
"Ah... sedang di studio. Aku? Aku sedang mengerjakan presentasi untuk besok,"
Nara terdiam sesaat mendengarkan orang di seberang telepon bicara. Ia meraih ponselnya, memindahkan dari telinga kiri ke telinga kanan lalu menjepitnya lagi dengan bahu.
"Tidak, tidak akan butuh waktu semalaman. Aku sudah hampir selesai," gadis itu mengetikkan beberapa baris kata untuk menyelesaikan presentasinya sambil masih tetap mendengarkan lawan bicaranya.
"Jadi kau tidak pulang lagi malam ini? Kau tidak akan istirahat?" dahi Nara berkerut tidak puas mendengarkan jawaban yang ia terima.
"Kau harusnya istirahat di apartemen saja. Aku ragu kau akan tidur dengan baik jika tetap tinggal di studio," omelnya. Tapi sepertinya lawan bicaranya kembali membantah omelannya karena ekspresi wajah gadis itu tidak berubah.
"Ne...baiklah. Selamat malam juga, Ji-Ho," Nara menutup panggilan diiringi helaan napas panjang. Ia menatap ponselnya beberapa saat dengan bibir berkerut lalu meletakkannya di samping laptop. Setelah melihat sekilas ke presentasi yang dibuatnya tadi, ia menutup layar latop dan membaringkan kepalanya ke atas benda itu.
Sudah hampir dua minggu lamanya ia tidak bertemu Ji-Ho. Lelaki itu sangat sibuk dengan berbagai kegiatan selebritinya. Harus menyiapkan comeback sub-unit, membuat lagu, melakukan pemotretan majalah hingga syuting iklan, dan bahkan beberapa hari lalu baru pulang dari Jepang setelah syuting sebuah acara televisi disana.
Nara kembali menghela nafas panjang. Kalau saja Ji-Ho tidak sesibuk itu, mungkin mereka bisa bertemu lagi. Sayangnya, pertemuan mereka hanya bisa digantikan dengan pesan teks dan panggilan telepon saja.
Aneh. Padahal dulu jika dirinya saat ingin melihat Ji-Ho, ia tinggal menelusuri kumpulan gambar di ponselnya atau menelusuri internet dan melihat berita, video, atau foto-foto baru mengenai Ji-Ho. Tapi sekarang rasanya tidak cukup. Rasanya ada yang berbeda. Melihat dari layar memang tetap membuatnya senang, tapi masih membuatnya rindu. Dirinya selalu ingin melihat Ji-Ho secara langsung.
Merasa sesak dengan perasaannya sendiri, Nara kembali meraih ponselnya yang ia letakkan di samping laptop. Kepalanya masih terbaring, dengan jempol tangan kiri ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya dan menekan sebuah nama pada daftar kontaknya. Setelah menyambungkan panggilan, ia menempelkan ponsel itu ke telinga kirinya, menunggu orang di seberang telepon menjawab.
"Kenapa nelpon malam-malam?" seruan orang di seberang telepon terdengar menggantikan nada sambungan.
Nara terkekeh pelan menerima reaksi seperti itu baru kemudian membalas. "Za..." ucapnya menggantung.
"Mm...Apaan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Zaza, Nara malah menghela nafas panjang.
"Apaan sih ditanya malah hela-hela nafas. Kamu kenapa?"
Lagi-lagi Nara tidak menjawab dan malah kembali menghela nafas. Ia bisa mendengar Zaza mendengus dari balik telepon.
"Sekali lagi kamu hela nafas aku matiin teleponnya," ancam Zaza dengan nada garang.
"Aku bingung, Za," akhirnya Nara berucap pelan sambil tangannya menahan ponsel pada telinganya. Ia mulai menegakkan punggungnya dan bersandar di sandaran kursi.
"Bingung?" suara Zaza terdengar heran. "Bingung kenapa?"
Tanpa menjawab, lagi-lagi Nara hanya mengehela nafas. "Kalau misalnya aku ada disana, kamu udah aku tinju deh. Mau cerita apa hel-hela nafas doang," omel Zaza karena tingkah Nara.
Nara terkekeh pelan. Sahabatnya ini lucu. Emosinya cepat. Selalu cepat kesal kalau digantung atau dibuat menunggu, dan tentu saja tidak segan-segan meninju atau menowernya kalau dirinya berlaku seperti itu. Nara bisa membayangkan suara cempreng Zaza dan pukulannya kalau mereka ada di ruangan yang sama.
Setelah cukup puas, Nara akhirnya mengucapkan satu nama yang membuat Zaza mengerti segala kegundahan sahabatnya. "Ji-Ho..."
