
Hidup selalu punya kejutan tiap harinya. Kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam hidupmu. Ada hari dimana mimpi terliarmu, tiba-tiba menjadi nyata. Namun ada hari dimana seluruh keinginanmu tidak terkabulkan, bahkan keinginan terkecil dan terreceh sekalipun. Mungkin semua itu adalah permainan takdir. Atau mungkinkah bergantung pada keberuntungan? Atau keduanya membangun kerjasama untuk kehidupan ini?
Orang-orang berkata, hal yang paling membahagiakan adalah ketika mimpi terliarmu menjadi nyata. Namun sebenarnya, jangankan mimpi terliar, meskipun hanya mimpi sederhana atau keinginan biasa, ketika hal itu menjadi kenyataan, akan sangat membahagiakan. Sementara itu, hal yang paling menyedihkan adalah saat mimpi menjadi nyata, namun kemudian kau tersadar ternyata semua itu tidak seperti yang kau harapkan selama ini, tidak seperti yang kau bayangkan. Ekspektasimu yang awalnya sudah sangat tinggi, harus hancur berkeping-keping dan berubah menjadi kekecewaan.
Nara selalu berfikir kehidupan percintaannya adalah gambaran dari hal yang menyedihkan itu. Ia tidak pernah berfikir untuk duluan menyukai seorang laki-laki dalam hidupnya. Masa lalu yang membayangi membuatnya tidak ingin merasa sakit hati sekali lagi. Ia tidak ingin teriming-imingi cinta dan rasa suka jika suatu saat nanti ia akan disadarkan kalau semua itu tidak seperti yang ia pikir.
Sama menyedihkannya ketika ada seseorang yang menyukainya. Setiap kali ada seseorang yang mendekatinya, seiring berjalannya waktu sebelum sempat berpacaran, mereka menjadi jenuh dan perasaan itupun hilang. Karena Nara selalu ragu untuk memberikan harapan kepada orang yang menyukainya itu. Kelemahan yang didapatkannya, lagi-lagi, dari masa lalu. Ia selalu ragu untuk membalas perasaan orang yang menyukainya.
Apakah orang itu benar-benar menyukainya ataukah hanya ingin mempermainkannya? Apakah ia harus menunjukkan rasa sukanya ataukah hanya bertingkah selayaknya dan menunggu? Apakah ia harus mempercayai orang yang menyukainya ataukah ia harus berhati-hati? Apakah ia punya perasaan yang sama kepada orang yang menyukainya ataukah hanya rasa nyaman terhadap teman semata? Dan masih banyak keraguan lainnya. Mungkin karena itulah selama 20 tahun hidupnya ia tidak pernah berpacaran. Karena terlalu lama terperangkap dalam keraguan dan tidak bergerak maju.
Kali ini, laki-laki itu datang dalam hidupnya. Woo Ji-Ho. Idola terkenal dari Korea. Artis idolanya. Dari 7.5 miliar orang di muka bumi ini. Ia dan Ji-Ho tetap berhubungan setelah pertemuan terakhir mereka di Universitas Hongik melalui pertukaran pesan. Dan entahlah, menurut Nara pesan yang dikirim Ji-Ho begitu intens sampai seringkali mengantarkannya sampai tidur.
Meskipun begitu, Nara tidak ingin berfikir kalau Ji-Ho sedang mendekatinya. Ia tidak ingin membangun fantasi di pikirannya yang akan berujung pada harapannya menjadi terbang tinggi dan memberikan kesempatan dirinya untuk jatuh lalu hancur berkeping-keping. Mungkin Ji-Ho hanya ingin membangun koneksi. Mungkin Ji-Ho hanya ingin berteman dengannya karena ia berasal dari negara lain dan Ji-Ho ingin membangun koneksi dengam orang-orang dari berbagai negara. Nara selalu berfikir seperti itu. Berfikir apapun selain Ji-Ho sesungguhnya menyukainya.
Tapi tidak bisa dipungkiri kalau sesungguhnya Nara mulai merasa jatuh hati. Siapa yang tidak akan? Bayangkan idolamu, -yang kau sukai sejak pertama kali kau melihatnya, yang selalu bisa membangkitkan moodmu hanya dengan melihat fotonya menjadi wallpaper ponselmu, yang lagu-lagunya kau dengarkan setiap malam sebelum tertidur, yang membuatmu gembira hanya karena kau tidak sengaja melihatnya muncul di layar TV, yang tiap beritanya kau baca dan ikuti perkembangannya, yang selalu kau lihat menawan dengan apapun yang ia lakukan, -mengirimimu pesan setiap hari, berbicara denganmu dari pagi hingga malam. Dan diatas segalanya, untuk lebih memperjelasnya, orang itu adalah artis kesukaanmu! Idolamu! Pasti di mimpi terliarmu kau pernah berharap memiliki hubungan khusus dengannya.
