
Nara berjalan keluar dari kamarnya setelah membalas pesan Ji-Ho semalam. "Kau masih disini?" Ia terkejut mendapati Chul Goo masih ada, sedang duduk di ruang tengah sambil makan sereal sendirian. Chul Goo hanya mengangguk. Kemudian Nara ikut mengambil sereal di dapur, mencampurnya dengan susu dalam mangkuk lalu bergabung dengan Chul Goo di sampingnya.
"Aku bosan. Ayo pergi kencan," suara kunyahan ikut keluar dari mulut Chul Goo sementara ia bicara.
Nara membuat tanda 'ok' dengan jarinya, langsung menyetujui. Ia tau saat Chul Goo berkata 'kencan', maksud dari kata itu bukanlah artian sebenarnya dan hanya gurauan semata. Pasti Chul Goo hanya ingin ditemani ke suatu tempat karena sedang bosan dan tidak ingin pergi sendirian. Selain itu, sesungguhnya Nara juga tadi ingin mengajaknya keluar, karena ia merasa bersalah telah menolak Chul Goo pagi tadi, padahal Chul Goo sudah datang sangat pagi. Karena itulah ia berkata pada Ji-Ho untuk bertemu besok saja.
Pesan dari Ji-Ho kembali muncul saat mereka sedang memakan sereal dalam keheningan. Nara kembali tersenyum senang, untuk kesekian kalinya di hari ini, padahal hari masih terhitung pagi. Ia sangat senang mendapatkan kesempatan kedua, kesempatan untuk pergi jalan dengan idolanya. Mungkin Tuhan kasihan melihatnya sangat frustasi setelah menolak ajakan Ji-Ho yang pertama. Oh, dan kali ini Ji-Ho tidak mengatakan kalau ajakannya itu kencan, karena itulah Nara juga langsung menerimanya. Setidaknya karena Ji-Ho tidak menyebut kencan, hatinya tidak jadi begitu terbebani. Yah, anggap saja mereka akan jalan-jalan biasa, sebagai teman, seperti yang akan ia lakukan dengan Chul Goo hari ini. Nara mengetikkan balasannya, “Ok, aku akan mengirimimu alamatku nanti. Aku akan pergi dengan Chul Goo hari ini. Ia memintaku menemaninya ke suatu tempat,”
Hanya dalam beberapa detik, balasan kembali muncul, “Chul Goo? Seo Chul Goo? Temanmu semalam? Kalian mau kemana?”
Nara termenung membaca balasan Ji-Ho. Benar juga, ia belum tau Chul Goo akan membawanya kemana. "Seo Chul Goo, kita mau kemana nanti?" tanya Nara akhirnya sambil menyikut pelan lengan Chul Goo yang masih sibuk makan.
"Ada. Suatu tempat. Tenang saja, bukan tempat aneh kok. Percayalah padaku, kau pasti suka," jawab Chul Goo masih sambil mengunyah. Nara hanya mendengus mendengar jawaban ambigu temannya itu. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia yakin pasti sia-sia saja kalau ia bertanya lagi.
“Iya, yang itu. Aku juga tidak tau. Dia belum memberi tauku apapun,”
Nara menaruh ponselnya di atas meja dan membawa mangkuknya untuk diletakkan dan bak cuci piring setelah makannya usai. "Aku akan siap-siap sekarang. Tunggu aku," teriaknya sambil berjalan memasuki kamar.
Setelah 30 menit, kini mereka sudah berada dalam mobil Chul Goo, siap untuk pergi. "Kita mau kemana sih?" tanya Nara kembali penasaran. Ia memasang sabuk pengamannya lalu berbalik ke arah Chul Goo yang sudah siap melaju dengan tangan pada setir mobil.
"Rahasia," dengan genit Chul Goo mengedipkan sebelah matanya mebuat Nara mengerang geli dan akhirnya menutup mulut.
Chul Goo hanya tertawa melihat reaksi Nara. Ia ingin tempat yang mereka tuju ini menjadi kejutan untuk Nara. Ia menemukan tempat ini setelah bersusah payah mencarinya di internet semalam. Festival musim panas yang masih tersisa di bulan agustus. Setiap pergantian musim, Seoul akan dibombardir dengan beraneka ragam festival, namun biasanya diselenggarakan hanya pada awal-awal masuk musim. Festival musim panas untuk tahun ini rata-rata berlangsung saat awal sampai akhir bulan Juni, sedangkan saat ini sudah memasuki bulan Juli, jadi kebanyakan festival-festival itu sudah usai dan sudah jarang festival diadakan. Tapi untung saja Chul Goo mendapatkan informasi tentang satu festival yang masih tersisa ini dan bisa membawa Nara kesana. Nara pasti akan menyukainya. Itu yang Chul Goo pikir.
