Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 13 - How It Start



Sometimes love come in a weird way that only you could understand, not someone else.


 


Masih sore yang sama. Apartemen 7Seasons.


 


"Aku pulang," Ji-Ho membanting pintu di belakangnya lalu mengganti sepatu dengan sendal rumah. Setelahnya, ia bisa mendengar suara berlari dari salah satu kamar sampai satu pintu kamar terbuka dan Park Kyung muncul dari balik pintu.


 


"Kau darimana saja?!" Ji-Ho mendecih mendengar suara kencang dan berisik Park Kyung. Rasanya seperti Park Kyung adalah istri yang sedang menunggunya, sang suami, sepanjang malam saat ia pergi keluar minum-minum dengan teman kantornya.


 


"Yang lain mana?" Ji-Ho mengabaikan pertanyaan Park Kyung.


 


"Jaehyo sedang pergi menandatangani kontrak iklan baru. Dan yang lainnya sedang keluar untuk membeli daging dan bahan-bahan lain. Kita akan pesta barbecue nanti malam untuk merayakan tawaran baru Jaehyo," jelas Park Kyung panjang lebar sementara Ji-Ho menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Ji-Ho saat punggungnya menyentuh rasa empuk sofa.


 


"Kau darimana saja?!" sadar kalau dirinya belum dijawab tadi, Park Kyung mengulang pertanyaannya. "Kenapa aku tidak bisa menghubungimu sama sekali?!" tambahnya.


 


Ji-Ho meraih ponselnya dari saku celana dan yang ia lihat ada layar ponsel yang hitam, sudah mati. Mungkin baterai ponselnya habis saat sedang mengintai Nara, ia sudah tidak memperhatikannya lagi. "Baterai ponselku habis," ia mangayunkan ponselnya dengan layar hitam menghadap Park Kyung untuk menunjukkannya.


 


"Okay... jadi, ini sudah ketiga kalinya aku bertanya, kau darimana saja??" Park Kyung tidak juga menyerah. Sekarang ia memilih duduk di seberang sofa yang ditiduri Ji-Ho.


 


Ji-Ho meringis saat mendengar pertanyaan itu lagi. "Aku habis...mengintai Nara," akunya.


 


"Apa?" Park Kyung mengambil bantal sofa di belakangnya, memeluknya, dan memajukan badannya ke depan. Ia merasa hal ini semakin menarik, cerita ini.


 


"Kyung-ah...rasanya aku benar-benar jatuh hati padanya," Ji-Ho mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang benar-benar kecil, lebih seperti berbisik. Tapi Park Kyung masih bisa mendengarnya.


 


Park Kyung tertawa. "Come on...jangan berlebihan. Kau baru mengenal dia dan bahkan baru bertemu sekali. Jangan terlalu dramatis," ejeknya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dalam hati ia bahkan merasa lebih geli lagi melihat sahabatnya ini menjadi sangat melow, tapi ia menahan diri untuk tidak semakin mengejek Ji-Ho.


 


"Aku tau. Tapi...entahlah, mungkin cinta pandangan pertama?" Ji-Ho mengerang setelah mengatakan kalimat itu. Ia sendiri tidak percaya dirinya bisa se-melow itu. Ia menutup wajahnya dengan tangan, merasa putus asa. Selama 25 tahun hidupnya, baru kali ini ia merasa seperti ini.


 


Ingatan Ji-Ho melayang kembali ke saat pertama kali ia bertemu Nara. Bukan saat mereka 'tabrakan', tapi beberapa jam sebelum kejadian itu. The actual first time he saw her, yang bahkan belum diceritakannya pada Park Kyung. Mungkin saat itulah pertama kali perasaannya pada Nara muncul.


 


•••••••• flashback ••••••••


 


Minggu sore. Universitas Hongik.


