
Sebelumnya. Di Samcheongdong.
Sekitar Ji-Ho seperti berhenti bergerak saat ia menyaksikan apa yang terjadi di depannya. Ia merasa waktu seperti berhenti berputar. Suara-suara di sekelilingnya seketika menghilang, semua orang seperti terdiam. Ia tidak menyangkan tindakannya menguntit Nara dan Chul Goo akan berakhir seperti ini. Berakhir membuatnya patah hati.
Mungkin ia benar-benar menyukai gadis ini. Terdengar gila memang karena ia baru saja mengenalnya. Bahkan he barely saw her. Baru sekali saja mereka bertemu, sisanya hanya melalui percakapan teks, tapi kenapa hatinya berlaku seperti ini?
Dibandingkan hatinya yang remuk karena melihat Chul Goo memeluk Nara, hatinya lebih hancur remuk lagi melihat Nara menangis seperti itu. Bahkan tubuh Nara sampai gemetar hebat dengan air mata yang terus jatuh. Ia berharap dirinyalah yang ada disana untuk menenangkan Nara, bukan Chul Goo. Tapi tunggu... bagaimana kalau ternyata Chul Goo adalah alasan Nara menangis? Pikiran itu menguasainya, membuatnya mengepalkan tangan geram. Ia harus memberi Chul Goo pelajaran jika memang kasusnya seperti itu.
Lagi-lagi Ji-Ho mengalami pergulatan antara hati dan pikirannya. Hatinya berkata ia harus mendatangi mereka, tapi pikirannya tidak membiarkannya untuk melakukan hal itu. 'Sial, aku sangat benci pergulatan hati dan pikiran seperti ini,' keluh Ji-Ho dalam hati.
Beberapa detik kemudian ia akhirnya menetapkan hati. Baru saja ia akan mengambil langkah untuk berjalan mendekati mereka, Chul Goo berdiri lalu membantu Nara untuk ikut berdiri. Kemudian mereka berdua berlalu pergi. Ji-Ho mempercepat langkahnya untuk mengejar mereka dan memperkecil jarak. Setelah jaraknya dengan kedua orang itu sudah sekitar 6 meter, ia melambatkan langkahnya dan pelan-pelan mengikuti dari belakang.
Mereka akhirnya sampai di tempat Chul Goo memarkirkan mobil. Nara dan Chul Goo naik ke atas mobil sementara Ji-Ho masih mengintai mereka dari balik pohon yang tak jauh dari mobil Chul Goo. Ji-Ho hanya berharap ia tidak terlalu menarik perhatian dengan kacamata hitam, topi, dan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Untung saja baju yang ia kenakan tidak begitu mencolok, hanya kaos oblong dan celana olahraga biasa.
Peluh keringat mulai jatuh dari wajah Ji-Ho. Saat ini sedang musim panas, dan suhu udara sedang tingi-tingginya. Sementara itu Ji-Ho masih bersembunyi di balik pohon karena tidak ada pergerakan dari Nara dan Chul Goo. "Apa yang mereka lakukan di mobil?" Ji-Ho bicara pada dirinya sendiri sambil menendang pohon di depannya dengan putus asa. Ia masih tidak percaya dirinya melakukan semua ini. Menguntit, bersembunyi, dan mengintai karena seorang wanita. Jika anggota grupnya tau, mereka pasti akan mengejeknya seumur hidup.
Setelah 30 menit, mobil Chul Goo tiba-tiba bergerak keluar dari tempat parkirnya. Ji-Ho terkejut dan buru-buru berlari mencari taksi. Untung saja ada satu taksi yang sedang melaju ke arahnya, jadi ia segera melambaikan tangan untuk menghentikan taksi itu dan langsung melompat masuk saat sudah berhenti di depannya. "Ahjussi , tolong ikuti mobil itu! Mobil itu, mobil hyundai hitam itu!" Ji-Ho menunjuk mobil Chul Goo yang berjarak beberapa puluh meter dari taksi. Sopir taksi itu terlihat bingung, namun tetap mengikuti perintah Ji-Ho.
Mobil Chul Goo menepi di depan tempat karaoke, dan taksi yang ditumpangi Ji-Ho pun melakukan hal yang sama, bedanya taksi itu menepi sebelum sampai di depan tempat karaoke. Ji-Ho bisa melihat Chul Goo dan Nara turun dari mobil dan memasuki gedung tempat karaoke. Tanpa membuang waktu, Ji-Ho juga ikut turun, membayar biaya taksinya dan segera mengikuti mereka lagi dari belakang. Saat masuk, ia berbelok untuk duduk di sofa dekat meja pemesanan, sedangkan Chul Goo dan Nara langsung memesan tempat. Posisi duduknya membelakangi 2 orang itu, agar mereka tidak bisa melihatnya. Namun Ji-Ho masih bisa mendengar sayup-sayup saat mereka selesai memesan dan pelayan memberitahu mereka nomor ruangan yang akan ditempati, Ruangan 215.
