Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
21. Antara Cinta dan Tanggung Jawab



Keesokan paginya, Anin kembali bersikap biasa. Dia mulai berdamai dengan kenyataan. Kenyataan bahwa dia menikah dengan Defan hanya untuk menjadi pelarian Defan. Dan kebaikan Defan selama ini hanya sebagai kewajiban seorang suami.


Pagi itu, Anin memasak untuk Defan. Setelah menikah, Defan ingin Anin yang memasak untuknya. Tapi, jika Anin sedang capek. Defan juga tidak memaksanya.


Di kamar, Defan membuka matanya. Tapi tidak melihat Anin disebelahnya. Dia pun segera berlari ke kamar mandi, tapi tidak menemukan istrinya. Lalu dia mencari di dapur. Bibirnya merekah saat melihat sosok yang dia cari sedang menata makanan di meja.


Wajahnya pun kembali berseri. Defan bersandar di kusen pintu dapur sembari memperhatikan wanita yang dia nikah hampir tiga bulan tersebut. Hari-harinya semakin menyenangkan semenjak menikahi Anin.


"Tuan?" gumam salah satu pembantu yang melihat Defan.


Seketika Anin pun menoleh. Matanya membulat saat melihat Defan berdiri di depan pintu dapur. Namun sesaat kemudian, matanya berkedip pelan. "Mau sarapan sekarang? Aku cuma bikin salad sama telur mata sapi." tanya Anin.


Defan pun berjalan menuju meja makan. Lalu dia duduk untuk sarapan. Sementara Anin menyiapkan sarapannya dan juga menuangkan teh untuk Defan.


"Pulang dari kampus kemana?" tanya Defan sembari menyantap sarapan bikinan istrinya.


"Nggak kemana-mana. Eh, mau nganter Sandra beli baju, dia ada kencan buta nanti malam." jawab Anin.


"Kamu ikut kencan buta?"


"Pengen sih, siapa tahu ketemu jodoh." jawab Anin dengan santai.


Brakk. Defan menggebrak meja membuat Anin terkejut. Dia menatap Anin dengan tajam. "Kamu anggep aku apa?" tanya Defan dengan kesal.


"Suami. Tapi kan nanti kalau wanita yang kamu cintai tiba-tiba balik. Kamu juga pasti akan kembali ke dia kan? Masa aku harus terpuruk sendirian." jawab Anin dengan santai. Dia sama sekali tidak melihat wajah Defan yang kesal.


"Kata siapa aku akan balik ke Ana?" tanyanya menahan rasa kesalnya.


"Kamu sendiri kan bilang kalau tidak ada wanita yang seperti Ana?" sahut Anin.


Defan mengerutkan keningnya. Dia ingat perkataannya kepada Dita, teman Ana kemarin malam. Defan pun akhirnya tahu alasan kenapa Anin tiba-tiba berubah.


"Udahlah Def, pernikahan kita kan hanya sebuah perjanjian. Kalau Ana kembali pasti kalian bersama lagi. Jadi mulai sekarang aku harus siap-siap cari pacar. Ah.." Anin terkejut saat Defan tiba-tiba menarik tangannya. Defan mencengkeram tangan Anin dengan cukup erat.


"Selama kita masih terikat dengan pernikahan, tidak akan aku biarin kamu memiliki pacar!" katanya sembari melotot.


"Tapi kalau kamu yang balik sama mantan, boleh? Egois." Anin tersenyum sinis.


"Ana udah nggak ada. Nggak usah cemburu!"


"Aku nggak cemburu.." seru Anin dengan cepat.


"Lagipula apa perkataanku itu salah? Emang nggak ada yang seperti Ana, termasuk kamu." lanjut Defan.


"Iya aku emang bukan Ana. Aku hanya pelayan bar yang nggak sengaja ketemu kamu, dan kamu harus bertanggung jawab. Aku nggak akan bisa seperti Ana, dan aku juga tidak mau menjadi Ana. Aku adalah aku, tidak akan pernah bisa jadi orang lain." kata Anin dengan hati teriris. Bahkan air mata telah menumpuk di matanya.


