Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 15 - First Date



Minggu pagi.


 


Nara duduk di depan cermin memandangi alat-alat riasnya. Sebuah dilema lagi-lagi membuatnya terdiam dan hanyut dalam pikirannya selama 10 menit. Tadi ia telah digalaukan dengan harus memakai baju apa, dan saat ini ia kembali digalaukan apakah perlu memakai riasan atau tidak. Meskipun sudah membubuhkan riasan awal, seperti toner, pelembab, sunscreen yang disertai bb cream, dan bedak tipis, namun ia galau harus menambahkan riasan lain atau tidak, terutama riasan pada mata. Orang-orang biasanya bilang wajahnya terlihat berbeda saat menggunakan riasan, dan lagi sejujurnya ia tidak begitu suka saat menggunakannya. Tapi jika ia keluar hanya dengan riasan minim seperti itu apakah tidak terlalu sederhana dan kurang menarik? Ah, sayang sekali ia tidak tau cara menciptakan riasan natural seperti yang biasa dilihatnya di media sosial. Ia menghela nafas kecewa sambil kembali memandang pantulannya di cermin. Tak lama kemudian, akhirnya ia memutuskan untuk membentuk sedikit alisnya dengan pensil alis dan melentikkan bulu mata lalu menyapukan maskara tipis-tipis.


 


Baru saja ia akan mematut dirinya baik-baik di depan cermin setelah membubuhkan masakara, ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas dan melihat nama Ji-Ho tertera pada layar sebagai panggilan masuk. Buru-buru Nara menjawab panggilan itu.


 


"Nara? Aku sudah di depan rumah yang kau maksud sekarang," suara Ji-Ho terdengar di seberang telpon.


 


"Oke, aku akan keluar sebentar lagi," jawab Nara cepat kemudian memutuskan sambungan telpon.


 


"Ji-Ho sudah sampai, tidak ada waktu lagi untuk membubuhkan riasan lain," Nara bergumam sambil terburu-buru memoleskan lipstick pink di bibirnya. "Seperti ini mungkin cukup," ia mengangguk pada pantulan dirinya dan memutar badan di depan cermin untuk melihat penampilannya seluruh badan sekali lagi. Kemudian ia berjalan keluar kamar.


 


Sementara itu, Ji-Ho menunggu di luar, menyandarkan punggung pada pintu mobil. Senyum mengembang di wajahnya saat melihat Nara keluar dari balik pagar. Gadis itu terlihat cantik dengan gayanya yang sederhana, baju lengan pendek berwarna putih dan rok panjang berwarna hitam yang dilapisi kain see-through. Rambut hitam bergelombangnya diikat satu ke belakang, membuat ikatannya berayun ke kanan kiri saat ia berjalan.


 


Nara membalas senyuman Ji-Ho. Namun tidak seperti Ji-Ho yang tersenyum cerah ke arahanya, Nara tersenyum canggung. Seorang artis idola sedang berdiri hanya beberapa meter darinya, siap untuk pergi bersamanya, setelah selama ini ia hanya bisa melihat laki-laki itu dari ponsel, laptop, atau televisi. Sinar matahari pagi menyinari tubuh Ji-Ho membuatnya terlihat lebih tidak masuk akal di mata Nara. Ia merasa seperti melihat fatamorgana, dan Ji-Ho akan menghilang saat sinar matahari itu hilang.


 


"Halo," ucap Nara ketika sudah sampai di hadapan Ji-Ho, masih tidak bisa menyembunyikan senyum canggungnya. Belum lagi dalam hati ia terpukau melihat penampilan Ji-Ho. Ji-Ho terlihat lebih santai dengan sweater tipis berwarna abu-abu muda dan celana jeans hitam. Rambutnya ditutupi topi baseball berwarna hitam dan wajahnya juga terlihat tanpa riasan, terutama pada bagian mata yang biasanya tak pernah luput dari riasan. Tapi ia tetap terlihat tampan.


 


Ji-Ho membalas sapaan Nara hanya dengan senyuman dan kemudian menarik keluar tangannya yang ia sembunyikan di balik punggung. Sebuket bunga daisy putih yang di genggamnya muncul, mengisi jarak antara dirinya dan Nara.


 


Mata Nara melebar terkejut, "Apa ini?"


 


"Um...Sebuket bunga? Untukmu," dengan malu-malu Ji-Ho menyodorkan bunga itu lagi ke arah Nara agar gadis itu mengambilnya.


 


Pelan-pelan, Nara mengambil bunga itu dari tangan Ji-Ho dan langsung mendekatkannya ke hidung untuk mencium aromanya. Tapi ia membisu, tidak sanggup berkata apa-apa karena terlalu gugup. Matanya terpaku pada bagian tengah bunga yang berwarna kuning-hijau, tidak berani menatap mata Ji-Ho di depannya, sementara tangannya memainkan petal-petal bunga itu. Ini pertama kalinya ia menerima bunga dari seorang laki-laki, dan lagi-lagi ia masih tidak bisa percaya kali pertamanya adalah dari Ji-Ho, idolanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan? Bagaimana harusnya ia bereaksi? Lagi-lagi rasa gugup membuat otaknya buntu, sama seperti pertama kali ia bertemu Ji-Ho.