Setelah seorang pelayan lain datang untuk menuntun mereka dan menunjukkan ruangan yang mereka pesan, Ji-Ho bergerak menuju meja pemesanan.
"Annyeonghaseyo," pelayan tersebut membungkuk sopan. "Anda ingin memesan ruangan untuk berapa orang?"
"Hanya aku, satu orang,"
"Bearti anda bisa menggunakan ruangan self karaoke yang..."
"Aku mau ruangan 214 atau 216. Yang mana saja yang tepat di samping ruangan 215," Ji-Ho memberikan perintah.
"Ye?"
Ji-Ho tidak menanggapi. Ia hanya menatap pelayan di depannya dengan tatapan tajam, berusaha mengintimidasi agar segera diberikan ruangan yang ia minta.
"Maaf tuan, tapi kenapa anda meminta ruangan di samping 215?" pelayan itu melemparkan pertanyaan dengan nada sesopan mungkin, mulai betul-betul terintimidasi dengan tatapan tadi.
"Apa kau perlu bertanya?" Ji-Ho mengerutkan dahi.
"Umm," pelayan itu merasa tidak yakin. Tapi ia merasa aneh dengan permintaan Ji-Ho yang menginginkan ruangan di samping 215.
"Apakah aku harus menelpon atasanmu?" mungkin kehebatan Ji-Ho yang kedua setelah menciptakan lagu adalah tatapan tajamnya.
Pelayan itu menjadi ciut dan mengelus leher dengan canggung. "Tidak perlu, tuan. Saya akan memproses ruangan anda segera," ia segera mengetikkan sesuatu pada layar komputer untuk menandai ruangan yang akan digunakan Ji-Ho. Setelah menyerahkan kertas bukti pemesanan, ia langsung menunduk, takut untuk melakukan kontak mata dengan Ji-Ho.
Ji-Ho mengambil kertas tersebut lalu mengekori pelayan lain yang akan menununtunnya ke ruangan yang ia pesan. Tapi saat ia berjalan ke ruangannya, ia masih bisa mendengar seorang pelayan lain berbicara ke pelayan tadi. "Ya! Bukankah orang itu tadi Ji-Ho? Ji-Ho dari 7Seasons!"
"Aish~ aku tidak tau! Dia hanya terlihat aneh...dan menakutkan,"
Ji-Ho menghela nafas. Sejujurnya ia merasa bersalah pada pelayan tadi, semestinya ia tidak melakukan itu, mengintimidasi pelayan tadi. Tapi ia juga bingung harus berbuat apa. Yang ia inginkan hanyalah mempertahankan mata dan telinganya dalam mengintai Nara dan Chul goo, karena itu ia ingin berada di ruangan sebelah mereka. Helaan nafas lain kembali keluar dari mulutnya. Baru kali ini lagi ia merasa segelisah ini sejak hari debutnya.
X-X-X
“Karaoke dengan Chul Goo benar-benar menyenangkan. Ia benar-benar heboh saat menyanyi dan menari. Bahkan tidak tau malu menurutku,” Nara mengetikkan balasan untuk pesan Zaza yang menanyakan bagaiamana acara karaokenya dengan Chul Goo. Saat ini Nara sedang duduk di ayunan depan sebuah sekolah dasar sementara Chul Goo pergi membeli minuman dingin untuk mereka.
Setelah karaoke gila-gilaan dengan Chul Goo, mereka memutuskan untuk tidak segera pulang. Mereka memilih untuk berjalan-jalan di sekitar tempat Nara dan peserta lain tinggal. Mereka berkeliling dan berfoto dengan latar beraneka ragam yang tidak bermakna apa-apa, bahkan bagus pun tidak, tapi yang mebuat bagus adalah gaya lucu mereka. Mereka juga menemukan toko mainan tua dan toko permen tua, bermain-main disana beberapa saat, mencoba mainan yang tidak terbungkus serta mebeli beraneka macam permen dan memakannya sambil kembali berkeliling. Kemudian mereka pergi ke sebuah sekolah dasar untuk duduk beristirahat di lapangannya, tapi Chul Goo malah bermain bola dengan anak-anak disana, membuatnya juga terlihat seperti anak-anak. Yah, secara keseluruhan, hari itu sangat menyenangkan untuk Nara.