"Jadi, aku harus tutup mata atau bagaimana karena ini kejutan?"
"Nope. Tidak perlu. Kau kan tidak tau jalan di Seoul," Chul Goo meleletkan lidah, mengejek Nara.
"Ha-ha lucu sekali," Nara tertawa sarkastik sebagai balasan.
Chul Goo kembali tertawa. Ia senang bisa bertemu Nara melalui program ini. Meskipun baru bertemu Nara seminggu lalu, ia merasa sudah sangat dekat dengan gadis ini --ya, meskipun sebenarnya mereka sudah sering bercakap via teks sejak 2 bulan lalu. Ia merasa cocok dengan Nara, pembicaraan bahkan jokes mereka selalu nyambung. Dan lagi, ia sangat suka melihat ekspresi Nara saat ia mulai mengganggu atau menjahilinya. Sangat membuatnya gemas.
"Kita sudah sampai?" tanya Nara saat Chul Goo menepikan mobilnya setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit.
"Belum. Kita harus jalan dari sini,"
Mereka pun turun dari mobil dan mulai berjalan. Nara masih tidak ada gambaran kemana mereka akan pergi. Tempat dimana Chul Goo memarkirkan mobilnya adalah di samping trotoar pejalan kaki, dan di sisi lain trotoar tersebut berderet beraneka macam cafe dan restoran. Sepertinya tidak ada hal yang spesial.
Setelah berjalan beberapa meter, tiba-tiba Nara dapat mendengat bunyi musik yang kencang tak jauh dari mereka. Suara itu bercampur dengan suara teriakan dan sorakan banyak orang. Nara merasakan ada sesuatu yang salah, jantungnya menjadi berdetak lebih kencang. Ia meraih lengan baju Chul Goo untuk menghentikan langkah kaki laki-laki itu.
"Kenapa? Ayo, kita sudah hampir sampai," Chul Goo menurunkan tangan Nara dari lengan bajunya lalu mengenggam tangan yang sudah mulai mendingin itu. Ia menuntun Nara agar mengikuti langkahnya, "Ayo,"
Suara musik dan kerumunan orang-orang semakin keras terdengar, sepertinya mereka akan segera tiba di tengah keramaian. Nara menutup matanya. Ia bisa merasakan melalui tangan Chul Goo ketika mereka membelok ke arah kiri. Suara tabuhan gendang yang menghentak menghampiri telinga Nara berkali-kali. Ia membuka mata dan disanalah semua itu. Musik, panggung, orang-orang, keramaian, sorakan, tarian, tabuhan gendang, festival, dan Nara berada di tengah-tengah semua itu. Nafasnya menjadi cepat dan dangkal. Ia dapat merasakan tungkainya melemas, jadi ia melingkarkan tangannya pada lengan Chul Goo.
"Kau baik-baik saja?" Chul Goo baru menyadari ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada Nara. Tangan Nara pada lengannya gemetaran.
"Kumohon," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Nara saat ini. Ia menatap Chul Goo dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, ayo kita ke tempat lain," Chul Goo melepaskan tangan Nara dari lengannya dan berganti merangkul Nara lalu membawanya menjauhi festival. "Bagaimana kalau kita makan tteokbokki ? Ada satu toko dekat sini yang menjual tteokbokki yang sangaatttt enak," Chul Goo berusaha mengalihakan perhatian Nara dari apapun yang dilaluinya saat ini. Nara menganggukkan kepala setuju.
Mereka terus berjalan selama 15 menit dengan Chul Goo yang tidak berhenti berceloteh dan bergurau tentang topik apapun yang muncul di pikirannya untuk menenangkan Nara. Nara bisa tertawa sekarang karena memori tentang festival tadi mulai terkikis dari pikirannya.
"Hmm...sepertinya kau tunggu saja disini," Chul Goo berhenti dan menunjuk sebuah bangku tak jalan tak jauh dari mereka. Nara memandang sekelilingnya, namun ia tidak melihat ada toko tteokbokki di sekitar mereka. Kini mereka berada di antara deretan toko-toko pada sisi kiri dan kanan jalanan pejalan kaki.