 


"Kau pergi duluan saja, hyung*. Aku ingin bersantai diluar sebentar\," ujar Ji-Ho pada Taewoon\, kakaknya. Taewoon mengangguk dan buru-buru berjalan masuk ke dalam gedung Universitas Hongik.*


 


Setelah Taewoon pergi, Ji-Ho memandang sekelilingnya, mencari tempat yang bagus untuk beristirahat. Cuaca sore itu sempurna dan tidak ingin dilewatkannya begitu saja. Meskipun masih musim panas, namun matahari sudah tidak begitu terik dan udara hangat khas musim panas menghembus pelan, membuat sore itu sangat pas untuk bersantai.


 


Ji-Ho melangkahkan kakinya menjauhi pintu masuk gedung universitas, menuruni tangga kecil yang menghubungkan pintu masuk gedung dengan pelataran taman universitas, lalu menyusuri batu-batu setapak di hamparan rumput taman tersrbut. Di sekitarnya, sejumlah anak kuliahan bersepeda mengelilingi taman. Beberapa orang lagi duduk bersantai di bawah pohon besar dan rindang sambil membaca buku. Ada juga seorang anak dengan pistol gelembung di satu tangan dan susu di tangan lainnya berlari kesana kemari dengan kedua tangan melayang di udara sambil menembakkan pistol gelembungnya. Lalu ada sekelompok mahasiswi yang bergosip, berbisik-bisik sambil terkekeh bersama. Dan...


 


"Ya!! Aigo*!!" suara teriakan kencang dari belakang Ji-Ho menarik perhatiannya. Ia memutar badan untuk melihat apa yang terjadi.*


 


Ji-Ho melihat seorang wanita dengan wajah kesal memengang sisi kiri baju putihnya yang terkena noda coklat. Di depannya, anak yang tadi memegang pistol gelembung dan susu berdiri mematung dan terlihat ketakutan.


 


"Anda baik-baik saja?" seorang gadis tiba-tiba mendatangi wanita itu dengan raut wajah khawatir. Ia bertanya menggunakan bahasa korea, tapi dari yang Ji-Ho lihat, dari cara bicara serta wajahnya, bisa ditebak kalau gadis itu bukan orang korea asli.


 


Kedua matanya besar dengan sepasang bulu mata panjang. Meskipun alisnya tipis, tapi terbentuk bagus. Berbicara bentuk, bentuk badannya tidak seperti tipikal super kurus ala gadis korea. Badannya lebih sedikit berisi --dibandingkan gadis korea pada umumnya-- tapi tidak juga terbilang gemuk atau berlebihan. Badannya kecil, hanya sekitar 155 sampai 160 centimeter. Wajahnya juga cukup tirus dengan hidung yang tinggi. Kulitnya berwarna kuning langsat, sekali lagi, bukan tipikal gadis korea pada umumnya. Dan ia memiliki rambut bergelombang melewati bahu berwarna hitam kelam dengan poni depan lurus menutupi dahi.


 


“Hey, kenapa aku mengamati gadis itu?!” Ji-Ho berbicara dalam hati. Merasa aneh, ia pun memilih untuk mengacuhkan gadis, wanita, serta anak tadi. Baru saja ia akan membalikkan badan dan pergi, wanita tadi mulai membalas, dan menggunakan bahasa korea.


 


"Bajuku jadi kotor sekarang. Aku kan harus pergi wawancara. Tapi apa yang harus kulakukan dengan baju kotor ini?! Ini akan memberikanku nilai minus untuk penampilan," omel wanita tadi sambil menunjuk-nunjuk bajunya yang terkena noda.


 


Gadis tadi memandang wanita di depannya dengan tatapan kosong. Ia seperti sedang memproses apa yang wanita tadi katakan. Kemudian ia menggaruk kepalanya dan terlihat bingung, mungkin akhirnya tidak mengerti apa yang wanita tadi katakan.


 


"Um..I'm sorry I can't understand," gadis itu menyerah dan akhirnya berbicara dengan bahasa inggris. "But I guess from your body language, you are worried about your clothes. So here, wear my cardigan," ia melepaskan cardigannya lalu memberikannya ke wanita tadi.


