Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 2 - Coincidence



Jogno-3-ga district.


 


Chul Goo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang terletak di sudut jalan. Dari luar rumah itu telihat seperti tipikal rumah pinggiran kota biasa, dengan pagar kayu coklat yang tidak cukup tinggi dan dinding batu yang mengelilingi rumah dan halamannya. Rumah tersebut bertingkat dua dengan nuansa putih dan coklat pastel, dihiasi halaman depan yang luas dimana ada bangku-bangku taman serta peralatan barbeque dan sebuah gazebo.


 


"Ini rumah siapa? Panitia kalian yang beli?" tanya Juno sambil memutar badan memandang takjub ke sekelilingnya.


 


"Rumah ini punya salah satu anggota panitia kami. Namanya Jessica. Orangtuanya tinggal di luar negeri dan katanya dia tidak mau tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Jadi dia pindah ke apartemen yang lebih kecil, terus rumah ini dia pinjamkan pada kami. Lagipula, dia juga keponakan pimpinan CSEGroup, promotor dari program ini" jelas Chul Goo sambil menuntun kedua pesertanya ke pintu masuk.


 


"Hmm, orang kaya kadang memang agak aneh ya kelakuannya," Juno memutar bola matanya membuat Chul Goo dan Nara tertawa.


 


"Jadi password untuk pintunya 505090, jangan sampai lupa, karena kalian cuma perlu password itu untuk buka pintunya," Chul Goo menunjukkan Juno dan Nara cara membuka pintu depan rumah tersebut.


 


"Oh jadi kita cuma perlu password ya? Bagus dong, lain kali kalau aku ke Korea lagi aku akan tinggal disini saja, aku sudah tau passwordnya," Juno terkekeh dengan idenya sendiri.


 


"Ya! Kau pikir kami sebodoh itu? Tentu saja kami akan mengganti passwordnya secara berkala. Jadi setiap selesai suatu program, akan ada password baru juga," Chulgu meninju bahu Juno dengan gemas.


 


"Ck. No fun,"


 


Kini mereka sudah masuk kedalam rumah itu. Mulut Juno dan Nara terbuka lebar sembari mereka berjalan masuk. Rumah itu sangat besar dengan ruang depan yang luas dan indah serta dipenuhi dengan perabotan-perabotan yang tampak mahal.


 


"Ayo, kuajak kalian berkeliling," Chul Goo memimpin langkah mereka untuk menunjukkan seisi rumah. "Jadi seperti yang kalian lihat ini ruang depannya. Kemudian sebelah sana ada ruang makan dan dapur. Ada kulkas yang bisa kalian isi makanan sepuas hati kalian. Lalu ada 7 kamar di rumah ini, 4 kamar di lantai atas dan 3 kamar di lantai bawah. Kalian bisa pilih kamar dimanapun kalian mau dan setiap kamar ada kamar mandi. Ada kolam renang di halaman belakang dan... the best part is..." Chulgu berjalan ke arah kamar yang terletak di samping tangga. "Tadaaa!! Home theater! Kalian bisa gunakan sesuka kalian, ada mesin pembuat popcorn, sofa yang nyaman, dan tentu saja koleksi-koleksi film!!"


 


"Daebak!!" Juno dan Nara melompat heboh sambil bertepuk tangan senang.


 


“Kalau seperti ini sih kita tidak usah mengerjakan programnya. Kita santai-santai saja di rumah, ya kan?” seru Juno dengan wajah sumringah, membuat Chul Goo menjitak kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu.


 


"Ngomong-ngomong, baru kami berdua ya yang sampai?" tanya Nara.


 


"Nope. Ada Lisa dari Singapura. Sisanya akan tiba malam ini dan besok pagi. Tapi aku tidak tau sekarang Lisa dimana, mungkin di club,"


 


"Ya!! Kau bodoh ya? Menurutmu siapa yang akan pergi ke club jam segini?! Juno mengangkat tangan untuk memperlihatkan jamnya kepada Chul Goo. Jarum besar dan jarum kecil menunjukkan saat itu masih jam 2 siang.


 


Chul Goo menepuk kepalanya tersadar. Ia lupa saat ini masih siang. "Ah, kau benar. Ini karena dia terus bertanya padaku dimana club yang paling terkenal di sekitar daerah ini, jadi hal itu melekat terus di kepalaku."


 


"Jadi bagaimana kalau malam ini kita kumpul-kumpul di club? Nara?" Juno menaikkan alisnya sebagai tanda mebujuk. "Come on..."


 


"Tidak, terima kasih. Don't count on me," Nara menolak tawaran tadi sambil melambaikan kedua tangannya.


 


"Boooooo...boringggg!!"


 


"Whatever!" Nara meleletkan lidahnya ke arah Juno. Apapun yang Juno katakan sudah pasti ia tidak akan pergi ke club. Ia sangat tidak suka tempat ramai.


 


"By the way, guys,” Chul Goo melirik jamnya, kembali melihat waktu. “Sepertinya aku harus meninggalkan kalian. Aku harus pergi sekarang, masih ada urusan lain. Kalian bisa melakukan apapun yang kalian mau hari ini, unpacking maybe, shopping, or just take a rest. Jadi hubungi aku saja kalau kalian membutuhkan sesuatu, okay? Bye~" Chul Goo berpamitan dengan terburu-buru, meninggalkan Nara dan Juno yang bahkan belum sempat membalas apa-apa dan akhirnya hanya dengan pasrah melambaikan tangan.


 


"Aku mau membereskan barang-barangku," ujar Nara sambil menunjuk kamar yang akan ditempatinya.


 


Sedangkan Juno menunjuk lantai atas, yang mengartikan ia akan mengambil salah satu kamar di atas. "Aku mau istirahat," ujarnya.


