
Jogno-3-ga district. Rumah peserta program pertukaran. Kamar Nara.
"Ahh... akhirnya sampai juga!" erang Nara lalu kemudian membanting badannya diatas kasur. Seketika rasa nyaman menjalari tubuhnya yang terasa lelah. Setelah seharian di luar akhirnya ia bisa melemaskan otot-otot tubuhnya yang mulai pegal. Mendapati kasur memang hal yang paling menyenangkan setelah seharian berada di luar. Ia menggeleng pelan mengingat beberapa panitia dan peserta lainnya masih melanjutkan acara kumpul mereka di suatu tempat. Apa mereka tidak lelah?
Nara mulai memejamkan mata, berusaha membuat dirinya langsung jatuh ke alam mimpi. Tapi baru beberapa detik matanya terpejam, ia kembali membuka mata dan langsung melompat duduk diatas kasur. "Ponsel... ponsel... ponsel..." gumamnya sambil merogoh tas selempangnya.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, senyumnya seketika merekah. Dengan semangat ia membuka galeri foto di ponselnya dan langsung saja mendapati foto dirinya bersama Ji-Ho di deretan teratas. Ia membuka foto itu, menarik layar untuk memperbesar fotonya, lalu mencermati dengan sekasama wajahnya dan wajah Ji-Ho secara bergantian.
Sesekali dirinya terkekeh memikirkan betapa beruntungnya ia bisa bertemu Woo Ji-Ho, idolanya, hari ini. 'Ah, aku harus mengunggah foto ini,' batinya sembari kembali mengetuk-ngetuk ponsel untuk mencari aplikasi media sosialnya.
Edit, filter, caption, tagging Ji-Ho, and...posted!
'Now you know, all you need is me I'm your toy...I'm your toy...I'm your toy...' ponsel Nara berdering ketika sedang asik-asiknya ia memandang hasil unggahannya. Nama Zaza muncul di layar ponselnya.
"Ceritakan padaku!!! Apa yang terjadi?!!" teriak Zaza dari seberang telpon tepat setelah Nara menerima panggilannya.
Nara menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar teriakan kencang sahabatnya itu. "Berisik tau!" balas Nara setelah mendekatkan kembali ponselnya. "Ceritakan apa?"
"Kenapa ada foto kamu bareng Ji-Ho? Kamu ketemu dia? Itu beneran? Apa cuma mirip saja? Kamu ketemu dia??? Kapan? Dimana? Bagaimana bisa?" tanya Zaza bertubi-tubi dengan semangat yang menggebu. Ada apa ini? Ia bahkan tidak suka dengan 7Seasons, apalagi Ji-Ho, kenapa malah ia yang lebih heboh?
Nara berdecak mendengar kelakuan Zaza. "Satu-satu dong ih pertanyaannya," protesnya.
"Cepat ceritakan!!" desis Zaza dengan tidak sabar di seberang sana.
Nara berdehem untuk berusaha terlihat tenang, namun sedetik kemudian ia pun mengimbangi kehebohan Zaza dengan ceritanya. "Iyaa, aku ketemu dia, Za!!! Astaga!!! Samapai sekarang juga aku nggak percaya!! Dia tadi disana, bicara sama aku, Za!!" Nara melompat-lompat girang di atas kasurnya.
"Nara, hentikan! Aku tau kau pasti sedong melompat-lompat sekarang. Hen-ti-kan!" Zaza berusaha menghentikan Nara dengan perintah suara. Jika saja mereka sedang bersama saat ini, mungkin ia akan mengikat Nara agar tidak bertingkah aneh.
"Okay," Nara kembali duduk dengan tenang.
"Jadi... ceritakan aku detilnya! Dan tanpa melompat-lompat. Aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas jika kau melakukannya,"
"Oke, jadi tadi itu...blah...blah...blah..." Nara menceritakan kisahnya bertemu Ji-Ho siang tadi dari A hingga Z tanpa sekecil pun detail yang hilang.
"Astagaaa!! Jadi kamu cuma minta foto?" tanya Zaza setelah Nara mengakhiri ceritanya. Nara mengangguk seakan-akan hal itu bisa dilihat Zaza.
Ada jeda hening beberapa detik sebelum Zaza kembali berteriak kencang. "Nara!!!! Itu kejadian yang sangat langka, kenapa kamu cuma minta foto aja?!!" suara Zaza terdengar frustasi. "Minta apa kek kamunya. Minta salaman kek atau minta peluk! Fans kan biasanya gitu!"
"Yaa... bisa aku bayangin sih. Mungkin aku juga akan seperti itu ya kalau ketemu G-Dragon," kali ini Zaza berusaha memaklumi perasaan Nara, memikirkan bagamana dirinya suatu saat nanti jika bertemu idolanya, G-Dragon.
"Aku doakan semoga kamu beruntung, tapi yang jelas malam ini aku bakalan mimpi indah," Nara merangkak memasuki selimutnya, mulai merasakan kantuk merambati tubuhnya.
"Iya tau, tidak usah pamer! Ya sudah kamu tidur sana, sudah tengah malam juga. Besok-besok aku telpon lagi. Dah~"
"Dah~" Nara memutuskan panggilannya dengan Zaza. Baru saja ia akan meletakkan ponselnya dan memulai tidur, matanya menangkap sebuah notifikasi dari akun media sosialnya. Dengan cepat ia mengetuk-ngetuk layar ponsel untuk membuka kotak pesan dari media sosialnya.
Matanya seketika membelalak membaca nama akun dari pengirim pesan itu. @WooJiho0914. Pesan dari Ji-Ho. Nara mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan apakah dirinya bermimpi, salah lihat, atau yang dilihatnya memang nyata. Tapi pesan itu tidak berubah dan tidak menghilang.
Nara bangkit duduk dan bersandar pada dinding kasurnya sebelum membuka pesan itu. "Hey, whassup? ;)" tulis Ji-Ho pada pesannya.
Rasa kantuk Nara hilang dalam sekejap. Ia mengucek-ngucek matanya, kembali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. 'Tidak, ini bukan halusinasi, bukan mimpi,' batin Nara dengan kepala menggeleng takjub.
"Hi. Wow. Aku masih dalam keadaan tidak percaya aku bertemu denganmu tadi. Dan sekarang kau bahkan mengirimiku pesan," Nara mengirimkan balasannya.
"Hahaha. Percaya saja. Ini juga bukan akun palsu,"
"Oke, kau ternyata nyata"
"Ngomong-ngomong, kita tidak berkenalan dengan benar saat bertemu tadi. Namaku Woo Ji-Ho. Kau bisa memanggilku Ji-Ho. Aku dari Seoul, Korea Selatan. Giliranmu?"
Balasan Ji-Ho membuat Nara tersenyum kecil sebelum ia juga mengetikkan balasannya. "Namaku Ainara Syahputri. Tapi kau bisa memanggilku Nara. Aku dari Indonesia,"
"Salam kenal, Nara"
"Salam kenal, Ji-Ho"
"*bersalaman*"
"Hahaha"
"Nara, bagaimana kalau kita bertemu lagi? How about a date? Should we?"
x-x-x