 


Sepertinya wanita itu juga tidak bisa berbahasa inggris. Ia terlihat ragu-ragu dan bingung untuk beberapa saat. Mungkin ia masih tidak mengerti kenapa gadis itu memberikannya cardigan. Jadi, gadis itu pun melakukan gerakan lain dengan tangan dan tubuhnya. "Wear it?" ia melakukan gerak seperti sedang memasang cardigan untuk memberikan contoh.


 


Suara 'oh' dengan pelan mulai terdengar dari wanita itu. Sepertinya ia sudah bisa menangkap apa yang gadis itu maksud. Jadi ia menerimanya dan langsung memakainya. Untung saja noda coklat tadi benar-benar tertutupi dengan cardigan. Wanita itu tersenyum memandang gadis di depannya. Kemudian ia menundukkan kepala sebagai tanda rasa terima kasihnya. Gadis itu juga membalas dengan menunduk, kemudian menggerakkan tangannya ke arah gedung, mungkin berusaha mengatakan 'silakan masuk'. Wanita itu menunduk sekali lagi kemudian berjalan pergi.


 


Senyum Ji-Ho mengembang melihat gadis itu. Gadis itu baik. Bahkan bukan kesalahannya tapi ia tetap berusaha membantu. Setelah wanita tadi pergi, ekspresi lega terpancar di wajah gadis itu. Kemudian ia membalikkan badan menghadap anak tadi. Ia berjongkok dan meletakkan kedua tangannya di pundak sang anak.


 


 


Anak laki-laki itu tidak menjawab. Ia hanya menatap gadis itu dalam diam, kemudian tiba-tiba mulai tersedu-sedu. Dalam beberapa detik tangisan tersedu-sedunya mulai berubah menjadi tangisan kencang. Beberapa orang yang melewati mereka melihat sekilas ke arah anak dan gadis itu, mungkin mereka berfikir sang gadis lah yang membuat anak itu menangis. Ji-Ho bisa melihat ekspresi panik yang mulai muncul di wajah gadis itu, tapi gadis itu berusaha menyembunyikannya dengan berdehem pelan. Ji-Ho berjalan ke bangku terdekat dari mereka untuk lanjut mengamati. Aneh, ia tidak tau kenapa kejadian itu sangat membuatnya tertarik.


 


"Aigoo~ wae gurae? Uljimayo... ” ia mengelus rambut anak di depannya. "Uljimayo...ne?”


 


Anak itu tidak berhenti menangis. Meskipun tidak sekencang tangisan sebelumnya, tapi anak itu masih menangis. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan seperti sebelumnya, menangis tersedu-tersedu-sedu, terdengar sangat sedih. Ji-Ho menebak anak itu masih syok karena wanita tadi membentaknya.


 


Gadis itu termenung beberapa saat, berfikir. Kemudian ia meraih kepala anak tadi dan menariknya kedalam pelukan. Ia terus-menerus mengelus kepala anak itu dengan lembut. Ji-Ho tidak tahan untuk tidak tersenyum. She looks so lovely, pikir Ji-Ho.


 


Seketika itu juga, gadis itu mulai menyanyikan lagu dengan lembut. Karena jarak mereka yang dekat, Ji-Ho masih bisa mendengar lagu yang gadis itu nyanyikan. Ia tidak tau judul lagu itu ataupun siapa yang menyanyikannya, tapi ia seperti pernah mendengarnya. Ji-Ho perlahan-lahan mulai hanyut dalam suara gadis itu. Suara lembutnya seperti merasuki hati Ji-Ho. Ji-Ho bisa merasakan jantungnya berdetak kencang saat gadis itu bernyanyi.


 


Gadis itu bernyanyi dengan senyum cerah terpampang di wajahnya, dan hal itu membuat Ji-Ho juga ikut tersenyum. Kemudian kepala gadis itu bergerak ke kiri dan kanan mengikuti irama. Perlahan, tangisan anak tadi berangsur-angsur menghilang, dan ia menjadi tenang ikut terhanyut dalam nyanyian gadis itu.


