
"Ugh...Lisa kau ini benar-benar! Jangan melakukan hal seperti ini lagi!" Nara duduk di sofa ruang tengah bersama teman-teman peserta program lainnya ditambah Chul Goo yang menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah kesal.
"Maafkan aku, oke? Aku ketiduran. Tapi setidaknya aku tidak tertidur di tempat yang berbahaya. Dan lagi untung saja kan aku sendirian di motel itu," Lisa mengangkat kedua bahunya berusaha membela diri. Sebuah jitakan mendarat di kepala Lisa. Jitakan tadi dari Chul Goo. Ia sangat kesal melihat betapa serampangannya gadis Singapura itu.
Semalam, Lisa pergi minum seperti biasanya. Tapi nampaknya ia terlalu banyak minum alkohol dan jadi mabuk berat. Dirinya sendiri tidak ingat cerita jelasnya, tapi ia pingsan di salah satu motel dekat pub yang didatanginya. Dan untunglah ia terlihat baik-baik saja, tanpa lecet sedikit pun dan tanpa tanda-tanda ada sesuatu yang terjadi, saat terbagun 2 jam yang lalu. Kemudian, ia menemukan banyak panggilan tidak terjawab dari semua peserta dan juga Chul Goo. Singkatnya, Chul Goo akhirnya menjemput gadi itu di motel dan membawanya pulang.
Nara teringat ketika Chul Goo menelponnya tadi. Ia masih di Sokcho, sedang menikmati makan siang dengan Ji-Ho dan Park Kyung. Chul Goo bertanya apakah Nara tau dimana Lisa berada, dan tentu saja Nara tidak tau apa-apa pada saat itu. Kemudian Chul Goo memberitaunya kalau Lisa menghilang dan semua orang sedang mencarinya di tempat-tempat yang mungkin Lisa datangi. Setelah mendengar itu, tentu saja dirinya tidak bisa tenang, Nara ikut khawatir. Meskipun ia merasa tidak enak pada Ji-Ho dan Park Kyung, ia merasa harus kembali ke Seoul secepatnya untuk membantu teman-temannya mencari Lisa. Awalnya ia berfikir menggunakan kereta atau bus untuk pulang, tapi Ji-Ho tidak membiarkannya dan menawarkan tumoangan pulang. Seperti itulah kencannya berakhir.
"Ya!!" Lisa mendelik ke arah Chul Goo lalu melemparkan tatapan tajam. Ia mengelus kepalanya yang baru saja dijitak Chul Goo.
"Apa?" semua orang bisa mendengar jelas bagaimana kesalnya Chul Goo saat ini dari suaranya. Lisa menjadi ciut dan tidak menjawab. Ia beralih hanya mengerucutkan bibir dan membuat bahunya jatuh lunglai, ia tau ia salah.
"Kau tidak tau betapa khawatirnya Chul Goo tadi," ucap Nara menenangkan sambil mengelua rambut Lisa. Ia ingin mengkode Lisa untuk tidak marah pada Chul Goo dan Chul Goo melakukan itu hanya karena khawatir.
"Tentu saja! Tanggung jawabku dipertaruhkan disini," Chul Goo memutar bola mata dengan gemas. Setelah itu matanya bergerak memandang Lisa yang terdiam sambil memandang lantai di bawahnya. Wajah bersalah gadis itu mulai terlihat dan membuat Chul Goo melunak. Ia menghela nafas pelan lalu melanjutkan, "Bagaimana kalau kita memesan ayam?" Ia berusaha mecairkan suasana dengan mengalihkan topik ke acara makan ayam bareng.
"Bagus juga! Call!! Call!!" Nara bertepuk tangan dengan semangat lalu tersenyum ke arah Chul Goo. Ia tau Chul Goo tidak akan bisa marah lama-lama dan mengomel.
Yang lainnya juga ikut bersorak setuju. Jadi Nara berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur untuk memesan ayam. Setelah mengakhiri panggilannya dan tinggal menunggu ayam datang, ia kembali ke ruang tengah tempat semua orang berkumpul. Ia mendaratkan badannya di sofa dan tiba-tiba menyadari ada seseorang yang menghilang. "Chul Goo kemana?" ia memandang sekeliling tapi tidak bisa menemukan wajah baby face Chul Goo dimana-mana.
"Dia keluar. Katanya dia mau menelpon orang di rumahnya untuk memberi kabar kalau dia akan terlambat pulang," jawab Lisa.
