
Kyung menggelengkan kepala dengan mulut menganga setelah mendengar cerita Ji-Ho. Selama ini, orang -orang selalu salah menafsirkan karakter dirinya dan Ji-Ho. Mereka selalu berfikir dirinya adalah cowok manis nan romantis, sementara Ji-Ho dengan tatapan tajam dan wajah dingin adalah cowok yang kasar dan suka memainkan hati wanita. Tapi semua itu terbalik. Well, meskipun dirinya tidak kasar, ia tetaplah cowok manis dan romantis tapi ia sering mempermainkan hati wanita dan bergonta ganti pacar. Dan ia tidak pernah menyangkalnya. Sementara Ji-Ho, meskipun ia terkadang kasar dan cepat marah pada orang lain, tapi aslinya dia adalah cowok pemalu yang sangat lembut dan romantis terhadap pasangannya. Dia juga sangat setia. Dia bukanlah yang selama ini orang lain pikirkan, cowok yang suka keluyuran dan menggoda wanita untuk suatu hubungan singkat. Mereka hanya melihat Ji-Ho dari sampulnya saja.
"Jadi bagaimana hasilnya?"
"Apa?"
"Pengintaian dan penguntitanmu. Kau tau, menurutku Nara harusnya melaporkanmu dengan tuduhan menguntit. Mereka harusnya menuntutmu karena bertingkah seperti psikopat! Atau mungkin laki-laki cabul?!" canda Park Kyung yang sebenarnya berusaha membuat Ji-Ho menjadi lebih semangat dan tidak selesu itu.
"Diam!" Ji-Ho melempar bantal di sampingnya ke wajah Park Kyung. "Bisakah kau bersikap baik padaku? Aku sedang patah hati," kini ia memutar badannya menjadi posisi tengkurap dan membenamkan wajahnya pada permukaan sofa.
Park Kyung menggelengkan kepala. Ia menyerah membuat Ji-Ho lebih bersemangat. Seharusnya ia diam saja dan membiarkan sahabatnya itu dengan hati agar-agarnya. "Kenapa? Kau melihat dia jalan dengan laki-laki lain?" nada bicara Park Kyung kini terdengar tidak begitu tertarik. Ia juga mengambil ponselnya dan sibuk bermain dengan benda itu tanpa memperdulikan reaksi Ji-Ho lagi.
Ji-Ho tidak menjawab. Momen ketika Chul Goo memeluk Nara mengalir kembali di ingatannya. Ia sangat ingin menghapus ingatan itu, namun sebaliknya, ingatan itu tidak berhenti muncul kembali. Lalu momen saat mereka selesai karaoke. Nara dan Chul Goo jalan-jalan bersama, bersisian, berfoto, berbincang dan tertawa, Nara terlihat sangat gembira dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya. Sampai pada saat mereka mendatangi sebuah sekolah dasar dan Chul Goo bermain sepakbola dengan anak-anak disana, sementara Nara menonton dengan mata berbinar-binar, Ji-Ho tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rasa cemburunya sudah hampir meledak keluar, jadi ia memilih untuk pergi.
Ji-Ho mengangkat wajah dari permukaan sofa lalu bertopang dagu. "Hey, tapi setidaknya Nara menyanyikan lagu-laguku di tempat karaoke!" seru Ji-Ho dalam hati. Ia tersenyum bodoh lalu sedetik kemudian terkekeh sendiri, membuat mata sipitnya menjadi segaris. Nara memang menyanyikan lagu Ji-Ho di tempat karaoke. Karena Ji-Ho tidak memainkan apa-apa di ruangannya, ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara dari speaker ruangan sebelah, ruangan Nara dan Chul Goo. Ia bisa mendengar lagu-lagu ciptaannya dibawakan oleh Nara, dan anehnya hal itu membuat dirinya sangat bangga dan sejenak melupakan sakit hatinya. "Tidak...tidak...tidak... jangan senang seperti itu Ji-Ho! Tetap saja dia tadi bersama laki-laki itu," kali ini Ji-Ho menggelengkan kepala, masih sibuk berbicara dalam hati.
"Umm...maaf mengganggu imajinasimu, tuan," Park Kyung melambaikan tangannya di depan wajah Ji-Ho. "Tapi apa yang terjadi padamu? Kau sudah mulai gila ya?" ia membuat gerakan melingkar dengan jari telunjuk di sisi kepalanya.
Ji-Ho menelan ludah malu karena Park Kyung mendapatinya melamun seperti itu. Pasti ia benar-benar telihat bodoh. Belum lagi yang mendapatinya adalah Park Kyung. Bisa dipastikan rubah gila itu akan mengganggu dan mengejeknya jika ia tidak meninggalkan lokasi kejadian ini secepat mungkin. Jadi ia berdehem berusaha bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa sambil menghindari pandangan Park Kyung, lalu bangkit dari sofa. "Aku mau istirahat. Jangan bangunkan aku sampai barbecue-nya siap," ujar Ji-Ho sembari menepuk-nepuk bajunya dengan salah tingkah, lalu berbalik untuk melangkah langsung ke kamarnya.
