
Pagi-pagi Anin di kagetkan oleh seseorang yang tak ia kenal. Lelaki itu masuk dan tiba-tiba nyelonong ke kamar Defan. "Kamu siapa?" tanya Anin sembari menarik baju lelaki tersebut.
"Kamu yang siapa? Ini kamar kak Defan, kamu siapa berani-beraninya masuk kamar kakak aku?" lelaki itu justru memarahi Anin.
"Kamu pasti wanita penghibur kan? Ini uang untuk kamu, sekarang pergi!" kata lelaki itu membuat Anin membulatkan matanya.
Lelaki itu tetap nyelonong masuk ke kamar. Tentu saja Anin kembali menarik lelaki itu. "Jangan sembarangan masuk!" seru Anin.
Karena lelaki itu terus maksa untuk masuk ke kamar. Anin terpaksa menggunakan sedikit kekerasan. Dia memdorong lelaki itu sampai mentok ke dinding juga mempelintir tangan lelaki itu.
"Sakit woi..." seru lelaki itu dengan cukup lantang sehingga membangunkan Defan yang masih terlelap.
"Def,, ada pencuri..." seru Anin.
"Aku bukan pencuri. Aku adiknya kak Defan." kata lelaki itu masih menahan rasa sakitnya.
Defan yang mendengar teriakan Anin segera bangun dan melihat apa yang terjadi. "Julian?" gumam Defan kaget melihat lelaki tersebut.
"Kak tolongin aku!" kata lelaki bernama Julian tersebut.
Defan segera mendekat dan menolong adiknya. "Dia adik aku bukan pencuri." katanya kepada Anin yang sudah parno.
Anin pun segera melepaskan tangan Julian. "Akh.. Dibilangin aku bukan pencuri.." Julian merasa sangat kesal. Apalagi tangannya terasa sakit.
"Kamu kapan pulang? Kenapa nggak kasih tahu kakak?" Defan memarahi adiknya.
"Aku baru turun dari peswat langsung kesini. Aku mau bikin surprise untuk kakak.." jawab Julian dengan tersenyum kecil.
"Mama udah tahu kalau kamu kesini?" Julian menganggukan kepalanya.
"Aku males pulang. Aku mau tinggal sama kakak aja." ucap Julian bermanja dengan kakaknya.
"Oh ya kak, dia siapa? Kenapa ada di kamar kakak?" Julian menunjuk Anin yang ada di sebelah Defan.
"Dia kakak ipar kamu. Istri kakak."
"Ha? What?" Julian membulatkan matanya.
"Istri? Terus kak Ana?" tanya Julian.
"Kakak lupain kak Ana begitu saja?" imbuhnya.
"Kamu sudah makan? Tunggu kakak di meja makan! Kakak mau siap-siap!" Defan sengaja mengalihkan pembicaraan.
Julian menganggukan kepalanya. Dia kemudian keluar dari kamar kakaknya. "Apa?" namun masih kesal dengan Anin.
Tapi, setelah Defan melotot. Julian buru-buru kabur. Dia tahu betul betapa menakutkannya kakak keduanya tersebut. Ia pun menurut apa yang kata kakaknya, untuk menunggu di meja makan.
Setelah mandi dan bersiap. Defan ke meja makan terlebih dulu. Sementara Anin masih mandi. "Aku tunggu di meja makan!" seru Defan dari depan pintu kamar mandi.
"Ya.."
Defan pun segera menuju meja makan dimana adiknya sedang menunggu dirinya. "Kamu udah bilang ke mama kalau kamu mampir kesini?" tanya Defan.
"Udah. Mama baru aja telepon. Maaf ya kak, pasti mama akan marahin kakak. Tapi mau gimana, aku kangen berat sama kak Defan." rengek Julian.
Dari kecil, dia memang sudah dekat dengan Defan. Meskipun tahu jika mereka hanya saudara tiri. Tapi kasih sayang keduanya melebihi saudara sekandungan.
"Gimana kuliah kamu?" Defan tidak pernah bisa marah ke adiknya tersebut.
"Lancar kak. Dua bulan lagi aku wisuda. Ini aku mau liburan dulu kesini mumpung ada waktu."
"Eh kak, tadi beneran istri kakak? Terus kak Ana gimana? Jika ternyata kak Ana masih hidup gimana?" Julian bertanya kemungkinan yang akan terjadi. Karena sampai sekarang jasad Ana belum juga ditemukan.
"Berarti itu tugas Reno untuk menikahinya." jawab Defan sembari tersenyum kecil.
Julian menatap Defan dengan lekat. Dia benar-benar mengagumi sikap tulus kakak keduanya itu. Bukan lagi rahasia diantara ketiga bersaudara itu. Jika Reno memiliki perasaan lebih ke Ana. Akan tetapi, Ana lebih memilih Defan.
"Kak Defan relain kak Ana untuk kak Reno?"
"Ya. Aku nggak mungkin kan sakiti istriku." jawab Defan masih dengan tersenyum kecil.
Namun, suasana tersebut hancur karena kedatangan Santika yang langsung marah begitu masuk ke dalam rumah Defan. "Dimana anak pembawa sial itu? Jangan berani halangin aku!" seru Santika.
