Take Me To The Sky

Take Me To The Sky
33. Perasaan Yang Sama (Sandra&Rafa)



Matanya menatap Julian dengan lekat. Hari ini Sandra dan Julian memutuskan untuk berpisah sesuai dengan perjanjian mereka. "Makasih untuk kerja samanya." kata Sandra.


"Sama-sama. Semoga orang tua kita bisa menerima keputusan kita dan tidak lagi jodohin kita." jawab Julian.


"Semoga."


"Dan semoga hubungan kamu dengan kak Rafa lancar." kata Julian yang membuat Sandra terkejut.


"Hubungan apa? Aku sama Rafa cuma temenan." Sandra mengelak karena faktanya memang dia hanya berteman dengan Rafa. Tidak ada hubungan yang lebih diantara mereka berdua. Meskipun sebenarnya Sandra berharap lebih.


"Kamu belum kenal kak Rafa?" Julian tersenyum kecil.


"Menurut kacamataku, sebenarnya dia suka sama kamu. Kak Rafa tuh jarang banget ngejomblo loh. Tapi aku lihat beberapa bulan terakhir, dia sama sekali tidak dekat dengan wanita, tapi dekat sama kamu." imbuh Julian.


"Kamu mau nggak aku bantuin? Tapi ada syaratnya."


"Apa?" sahut Sandra dengan cepat.


"Kenalin aku dengan cewek yang manis dan imut." jawab Julian.


"Nanti aku bantuin kamu jadian sama kak Rafa." imbuhnya.


Namun, Sandra hanya terdiam. Yang sebenarnya ragu dengan bantuan yang ditawarkan oleh Julian. Akan tetapi dia ingin mencoba. "Oke, deal." ia mengulurkan tangannya.


"Cieee beneran suka sama kak Rafa kan kamu?" Julian justru malah meledek Sandra membuat Sandra menjadi kesal.


"Brengs*k, kamu ngerjain aku?" tanyanya dengan kesal.


Julian kembali terbahak. "Iya iya nanti aku bantuin." tuturnya.


Setelah urusan mereka selesai. Sandra dan Julian mulai berpisah. Mereka akan mengatakan perpisahan itu kepada orang tua masing-masing. Berharap orang tua mereka akan memahami perasaan mereka berdua.


....


Dengan takut-takut Sandra menyampaikan bahwa ia dan Julian telah putus hubungan. Apapun resikonya akan dia hadapi. Karena ini masalah perasaan yang tak bisa dipaksakan.


"Jadi kamu putus dari Julian?" tanya kakeknya.


"Iya. Maaf, aku udah berusaha tapi kita memang tidak cocok." jawab Sandra.


"Kalau kakek dan papa mau marah silahkan, bahkan kalau mau usir aku juga nggak masalah. Aku hanya ingin bahagia dengan pilihan aku sendiri." imbuhnya.


"Kamu ngomong apa? Siapa yang berani usir cucu kesayangan kakek?" kata kakeknya Sandra.


Mata Sandra langsung terbelalak. Dia tak menyangka akan mendengar perkataan tersebut. Dia langsung menatap kakeknya dengan mata berkaca-kaca.


"Kakek..." lirihnya.


"Kamu cucu kesayangan kakek, tak ada yanh berani usir kamu. Kakek akan dukung semua yang membuat kamu bahagia." ucap kakeknya lagi.


Sandra berdiri dan langsung memeluk kakeknya. "Sandra sayang sama kakek." ucapnya.


"Kakek juga."


"Maafin papa yang selalu paksa kamu sampai kamu harus pergi dari rumah. Maafin papa ya, nak." sahut papanya Sandra juga.


Sandra merasa sangat bahagia karena ternyata kakek dan papanya telah berubah. Ternyata memang benar, kalau orang tua itu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka.


"Kamu sudah punya pilihan sendiri? Kalau gitu bawa dia ketemu kakek!"