"Ya! Ngomong-ngomong sebelum kau tidur, kapan kau akan pergi dengan Nara? Kau sudah bertanya padanya? Apa yang ia katakan?" pertanyaan itu sukses membuat Ji-Ho menghentikan langkahnya. Benar juga, kencan mereka! Ia hampir melupakan kencan itu karena menguntit tadi. Ah, ia juga harus menanyakan alamat dimana ia harus menjemput Nara begitu baterai ponselnya sudah terisi. Kemudian ia menjawab, "Semua sudah diatur, kami akan pergi ke Sokcho besok. Aku akan menjemputnya..." tiba-tiba Ji-Ho berhenti bicara. Menjemput...menjemput...menjemput...ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya. Tunggu dulu...
"Kyung-ah!" tiba-tiba ia berbalik dan kembali berdiri menghadap Park Kyung. Kyung mengangkat alis, seolah menanyakan ada apa.
"Kyung-ah, boleh tidak aku meminjam mobilmu besok?" tanya Ji-Ho, awalnya masih dengan wajah datar. Ia baru saja ingat, di jalan menuju apartemen mobilnya tiba-tiba berhenti dan mengeluarkan asap. Sepertinya mesinnya rusak atau bagaimana, jadi Ji-Ho harus menelpon mobil derek dan membawa mobilnya ke bengkel untuk diperbaiki. Dan tadi orang di bengkel berkata butuh waktu sekitar 2-3 hari, jadi ia tidak ada kendaraan untuk kencannya besok. Park Kyung menggelengkan kepala. "No! Andwae! Aku mau pergi besok,"
"Kemana? Dengan siapa?"
Park Kyung tidak menjawab. Ia mengigit bibir bawahnya, berusaha memikirkan sesuatu. Sesungguhnya ia tidak punya rencana apa-apa besok, dan saat ini ia memang sedang tidak punya pacar. Tapi ia hanya tidak mau memberikan mobilnya segampang itu pada Ji-Ho.
"Dengan satu syarat," Ji-Ho mengangkat alis. "Aku akan ikut denganmu ke Sokcho," setelahnya ia mengerang mendengar tawaran Park Kyung.
"Lupakan saja! Aku akan meminta yang lain meminjamiku mobil," Ji-Ho mengibaskan tangan.
"Sayangnya kau tidak bisa, mereka ada urusan masing-masing besok. Menurutmu kenapa aku ingin mengikutimu ke Sokcho?"
Ji-Ho menghela nafas. "Kalau begitu kau tinggal saja di rumah. Kenapa kau harus menjadi orang ketiga di kencanku?"
"Well, aku kan juga mau berlibur keluar kota, sudah lama aku tidak melakukannya," Park Kyung mengangkat bahu santai. "Lagipula, apa yang kau khawatirkan? Aku tidak akan menganggu kekasih-tapi belum-mu, duh!" ia memutar bola matanya.
Ji-Ho terdiam beberapa saat, berfikir. Benar juga apa yang dikatakan Park Kyung, apa yang ia khawatirkan. Ia bisa mengabaikan Park Kyung saja dan fokus ke Nara, membiarkan manusia itu menikmati liburannya sendiri. Selain itu, kalau ada orang lain diantara dirinya dan Nara besok, mungkin akan mengurangi rasa canggung yang bisa saja muncul.
Sesungguhnya Ji-Ho takut jika kencannya dengan Nara akan menjadi canggung. Besok ada hari pertama mereka pergi bersama sejak mereka bertemu minggu lalu. Minggu lalu pun bukan pergi bersama, hanya bertemu biasa, yang bisa dibilang tidak sengaja. Ji-Ho takut ia akan kehabisan topik untuk dibicarakan dengan Nara saking gugupnya.
Setelah berpikir cukup lama, Ji-Ho melirik ke arah Park Kyung yang menatapnya dengan tatapan puppy eyes. "Baiklah, tapi kalau kau berbuat atau mengatakan sesuatu yang aneh pada Nara, aku akan menendangmu keluar dari mobil," ia memperingatkan.
"Ya! Kita memakai mobilku, bukan mobilmu. Berani-beraninya kau menendangku keluar!"
"Terserah. Yang paling penting, jangan merusak kencanku dengan Nara! Besok harus lebih menyenangkan dari kencannya hari ini,"
"Apa?" Park Kyung menatap bingung.
Ji-Ho lupa ia belum menceritakan Park Kyung tentang kencan Nara dengan Chul Goo. "Tidak, bukan apa-apa..." ia buru-buru membuka pintu kamarnya. Jika ia tetap berada disana dan menceritakan Park Kyung tentang kencan itu, ia bertaruh akan mendapatkan salah satu dari 2 respon ini, Park Kyung akan mengasihininya atau Park Kyung akan mengejeknya mati-matian. Dan ia tidak menginginkan keduanya, jadi ia memilih untuk tidur saja.
X-X-X