 


Gadis itu tertawa kecil di tengah-tengah nyanyiannya. Tawa kecil yang lembut dan terlihat manis. Darah Ji-Ho berdesir, mengalir menuju kepalanya. Ia bisa merasakan kini wajahnya terasa hangat. Dan mungkin memerah?


 


Geudae geu bameui jageun bul bit... Weiroum jitheun chagaun bam...


Bujileobeun yoksime...Nunmureul samkhin naldo manatso.


Urieui sarangi sijak dweigo...Geudae son majujabgo


Hamkehandamyeon i sesang eoteon geosirado...


Gyeondyeonaerira na yaksokhagetso


Eonjenga uri... salmi himgyeoul tae...


Sewori jinago adeukhan geu hyanggiga...Ijhyeojyeo gandaedo


Saranghae geudaereul saranghae o...Na geudaeeui hyanggiga dweiri


Eonjenga uri... salmi himgyeoul tae


Sewori jinago uri jinan naldeuri... Baraejyeo gandaedo


Saranghae geudaereul saranghae o...


Na geudaeeui chueogi dweiri...


Na geudaeeui sarangi dweiri


(J Rabbit - Light Sleep)


 


Ji-Ho terpukau. Beberapa detik setelah gadis itu selesai menyanyi, Ji-Ho masih memandangnya tanpa berkedip. Kesadaran Ji-Ho baru kembali ketika seorang wanita lain datang dan menarik pelan anak itu dari pelukan gadis tadi. Sepertinya wanita itu ada ibu anak itu, pikir Ji-Ho. Ibu anak itu dan sang gadis mulai berbicara dengan bahasa inggris. Gadis itu menjelaskan apa yang terjadi dan ibu anak itu pun mengangguk tanda mengerti. Kemudian sang ibu menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Gadis itu pun balas ikut membungkuk sopan. Setelah mengucapkan perpisahan, anak dan ibu itu melambaikan tangan sambil menjauh pergi. Gadis itu kembali membalas juga dengan lambaian tangan dan sambil tersenyum hangat.


 


Setelah mereka pergi, gadis itu berbalik lalu dengan langkah gontai menaiki tangga kecil yang menghubungkan taman dengan pintu utama gedung dan berlalu masuk. Ji-Ho segera bangkit dari tempatnya duduk, dan dengan cepat mengikuti gadis itu dari belakang. Gadis itu masih berjalan gontai sambil sesekali meremas tangannya di samping badan. Tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju gadis itu. Gadis itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang tampaknya adalah aula, berjalanan menuruni anak-anak tangga dan mengambil tempat duduk di tengah-tengah ruangan. Ji-Ho melakukan hal yang sama, ikut masuk, tapi ia mengambil tempat paling atas dan ujung ruangan, dekat dengan pintu keluar agar ia tidak begitu menarik perhatian.


 


Beberapa orang di atas panggung sibuk mengatur alat-alat musik dan sound system serta memasang spanduk besar bertuliskan 'Welcome our Delegates' dan di bawahnya dengan tulisan lebih kecil terpampang '2017 ISEC Exchange Program: Social and Health for Sustainable Future'. Beberapa lagi lalu lalang di bawah panggung, mengatur dekorasi. Kemudian ada juga yang berkutat dengan laptop di meja depan panggung yang sepertinya nanti akan terhubung dengan layar di atas panggung nanti.  Kelihatannya aula tersebut akan digunakan untuk sebuah acara penyambutan, tapi Ji-Ho juga tidak yakin acara penyambutan apa. Sebuah program pertukaran kah?


