Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 26 - Dream



"Kau pikir anak itu cuma anakku? Kau juga punya tanggung jawab atas dia!" suara itu menggelegar diiringi dengan suara gelas kaca yang pecah menghantam lantai marmer.


 


Detik selanjutnya, suara lain ikut terdengar, sama menggelegarnya, hanya dari jenis kelamin yang berbeda. Kali ini suara pria paruh baya, "Lalu kau pikir selama ini kau melakukan apa? Kau hanya bersantai di rumah, atau menghabiskan uang diluar sana, atau berpesta pora dengan para brondongmu itu! Setidaknya aku sudah memberikan kalian uang, itu tanggung jawabku!"


 


"Brengs*k!!" wanita yang sebelumnya berbicara memekik kencang. "Dasar brengs*k!! Dasar laki-laki brengs*k!" suara pekikan itu semakin kencang diiringi suara benda-benda yang dilempar\, ada yang menghantam lantai\, ada juga yang menghantam benda lain entah apa.


 


"Diam kau!" suara tamparan keras kini terdengar. "Jaga ucapanmu! Kalau kau masih tau diri, harusnya kesempatan ini kau ambil untuk menjadi ibu yang baik! Harusnya kau yang merawatnya!"


 


"Arrrrgh!!!!" suara teriakan perempuan yang sepertinya tadi ditampar bersahutan dengan suara petir diluar sana. Sangat keras, membuat pelayan di rumah mereka yang berusaha melerai mengambil langkah mundur.


 


Di ruangan lain, ruangan sebelah yang hanya dibatasi pintu dorong kaca buram, seorang gadis kecil menatap bayangan orangtuanya dengan pandangan berkaca-kaca. Air matanya bisa saja jatuh saat ini, tapi mungkin karena sudah sering mendengar pertengkaran seperti itu, produksi air matanya sudah mulai berkurang.


 


Suara petir kembali menggelegar dan pertahanan lutut gadis kecil itu runtuh. Kakinya menekuk lemas dan ia jatuh terduduk di lantai. Ia memeluk lutut dan membenamkan wajahnya. Ia bukan gadis yang kuat. Ia hanya gadis berumur 6 tahun yang takut dengan suara keras, termasuk petir. Tapi, kenapa tidak pernah ada yang menenangkannya? Biasanya, untuk gadis kecil yang memiliki ibu, ibu mereka akan datang memeluk untuk meredam ketakutan gadis kecilnya. Untuk yang memiliki ayah, ayah mereka akan datang membacakan cerita dongeng agar pikiran gadis kecilnya teralihkan. Ia punya keduanya tapi kenapa mereka tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu? Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali orang tuanya mengantarnya tidur.


 


Pintu dorong terbuka, dan pelayan rumah yang sudah cukup tua muncul dari balik pintu itu. Ia buru-buru menutup rapat pintu di belakangnya dan mendatangi gadis kecil itu.


 


"Non...sudah malam. Ayo kita ke kamar saja ya," bujuknya sembari menarik pelan lengan gadis kecil itu.


 


Karena sudah tidak ada tenaga, gadis kecil itu menurut dan membiarkan tangannya dituntun pelayan itu ke kamar.


 


Setelah berbaring di tempat tidur dan diselimuti. Pelayan rumah itu mengelus rambut gadis kecil tadi pelan. "Mbok pulang dulu ya, non," ucapnya lirih. Sebenarnya dia sendiri tidak tega meninggalkan gadis kecil itu dalam keadan seperti ini. Tapi apa daya, dia punya cucu juga di rumah yang harus dia jaga.


 


Karena sudah tau kalau pelayan rumah itu -satu-satunya orang yang baik dan perhatian padanya di rumah ini- memang tidak bisa tinggal, gadis kecil itu hanya mengangguk pasrah.


 


"Besok pagi mbok bakalan kembali lagi. Mbok usahakan deh cepat datang ya,"


 


Lagi-lagi gadis kecil itu hanya mengangguk pasrah tanpa suara. Ia berbalik ke kanan, memunggungi pelayan rumah itu dan menutup matanya. Samar-samar ia bisa mendengar suara langkah kaki menjauh dan suara pintu kamar ditutup pelan. Tak lama kemudian, mungkin karena didukung efek lelah, gadis kecil itu pun tertidur.


 


Pukul 12 malam, bersamaan dentingan 12 kali, petir kembali menggelegar. Mata gadis kecil tadi sontak terbuka dan dilihatnya adalah kegelapan. Ia buru-buru bangkit dari tidurnya. Ketakutan lainnya selain kegelapan adalah suara keras. Karenanya dengan cepat ia turun dari tempat tidur dan meraba-raba ruangan mencari saklar lampu. Setelah menemukannya, ia menekan, tapi tidak ada yang terjadi. Kamarnya masih saja gelap. Ia kembali meraba jalan, menuju nakas kecil di samping tempat tidurnya. Untung saja ia ingat ada senter disana.