 


Ji-Ho sendiri juga terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia juga gugup, dan apa yang ditakutkannya pun terjadi, kecanggungan diantara mereka. Diam seperti ini sesungguhnya juga menyiksanya, tapi ia tidak tau harus berbuat apa, jadi ia hanya terbatuk-batuk masih dengan rasa canggung. Ia sangat berharap Park Kyung tiba-tiba membuka kaca mobil dan meruntuhkan keheningan diantara mereka. Padahal mereka sudah pernah berbicara sebelumnya. Padahal mereka sudah pernah berbicara sebelumnya, padahal mereka sudah sering berbincang melalui pesan teks, tapi kenapa saat ini rasanya ia lebih gugup?


 


Nara mengangkat wajah dan seketika bisa melihat kegelisahan Ji-Ho. Laki-laki di depannya itu terbatuk dengan tangan terangkat mengelus tungkainya. Pandangannya tertuju ke kakinya yang menggaruk pelan aspal jalanan. Tak kuasa melihat itu, Nara akhirnya buka mulut untuk mengatakan sesuatu dan memecah keheningan diantara mereka. "Bagaimana kalau kita..."


 


"Neol joh-ahae," kalimat Nara dipotong oleh kata-kata berbahasa korea yang tiba-tiba meluncur dari bibir Ji-Ho. Dalam sedetik mata mereka berdua melebar karena terkejut.


 


Ji-Ho langsung saja merutuki dirinya sendiri sambil mengigit bibir bawahnya dengan gemas. Ia tidak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, cukup keras dan jelas. Padahal tadi ia hanya memikirkan kata-kata itu dalam hati, tapi kenapa bisa malah keluar? Sekarang ia hanya bisa berharap Nara tidak mengerti apa arti kata-kata yang diucapkannya tadi.


 


Tapi bodoh sekali Ji-Ho mengharapkan hal itu. Harapannya tidak terkabul. Ia tidak tau Nara sudah menyukai k-pop dan k-drama sejak 5 tahun lalu saat ia mengenal 7Seasons. Ia tidak tau kalau Nara sangat menyukai drama korea romantis yang sering sekali menampilkan kata-kata itu. Ia tidak tau kalau Nara bahkan sudah bisa mengingat, mengerti dan berbicara beberapa kata dalam bahasa korea. Salah satunya adalah yang diucapkan Ji-Ho tadi. Tentu saja Nara mengerti apa yang Ji-Ho katakan!


 


"Eh?" Nara bisa merasakan darahnya mengalir cepat, membuat pompa jantungnya meningkat pesat. "Apa tadi yang didengarnya tadi? Ji-Ho menyukainya?" ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Matanya masih melebar dan kini bola matanya bergerak bingung, tidak sanggup menatap Ji-Ho.


 


"Nara.. " Ji-Ho yang masih berfikir Nara tidak mengerti dengan perkataanya karena melihat ekspresi gadis itu yang kebingungan berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi ia terhenti ketika mendengar bisakan Nara.


 


"Kenapa?" Nara berbisik penuh nada keraguan.


 


"Apa?"


 


"Kenapa kau menyukaiku? I mean, kita hanya bertemu sekali, dan sisanya hanya dalam pesan. Dan kau bahkan belum mengenalku dengan baik," kepala Nara bergerak ke kiri dan kanan, membeberkan fakta yang ada. Tatapannya menunjukkan ketidakpercayaan. Bukannya ia tidak suka dengan apa yang didengarnya, tapi ia sangat tidak percaya orang seperti Ji-Ho bisa menyukainya. Bukan orang seperti Ji-Ho saja bisa membuatnya ragu, apalagi Ji-Ho. Ia tidak bisa menerima kenyataan itu begitu saja. Padahal harusnya ia bersyukur.


 


Lagi-lagi Ji-Ho mengelus tengkuknya. Kegugupan benar-benar merasukinya sejak tadi. Apalagi sekarang ia sadar Nara mengerti dan sudah mendengar luapan perasaannya. "Aku tidak tau, apa aku butuh alasan? Aku hanya merasa seperti itu..." Ji-Ho mengendikan bahu, membuat Nara menghela nafas. Tapi Ji-Ho berkata sejujurnya. Ia tidak tau apa tepatnya yang ia sukai dari Nara. Hanya saja, Nara telah menyita perhatiannya sejak awal mereka bertemu dan perasaan itu muncul begitu saja. Belum lagi setelah akhirnya mereka sering bertukar pesan, ia selalu merasakan rasa nyaman merambati hatinya


 


"Tapi aku tidak seperti gadis-gadis lain..." Nara menatap mata Ji-Ho lamat-lamat, berusaha membaca pikiran laki-laki itu.


 


"Bagus kalau begitu," komentar Ji-Ho sambil tersenyum, membuat wajah Nara memerah.


 


 


"Bagiku kau cantik," buru-bur Ji-Ho memotong sebelum Nara menyelesaikan perkataanya.