 


Ji-Ho menggeleng, berusaha mengembalikan fokus dan mengabaikan hal lain untuk kembali pada tujuan awalnya. Jadi ia hanya duduk tenang di tempatnya sambil diam-diam mengamati gadis tadi  dari jauh. Gadis itu terlihat gugup, ia mencengkram pegangan tempat duduknya dan tidak henti-hentinya menghentakkan kaki di lantai. Mulutnya terus bergerak seperti sedang berbicara, atau mungkin menyenandungkan sesuatu, Ji-Ho tidak yakin apa karena jarak mereka tidak memungkinkannya untuk bisa mendengar.


 


Tiba-tiba seorang laki-laki datang dan menepuk bahu gadis itu dari belakang. Tapi gadis itu tidak menggubris dan malah menggigiti kukunya. Kemudian laki-laki itu mengambil jalan mememutar dan duduk di samping gadis itu. Mereka berbicara untuk beberapa saat yang masih saja tidak bisa Ji-Ho dengar dari tempatnya duduk. Yang bisa ia tangkap hanyalah wajah gadis itu yang terlihat semakin gugup. Kemudian laki-laki itu berdiri dan menarik tangan gadis itu. Gadis itu dengan pasrah mengikuti langkah laki-laki itu dan mereka pun menghilang dari pandangan Ji-Ho menuju belakang panggung.


 


“Apa gadis itu akan tampil?” batin Ji-Ho. Karena gadis itu sudah tidak berada pada jarak pandangnya lagi, pandangannya kini tertuju pada panggung yang sudah siap. Kursi-kursi penonton juga sudah mulai terisi dan beberapa orang juga mulai memasuki ruangan aula. “Sepertinya sebentar lagi acaranya akan dimulai,” batinnya lagi.


 


Tak lama kemudian acara pun dibuka. Ji-Ho tidak begitu memperhatikan, konsentrasinya buyar saat ia melirik jamnya. Ia takut kalau Taewoon sudah selesai dengan urusannya sedangkan ia belum melihat gadis itu lagi sejak tadi ia menghilang ke belakang panggung. Ji-Ho sedingkit bangkit dari kursinya dengan kepala terjulur ke depan, seolah-olah dengan melakukan itu ia bisa mengintip keadaan belakang panggung yang tertutup tirai hitam. Tapi sia-sia saja, ia memang tidak bisa melihat apa-apa.


 


Ji-Ho tidak memperhatikan apa yang pembawa acara di atas panggung katakan, tapi seluruh ruangan kini bertepuk tangan. Sebuah intro lagu mulai dimainkan dan gadis itu keluar dari balik panggung. Intro lagu itu sangat familiar di telinga Ji-Ho. Tentu saja, karena itu adalah karyanya, Okey Dokey. Senyum bangga mengembang di wajahnya saat mendengar lagu itu.


 


Gadis itu mulai menyanyikan hook awal lagu sambil menggoyangakan tangannya mengikuti musik dan dilanjutkan dengan menyanyikan bagian Mino pada lagu itu. Ji-Ho menikmati penampilan itu, tapi ia merasa ada yang janggal. Wajah gadis itu memperlihatkan ekspresi khawatir yang seperti berusaha disembunyikannya. Atau itu hanya perasaan Ji-Ho saja? Atau mungkin gadis itu hanya gugup? Entahlah.


 


Meskipun begitu, secara keseluruhan gadis itu tampil dengan sangat bagus, apalagi bagian dimana ia mengucapkan 'mustang' yang menjadi bagian lirik lagu. Ia mengedipkan sebelah mata dan membentuk hati dengan ibu jari dan jari telunjuknya lalu melemparkannya ke penonton di depannya.


 


Tanpa sadar, Ji-Ho tersenyum lebar seperti orang bodoh ketika menonton gadis itu. Matanya berbinar cerah dan ia bisa merasakan jantungnya memburu seperti kuda yang sedang berlari. Rasanya sangat tidak masuk akal ia tiba-tiba menjadi seperti itu.


 


Tapi saat itu juga ia sadar, gadis itu telah menangkap perhatiannya.


 


That time I knew, she captured me.


X-X-X