"Toko tteokbokkinya di belakang toko ini," Chul Goo seperti bisa membaca pikiran Nara dari gerak geriknya."Tapi jam segini pasti antriannya panjang. Dan sepertinya tokonya penuh kalau kita mau makan di dalam, dan tetap harus antri. Jadi kau menunggu saja disini sementara aku membeli yang take away,"
"Oke, baiklah," Nara tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih Chul Goo-ya,"
Chul Goo hanya mengangguk sambil balas tersenyum hangat, kemudian setengah berlari meninggalkan Nara untuk pergi ke toko yang ia maksud.
Nara duduk di bangku yang di maksud Chul Goo, sendirian, menunggu Chul Goo kembali. Matanya menatap ke sekelilingnya. Tak jauh darinya seorang anak belari kesana kemari dengan sebuah pesawat kertas di tangannya, seorang wanita tua sedang bersiap-siap membuka toko street food-nya, sekumpulan laki-laki sedang berusaha membuka entah event apa --dengan meja, kursi, stereo, dan poster yang dipersiapkan--, orang-orang berlalu lalang, sekumpulan gadis-gadis SMA berjalan dengan tawa cekikan satu sama lain. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelumnya. Ia ingat tempat ini. Ia pernah kesini sekali bersama Juno. Ia ingat Juno bilang kalau nama jalan ini adalah Samcheongdong, dan mungkin toko tteokbokki yang didatangi Chul Goo adalah Mukshidonna, salah satu toko tteokbokki yang terkenal disini. Juno juga membahas hal itu saat mereka ke jalan ini, tapi saat itu mereka tidak pergi ke toko itu.
Suara beep yang menandakan pesan masuk menyadarkan Nara dari lamunan. Ia meraih ponselnya dari dalam tas dan membuka pesan barunya. “Kau dimana sekarang?” pesan itu dari Ji-Ho.
“Di Samcheongdong,”
“Sedang apa?”
“Umm...untuk sekarang tidak ada. Aku hanya sedang menunggu Chul Goo membeli tteokbokki,”
"Selamat pagi semuanya!!" sebuah teriakan keras menyapa seluruh orang yang ada di jalan itu mengagetkan Nara, dan mungkin seluruh orang di sekitar sana. Nara mengangkat wajah dari layar ponselnya dan mencari asal suara. Suara itu datang dari sekumpulan laki-laki yang sedang mempersiapkan suatu event entah apa tadi. Letaknya tak jauh darinya, hanya beberapa puluh meter. Kali ini, saat semua yang tadi dilihatnya sedang dipersiapkan sudah siap, seorang laki-laki dengan mic di tangan berdiri di samping sebuah poster tinggi. Poster itu menampakkan seorang perempuan, yang seingat Nara adalah seorang bintang idola, Ji Yeon dari T-Ara. Selain itu ada lagi sebuah papan besar yang bertuliskan 'Guerilla Date and Free Hug'. Nara terenyak, mulai mengerti apa yang terjadi.
Namun terlambat sudah, banyak orang yang mulai berkumpul. Area di sekitarnya dalam semenit sudah mulai dipenuhi oleh banyak orang yang meneriakkan nama Ji Yeon. Nara terperangkap di tengah-tengah keramaian itu. Nara bisa merasakan jantungnya mulai melaju kencang, ia mulai merasa pusing. Ia ingin segera melarikan diri dari tempat itu, tapi kakinya terasa lemas. Setiap kali ia mencoba berdiri, tungkainya seperti melemah dan tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri sehingga ia kembali terjatuh. Ia mengedarkan pandangan berusaha mencari Chul Goo, tapi tidak bisa menemukannya, apalagi di tengah kerumunan itu. Jumlah orang yang datang semakin bertambah dan kini suara mereka berdengung di telinga Nara seperti suara lebah. Nara merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jadi ia menutup mata dan telinganya kemudian menggumamkan mantra yang biasa ia ucapkan.
"Tidak ada suara... Aku tidak mendengar apa-apa... Aku tidak melihat siapa-siapa... Tidak ada seorang pun..."
"Nara!! Nara!! Ada apa? Apa yang terjadi?" Nara bisa mendengar suara Chul Goo sekarang. Perlahan ia membuka mata dan melihat Chul Goo berlutut di hadapannya dengan kedua tangan bertengger pada bahunya.
Ekspresi Chul Goo terlihat khawatir. Bola matanya bergerak-gerak ke kiri dan kanan menunggu jawaban Nara. "Ada apa?" tanya Chul Goo lagi karena sekarang melalui tangannya ia bisa merasakan badan Nara yang gemetaran.
Nara tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca dan tidak sampai semenit kemudian air mata mulai menghujani pipinya. Tangisnya pecah.
X-X-X