 


Tapi sayang sekali ekspresi Nara malah berubah datar. "That's cheesy," Jahat memang jika ia berkata seperti itu pada Ji-Ho, apalagi dengan wajah datar yang serius, padahal Ji-Ho hanya bermaksud baik, padahal dirinya duluanlah yang berkata tentang penampilan  fisik. Tapi Nara memang sangat tidak suka jika seseorang berkata alasan mereka menyukainya karena ia cantik, manis, imut, atau apapun itu yang menyangkut penampilan. Menurutnya perasaan yang timbul atas dasar penampilan memiliki peluang besar tidak akan bertahan lama. Karena itulah ia sangat membencinya.


 


"Noted! Aku tidak akan mengatakan itu lagi," Ji-Ho membuat gerakan tangan, mengunci bibirnya dengan jari.


 


Nara kembali bingung, sekelibat pertanayaan yang sama masih memenuhi otaknya, kenapa Ji-Ho memilihnya. "Kenapa kau menyukaiku, sejujurnya?"


 


"Aku sudah mengatakannya, aku tidak tau. Aku hanya menyukaimu, begitu saja," Nara bisa melihat kesungguhan di mata Ji-Ho, tapi tetap saja hatinya masih tidak bisa menerima begitu saja.


 


"Ada banyak hal yang kau tidak tau tentangku. Aku kacau, hidupku kacau," Nara terdiam sesaat, manyaring kata-kata yang akan ia katakan, dan akhirnya malah mengatakan hal lain. "Aku sangat galak dan mudah kesal bahkan hanya untuk masalah sepele. Aku punya selera yang aneh untuk segala hal, bahkan selera candaku juga aneh. Aku punya kebiasaan makan yang buruk. Aku...tidak bisa berada di keramaian, tidak bisa pergi club atau semacamnya. Aku membosankan...dan sangat biasa,"


 


Ji-Ho hanya menganggukkan kepala, menangkap semua yang dikatakan Nara. "Kalau begitu aku akan melihat semua hal itu mulai dari hari ini dan hari-hari selanjutnya. Aku ingin lebih mengenalmu," segala yang disebutkan Nara tidak mengganggunya sama sekali.


 


"Tapi..." Nara masih tidak bisa berhenti.


 


"Apa lagi?" dengan sabar Ji-Ho menunggu Nara mengatakan hal lainnya.


 


"...kau adalah artis idola."


 


Ji-Ho mengerang lalu memutar bola matanya. "Apa hal itu membuat hatiku berbeda dengan manusia lain?"


 


Kata-kata itu membuat wajah Nara kembali memerah. Dan entah kenapa melihat Nara malu membuat Ji-Ho juga jadi ikut malu. Ji-Ho menelan ludah, seakan dengan melakukan itu rasa malu dan gugupnya juga ikut tertelan.


 


"Dibalik pekerjaanku sebagai artis, sebagai bintang idola, aku hanya manusia biasa sepertimu. Aku juga bisa merasakan rasa suka itu," Ji-Ho berusaha mengabaikan kegaduhan yang terjadi di dadanya.


 


Oke, Ji-Ho menang! Kali ini Nara tidak bisa berkata apa-apa lagi.


 


Karena lagi-lagi mereka terjebak dalam suasana canggung, Ji-Ho akhirnya memanfaatkan Park Kyung. "Ngomong-ngomong, maaf aku tidak bilang sebelumnya padamu, ada seseorang yang ikut dengan kita. Park Kyung menunggu kita di dalam," ia memiringkan kepala menunjuk mobil di belakangnya.


 


"Ah, benarkah?" tiba-tiba Nara merasa bersalah sudah berlama-lama berdebat dengan Ji-Ho diluar. "Kalau begitu ayo kita pergi sekarang,"


 


Ji-Ho mengangguk dan langsung membukakan pintu mobilnya untuk Nara. Setelah Nara masuk dan Ji-Ho menutup kembali pintu mobilnya, ia menaruh tangannya di dada dengan nafas terengah-engah. Rasanya ia sudah menahan nafas selama pembicaraan mereka tadi. Untuk melihat mata Nara saja sudah membuatnya sesak, lalu harus mengungkapkan perasaannya tentu saja membuatnya tida bernafas dengan benar.


 


Ia tidak menyangka bagaimana orang-orang bisa melakukannya dengan sangat mudah. Menggombal dan mengatakan hal-hal manis kepada gadis yang mereka suka. Eh, tapi tadi dia kan bukan mencoba untuk menggombal. Ia serius. Ah, sudahlah, yang jelas ia amat sangat gugup tadi. Lebih gugup dibandingkan saat ia akan naik di panggung.


 


Ji-Ho berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil. Nara sudah sedang berbincang dengan Park Kyung ketika ia masuk. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ji-Ho sambil memegang setir mobil.


 


"Nothing much. Hanya perkenalan biasa," jawab Park Kyung dari kursi belakang. Nara menganggukkan kepalanya, membenarkan.


 


"Oke, kalau begitu ayo kita berangkat,"


 


"Sokcho we are cominggg!!!" teriak Park Kyung dan Ji-Ho penuh semangat.


 


X-X-X