Nara mengangguk. Sedetik kemudian ia bangkit dan memutuskan untuk bergabung dengan Chul Goo diluar. Mungkin saja Chul Goo masih syok setelah semua yang terjadi hari ini. Laki-laki itu punya tanggung jawab penuh terhadap orang-orang yang ada di rumah ini, jadi kalau terjadi sesuatu pada Lisa, pastilah dia yang akan disalahkan.
"Kau disini rupanya," Nara berjalan gontai menghampiri Chul Goo yang terduduk di bangku taman dengan bertopang dagu. Tepat ketika Nara mendaratkan bokongnya di samping Chul Goo, ia melingkarkan lengannya pada bahu laki-laki itu. Kemudian ia mengeratkan lingkaran lengannya seperti sedang mencekik sambil menarik korbannya mendekat.
"Ya! Ya! Apa yang kau lakukan? Aaakk! Aakk! Lepaskan!!" Chul Goo memberontak sambil menepuk-nepuk lengan Nara, berusaha melepaskan diri. Nara terkekeh sesaat baru setelahnya melepaskan cekikannya. Kemudian ia melipat kedua tangannya di atas meja di depan mereka lalu menidurkan kepalanya di atas tangan dengan wajah menghadap Chul Goo. "Kau baik-baik saja?"
"Umm...tadinya...sampai kau hampir membuatku mati tercekik," ujar Chul Goo sarkastik.
Nara kembali terkekeh. Jika Chul Goo bisa membalasnya dengan kata-kata sarkastik, artinya ia baik-baik saja. Nara mempertahankan posisinya, kembali memperhatikan Chul Goo. Laki-laki di sampingnya itu menyisir rambut hitamnnya ke belakang dengan jari-jarinya sambil tersenyum tipis, tidak cukup untuk menampilkan lesung pipitnya di pipi kanan.
"Oke, sampai kapan kau mau mengagumiku seperti itu?" kini Chul Goo sudah berbalik menatap Nara. Perlahan, ia ikut mendaratkan kepalanya di atas meja dengan wajah berhadapan dengan Nara.
Nara mengangkat kepalanya, tiba-tiba merasa salah tingkah dengan mata Chul Goo yang memandang lurus ke matanya. "Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak mengagumimu,"
"Terima kasih..." seketika itu juga, kata itu keluar dari mulut Chul Goo.
"Hm? Untuk apa?"
"Untuk hari ini, terima kasih sudah membantuku mencari Lisa. Sepertinya aku merusak pertemuanmu dengan seseorang," Chul Goo mengucapkan kalimat itu dengan pelan dan hati-hati sambil menilai ekspresi Nara.
"Oh...itu..." respon Nara terhenti sesaat karena ponselnya bergetar. Ia melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya dan melihat sebuah pesan masuk terpampang di layar. "Tunggu sebentar," ucap Nara sembari mengambil ponselnya dan membaca pesan masuk itu.
“Kau sedang di rumah? Aku sedang berada di daerah sekitar itu, dan kau meninggalkan sesuatu di mobilku, jadi aku ingin mengembalikannya,"
“Benarkah? Kalau begitu maafkan aku sudah merepotkan,” ia mengetikkan balasan.
“Tidak apa-apa. Aku juga ingin bertemu denganmu. Aku sudah di depan rumah sekarang. Aku masuk saja atau bagaimana?”
Nara terperangah membaca pesan baru Ji-Ho, dan buru-buru mengetikkan balasan sebelum orang itu sempat melakukan yang ia katakan di pesannya. “Tidak perlu...kau bisa menunggu di dalam mobil. Aku keluar sekarang”
"Ada apa? Siapa yang mengirimimu pesan?" Chul Goo menatap Nara penasaran dengan alis terangkat. Tapi Nara hanya membalas dengan gelengan kepala, berusaha mengatakan bukan siapa-siapa dan bukan hal penting.
"Aku...um...mau pergi beli sesuatu di minimart dekat sini. Kau mau titip sesuatu tidak?" tanya Nara dengan gelagat aneh sambil berdiri dari bangku taman.