Tiba-tiba Nara merasakan dingin menjalar dari dahi menuju saraf-saraf tubuhnya. Nara meringis bereaksi terhadap rasa dingin itu. Ternyata dari balik badan Nara, Chul Goo menempelkan minuman dingin yang dibelinya pada dahi gadis itu. "Hmm...cuacanya bagus ya," ujar Chul Goo sambil memberikan minuman yang ditempelkannya tadi di dahi Nara. Kemudian ia mengambil tempat di ayunan samping Nara.
Chul Goo menatap dari sudut matanya dan kemudian tersenyum kecil. Ia meneguk minuman yang dipegangnya. Pikirannya lagi-lagi melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang tadi bertumpuk di kepalanya. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkan pertanyaan itu dari kepalanya. Tapi, ia tidak tau bagaimana untuk memulai.
"Aku ingin minta maaf," dari berbagai kata yang tersedia, Chul Goo akhirnya memilih kata-kata itu untuk memulai.
"Hm?" Nara menolehkan kepalanya ke samping, memandang dengan bingung. "Minta maaf soal apa?"
"Maafkan aku membuatmu harus berhadapan dengan serangan panikmu sampai 2 kali hari ini. Aku tidak bermaksud..."
Kata-kata Chul Goo terhenti saat melihat ekspresi Nara berubah. Nara terkejur beberapa saat, kemudian ekspresinya berubah menjadi ekspresi datar. "Kau tau dari mana kalau aku punya serangan panik?" suara Nara terdengar seperti bisikan. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang didengarnya saar ini. Apakah Chul Goo mengetahuinya sejak awal? Tapi bagaimana bisa? Apakah terlihat begitu jelas saat serangannya datang?
"Aku hanya menebak. Dari apa yang aku lihat hari ini...reaksimu ketika berada di keramaian, di kerumunan orang. Jadi, kau fobia keramaian?" Chul Goo bertanya hati-hati tapi tepat sasaran sembari menilai reaksi dan ekspresi Nara.
Nara tidak langsung menjawab. Ia malah mengayunkan dirinya ke depan dan belakang dengan pelan. Banyak hal yang berkecamuk di pikirannya, dan ia perlu memilah mana yang perlu ia katakan dan mana yang tidak.
Chul Goo juga tidak berusaha untuk memulai kembali percakapan. Ia tidak akan berkata apapun atau bertanya apapun jika Nara juga tidak ingin berkata apa-apa. Ia kembali meneguk minuman sodanya. Angin hangat di sore musim panas mulai bertiup, menimbulkan suara berdesir dari pasir-pasir lapangan yang diterbangkan di belakang mereka, mengisi keheninga di antara mereka berdua.
"Agoraphobia," sebut Nara akhirnya setelah terdiam cukup lama.
Chul Goo mengangguk. Ia ingat fobia itu. Ia pernah mendengar tentang fobia itu sebelumnya dari seorang dosen. Singkatnya, orang dengan fobia ini akan sulit merasa aman di tempat-tempat umum, khususnya di keramaian. Gejala ditimbulkan akan mirip seperti serangan panik. Saat berada di keramaian atau saat menjadi pusat perhatian, penderitanya bisa tiba-tiba merasakan sesak, pusing, berdebar-debar, pandangan kabur, dan bahkan bisa sampai pingsan.
"Sejak kapan?"
"Sejak...entahlah...aku juga bingung kapan pastinya," wajah Nara menampakkan senyum sinis, yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri. Tanpa bisa dicegah, otaknya kini mengilas balik bagian-bagian dari masa lalunya, dan ia kesal akan hal itu.
Chul Goo menundukkan kepala menatap kakinya yang menapak di tanah. Dibalik senyum sinis Nara tadi, ia dapat melihat emosi kesedihan. Jadi ia menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia takut jika ia bertanya lebih, Nara akan menjadi semakin sedih.