 


Dengan bantuan senter tadi, ia keluar kamar, lalu menuruni tangga menuju ke lantai 1 rumahnya.


 


"Ayah..." panggilnya pelan. "Ibu..."


 


Tidak ada yang menyahut. Suara di rumah itu hanya berhiaskan suara hujan dari luar dan suara detak detik jam dinding. Gadis kecil itu mempercepat langkahnya menuju kamar di bawah tangga, kamar ibunya. Ia memutar kenop, tidak seperti biasanya, pintu kamar ibunya tidak terkunci. Ia mengarahkan senter menyinari kamar ibunya. Nihil. Tidak ada orang disana.


 


Tanpa menutup pintu, ia berlari ke arah kamar ayahnya. Hal yang sama terulang. Pintu kamar tidak terkunci dan tidak ada orang di dalam sana.


 


"Ayah...Ibu..." gadis kecil tadi kembali memanggil, kali ini dengan volume suara yang lebih keras. Harapannya, kedua orang tuanya itu masih ada di ruangan lain di rumah ini dan mendengarnya. Namun tidak ada jawaban. Gadis kecil itu memeluk dirinya sendiri dengan satu tangan. Rumah itu terasa semakin dingin dan gelap.


 


"Ayah... Ibu..." masih tidak menyerah, kaki kecilnya melangkah menyusuri setiap sudut ruangan tapi tidak ada jawaban dan tidak ada siapa-siapa.


 


Sampailah ia di ruangan terakhir, ruang kerja ayahnya, tempat orang tuanya tadi bertengkar.Ia mendorong pintu kaca buram dan kembali hawa dingin menyapanya. Ia tau harapannya sudah pupus, tidak ada siapa-siapa juga disana. Tapi ia tetap melangkah masuk. Pelan, air matanya jatuh mengalir di pipi bulatnya. "Ayah... Ibu..." panggilnya dengan suara serak. Saat ini ia berfikir, setidaknya lebih baik mendengar sahutan ketus ibu atau sahutan kasar ayahnya seperti biasanya dibanding mendengar apa-apa seperti ini.


 


Ia melangkah pelan berusaha mendekati jendela yang masih menampakkan hujan, tapi belum sampai di tempat tujuannya, kakinya menginjak sesuatu. Menusuk, menembus daging telapak kakinya. Sakit. Tapi gadis kecil itu tidak mengaduh, apalagi berteriak. Ia mengangkat kaki kirinya dan melihat pecahan kaca menancap disana. Ia mengigiti senternya, duduk di lantai dan menarik pecahan kaca itu keluar. Seketika darah mengalir keluar. Dengan ujung baju tidurnya ia menutupi luka itu.


 


Seandainya luka di hatinya juga bisa ditutupi dengan tepian baju tidurnya, ia akan melakukannya. Tapi sayangnya tidak bisa. Tidak bisa menahannya lagi, dengan sisa tenaganya, ia menangis. Kencang, meraung. Mengalahkan hujan yang hanya tinggal rintik.


 


X-X-X


 


"Nara! Nara!" Ji-Ho mengguncangkan bahu Nara yang masih tertidur. Mata gadis itu terpejam kuat, tapi seperti menahan rasa sakit, alis gadis itu bertaut dan tubuhnya bergerak gelisah. "Nara!" panggil Ji-Ho lagi. "Kau tidak apa-apa? Nara!"


 


 


Melihat Nara seperti itu, Ji-Ho panik. Ia segera menarik Nara dalam pelukannya. "Ada apa, Nara? Apa kau mimpi buruk?" tanya Ji-Ho pelan ketika mendengar gadis itu semakin terisak dengan tubuh berguncang dalam dekapannya. "Tidak apa-apa. Aku ada disini," ucapnya lagi dengan lembut sambil membelai rambut gadis itu.


 


Untuk beberapa saat, Nara menangis dalam pelukan Ji-Ho dan Ji-Ho pun tidak lagi bertanya. Setelah cukup tenang, barulah Nara melepaskan diri dan mengusap sisa-sisa air matanya dengan tangan.


 


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ji-Ho sekali lagi.


 


Nara hanya mengangguk, lalu menunduk sambil memainkan kuku-kuku jarinya di atas pangkuan. Wajahnya sendu dan terlihat sangat lelah. Entah tangis yang menguras tenaganya ataukah mimpi buruk yang dialaminya. Atau mungkin keduanya.