 


 


"Yup, see you tonight!"


 


X-X-X


 


Esoknya. Sore yang cerah. Aula Universitas Hongik, Korea Selatan.


 


Nara mencengkram pegangan kursi yang didudukinya. Kedua telapak kakinya tak henti-hentinya menghentak lantai berkarpet hitam di bawahnya. Ia menyenandungkan lagu yang akan dinyanyikannya lagi dan lagi sembari menunggu acara penyambutan mereka dimulai. Matanya memandang ke arah depan dimana sebuah panggung terbentang seperti sedang menunggunya. Dalam 30 menit, ia akan berada di panggung itu, membawakan penampilan mereka, menyanyikan lagu 'Okey Dokey'. Dan saat ini ia menggigiti kukunya, tanda ia menjadi lebih gugup.


 


"Kau baik-baik saja?" Juno yang baru saja datang menepuk bahu Nara dari belakang. Tapi Nara tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia tak mengacuhkan Juno dan malah tetap menggigiti kukunya. "Kau gugup?" tanya Juno lagi lalu kemudian mengambil jalan memutar untuk duduk di kursi sebelah Nara.


 


Nara hanya mengangguk ketika dilihatnya Juno sudah sampai dan duduk di sampingnya. "Aku pikir kau tidak akan gugup. Kau kelihatannya tenang-tenang saja selama ini saat kita latihan. Lagipula apa yang perlu kau takutkan? Ini bukan panggung konser besar atau penampilan yang penting. Orang-orang yang datang pun hanya para peserta program dan panitia-panitia," Juno berusaha menenangkan teman duetnya nanti.


 


Nara menundukkan kepalanya, "Dugaanmu salah. Aku sangat mudah gugup ketika menjadi pusat perhatian di keramaian,"


 


"Lalu kenapa kau setuju untuk tampil denganku?"


 


"Karena aku mau mengatasi..." Nara menghentikan kalimatnya dan terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia mendeham sebelum menyelesaikan perkataannya. "...kegugupanku," lanjutnya.


 


Juno hanya mengangguk, berusaha mengerti. "Kalau begitu ayo kita latihan lagi di belakang panggung," dan tanpa menunggu jawaban ia menarik tangan Nara untuk mengikutinya.


 


Intro musik dari lagu 'Okey Dokey' menggema memenuhi seluruh aula. Juno memulai penampilan mereka dengan memasuki panggung dan membawakan bait awal permulaan lagu. Setelah itu, Nara juga ikut memasuki panggung dan mulai menyanyikan bagiannya. Nara berusaha menenangkan dirinya, tapi tidak bisa dipungkiri ia merasa tiba-tiba seluruh ruangan seperti berputar dan ia merasakan kepalanya seperti berdenyut. Dengan seluruh penonton bertepuk tangan, beberapa bersorak, dan beberapa ikut bernyanyi bersamanya, ia merasakan pupil matanya mulai mengecil. Tapi ia masih tetap mencoba mengendalikan perasaannya. Sampai ketika bagiannya selesai dan dilanjutkan lagi oleh bagian Juno, ia tetap bergerak di panggung berusaha melakukan koreografi mereka meskipun pandangannya sudah mulai mengabur. Untung saja ia masih bisa membalas tinjuan tangan Juno dengan tepat sesuai yang mereka lakukan pada saat latihan.


 


"Ayo, Nara, bertahanlah. Sudah hampir selesai," Nara mencoba menenangkan dirinya dalam hati.


 


Akhirnya penampilan mereka pun selesai. Musik yang terhenti digantikan oleh teriakan penonton yang riuh dan bunyi tepukan tangan membahana memenuhi ruangan. Nara tidak dapat menahannya lagi. Selain kepalanya yang seakan ingin meledak, ia sudah mulai merasakan nafasnya tercekat. Ia segera berlari meninggalkan panggung dan keluar dari aula, mencari tempat untuk menenangkan dirinya . Dengan nafas tersenggal-senggal ia bergerak memasuki toilet wanita dan mengunci dirinya di salah satu bilik.


 


"Tidak ada suara... Aku tidak mendengar apa-apa... Aku tidak melihat siapa-siapa... Tidak ada seorang pun..." Nara menggumam dengan mata tertutup rapat dan kedua tangan menepuk-nepuk telinganya.


 


Setelah beberapa menit melakukan hal itu, Nara pun merasa sedikit tenang. Nafasnya sudah mulai kembali normal, dan meskipun ia masih merasakan sedikit pusing, pandangannya sudah tidak kabur dan tidak berputar lagi. Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan sebelum akhirnya berjalan keluar dari dalam bilik.


 


Melihat pantulannya di cermin, ia menghentikan langkahnya sesaat lalu memperbaiki rambutnya yang mulai berjatuhan dari ikatanya. "Ah, pasti mereka akan khawatir mencariku yang tiba-tiba pergi," pikir Nara sedikit menyesali kelakuannya. Setelah rambutnya terikat rapih, ia menarik bajunya yang agak kusut lalu menepuk-nepuknya pelan.


 


"Okay, you're okay now," Nara mengangguk ke arah pantulannya lalu kemudian membalikkan badan dan melangkah cepat untuk kembali ke aula ketika tiba-tiba...Bam!! Ia menabrak seseorang.


 


"Astaga!! Cheosohamnida ...cheosohamnida... gwencanhayo?" Nara panik karena menyadari orang yang ditabraknya terjatuh ke lantai.


 


"Ah, ne ... gwencanha," Ia berdiri dan menepuk-nepuk baju serta celananya untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel.


 


Dug. Dug. Dug. Dug.


 


Nara bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang ketika melihat orang yang kini berdiri di hadapannya. "Ji-Ho??"


 


x-x-x