
Pertunjukan Ji-Ho akhirnya sampai pada penghujung lagu, dan menutupnya, suara pukulan drum mulai dimainkan diakhiri dengan Ji-Ho yang melompat mengikuti pukulan terakhir penabuh drum. Penonton mulai bersorak riuh dan bertepuk tangan heboh melihat penampilan Ji-Ho itu, dan untuk membalas antusias penggemarnya, lelaki itu membungkukkan badan lalu kemudian tersenyum cerah saat sudah menegakkan badannya kembali.
Riuh sorakan penonton masih belum mereda meskipun Ji-Ho sudah mulai melangkah mundur secara perlahan. Dari kerumunan penonton mulai terdengar kata "Encore!" yang disorakkan berkali-kali, membuat senyum tipis Ji-Ho terkembang. Ia senang penonton di tempat itu menyukai penampilannya dan menginginkan lebih, tapi sayang sekali waktu tampilnya sudah diatur dan ia tidak boleh melebihi susunan acara atau penampilan artis lain. Jadi pada akhirnya untuk membuat para penontonnya tidak begitu kecewa, ia pun membungkuk sekali lagi lalu berbalik dan berlari kecil menuju backstage sambil menjulurkan tangannya menyambut tangan-tangan penggemar yang berdiri di samping kiri kanan panggung.
Sesampainya di backstage, Ji-Ho kembali membungkukkan badan menyapa satu persatu staf yang dilewatinya. "Sugohaseyo," ucapnya sopan sambil tersenyum ramah. Kemudian ia mulai melepaskan earpiece dan peralatan lain yang tadi ia gunakan di panggung dan menyerahkan benda-benda itu kepada stylistnya. Dari kejauhan ia bisa melihat managernya mulai jalan mendekat dengan dengan botol minum di satu tangan dan tas yang pasti berisi baju gantinya di tangan lain.
"Hyung, aku akan menunggu di ruang ganti sampai jadwal selanjutnya. Aku akan menemuimu nanti di mobil," Ji-Ho berpesan saat sang manager sudah berada di hadapannya dan menyerahkan barang-barang yang dipegangnya tadi. "Gomawo," ia mengangkat tangannya yang mengangkat botol, sebagai tanda ia sudah akan beranjak dari tempat mereka sekarang.
"Ah, noona! Aku akan meletakkan baju ini di ruang ganti. Kau bisa mengambilnya nanti saat aku pergi," Ji-Ho kembali berbalik dan menyeru kepada sang stylist. Saat melihat stylistnya mengangguk paham, ia pun melanjutkan langkahnya ke ruang ganti.
Langkah Ji-Ho pelan dan tidak bersemangat. Pikirannya melayang. Awalnya dia sangat bersemangat dengan konser ini karena ia bisa mengundang Nara. Tapi nyatanya Nara juga tidak bisa datang, jadi rasa semangat itu hanya saat di atas panggung dan kini yang tersisa hanya rasa kecewa...lelah dan bosan. Kalau saja ada Nara, mereka bisa pergi kencan dulu sebelum ia pergi ke jadwal selanjutnya. Tapi sepertinya, seperti hari-hari kemarin saat Nara tidak ada, ia hanya akan menunggu bosan di ruang tunggunya sendirian.
Dengan lesu Ji-Ho memutar kenop pintu ruang tunggunya dan mendorong dan pintu. Kepalanya masih tertunduk tidak bersemangat saat berjalan masuk. Tapi kepalanya sontak terangkat saat mendengar seseorang menyeru, "Ji-Ho-ya sugohaesso!"
"Nara! Apa yang kau lakukan disini?" mata Ji-Ho mengerjap melihat penampakan di hadapannya. Gadis yang ia tunggu-tunggu kini duduk di sofa dalam ruang tunggunya. Gadis yang saat ini sangat ingin ia temui tersenyum hangat ke arahnya, membuat rasa lelahnya hilang dan semangatnya kembali memuncak seketika.
"Aku yang menyapa dan kau hanya melihat Nara?! Sahabat macam apa kau ini? Benar-benar keterlaluan!" Park Kyung berdiri dari tempatnya, bercakak pinggang menghalangi pandangan Ji-Ho ke Nara.