"Belum kek, tapi nanti kalau Sandra udah punya pacar, pasti Sandra akan ajak dia ketemu kakek." Sandra masih begitu sangat senang karena kakek dan papanya akhirnya membebaskan dirinya untuk memilih pasangannya sendiri.


"Dua hari yang lalu ada seorang lelaki datang kesini, dia ingin melamar kamu. Tapi ditolak papa kamu, karena kamu sudah sama Julian." kata kakeknya Sandra lagi.


"Laki-laki? Siapa?" tanya Sandra penasaran.


Kakek dan papanya Sandra terdiam sembari mengingat-ingat nama pemuda yang datang untuk melamarnya itu. "Em... Kalau nggak salah namanya, em.. Rafa, iya namanya Rafa."


Seketika mata Sandra terbelalak. "Kenapa papa tolak?"


"Karena kamu kan sama Julian. Papa nggak tahu kalau ternyata kalian nggak cocok. Emang siapa dia?"


"Dia lelaki yang aku suka." jawab Sandra dengan cepat.


"Ha??" kakek dan papanya Sandra saling berpandangan.


"Cari pemuda itu! Bawa dia kesini! Dia lelaki gentle." perintah kakeknya.


Sandra pun segera pamit. Dia mulai menghubungi Rafa tapi tidak ada jawaban dari Rafa. Tidak mungkin jika di kantor karena ini hari Minggu. Sandra bertanya kepada Defan. Tapi Defan juga tidak tahu. Dia sedang bersama dengan Anin, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain.


"Dimana sih dia?" gumam Sandra mulai khawatir.


"Ah, aku rasa aku tahu dimana dia." gumam Sandra lagi lalu melajukan mobilnya ke tempat yang dia yakini jika disana pasti ada Rafa.


Setelah berkendara selama hampir satu setengah jam. Sandra akhirnya menemukan keberadaan Rafa. Dia melihat Rafa yang sedang solo camp di tempat itu.


Sandra segera keluar dari mobil dan berlari mendekati Rafa. "Dasar brengs*k, aku cari kamu kemana-mana." umpat Sandra begitu mendekat membuat Rafa terkejut.


Rafa menoleh dan memicingkan matanya. "Tahu darimana kalau aku disini?" tanya Rafa dengan dingin. Dia bahkan tidak menghiraukan wajah khawatir Sandra.


Sandra mendekat lagi, lalu duduk disebelah Rafa. "Sendirian aja? Nggak bareng sama Julian?" tanya Rafa masih dengan dingin.


Sandra hanya tersenyum kecil. Ia tahu jika Rafa sedang cemburu sekarang. "Kakek ingin ketemu kamu." katanya tanpa menjawab pertanyaan Rafa sebelumnya.


"Kakek dan papa minta maaf karena udah tolak kamu. Mereka nggak tahu kalau kamu adalah lelaki yang aku suka." Rafa pun segera menoleh.


Pada saat yang bersamaan, Sandra juga menoleh. Mereka saling berpandangan dengan lekat. "Kenapa nggak ngomong langsung kalau kamu suka aku. Kan aku juga suka." kata Sandra sembari tersenyum.


Rafa terus menatap Sandra yang tersenyum dengan begitu manis. Lalu dia ikut tersenyum dan menjepit hidung Sandra menggunakan jarinya. "Dasar.." Rafa segera menarik Sandra ke dalam pelukannya.


"Bilang ke kakek dan papa kamu, lusa aku akan lamar kamu." ucap Rafa.


"Serius?"


"Ya. Eh tapi kamu sama Julian?"


Sandra kembali tersenyum sembari menatap Rafa. "Aku kan udah bilang kalau hubungan kita hanya pura-pura. Aku cuma mau nikah sama kamu." jawab Sandra kembali membuat Rafa tersenyum.


Lalu mereka menghabiskan waktu sore ditempat tersebut dengan bahagia. Tak pernah menyangka jika mereka akan bertemu pada perasaan yang sama.