 


Karena melihat Nara tidak baik-baik saja, Ji-Ho meraih pipi gadis itu dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Ada yang ingin kau ceritakan padaku?" Ia memandang lurus mata di hadapannya yang mulai kehilangan cahaya.


 


Alih-alih menjawab, air mata Nara malah kembali jatuh. Entah kenapa ia merasa sesak melihat mata teduh Ji-Ho. Mata itu membuatnya ingin menceritakan masa lalunya. Masa lalu yang ia alami tadi di mimpinya, dan ia alami juga bertahun-tahun lalu di kehidupan nyata. Tidak ada yang tau masa lalu itu selain Zaza. Masa lalu yang membuatnya takut menaruh harapan pada orang lain karena tidak ingin kembali dikecewakan. Masa lalu yang membuat takut memiliki rasa sayang yang lebih besar kepada orang lain karena tidak ingin kecewa saat ditinggalkan.


 


"Kau bisa menceritakannya padaku," satu tangan Ji-Ho bergerak naik membelai rambut Nara, memberi ketenangan.


 


Nara menarik nafas dalam. Mungkin tidak ada salahnya menceritakan hal ini, pikirnya. Jadi ia menunduk, menghindari tatapan Ji-Ho, menggengam tangannya sendiri lalu mulai bercerita. "Saat kecil dulu, aku ditinggalkan oleh orangtuaku."


 


Ia pun membagi kisahnya dengan Ji-Ho. Mimpi yang dialaminya tadi. Pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, sampai malam ia meringkuk sendiri di ruang kerja ayahnya dengan kaki terluka.


 


"Aku tau mereka tidak pernah menginginkan aku. Ibuku adalah seorang artis terkenal sebelum menikah dengan ayah. Dia bilang aku adalah kesalahan terbesar di hidupnya dan bahkan menghancurkan karirnya. Tentu saja dia membenciku. Sedangkan ayah, ayah tidak pernah ingin menikahi ibu, tapi karena ada aku dia terpaksa. Dan kembali semua ini menjadi salahku,"


 


"Tidak bukan salahmu. Itu semua bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu. Bukan keinginanmu untuk lahir di dunia ini dan mereka tidak tau apa yang mereka sia-siakan," kedua tangan Ji-Ho kini berpindah menggenggam erat tangan Nara yang mulai terasa dingin dan basah. "Lalu, kau sampai kapan sendirian di rumah itu?" ia mendesis geram.


 


"Besoknya, mbok Inem, ah tidak...maksudku Inem imo menemukanku di rumah saat dia datang kerja. Dia yang membantuku menghubungi kakek dan nenek di luar kota, kemudian membawaku ke mereka, keluar dari rumah itu,"


 


Ji-Ho terpaku, tidak tau harus berkata apa. Wajah Nara sangat menyiratkan kesedihan dan itu membuat hatinya sakit. Ia tidak tau Nara memiliki masa lalu menyakitkan seperti itu.


 


"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu," kata-kata itu melesat dari bibir Ji-Ho. Bukan hanya karena ingin menenangkan Nara. Ia bersungguh-sungguh.


 


"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu,


 


Nara membalas mata Ji-Ho yang menatapnya lekat. Sejurus kemudian ia tertawa sumbang. Rasanya aneh mendengar kalimat itu. "Jangan berjanji seperti itu. Terakhir kali kakek-ku mengucapkan hal yang sama, ia meninggal karena stroke," guraunya dengan nada datar. Tapi yang dikatakannya adalah fakta.


 


Melihat Ji-Ho yang tiba-tiba kelu. Secercah rasa bersalah muncul di wajahnya yang semakin putih diterpa sinar matahari. Jadi, Nara buru-buru menambahkan, "Jangan berjanji padaku, aku akan kecewa kalau kau ingkar,"


 


"Kalau begitu aku akan berusaha. Aku akan berusaha untuk tidak pernah meninggalkanmu. Bagaimana? Itu lebih baik bukan?"


 


Nara mengulum senyum. "Baiklah, terserah kau saja." Hatinya kecilnya meminta untuk bisa mempercayai Ji-Ho, untuk bisa berharap. Entah bagaimana hasil akhirnya nanti, yang jelas ia bahagia untuk saat ini ada yang ingin berusaha untuk berada di sampingnya.


 


Sudut bibir Ji-Ho tertarik. Lantas, ia bangkit berdiri kemudian mengulurkan tangan. "Ayo, kita jalan-jalan dulu di sekitar taman ini. Udara segar bisa menyegarkan pikiran kita juga," ajaknya.


 


Nara menyambut uluran tangan itu. Uluran tangan yang menghangatkan hatinya dan melelehkan dinginnya masa lalu yang sempat mampir di mimpinya tadi. Tangan yang untuk saat ini ingin ia genggam dan tidak ingin ia lepaskan.


 


X-X-X