Sebuah tepukan halus pada pundaknya membangunkan Nara dari lamunan. Ia memutar kepala dan melihat Seo Chul Goo yang kini berdiri di belakangnya. "Kau sedang apa?" tanyanya sambil melompat dari belakang sofa dan bergabung dengan Nara.
"Um... menonton?" Nara juga tidak yakin dengan apa yang dilakukannya. Remote TV ada dalam genggamannya, namun sesungguhnya ia pun tidak tau saluran atau acara apa yang sedang ditayangkan TV di depannya.
"Kau terus menerus mengganti saluran," Chul Goo mengambil alih remote dari tangan Nara. "Kau benar-benar sedang menonton sesuatu? Pikiranmu seperti sedang teralihkan," suara Chul Goo terdengar khawatir dan sedikit penasaran. Ia penasaran dengan apa yang dipikirkan Nara.
"Ya, pikiranku memang sedang teralihkan," jawaban itu hanya dalam pikiran Nara saja. Untuk saat ini , ia tidak ingin menceritakan kisahnya dengan Ji-Ho kepada Chul Goo, mengingat reaksi Juno saat ia menceritakannya beberapa hari lalu. Nara takut akan berakhir ingin menendang bokong Chul Goo jika ia juga bereaksi sama.
"Kau tidak mau menceritakannya padaku?" Chul Goo mendekatkan wajahnya dan berhenti pada jarak hanya beberapa centi dari wajah Nara.
Nara dapat merasakan desiran darah saat nafas Chul Goo teraba pada kulit pipinya. Tanpa mengalihkan wajah, dengan tangan kirinya Nara berusaha mendorong wajah Chul Goo menjauh sebelum wajahnya sendiri menjadi merah padam. "Tidak ada yang perlu di ceritakan," ujar Nara setelah wajah Chul Goo kembali pada posisi semula.
"Benarkah?" kini Chul Goo kembali sibuk dengan saluran TV. Ia kembali mengganti-ganti saluran, mencari sesuatu yang menarik untuk ditonton. "Baiklah, kalau begitu ayo kita nonton saja,".
"Tunggu sebentar!" teriak Nara tiba-tiba sembari memegang tangan Chul Goo untuk menghentikannya menekan tombol remote. "Sebelum ini, coba kembali ke saluran sebelumnya," sesuai perintah Nara, Chul Goo menekan tombol kembali untuk melihat saluran sebelumnya.
Pada layar tampak sebuah acara talkshow dimana Jae Sook, pembawa acara terkenal Korea, terlihat sedang memimpin acara. Duduk di sampingnya, terlihat pembaca acara terkenal lain, yaitu Myung Soo, dan seorang anggota dari sebuah girlgroup Korea. Mereka berdua sepertinya menemani Jae Sook dalam membawakan acara ini. Nara belum pernah melihat acara ini sebelumnya. Mungkin ini acara baru, atau mungkin dirinya yang tidak pernah milihat acara ini.
Sesuatu mencuri perhatian Nara saat Chul Goo mengganti-ganti saluran tadi. Lebih tepatnya seseorang. Ia yakin ia melihat orang itu pada acara ini. Kamera yang mengambil gambar acara itu berpindah ke sisi lain dan merekam para bintang tamu. Orang itu benar ada. Pada layar kini ditampilkan Ji-Ho yang sedang duduk dan tertawa kecil menanggapi apapun yang Jae Sook katakan sebelumnya, dengan seluruh anggota 7Seasons di sekelilingnya.
"Ji-Ho..." tanpa sadar Nara membisikkan nama itu. Chul Goo mendengarnya seperti sebuah bisikan kekaguman.
"Kau menyukainya?" Chul Goo menunjuk layar yang sedang menampilkan Ji-Ho menarikan beberapa koreografi dari lagu mereka yang berjudul 'Toy '.
"Memangnya kau mengerti apa yang mereka katakan?" tawa Chulgu lepas saat mengalihkan pandangannya dari layar TV dan melihat wajah serius Nara menonton acara yang ditayangkan. Pada acara itu, para pembawa acara dan bintang tamu -tentu saja- berbicara dengan bahasa korea dan -tentu saja -tidak ada terjemahan pada bagian bawah layar. Entah itu Nara memang mengerti bahasa korea atau ia hanya menontonnya dengan pikiran kosong.
Dengan polos Nara menggelengkan kepala, yang artinya ia tidak memgerti sedikit pun apa yang mereka katakan. Chul Goo kembali tertawa melihat wajah polos Nara. Karena kesal ditertawakan, Nara mengambil bantal sofa di pangkuannya dan memukuli Chul Goo untuk membuatnya berhenti tertawa.
"Mau aku terjemahkan untukmu?" tanya Chul Goo setelah Nara menghentikan aksinya karena lelah memukul. Nara tidak berkata apa-apa tapi hanya menoleh ke samping lalu merapatkan kedua telapak tangannya di depan wajah dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Ia beruntung Chul Goo menawarkan ide itu.
