Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 5 - Can You Believe It?



Seoul International School. Senin Pagi.


 


Suara tepuk tangan menggema memenuhi ruang olahraga sekaligus aula Seoul International School. Nara, Juno, serta dua orang lagi peserta program tersenyum pada penonton mereka, para murid tingkat 7 hingga 9 di sekolah itu. Mereka telah menyelesaikan presentasi edukasi sosial mereka dengan judul 'Break the Barrier, Stop Bullying', untuk memperlihatkan para murid itu jenis-jenis penindasan, dampaknya, serta cara mencegah penindasan di sekolah.


 


Nara dan Juno kembali menjadi tim untuk presentasi ini, bersama 2 orang lainnya, Wang dari Cina dan Anne dari Inggris. Tim mereka tertuju pada edukasi untuk murid SMA, sedangkan tim lain, yang juga berisikan 4 orang, tertuju pada tingkatan SMP.


 


Setelah mengucapkan salam dan benar-benar menutup presentasi mereka, seluruh murid tersebut bergerak satu per satu meninggalkan ruang olahraga, dan nantinya akan digantikan oleh murid tingkatan bawahnya. Pemberi presentasi pun akan berganti menjadi tim lain. Sementara pergantian, mereka memiliki waktu 10 menit untuk beristirahat hingga murid dari tingkat 7 hingga 9 datang dan memenuhi kursi penonton.


 


Nara menjauh dari tengah ruangan, membiarkan tim selanjutnya untuk mempersiapkan presentasi mereka. Ia mengambil tempat di bangku penonton paling depan dan duduk disana sambil memainkan ponselnya. Tanpa menghiraukan pesan-pesan masuk yang belum dibalasnya, jemarinya bergerak langsung membuka kotak pesan pada media sosialnya, namun tidak ada pesan baru yang masuk. Kedua matanya menatap satu-satunya akun yang tertera di kotak masuk itu, @woojiho0914. Percakapan terakhir hanya berisi Nara membalas ucapan selamat malam dan tidur nyenyak Ji-Ho.


 


Nara menghela nafas membaca pesan itu. Otaknya bergerak memutar kembali memori tadi malam saat ia sedang bercakap dengan Jiho melalui pesan-pesan itu. Seketika ia merasa frustasi mengingatnya. Ia teringat pesan masuk Jiho yang mengajaknya bertemu lagi, mengajaknya untuk sebuah kencan. Nara tidak tau apakah Jiho serius atau hanya bercanda, tapi ia menolaknya. Ia memikirkan berbagai alasan dan berakhir mengatakan pada Jiho bahwa ia akan melakukan kegiatan kelompok dan sangat banyak persiapan program yang harus dilakukannya dalam minggu ini. Tidak sepenuhnya bohong, tapi sesungguhnya ia tidak akan sesibuk itu sampai tidak bisa bertemu.


 


Rasa frutasi kembali merambati batin Nara. Ia mengacak-acak rambut bergelombangnya, merasa kesal dengan dirinya sendiri. Lantai putih yang tidak tau masalah di bawah kakinya pun menjadi korban hentakan kakinya. Kenapa sekarang ia merasa sangat bodoh, padahal dalam mimpinya selama ini pun ia tidak pernah mendapati Ji-Ho mengajaknya kencan.


 


Ia merutuki dirinya sendiri, menyesali pikirannya yang sudah mengambil alih hatinya. Semalam ia merasa sangat kaget, dan sebenarnya merasa aneh dengan ajakan Ji-Ho yang tiba-tiba, karena itulah ia menolaknya tanpa berfikir dua kali. Hatinya berat, pikirannya bingung, kenapa seorang artis ternama seperti Ji-Ho tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu? Bahkan kencan? Kenapa sangat tiba-tiba seperti ini? Padahal mereka baru saja berkenalan. Padahal ia bukan siapa-siapa dibandingkan Ji-Ho. Padahal ia hanya seperti semut kecil diantara tumpukan jerami. Tidak ada angin, hujan, badai kencang, apalagi negara api menyerang, lalu kenapa Ji-Ho menawarinya sebuah kencan? Apakah Ji-Ho hanya basa-basi? Apakah Ji-Ho lagi mabuk? Apakah Ji-Ho hanya ingin mempermainkannya? Apakah Ji-Ho salah kirim pesan? Apakah Ji-Ho ingin menjadikannya alat untuk membuat skandal? Pikirannya semalam berkata ia tidak ingin dikecewakan. Karena itulah pikirannya menutupi hatinya dan ia langsung menolak.