"Yaelah, Ra, kok kayak gitu aja bingung. Kalau aku jadi kamu, kalau nasib aku persis kayak kamu, ketemu G-Dragon dan doi bilang suka sama aku dan doi pengen lebih dekat sama aku ataupun doi pengen jadi pacar aku, udah pastilah aku terima. Ngapain bingung-bingung lagi, aku kan memang suka," Zaza sudah cukup sering mendengar curhatan Nara tentang Ji-Ho. Sahabatnya itu tidak akan menceritakan langsung ke Zaza jika tidak diminta. Jadi tiap hari ia akan bertanya ke Nara bagaimana kelanjutan interaksinya dengan Ji-Ho setelah pertemuan mereka yang pertama. Dan Nara bukannya pelit bercerita, gadis itu hanya tertutup saja jika tidak ditanya. Setelah ditanya, ceritanya akan mengalir, setiap perkataan di telepon dan pesan teks pun diceritakan. Maka karena itulah Zaza bisa tau semuanya.
"Tapi kan Za, itu beda..." suara Nara memelas. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi, memeluk kedua lututnya dengan satu tangan dan tangan lainnya masih memegang ponsel.
"Beda apanya?" tanya zaza tidak sabar.
"Beda...perasaannya tuh berbeda saja," Nara mengendikan bahunya.
"Kamu jangan jadikan itu alasan deh. Aku tau alasannya bukan itu," kata-kata yang diucapkan Zaza membuat Nara tertohok, membuatnya terdiam.
Zaza tau alasan sebenarnya dari kebingungan Nara. Zaza tau masa lalu Nara dan ia yakin hal itulah yang membuat Nara seperti ini. Dikhianti oleh orang-orang terdekatnya yang bahkan seharusnya paling mengasihinya, membuat hati Nara kadang beku. Zaza tau semua itu dan sesungguhnya ia sangat mengasihani sahabatnya yang sudah lebih 10 tahun bersamanya itu. Ia kasihan melihat Nara ditinggalkan orang-orang terpenting dalam hidupnya. Pada akhirnya dirinya bahkan membela-belakan belajar mati-matian agar bisa masuk kampus dan jurusan yang sama dengan Nara, Fakultas Kedokteran, agar bisa menemani Nara.
"Ra, nggak semua orang sama. Sama seperti buah, kamu nggak tau mana yang manis dan mana yang nggak sebelum kamu mencobanya. Aku tau perasaan kamu sama seperti Ji-Ho meskipun hanya secuil tapi rasa itu ada. Buktinya aja kamu bingung. Kalau rasa itu tidak ada, kamu nggak akan bingung. Kamu akan menjauh dari Ji-Ho. Kalaupun kamu nggak menjauh karena nggak mau rugi jadi fans yang beruntung, kamu hanya tinggal menikmati aja, nggak usah sampai bingung,"
x-x-x
Ji-Ho mendorong pintu apartemennya setelah menekan kode dari sistem pengaman yang tepasang di pintu. Setelah terdengar bunyi beep, ia melangkah masuk, menarik slippernya dari rak di sisi kanan lorong depan, dan kemudian mengganti sepatu yang tadi dipakainya dengan slipper tadi.
"Aku pulang!" teriaknya, meskipun tidak yakin ada yang mendengar atau tidak. Tapi menyapa seperti itu sudah menjadi kebiasaanya, jadi dengan refleks selalu dilakukannya tiap memasuki apartemennya.
"Oh, kau sudah datang," balas Jaehyo saat melihat Ji Ho melangkah masuk ke ruang tengah. Jaehyo sedang duduk santai di sofa depan televisi. Tangannya memencet-mencet remote di genggamannya, sepertinya berusaha mencari siaran televisi yang hendak ia tonton.
"Hyung sendiri?" tanya Ji-Ho sambil menatap ke seluruh ruangan. Menyisir ruangan-ruangan di apartemen mereka dan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat.
Jaehyo mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "In Pyo sedang syuting program variety show baru, Min Woo hari ini latihan untuk drama musikalnya, U-In dan Dong Wan pergi rehearsal untuk acara program musik. Park Kyung sepertinya ada di kamar kalian, membaca naskah drama barunya mungkin," jelasnya panjang lebar.
Ji-Ho mengangguk singkat mendengar penjelasan itu. Kemudian bibirnya mengulum sebelum berkata, "Hyung sendiri tidak ada job?" Mata Ji-Ho ikut menggerling jahil.
Jaehyo tampak mengerutkan kening sesaat, tampak berpikir keras, lalu menjawab, "Besok aku berencana pergi memancing," ucapnya acuh.
Mendengar jawaban Jaehyo, sontak Ji-Ho terkekeh dengan punggung tangan menutupi mulut dan kepala menggeleng. Untuk ukuran seorang idol, hyung-nya ini memang tergolong sangat santai. Berbeda 180 derajat dengan hidup Ji-Ho yang penuh dengan job. Kadang dirinya sangat iri melihat Jaehyo yang bisa santai, bahkan pergi melakukan hobinya - memancing- dengan bahagianya. Tapi mau bagaimana lagi, yang memiliki hobi menulis lagu adalah dirinya, yang memiliki hobi bergelit dengan musik adalah dirinya, dan yang jadi luar biasa terkenal karena hobinya itu adalah dirinya. Jadi mau tidak mau dia memang harus menopang grupnya, menjadi ace sekaligus leader yang baik agar grupnya serta member yang lain tidak kehilangan ketenaran meskipun job mereka sedikit.