Defan mengisyaratkan agar para pengawalnya membiarkan Santika masuk. Para pengawal itu kemudian meninggalkan Santika yang marah-marah karena Julian lebih memilih pulang ke rumah Defan, dibanding pulang ke rumah orang tuanya.
"Dasar kamu pembawa sial. Kamu belum cukup sakiti Reno? Sekarang kamu akan celakai Julian juga?" Santika mendekati Defan dan memakinya.
"Mama apaan sih? Aku kesini karena inisiatifku sendiri bukan kak Defan yang minta." Julian menarik tangan mamanya. Di depan mamanya, dia membela Defan yang memang tidak bersalah.
"Kak Defan nggak pernah sakiti aku dan kak Reno. Semua itu kecelakaan. Mama jangan salahin kak Defan terus!" imbuh Julian dengan kesal.
"Masih aja belain anak pembawa sial. Siapa yang dekat dengan dia pasti akan celaka. Dulu papa kamu, terus Reno, lalu Ana, besok siapa lagi? Mama nggak mau kamu kenapa-napa Julian." kata Santika sembari meraih tangan anak bungsunya.
"Kamu harapan keluarga kita satu-satunya." imbuh Santika.
"Tapi kak Defan juga keluarga kita. Dia kakak aku, anak papa juga." sahut Julian sangat tidak suka dengan sikap mamanya yang berlaku tak adil terhadap kakaknya.
"Mama tidak mau mengakui dia sebagai keluarga. Dia pembawa sial, mama tidak sudi." seru Santika.
Perkataan Santika tersebut tentu saja menyakiti hati Defan. Tapi seperti biasa, Defan tidak mempedulikan perkataan buruk tersebut. Perkataan yang sudah dia dengar selalu dua puluh tahun lebih.
"Cukup!" tiba-tiba Anin berseru karena tidak terima dengan perkataan buruk Santika terhadap Defan.
"Anda siapa? Berani mengatai orang pembawa sial? Anda pikir anda orang suci?" tanya Anin sambil berjalan mendekat.
"Kamu siapa berani ceramahin aku?" Santika tentu saja langsung marah.
"Aku istri Defan. Lelaki yang baik, dan tanggung jawab. Anda jangan sembarangan mengatai orang pembawa sial. Anda bukan Tuhan." seru Anin dengan marah.
"Oh, jadi kamu istri dia? Pantes sama, sama-sama tidak punya aturan." ucap Santika.
"Anda pikir anda punya aturan? Masuk ke rumah orang tanpa permisi, tiba-tiba marah, menghina orang seenaknya. Itu yang dikata punya aturan?" Anin melotot menatap Santika. Dia sama sekali tidak takut dengan kemarahan Santika yang meledak-ledak.
"Kamu pikir aku mau kesini? Kalau bukan karena anakku yang kesini, aku juga tidak sudi menginjakan kakiku di rumah ini. Dasar pembawa sial." Santika semakin geram karena Anin bahwa sama sekali tidak takut kepadanya.
Plakk..
Santika menampar Anin dengan cukup keras. Tentu saja itu langsung membangkitkan reaksi Defan. Dia segera mendekati Anin dan menghalangi Santika yang ingin menampar Anin kembali.
Anin pun tidak terima dengan perlakuan Santika. Dia hendak membalas apa yang Santika lakukan. Tapi dihalangi oleh Defan.
"Julian, bawa mama pergi dari sini!" Defan meminta Julian agar segera membawa Santika pergi. Sementara dia menahan Anin yang hendak mencakar Santika.
"Kamu berani usir aku?" Santika melotot.
"Mama boleh marahin aku, boleh hina aku bahkan pukul aku. Tapi jangan pernah mama berani menyentuh istriku!" kata Defan dengan tegas. Setiap katanya menyiratkan bahwa dia tidak terima dengan perlakuan Santika terhadap istrinya.
"Silahkan keluar!" kata Defan dengan dingin.
"Bawa mama pulang!" katanya kepada Julian.
"Iya kak, maaf."
"Ngapain kamu minta maaf, kamu nggak salah, dia aja yang sok, mentang-mentang punya rumah sendiri.."
"Mama!! Ayo pulang!" Julian menarik mamanya keluar dari rumah Defan.
Sementara Defan terus mendekap Anin agar tidak bisa menyentuh mamanya. Setelah Santika pergi. Defan melihat lebam di pipi Anin. "Aku obati!" ia mengajak Anin untuk duduk dan mengoleskan salep ke pipi Anin yang nampak lebam akibat tamparan Santika.
"Maaf." ucap Defan membuat Anin terkejut.
"Kenapa minta maaf, kamu salah apa?"
"Karena bela aku kamu jadi kena tampar. Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi. Jangan korbanin diri buat bela aku, itu namanya kamu jatuh cinta sama aku. Atau emang kamu sudah jatuh cinta sama aku?" Defan menyelipkan kata candaan dalam peringatannya.
Anin pun merasa kesal. Dia segera bangkit kemudian meninggalkan Defan. "Dasar tak tahu terima kasih.." gumamnya dengan kesal.
"Tahu gitu biarin aja dia di maki sama nenek lampir tadi. Ihh nyeselin.." gerutu Anin. Dia bahkan langsung berangkat ke kampus tanpa sarapan terlebih dahulu.