 


Tapi sekarang pikirannya menjadi tidak stabil. Hatinya tiba-tiba memegang kendali. Ia sangat ingin menerima tawaran semalam. Siapa yang peduli kalau ia dikecewakan? Yang jelas ia bisa menikmati kencan dengan idolanya, idola yang sudah ia sukai sejak lama. Siapa yang peduli kalau ternyata Ji-Ho hanya bercanda? Memangnya apa yang ia harapkan? Sekarang Nara berfikir tidak apa-apa jika Ji-Ho mengecewakannya atau hanya bercanda, yang penting orang biasa sepertinya bisa merasakan kencan dengan Ji-Ho sekali seumur hidupnya.


 


Tapi sayangnya, setelah ia menolak tawaran Ji-Ho semalam, tidak ada balasan apa-apa dari Ji-Ho. Percakapan mereka terhenti pada Nara yang menolak ajakan Ji-Ho. 80% dari perasaannya berharap Ji-Ho akan menghubunginya lagi. 20%-nya lagi merasa ia terlalu bermimpi, ngeyel, apalagi setelah melakukan penolakan.


 


Lagi-lagi lantai di bawah kakinya menjadi korban kekerasan saat memikirkan semua itu. Tapi ia tidak merasa lebih baik setelah menyalurkan rasa frustasinya ke lantai.


 


"Kau sedang apa?" tanya Juno yang tiba-tiba muncul dengan alis tertaut heran melihat tingkah Nara menghentak-hentakkan kakinya.


 


"Bukan apa-apa," jawab Nara sambil berdehem, berusaha menekan rasa malu karena tingkah anehnya dilihat oleh orang lain. Kembali berusaha menyembunyikan rasa malu, Nara merapikan rambutnya yang ia yakini pasti berantakan, lalu menyampitkannya ke belakang telinga.


 


"Kau baik-baik saja? Atau ada sesuatu yang terjadi?" tanya Juno lagi sambil mendaratkan tubuhnya di samping Nara. Kedua tangannya memegang dua kotak susu rasa pisang. Ia meletakkan satu kotak di sampingnya, sedangkan satu kotak lagi ia berikan pada Nara setelah menancapkan sedotannya.


 


Nara hanya terdiam beberapa saat, meluruskan kakinya, lalu memainkan telapaknya ke kiri dan ke kanan sambil menyesap susu rasa pisang pemberian Juno. Matanya menerawang. Setelah beberapa saat tanpa sadar kata-kata keluar begitu saja dari mulut Nara. "Aku menolak sebuah tawaran bagus semalam. Tapi setelah aku pikir-pikir sekarang, aku merasa sangat bodoh. Jadi aku duduk disini merasa frustasi," aku Nara lalu menyesap lagi susu pisangnya hingga tak bersisa. Bahkan susu rasa pisang yang sangat ia sukai tidak sanggup membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.


 


"Tawaran apa? Seseorang mengajakmu kencan?" tebak Juno asal tapi tepat sasaran. Kotak susu yang dipegang Nara sampai jatuh karena kaget mendengar tebakan tepat Juno. Untung saja kotak itu sudah kosong.


 


Nara menunduk untuk mengambil kotak kosong itu sekaligus untuk menyembunyikan kekagetannya. Pasti Juno akan heboh jika tau tebakannya benar. Bahwa memang seseorang mengajak Nara kencan. "Bukan, bukan itu," jawab Nara sedikit terbata.


 


"Jadi? Kenapa kamu menolak ajakan kencannya?" kali ini Juno bertanya dengan cepat untuk menguji Nara.


 


Dan percobaannya berhasil. Nara termakan pertanyaan cepat itu dan tanpa sadar langsung ikut menjawab cepat. "Karena aku tidak tau harus berbuat apa. Aku memang menyukainya, tapi rasanya aneh dan terlalu tidak mungkin, dan awalnya aku befikir dia mungkin saja hanya main-main atau ada maksud tersembunyi. Dan aku tidak mau dikecewakan," Nara menjawab cepat tanpa jeda. Mungkin ia sendiri juga tidak tahan memendam rasa frustasinya, karena itulah ia keluar dengan sendirinya.


