ibuku tak sengaja melakukan kesalahan itu." lanjut Defan yang terlihat sedih saat menceritakan kedua orang tuanya.
"Ibuku gadis desa. Dia dijebak sampai akhirnya bertemu dengan papaku. Mereka tidak sengaja melakukan hal itu lalu lahirlah aku." Anin dengan seksama mendengarkan cerita Defan. Ia juga merasa sedih. Merasakan apa yang Defan rasakan selama ini.
"Tapi, yang aku salut dari papaku. Dia tidak pergi begitu saja. Melainkan dia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya." lanjut Defan mulai memerah matanya.
"Setelah ibuku meninggal karena sakit. Papaku ajak aku ke rumahnya. Dia jujur ke mama tiriku siapa aku. Sejak saat itu, pertengkaran terus terjadi dalam rumah itu." Defan mengusap air matanya yang menetes.
"Aku nggak betah di rumah itu. Seperti yang kamu tahu, mama tiriku sangat membenci aku. Saat dia melihatku, dia akan teringat pengkhianatan papaku. Dia akan selalu memukul dan memaki aku. Sampai akhirnya aku dititipkan di rumah kerabat papa." Defan masih kuat melanjutkan ceritanya.
Tanpa sadar, air mata Anin menumpuk dipinggiran matanya. Dia benar-benar merasakan emosi Defan saat bercerita mengenai masa kecilnya.
"Beruntung aku memiliki kakak yang begitu baik. Dia menyayangi aku seperti adiknya sendiri. Usia kami hanya terpaut satu tahun. Dia memberikan aku kasih sayang yang tulus, memperlakukan aku dengan adil, bahkan selalu membela aku."
"Sayangnya, aku yang tak berguna ini tidak bisa melindungi diri sendiri sehingga membuat kakakku harus melindungi aku, pada akhirnya dia menjadi lumpuh karena menyelamatkan aku." emosi Defan tak bisa terkendali. Dia menangis sejadinya.
Air mata yang dia tahan akhirnya tumpah. Di depan Anin, Defan menangis begitu menyedihkan.
Anin segera memeluk Defan. Membiarkan Defan menangis di dalam pelukannya. Anin pikir selama ini hidupnya sudah sangat menyedihkan. Tetapi, setelah mendengar cerita Defan. Dia berpikir bahwa dia masih lebih beruntung. Meskipun tak memiliki orang tua. Tapi Anin hidup dengan penuh kasih sayang dari nenek angkatnya.
"Def, apapun yang telah terjadi itu sudah menjadi takdir hidup kita yang tak bisa dirubah. Seperti pertemuan kita. Itu juga merupakan takdir." Anin mengelus punggung Defan membuat Defan merasa lebih nyaman.
"Kamu bahkan belum pernah ketemu orang tua kamu. Lalu apa yang membuat kamu bisa begitu kuat dan tabah?" Defan penasaran kenapa Anin bisa begitu ceria padahal hidupnya juga tidak terlalu baik.
Anin tersenyum kecil. "Karena aku menganggap semuanya takdir yang harus aku jalani. Ingat, Tuhan tidak akan mengambil yang baik tanpa menggantikan yang lebih baik. Mungkin orang tuaku tidak menginginkan aku. Tapi kasih sayang nenek lebih daripada cukup." jawab Anin. Selama ini dia tidak pernah memikirkan hal-hal yang membuatnya terprovokasi. Mungkin itu sebabnya dia selalu nampak ceria.
"Ada dua hal yang harus kita lakukan dalam menerima takdir kita."
"Pertama, kita mau bangkit dan berjalan ke arah lebih baik. Atau terpuruk dengan kekecewaan yang tak berujung."
"Bangun untuk mewujudkan mimpi. Atau kembali tidur untuk melanjutkan bermimpi."
Defan menatap Anin dengan dalam. Ia tak menyangka jika gadis yang dianggap anak kecil itu tapi justru pemikirannya lebih dewasa. Ternyata umur tidak bisa menentukan sikap dewasa seseorang.