"Bukan gitu maksud aku." Defan menyentuh wajah Anin, tapi dengan cepat Anin menghindar.


"Aku harus bersiap ke kampus." kata Anin sembari menarik tangannya. Segera dia berlari ke kamar tanpa menoleh ke belakang.


"Argh.."


Defan menyusul Anin ke kamar. Berulang kali dia mengetuk pintu kamar mandi. Namun sayangnya tidak ada sahutan dari Anin.


Begitu Anin keluar, Defan segera menangkap tangannya. "Dengerin aku dulu!" pintanya.


"Dengerin apa lagi sih Def? Semua sudah jelas. Aku sadar kok, pernikahan kita ini hanya perjanjian. Udahlah, aku nggak masalah kok, aku juga sadar diri." jawab Anin sembari tersenyum tipis.


"Kamu salah paham." Defan menarik Anin kembali.


"Kenapa aku harus salah paham? Apa yang kamu omongin itu benar kok. Aku hanya gadis desa, miskin, aku tidak seperti Ana. Udah ya, aku paham kok. Aku mau berangkat." Anin meninggalkan kamar setelah bersiap.


"Oh ya nanti aku pulang malam." imbuhnya kemudian segera berangkat ke kampus.


Defan hanya menatap kepergian Anin dengan kesal. "Kenapa cewek itu keras kepala banget?" gumam Defan.


Dia segera mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Wajahnya kembali menjadi muram. Sikapnya juga kembali menjadi dingin.


"Kamu pasti lagi berantem sama Anindya?" Rafa bisa menebak ekspresi Defan.


"Kenapa lagi sih? Bukannya kalian akhir-akhir ini sedang baik-baik saja? Bahkan kalian saling bertukar perhatian? Aku kira kalian malah sedang jatuh cinta." imbuh Rafa.


Akan tetapi, Rafa tidak mendapat jawaban apapun. Defan hanya tetap diam tanpa menjawab apapun pertanyaan Rafa.


"Def, seandainya Ana masih hidup. Apakah kamu akan kembali kepadanya dan meninggalkan Anindya?" tanya Rafa tiba-tiba.


Defan pun segera menoleh. "Ada kabar tentang Ana?" tanyanya.


"Masih perkiraan sih. Ada orang yang melihat Ana." Defan langsung terperanjat.


"Dimana?"


"Di sebuah desa terpencil. Sudah hampir sebulan yang lalu, tapi Ana tidak muncul lagi. Dia bersama seorang lelaki." kata Rafa.


"Lalu, seminggu yang lalu. Aku melihat nyonya ke rumah sakit bersama seorang wanita bernama Bella. Aku curiga Ana berganti identitas." imbuh Rafa.


Mata Defan seketika membulat. Jika benar apa yang Rafa katakan. Seharusnya Ana datang menemuinya. "Cari informasi lagi. Pastikan siapa wanita bernama Bella itu!" kata Defan.


"Apakah kamu berharap kembali dengan Ana? Lalu Anindya?" Rafa kembali bertanya. Dia penasaran dengan jawaban Defan.


"Aku belum memutuskan."


"Kata kamu, kamu akan berikan Ana ke Reno?" Defan pun terdiam. Dia kembali tidak menjawab pertanyaan Rafa.


"Lakukan tugas kamu!" perintahnya tanpa menjawab pertanyaan Rafa.


Rafa melihat ada kebingungan di wajah Defan. Dia juga bisa mengerti seperti apa perasaan Defan saat ini. "Tanyakan pada hati kecil kamu! Apa yang harus kamu lakukan! Bersama dengan wanita yang kamu cintai atau bersama dengan wanita yang menjadi tanggung jawab kamu!" pesan Rafa sebelum dia keluar dari ruangan Defan.


Sedangkan Defan kembali terdiam. Wajahnya tetap terlihat dingin dan datar. Entah apa yang ia pikirkan. Rafa sama sekali tidak bisa menebak pikirannya.