 


Tapi seketika Nara sadar kalau ucapannya sudah terlampau jauh. Tangan kanannya terangkat memblokade mulutnya untuk berkata lebih. Sedangakan wajahnya sudah mulai merah dan hangat ketika melihat Juno mulai mengulum bibir. Hanya ada 2 kemungkinan, Juno akan terus mengganggunya mengenai kencan itu, atau Juno akan terus bertanya siapa orang yang mengajaknya kencan karena penasaran.


 


******* bibir Juno menjadi tawa kecil setelah menyaksikan warna wajah Nara yang semakin memerah. Gadis ini memang gampang terpancing, pikirnya. "Jadi siapa lelaki itu? Ayo coba beritahu oppa," goda Juno dengan tangan di belakang telinga, menunggu jawaban Nara. Tapi Nara hanya menggelengkan kepalanya.


 


"Hmm...kamu baru 3 hari disini, jadi kesempatan kamu ketemu laki-laki pasti tidak banyak. Jadi mungkin seseorang dari panitia atau peserta program ini. Coba kutebak..." Juno mengelus-elus dagunya dengan mata menyipit dan alis bertaut, memasang gaya berfikir.


 


"Dia bukan orang yang kau kenal,"


 


"Benarkah?"


 


"Aku ketemu dia tidak sengaja,"


 


"Dimana?"


 


"Argh! Sudah, hentikan!" Nara meninju bahu Juno dengan kesal. Jika tidak begitu ia pasti sudah membuka seluruh rahasianya pada Juno. Entah kenapa ia tidak bisa menahan dirinya untuk terus menjawab pertanyaan Juno. Mungkin Juno memang punya kekuatan ajaib yang bisa membuat orang mengeluarkan isi hatinya. Sementara itu seringaian mulai menghiasi wajah Juno. Ia yakin, ditanya sedikit lagi rahasia Nara pasti akan terkuak.


 


Melihat ekspresi Juno yang seperti itu, Nara mendengus kesal. Ia sendiri tidak merasa percaya diri tidak akan termakan pertanyaan-pertanyaan Juno lagi. "Jangan biacara apapun! Aku tidak mau membicarakannnya lagi!" perintahnya Nara. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Juno disertai ekspresi garang yang dibuatnya untuk memperingati Juno.


 


 


"Pesan dari laki-laki itu ya?" Nara refleks menjerit kaget karena teguran dari Juno dan sosok Juno yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya tanpa ia sadari. Juno menjulurkan kepala untuk mengintip ponsel Nara, tapi Nara lebih cepat mengayunkan ponselnya ke balik badan, menyembunyikannya dari pandangan mata Juno.


 


"Bukan. Tolong campuri saja urusanmu sendiri, sir," Nara mendorong bahu Juno, berusaha membuatnya menjauh. Tapi kekuatannya tidak cukup dan kekuatan Juno untuk mempertahankan diri lebih besar. Jadi, Juno hanya berpura-pura terlempar dengan melangkahkan satu kaki ke belakang, kemudian kembali pada posisi awalnya.


 


"Benarkah? Ngomong-ngomong tadi sudah aku bilang belum kalau aku sangat iri padamu? Baru 3 hari disini dan kau sudah mendapatkan penggemar? Woah!" sindir Juno sambil bertepuk tangan hanya untuk menggoda Nara.


 


Dengan kesal, Nara mengepalkan tangannya di depan wajah Juno "Kau minta dipukul ya?"


 


"Iya...iya...aku cuma bercanda," tahan Juno sambil mendorong kepalan tangan Nara ke bawah. "Tapi aku benar-benar penasaran. Beritahu aku yah? Yah? Yah? Yah?" kali ini Juno mengeluarkan jurus baru untuk menguak gosip Nara. Ia menggunakan suara sengau -suara hidung- untuk berbicara, berusaha menirukan suara imut yang biasa dilakukan artis-artis korea.