Chul Goo tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi duduknya, bersiap untuk menerjemahkan. Diikuti Nara yang juga memperbaiki posisi duduk, bersiap untuk mendengarkan. Chul Goo mulai menjelaskan apa yang mereka katakan satu per satu.
"Ngomong-ngomong, Ji-Ho-ssi," Chul Goo berusaha menirukan suara Jae Sook dalam bahasa inggris. "Belakangan ini orang-orang membicarakanmu telah meniru gaya In Pyo," Jae Sook menunjuk Ji-Ho lalu mengalihkan jarinya ke arah In Pyo, anggota termuda dari 7Seasons.
"Aku?" Ji-Ho meletakkan tangan di atas dada karena merasa heran dengan apa yang ia dengar. Gaya apa yang ditiru Ji-Ho?
Myung Soo mengambil sesuatu dari bawah meja kecil disampingnya lalu menampilkannya ke hadapan kamera. "Ini foto In Pyo," Kamera mengambil foto tersebut secara close up lalu kembali menyorot Myung Soo dan member 7Seasons lain yang duduk di sampingnya.
Foto itu adalah gabungan 4 foto In Pyo berbeda yang kemudian disatukan dalam satu gambar. Foto-foto itu diambil saat 7Seasons sedang dalam masa promosi lagu baru mereka yang berjudul 'Toy', dan itu adalah foto penampilan In Pyo di panggung yang berbeda-beda.
Kemudian Bomi, anggota dari girlgroup APink yang juga menjadi salah satu pembawa acara, juga mengambil sesuatu dari bawah meja di sampingnya. "Dan ini adalah foto Ji-Ho-ssi," lagi-lagi 4 foto berbeda yang digabungkan menjadi satu. "Ini ketika kau sedang di bandara, yang ini dari media sosialmu, yang ini saat kau tampil di acara musik kemarin, dan yang ini saat kau berfoto dengan Jae Sook sebelum syuting tadi," Bomi menjelaskan foto tersebut satu persatu.
Tapi seluruh anggota 7Seasons, termasuk Ji-Ho masih tidak menangkap maksud dari pembicaraan tersebut, masih bingung dan tidak mengerti. Beberapa dari mereka pun hanya memandang dengan mulut sedikit menganga.
Jae Sook segera melanjutkan. "Lihat, kau meniru gaya In Pyo. Tali kacamata ini!" Jae Sook menunjuk foto In Pyo. Kemudian beralih ke foto Ji-Ho yang juga menggunakan tali kacamata. "Selama ini, itu adalah gaya In Pyo, dan kau pasti berusaha mencurinya Ji-Ho-ssi. Kau pikir kau terlihat lebih keren dengan tali kacamata dibandingkan In Pyo ya? Makanya kau ingin mencuri gayanya?" gurau Jae Sook sambil menggelengkan kepala dan jari menunjuk ke arah Ji-Ho.
Suara "Aah..." menggema di seluruh studio ketika anggota 7Seasons akhirnya mengerti maksud Jae Sook yang dilanjutkan dengan tawa lepas mereka. "Semestinya aku yang menjadi Fashion King, hyung, bukan kamu," In Pyo ikut menambahkan gurauan tersebut.
"Ah... bukan begitu," tepis Ji-Ho dengan melambaikan tangannya. Ia masih tertawa. namun dalam hati bingung harus berkata apa.
"Seorang penggemar memberikan benda itu padanya," kini Park Kyung angkat bicara dengan senyum mencurigakan pada wajahnya. Tawa Ji-Ho langsung saja berubah menjadi tawa canggung saat mendengar kata-kata Park Kyung tadi. Ia melemparkan pandangan 'Seriously, bro?' pada Park Kyung yang duduk 2 bangku darinya.
"Wahh, penggemar itu pasti merasa sangat senang melihatmu menggunakan hadiah darinya," ketiga pembawa acara bertepuk tangan.
"Yah, kalian tau kan kami sangat menyayangi penggemar kami, 7princess, dan salah satu cara menunjukkannya adalah dengan menghargai hadiah mereka," Ji-Ho membuat penjelasan. Namun mendengar penjelasan itu membuat Park Kyung ingin lebih mengerjainya.
"Betul sekali. Ji-Ho saaaaaaangat menyukai penggemarnya," Park Kyung mengedipkan mata ke arah Ji-Ho. Ji-Ho memandang sekelilingnya khawatir, takut orang-orang yang berada di studio merasa ada yang janggal.
"Wahhhh, 7Seasons benar-benar grup idola! Mereka sangat memperhatikan penggemarnya. Berikan tepuk tangan yang meriah!" untung saja Jae Sook mengambil alih jalannya acara dan menutup dengan baik pembahasan tentang tali kacamata itu. Kemudian acara terhenti sejenak untuk jeda iklan.