
Indonesia. Suatu pagi yang cerah.
Nara menggeliat di tempat tidur, setengah hati mencoba mengumpulkan raganya untuk membuka mata dari tidurnya yang meskipun singkat tapi untung saja cukup lelap. Meskipun setengah raganya masih menolak untuk menurut, namun pada akhirnya kedua matanya terbuka memandang langit-langit kamarnya yang berwarna pink disertai tempelan-tempelan berbentuk bintang.
Tubuhnya kemudian berbalik ke kanan dan tatapannya langsung bertemu dengan pantulan wajahnya di cermin yang diletakkannya di atas nakas samping tempat tidurnya. Dari pantulan tersebut terlihat jelas betapa lelahnya ia. Terjaga hingga jam 3 dini hari hanya untuk menghapalkan anatomi-anatomi tubuh manusia untuk ujiannya hari ini telah menguras seluruh tenaganya dan memberikan efek kantung hitam yang cukup besar di bawah matanya. Ia mengerang kesal melihat penampakannya saat ini.
Setelah menarik-narik dan memijat-mijat lingkaran hitam bawah matanya dengan harapan hal itu akan menghilangkannya, Nara pun menyerah dengan menghembuskan nafas sambil mengayun kakinya menapak lantai, memasang sandal rumahnya, lalu berjalan ke samping rak buku tempat ponselnya sedang mengisi daya. Rutinitas yang sama tiap pagi setelah ia bangun dari tempat tidurnya, Nara mengecek notifikasi-notifikasi yang muncul di ponselnya, mulai dari notifikasi akun chatting, media sosial 1, media sosial 2,, lalu terakhir yang hendak dibukanya adalah akun Emailnya.
Baru saja jarinya akan bergerak menyentuh gambar email di ponselnya ketika sebuah panggilan masuk membuatnya terhenti. Nama Zaza, sahabat sekaligus teman sejurusannya muncul dilayar ponsel.
"Halo?" Nara menekan tombol hijau pada dering ketiga.
"Kau dimana?" tanya Zaza dari ujung telpon dengan suara yang terdengar cemas.
"Rumah. Kenapa?"
"YA!! Kamu tau ga sih sekarang jam berapa?!" teriak Zaza dari seberang sana membuat Nara menjauhkan ponsel dari telinganya. Matanya kemudian melirik ke angka yang tertera kecil di sisi kiri atas layar ponselnya. 07.30!
"Astagaaa! Shoot!! Shoot!! I'm doomed!!" Nara mengumpat dengan panik dan melempar ponselnya ke tempat tidur. Ujiannya hari ini akan mulai tepat 30 menit lagi, dan tentu saja tidak akan ada toleransi bagi yang terlambat.
Dia bergerak dengan cepat, hanya menyikat gigi tanpa mandi, memakai baju dan celana pertama yang diraihnya di dalam lemari, kemudian berlari ke mobilnya untuk segera berangkat ke kampus.
...
2 jam kemudian…
"Kamu itu memang paling jago buat orang lain khawatir," ujar Zaza ke Nara saat ujian mereka telah selesai.
"It was a close call," Nara mendesah pelan lalu memangkukan tangannya di atas meja. Ia hampir saja tidak dapat ikut ujian pagi ini. Ia tiba ketika seluruh temannya sudah duduk di dalam kelas, bersiap untuk menerima ujian. Tapi untung saja kertas ujiannya ternya masih sementara diperbanyak, jadi ia masih diperbolehkan masuk oleh dosennya.
"Kok bisa bangun telat sih? Kamu nonton video 7Seasons lagi ya sampai larut malam?" Zaza menjulurkan telunjuknya ke arah Nara dengan nada bicara menuduh.
"No, I'm not, aku belajar semalaman for your information," Nara memutar bola mata merasa sedikit tersinggung mendengar tuduhan Zaza. Bisa-bisanya sahabatnya itu menganggapnya bersenang-senang menonton video padahal ia belajar sangat keras semalam. Melihat reaksi Nara, Zaza hanya tersenyum kecil sambil menyeruput teh dinginnya.
"Oh, by the way, karena kamu tadi singgung soal 7seasons," Nara mengambil ponselnya dari dalam tas, "Tadi malam aku dapat video Ji-Ho yang kerennnnnn banget lagi nyanyi Eureka !! Kamu harus liat!!" ia berseru semangat dengan tangan kiri memukul-mukul pundak Zaza, sedangkan tangan kanannya menekan-nekan layar ponsel untuk membuka aplikasi Youtube dan mencari video yang ia maksud.