Pikiran untuk memberitau Chul Goo tentang Ji-Ho terlintas di otak Nara, tapi ia masih bingung harus memulai dari mana dan berkata apa. Memangnya ia dan Ji-Ho sedang dalam hubungan apa? Haruskah ia memberi tau Chul Goo bagaimana ia dan Ji-Ho bertemu? Haruskah ia menceritakan Chul Goo tentang kencannya hari ini? Haruskah ia mengatakan pada Chul Goo kalau Ji-Ho sudah menyatakan perasaannya tadi dan berkata suka? Tapi bagaimana kalau perasaan Ji-Ho tiba-tiba berubah saat ia sudah memberi tau Chul Goo? Chul Goo pasti akan menganggapnya gila dan terlalu berhalusinasi tinggi kalau seorang idola menyukaiya.
Nara berdecak pelan. Sudahlah, ia sudah cukup pusing. Mungkin ia akan memberi tau Chul Goo nanti saja, saat semuanya sudah jelas. Saat ia bisa yakin dengan perasaan Ji-Ho padanya. Saat perasaannya ke Ji-Ho pun sudah jelas.
"Kau mau kutemani?" pertanyaan Chul Goo membuat Nara tersadar dari lamunannya.
"Tidak...tidak perlu," Nara melambaikan tangannya dan mulai berjalan gontai ke arah pagar. "Aku akan segera kembali," teriaknya sambil membuka pagar dan menutupnya kembali dengan cepat. Saat ia berbalik, di seberang jalan sudah terlihat mobil Ji-Ho. Ia pun melangkah mendekati mobil itu.
Nara membuka pintu penumpang dan melompat masuk. "Hi," sapanya ke arah Ji-Ho dengan senyum lebar yang terukir di wajahnya. Dan Ji-Ho melakukan hal yang sama.
"Jadi, aku melupakan apa?" cahaya di dalam mobil yang remang-remang membuat Nara harus mengandalkan indra peraba. Ia menggerakkan tangan, meraba disekitar bangkunya untuk mengecek apakah ada barangnya yang tertinggal. Namun dirinya sendiri sebenarnya tidak ada gambaran ia melupakan barang apa, karena pagi tadi ia hanya membawa sedikit barang. Hanya dompet, kamera kecil, ponsel, dan charge ponselnya.
"Kau meninggalkan ini," Ji-Ho meraih sesuatu di kursi belakang lalu menyodorkannya di hadapan Nara. Bunga daisy yang diberikannya tadi.
Nara mengambil bunga itu dari genggaman Ji-Ho dan mendekatkannya ke wajah untuk kembali menghirup aromanya, sekali lagi mengagumi pemberian Ji-Ho itu. Senyum lagi-lagi mengembang di wajah tirus Nara, mengingat arti dari bunga daisy, cinta dan kesabaran. Apakah itu artinya Ji-Ho akan bersabar sampai Nara terlepas dari keraguannya?
"Aku senang kau menyukainya," ucap Ji-Ho lega sambil menghempaskan bahunya pada sandaran kursi. Kini posisinya ia buat agar badannya menghadap ke tempat Nara duduk.
"Siapa yang tidak akan menyukainya?" gurau Nara membuat Ji-Ho menyunggingkan senyum tipis.
"Ngomong-ngomong..." Nara tiba-tiba teringat sesuatu yang ingin ia katakan pada Ji-Ho. Ia ikut membalik tubuhnya hingga kini posisi duduk mereka berhadap-hadapan. Meskipun dalam cahaya yang remang, ia masih bisa melihat mata sipit Ji-Ho yang menatapnya. "Maaf aku merusak kencan tadi,"
"Apa? Siapa bilang kau merusaknya?" mata sipit Ji-Ho kini melebar, kaget mendengar pernyataan maaf Nara. Kemudian ia memajukan badannya sehingga jarak mereka memendek, "Kau tidak merusaknya. It was a great day to be with you," terangnya sambil tersenyum hangat. Ia bergerak mundur kembali ke posisi awal saat melihat Nara menelan ludah, salah tingkah.
Nara memegang lehernya, yang rasa tercekat karena jantungnya berdetak sangat kencang. Sesungguhnya ia ingin memegang dada, tapi ia malu kalau Ji-Ho menyadari dadanya sedang berdebar kencang. "Tapi kita harus pulang cepat karena aku," ucapnya dengan nafas berat.
Ji-Ho terkekeh pelan, kemudian mengangkat tangan dan mendaratkan telapaknya di puncak kepala Nara. Ia mengelus kepala itu dengan lembut. "Tenang saja, bukan salahmu. Tapi, kalau kau benar-benar merasa bersalah, bagaimana kalau kencan kedua?"
X-X-X