"Sudah, jangan menggangguku," suara Jaehyo memecah lamunan Ji-Ho. "Sekarang kau istirahat saja. Pergi tidur, sana. Kalau tidak aku akan mengajakmu memancing malam," Jaehyo menunjuk pintu kamar Ji-Ho dengan dagunya.
"Arrasseo hyung," jawab Ji-Ho masih di sela-sela kekehannya. Tentu saja ia akan memilih untuk istirahat. Gila saja kalau ia harus pergi menemani Jaehyo memancing malam. Bisa-bisa ia tertidur di tempat pancingan. "Aku masuk dulu," pamitnya, kemudia melangkah menuju kamarnya.
Saat masuk, Ji-Ho mendapati Park Kyung persis seperti apa yang dikatakan Jaehyo. Laki-laki itu sedang duduk di tempat tidurnya, dengan kaki menyilang, membaca sebuah buku naskah. Seingat Ji-Ho, minggu lalu Park Kyung memang berkata ia mendapat tawaran untuk bermain di web drama. Mungkin syutingnya akan mulai tidak lama lagi.
"Kau pulang?" Park Kyung mengangkat wajah sekilas sebelum membalik halaman naskahnya.
"Iya," jawab Ji-Ho singkat, lalu berjalan ke tempat tidurnya sendiri. Ia duduk di tepi ranjang, dengan badan mengarah ke Park Kyung. Kedua bahunya jatuh memelas dan ia mengehela nafas lelah.
"Sudah sepatutnya kau pulang. Sudah berapa lama kau bermalam di studio? 3 hari?" Ji-Ho hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Park Kyung.
Entah bagaimana caranya sahabatnya itu masih bisa fokus pada naskahnya namun masih juga mengajukan pertanyaan. "Jadi guide lagu Bastarz sudah selesai? Tadi direktur Oh menelponku menanyakan itu. Katanya kau tidak bisa dihubungi,"
Ji-Ho menepuk jidatnya. "Ah, iya, guide itu!" Ia baru teringat kalau belum menyerahkan guide lagu untuk sub-unit mereka. Bahkan sesungguhnya belum menyelesaikannya sama sekali.
"Jangan bilang kau belum membuatnya?" perhatian Park Kyung kini sepenuhnya teralihkan ke Ji-Ho. Matanya membelalak penuh, menatap mahluk di sampingnya seperti mereka dari spesies yang berbeda.
Ji-Ho hanya meringis sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia benar-benar lupa.
"Daebak!!" Park Kyung sontak bangkit dari tempatnya, kaget. "Apa kau benar-benar Woo Ji-Ho? Kau bukan alien kan?" ia memegang kedua bahu Ji-Ho lalu membolak-balikkan tubuh sahabatnya itu seakan-akan berusaha memastikan sesuatu dengan melihat dari berbagai sisi.
Diperlakukan seperti itu Ji-Ho merasa agak kesal dan sedikit bingung, jadi dengan cepat ia menyetakkan kedua tangan Park Kyung dari bahunya. "Ya! Mwoya?!"
"Ani~ Maksudku tidak biasanya kau seperti ini. Biasanya kau akan menyelesaikan guide sehari setelah kau selesai membuat lagu. Tapi ini sudah lewat beberapa hari,"
"Hm," balas Ji-Ho singkat. "Aku lupa," sambungnya setelah beberapa saat.
"Lupa?! Bahkan lupa biasanya tidak ada dalam kamusmu," Park Kyung menggelengkan kepalanya, masih takjub melihat sahabatnya seperti ini. "Kalau begitu, hwaiting chingu-ya! Dan annyeong!" ia menepuk bahu Ji-Ho lalu kemudian melambaikan tangan. Di pikirannya Ji-Ho akan melesat kembali ke studionya, menyelesaikan guide itu.
Tapi dugaan Park Kyung sepertinya salah. Saat ia berbalik badan, Ji-Ho malah menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya di kasur, membuat Park Kyung kembali memutar tubuh.
"Besok saja, ini sudah malam, aku harus istirahat. Harus tidur cukup demi kesehatanku," balas Jiho dengan bibir terkulum menahan tawa. Dalam hati ia merasa lucu dan takjub dirinya bisa berkata seperti itu.
"Wah.. daebak!! Sepertinya kau benar-benar bukan Ji-Ho! Dulu yang kau kenal hanya kerja, kerja, dan kerja. Bahkan aku menyuruhmu istirahat pun kau tidak mendengarkan! Sekarang apa? Kau ingin tidur cukup demi kesehatanmu? Heol!" tanpa jeda Park Kyung mengomel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Ji-Ho hanya tersenyum tipis dan perlahan memejamkan matanya. Sepertinya ia memang bukan dirinya yang dulu. Mungkin ada rasa yang merubah segalanya.
X-X-X