Di sebelahnya, Zaza hanya menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda ia tidak peduli. Sebenarnya ia juga menyukai K-Pop (Korean Pop) ataupun drama Korea sama seperti Nara. Hanya saja ia bukanlah penggemar 7seasons, apalagi Ji-Ho, yang merupakan leader sekaligus rapper dari boyband itu. Cowok itulah yang paling disukai oleh Nara. Menurut Nara, Jiho terlihat sangat kharismatik di panggung tapi sangat menggemaskan ketika muncul di acara-acara televisi. Selain itu, Nara juga sangat menyukai lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Ji-Ho, baik untuk 7seasons maupun untuk karir solonya. Menurutnya Ji-Ho adalah orang yang sangat berbakat dalam mencipta lagu. Terbukti lagu-lagu karyanya sering menempati posisi-posisi teratas tangga lagu korea saat dirilis.
Nara membuka video yang ia maksud dan ketika video itu mulai berjalan, seketika matanya terlihat membesar dan lebih bersinar saking terperangahnya. "Look!! Look!! Oh my god he's damn hot!! Asdfghjkl!!!"
Zaza tertawa melihat reaksi Nara yang menggila hanya karena sebuah video. Bagaimana nanti kalau ia ketemu langsung dengan idolanya itu. "Eh, ngomong-ngomong," sela Zaza berusaha membuat Nara sadar kembali dari kegilaannya, "Pengumuman program pertukaran kamu ke Korea bagaimana? Hari ini kan?"
Nara menepuk jidatnya. "Ahhh!! Iya!!" dengan cepat iya menggerakkan jari jemarinya menutup video yang ditontonnya lalu coba membuka email. "Aku hampir lupa. Eh, aku udah lupa sih, untung kamu ingat," cerocos Nara sambil menunggu titik-titik melingkar dan berputar dengan kata loading berubah menjadi pesan masuk.
Dua minggu lalu ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti sebuah program yang didapatkannya di sebuah website. Program itu adalah sebuah program pertukaran mahasiswa yang menyangkut tentang masalah sosial dan kesehatan dan bertempat di Seoul, ibu kota Korea Selatan. Jadi nantinya mahasiswa-mahasiswa yang diterima dari berbagai negara akan diberangkatkan ke Korea, kemudian mereka akan mengadakan program-program di sekolah-sekolah di Seoul yang bisa membantu memperbaiki dan juga meningkatkan kepedulian pelajar tentang masalah-masalah sosial serta kesehatan yang ada disana. Mereka akan menjalani program itu selama 3 bulan di Korea, dan selama itu mereka akan disediakan akomodasi disana. Tentu saja melihat hal ini, saat itu Nara menjadi sangat tertarik. Tidak ingin mebuang kesempatan yang dianggapnya emas, meskipun harus menunda kuliahnya selama 3 bulan, ia pun segera mendaftar. Dia harus mengisi dan melengkapi beberapa persyaratan sebelumnya, kemudian setelah itu ia menjalani tahap wawancara melalui video call 2 hari yang lalu. Dan hari inilah puncaknya, hari pengumuman hasil mahasiswa yang diterima.
Pesan masuknya telah terbuka dan matanya langsung saja tertuju pada email yang berada di urutan kedua, email dari CSEGroup, promotor dari program pertukaran tersebut. Dengan gugup, Nara menutup mata selama beberapa detik sambil membaca doa singkat, dan detik setelahnya mulutnya menganga lebar melihat deretan kata-kata di layar ponselnya. Ia meninju-ninju lengan Zaza dengan gemas. "Za...za...za..."
"Aw! Sakit tau! Gimana jadinya?" Zaza yang menjadi korban pemukulan mengelus lengannya pelan sambil mendekatkan wajahnya ke ponsel Nara untuk melihat lebih jelas apa yang tertulis.
"Yeay!! Lolos, Za!!!" Nara melompat dari kursinya karena terlalu senang. Saking senangnya, ia bukan hanya melompat, tapi dilanjutkan menari sambil bersenandung. "Korea, I'm cominggggg!!!"
"Selamat, Naraaaa!!" Zaza pun ikut berdiri untuk memberikan pelukan selamat sekaligus juga untuk membuat Nara berhenti menari-nari. "Jadi setelah ini kapan kamu berangkat?"
"25 Agustus kalau yang pernah dikasih tau jadwalnya. Dua bulan dari sekarang!!" teriak Nara senang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
X-X-X