Tingkah Park Kyung membuatnya mendecih pelan dan dengan cepat ia berkata, "Arasseo, arasseo! Mianhae..." sambil tangannya bergerak memberi kode agar Park Kyung pindah. Sedetik kemudian mulutnya juga bergerak tanpa suara mengatakan "Kka," sebagai kode perintah agar Park Kyung meninggalkannya berdua dengan Nara.
Diperlakukan seperti itu Park Kyung hanya bisa memutar bola mata. "Arasseo!" balasnya juga tanpa suara ke Ji-Ho. "Baiklah, kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua disini," ia berbalik sesaat ke arah Nara yang menatapnya bingung dengan dua mata mengerjap-ngerjap, lalu kembali memandang Ji-Ho yang mengucapkan "Gomawo!" tanpa suara, membuatnya kembali memutar mata.
Saat berjalan melewati Ji-Ho, Park Kyung menyempatkan diri menepuk bahu sahabatnya itu. "Kalian jangan berbuat macam-macam ya disini," guraunya sambil terkekeh pelan.
"Ya!" Ji-Ho mendelik, hendak menendang Park Kyung atau memukulnya karena bergurau seperti itu. Tapi laki-laki itu sudah melesat pergi meninggalkan ruangan.
Nara masih mengerjap-ngerjap menatap punggung Park Kyung yang semakin menjauh hingga menghilang dibalik pintu. Park Kyung meninggalkannya. Sekarang tinggal dirinya dan Ji-Ho yang tersisa di ruangan itu. Tinggal mereka berdua. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ah, ia harusnya berbincang dengan Ji-Ho. Apa yang harus ia katakan? Topik pembicaraan yang baiknya ia perbincangkan?
Tak begitu lama berfikir, tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiran gadis itu. Benar juga, ia belum mengucapkan kata-kata itu pada Ji-Ho. Nara pun berdiri dari sofa abu-abu yang didudukinya lalu berjalan mendekati Ji-Ho.
"Sugohaseyo," ucap Nara dengan senyum kaku namun nada masih terdengar tulus.
Ji-Ho tersenyum lebar sebelum membalas ucapan Nara. "Gomawoyo. Aku pikir kau tidak akan datang,"
"Ng..." Nara menimang-nimang sebelum mengucapkan alasanya. Matanya bergerak ke kiri dan kanan menghindari tatapan Ji-Ho. "Urusanku ternyata selesai lebih cepat, dan aku masih sempat kesini," jelasnya. "Ah, aku bertemu Park Kyung di pintu depan dan dia mengajakku kesini,"
"Um...ya...memang seperti itu rencana awalnya," Ji-Ho terkekeh lalu melanjutkan, "Jadi, kau sempat melihat penampilanku dari televisi itu? Bagaimana menurutmu?"
Ditanya seperti itu mata Nara kembali berbinar. "Tentu saja sangat keren! Meskipun aku juga menontonnya dari TV tapi seperti ada yang berbeda! Rasanya betul-betul menyenangkan bisa melihatmu tampil! Sayang sekali rasanya aku cuma bisa menikmati 2 lagu. Tau begitu tadi aku datang lebih cepat. Penampilanmu sangat bagus, padahal kalau dipikir-pikir aku sudah melihat ratusan pertunjukanmu tapi kau tetap saja memukau. Kau tau tidak, sampai sekarang aku masih...Kyaaa!"
Nara memekik saat tiba-tiba tubuhnya ditarik kedalam pelukan Ji-Ho. Celotehannya tentu saja terputus. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya kosong. Tubuhnya seketika terasa dingin, entah karena kaget atau karena gugup berada di pelukan Ji-Ho.
Masih berusaha mengumpulkan akal sehatnya, suara Ji-Ho terdengar pelan berbisik di balik pelukannya. "Terima kasih sudah menjadi penggemarku," ucapnya, kemudian menelan ludah meredakan gugup untuk mengatakan kata-kata selanjutnya. "Sekarang, bisakah kau menyukai aku sebagai Woo Ji-Ho yang sebenarnya?"
Kata-kata itu melesat dan seketika menyalurkan kehangatan ke tubuh Nara. Pelukan itu tak lagi sedingin tadi. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa ia merasa tidak ingin lepas dari pelukan Ji-Ho. Sepertinya hatinya sudah tau harus menjawab apa, namun lidahnya masih kelu, karena dalam pikirannya ia masih bingung.
X-X-X