"Tidak begitu serius sekarang. Aku sudah punya fobia ini sudah cukup lama, dan dulu memang cukup parah. Tapi sekarang tidak lagi," akhirbya Nara mulai menceritakan kisahnya pada Chul Goo tanpa diminta. Chul Goo mengangkat wajahnya dan mulai memberikan perhatian penuh. "Aku bahkan tidak bisa keluar selangkah pun dari rumahku sendirian. Saat aku keluar, aku akan mulai mengalami gangguan panik. Aku sudah berobat dan dokter menganjurkanku untuk pelan-pelan pergi keluar dan mengatasi rasa fobiaku. Jadi aku mencoba untuk keluar bersama teman, atau keluargaku, tapi tetap saja gangguan panik itu muncul, meskipun tidak separah saat aku sendirian. Aku terus mencoba dan mencoba untuk menghadapi fobiaku, tapi malah berulang kali berakhir di rumah sakit karena pingsan," ia berhenti sejenak untuk menghela nafas berat dan kembali tersenyum sinis. "Setelah beberapa lama, perlahan, aku akhirnya bisa mengatasi fobia itu. Yah tidak seluruhnya sih, maksudku aku bisa keluar sebdirian sekarang, dan bahkan bisa tampil di depan orang untuk presentasi tugas kampus atau semacamnya meskipun kadang gangguan panikku tetap muncul dalam kadar ringan karena hal itu. Tapi untuk keramaian, aku masih selalu mengalami gangguan panik jika terjebak di tengah-tengah keramaian, atau berada di tempat yang sangat ramai dan berisik," Nara mengakhiri penjelasannya dengan kembali mengayun ke depan dan belakang.
"Jadi...ini menjelaskan reaksimu terhadap keramaian tadi. Dan saat acara penyambutan..." Chul Goo bergumam. Lebih untuk dirinya sendiri.
"Acara penyambutan?" alis Nara terangkat.
"Di acara penyambutan waktu itu, saat kau tampil dengan Juno, kau tiba-tiba keluar dari aula bukan karena kau buru-buru ingin ke toilet kan? Pasti saat itu gangguan panikmu muncul,"
Pikiran Nara kembali ke minggu lalu saat acara penyambutan dilaksanakan. Kemudian ia menganggukkan kepala, membenarkan.
"Oke kalau begitu!" Chul Goo berdiri dari ayunannya. Nara menatap bingung, dalam hati bertanya-tanya apa lagi yang akan dilakukan Chul Goo.
"Mulai sekarang, aku akan memilih tempat kencan kita dengan hati-hari. Tidak begitu ramai dan tidak begitu berisik," Chul Goo mengedipkan sebelah mata ke arah Nara saat sudah menyelesaikan ucapannya.
Nara tertawa kecil sambil ikut bangkit dan menepuk-nepuk celananya. "Siapa bilang aku akan pergi kencan denganmu lagi?" ujarnya bercanda.
"Aku akan mengirimmu kembali ke Indonesia kalau kau menolak," respon Chul Goo membuat Nara memutar bola mata.
Chul Goo mengulurkan tangan di depan Nara. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita melanjutkan kencan kita ke tempat sepi?" ia mencoba untuk bersikap romantis, tapi sayang sekali gagal total karena tawa Nara langsung meledak. Untung saja Nara masih menyambut tangan Chul Goo tadi, jadi sikap romantis Chul Goo tidak begitu sia-sia.
"Aku tau kau sedang berusaha bersikap romantis dan mempertimbangkan fobiaku. Tapi terdengar sangat janggal saat kau mengatakan 'tempat sepi', seperti kita akan pergi ke tempat aneh dan melakukan hal-hal aneh saja," ujar Nara di sela-sela tawanya. Kali ini Chul Goo yang memutar bola matanya.
Nara menarik tangannya dari genggaman Chul Goo dan berganti melingkarkan lengannya pada lengan Chul Goo sembari mereka berjalan keluar dari sekolah itu. Perlahan matahari mulai mengeluarkan semburat oranye di depan mereka, menghiasi jalan setapak yang mereka lewati serta wajah mereka yang dipenuhi tawa.
Menceritakan Chul Goo tentang fobianya seperti mengangkat satu beban dari hati Nara. Sudah lama ia tidak menemukan teman curhat selain Zaza dalam hidupnya. Dan meskipun Nara belum menceritakan cerita lengkapnya pada Chul Goo, tapi setidaknya yang dikatakannya tadi sudah cukup untuk menjelaskan keadaannya. Karena Zaza tidak ada di Korea, kini ia tau harus mengubungi siapa saat gangguan paniknya mucul. Ia ingin menganggap Chul Goo seperti saudara yang tidak pernah ia punya selama ini. Zaza sebagai saudara perempuannya, dan kini Chul Goo sebagai saudara laki-lakinya.
Mungkin orang-orang akan berfikir mereka memiliki hubungan romantis, seperti yang Juno pikirkan saat 2 hari yang lalu ia datang ke Nara dan bertanya apakah seseorang yang mendekatinya adalah Chul Goo. Tapi tidak. Kehadiran Chul Goo memang benar-benar seperti saudara. A warm and kind existence who is close to her. Dan Nara tidak berharap lebih dari sebatas itu. Saat dirinya melihat Chul Goo, ia merasa seperti melihat kakek-neneknya dulu, yang mengulurkan tangan di tengah keterpurukannya. Dan membuatnya merasa aman.
X-X-X