 


Nara nyaris pingsan mendengarnya. Mungkin jika dilakukan oleh artis-artis Korea memang terdengar imut, tapi saat Juno melakukannya, yang terdengar di telinga Nara hanya suara aneh dan terkesan menjijikkan. Nara menggeleng ngeri sambil mengelus-elus bahunya, merasa merinding menyaksikan hal itu.


 


Tapi Juno tidak berhenti. Ia tetap melancangkan serangan aegyo -nya di depan Nara. "Ayolah~ Siapa? Siapa? Siapa? Please oppa ingin tau. Yah? Yah? Yah?"


 


Nara menjerit tertahan karena semakin merasa jijik. Ingin rasanya ia menyumbat tenggorokan Juno saat ini juga agar tidak bersuara. Melihat reaksi Nara, Juno malah menambahkan jurusnya. Ia menggoyangkan bahunya dengan tangan saling terpaut di depan dada. Bibirnya ia kerutkan dan matanya berkedip-kedip manja. "Yah? Yah? Yah?" Dasar tidak tau malu.


 


Nara menghela nafas pelan dengan mata terpejam, tidak ingin meracuni penglihatannya dengan tingkah Juno yang jauh dari kata imut. Benar apa yang sudah ia duga sebelumnya, hanya dua kemungkinan, Juno akan terus mengganggunya, atau Juno akan terus menanyainya.


 


Karena tidak melihat tanda-tanda Juno akan menyerah, Nara pun mengalah. "Kau tidak akan percaya," ujar Nara. Untuk kali terakhir berusaha mebuat Juno mengurungkan niatnya untuk tau.


 


Tapi Juno tetap pada pendiriannya. Ia mengayunkan telapak tangan ke arah dirinya sendiri. "Spit it," tantangnya.


 


"Dia leader 7Seasons, Woo Ji-Ho" jawab Nara akhirnya dengan wajah serius.


 


"Woo Ji-Ho? Leader 7Seasons?"


 


Nara mengangguk.


 


"7Seasons yang boyband hip-hop itu?"


 


Nara kembali mengangguk.


 


"Leader-nya si Woo Ji-Ho itu? Yang rapper? Yang lagunya kau nyanyikan di acara penyambutan kemarin?"


 


Lagi-lagi Nara mengangguk.


 


"Yang sudah sering merilis album solo? Yang setiap album solo-nya keluar selalu all-kill? Yang produser sekaligus komposer juga? Yang sudah sangat kaya karena lagu ciptaannya banyak dan royaltinya tinggi-tinggi? Yang sudah sering diundang ke acara-acara fashion show bergengsi? Yang kalau mau disetarakan sudah setara G-Dragon Big Bang?"


 


"Iya! Iya! Iya!" jawab Nara kesal karena pertanyaan Juno yang sangat banyak dan ia lelah mengangguk.


 


Juno terdiam beberapa detik, berusaha meresapi apa yang baru di dengarnya. "Ya!!!" teriaknya tiba-tiba membuat Nara sontak menutup telinga.


 


"Kau pikir aku bodoh?! Ji-Ho?!! Woahhh, itu terlalu berlebihan untuk sebuah kebohongan! Kau cuma tidak mau memberi tau-ku kan? Ya kan? Woahhh, aku tidak menyangka kau berbohong tidak masuk akal padaku. Woah!" Juno bergerak kiri-kanan maju-mundur berputar-putar dengan tangan bergantian menggaruk kepala, menunjuk Nara lalu tangan di pinggang, berusaha mengekspresikan rasa tidak percayaannya.


 


Nara hanya memasang wajah datar, tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Memang sulit dipercaya kan? Karena itulah ia tidak ingin mengatakannya pada siapun, karena sesungguhnya memang terdengar bohong. Dan ia sudah menduga Juno akan bereaksi seperti itu.


 


Tanpa memperdulikan Juno lagi, Nara memutar badan untuk meninggalkan Juno dengan pikirannya sendiri. Terserah dia sajalah.


 


"Ya! Nara! Kau harus memberitauku. Kau jangan pergi sebelum berkata jujur! Nara! Ya!!" Juno berteriak heboh saat menyadari kalau Nara sudah berjalan menjauh.


 


X-X-X