
"Kau masih tertawa?" Ji-Ho menoleh, memandangi gadis yang berjalan di sisinya.
"Iya. Hahaha," jawab Nara singkat kemudian lanjut tertawa kencang, lagi. Dengan jarinya, ia menyeka butir air mata yang muncul di sudut luar matanya akibat terlalu banyak tertawa.
Otaknya berputar mengingat kejadian sebelumnya. Kejadian disaat sebelum mereka berjalan di antara pohon-pohon yang menjulang di taman ini.
Setelah Ji-Ho menjulurkan tangan dan Nara menyambutnya, mereka berdiri berhadapan dalam diam. Hanya saling memandang dengan senyum tersungging. Beberapa saat seperti itu sampai kemudian Ji-Ho menunduk dan memajukan wajahnya. Ia mendekat, berusaha memotong jarak di antara mereka berdua saat tiba-tiba... Pluk!
Kotoran burung jatuh tepat mengenai dahi dan hidung Ji-Ho. Mata mereka berdua sontak membelalak. Ji-Ho menegakkan badan, mengumpat singkat lalu mengangkat wajah dan menunjuki langit, mengomeli burung tadi yang sudah terbang entah kemana. Sedangkan Nara sudah tertawa kencang sembari memegangi perutnya. Bahkan ia tidak menyadari Ji-Ho yang sudah memasang tampang cemberut. Alhasil waktu berjalan-jalan mereka di taman jadi tertunda karena harus membersihkan dulu wajah Ji-Ho di toilet.
Berapa kali pun diingat, kejadian itu membuat perut Nara terkocok. Tawanya begitu saja mengalir keliar meskipun Ji-Ho sudah berkali-kali memperingatkannya untuk berhenti tertawa.
"Astaga, kejadian itu membuat perasaanku jauh lebih baik lagi. Aku bahkan sempat lupa tadi aku bersedih," aku Nara di sisa tawanya.
Ji-Ho akhirnya terkekeh. "Syukurlah kalau kau merasa lebih baik. Aku lebih senang melihatmu tertawa dibandingkan menangis. Air mata tidak cocok untukmu." Ji-Ho meraih tangan Nara dan menggenggamnya sambil terus berjalan.
Pipi Nara merona. Wajahnya mungkin sudah sama panasnya dengan udara kota Seoul siang ini. Tapi dia bahagia. Ia balas menggengam tangan Ji-Ho dan mengayunkannya dengan riang sambil terus mencuri senyum ke arah laki-laki itu.
"Jadi kakekmu sudah meninggal ya?" tanya Ji-Ho, kembali membuka percakapan setelah cukup jauh mereka hanya berjalan sambil saling melempar senyum.
Nara mengangguk. "5 tahun lalu dia meninggal. Kini tinggal aku dan nenekku saja,"
Ji-Ho menyimak. Ia menunggu Nara mengatakan tentang keberadaan orang tuanya, tapi sepertinya gadis itu tidak berniat membahasnya. Ji-Ho pun urung untuk bertanya tentang hal itu. "Lalu nenekmu bagaimana? Sehat?"
"Iya. Terlewat sehat malah," gurau Nara dengan kekehan kecil. "Tau tidak, nenek punya kelompok kecil yang dijalankannya, namanya Klub Pecinta Tanaman. Jadi, orang-orang di kota kami yang ingin sharing pengalaman tentang tanaman dan lain-lainnya banyak yang bergabung di kelompok nenek-ku ini. Dia sangat aktif kan? Bahkan aku yang masih muda begini tidak tergabung dengan kelompok atau klub apa-apa," ceritanya.
"Oh ya?" Ji-Ho tertawa membayangkan sosok nenek di cerita Nara. Lalu ia menoleh dan dengan wajah yang dibuat serius ia berkata, "Apa nenekmu tidak mau bergabung dengan 7Seasons fans klub? Siapa tau dia mau menjadi presiden 7Princess wilayah Indonesia."
Tawa Nara pecah. "Nenek-ku memang 7Princess. Dia berat penggemar In Pyo," terangnya.
"Benarkah?" Kali ini Ji-Ho benar-benar kaget. Ia tidak menyangka nenek Nara benar-benar seorang penggemar. Padahal tadi usulnya hanya bercanda.
"Benar. Nenek bahkan minta aku untuk membawa sesuatu yang ada In Pyo-nya. Dia ingin mug,"
"Mug? Baiklah, aku akan membuat pesanan khusus untuk nenek-mu. Mug itu akan spesial dan tidak ada samanya di dunia ini. Aku akan memajang foto terbaru In Pyo dan bahkan tanda tangannya,"
"Asa! Nenek pasti senang," Nara mengepalkan tangannya dengan semangat.
"Oh iya," Ji-Ho tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku? Bagaimana denganku? Apa nenek-mu juga menyukaiku?" ia mengarahkan jari telunjuk ke dirinya sendiri.
Nara meringis. "Dia tidak begitu menyukaimu. Katanya kau punya mata tajam yang terlihat jahat,"
Rahang Ji-Ho jatuh membuat mulunya terbuka lebar. "What?!"
Nara mengendikan bahu. Yang dikatakannya adalah kebenaran. Neneknya memang tidak begitu menyukai Ji-Ho. Saat mereka menonton pertunjukan 7Season atau acara TV mereka, neneknya selalu berkata Ji-Ho punya mata yang membuatnya seperti orang jahat dan penghianat. Ia tidak menyukai mata itu meskipun berapa kali pun Nara berusaha mengubah pendapat neneknya.
"Woah! Nara, kalau nenek-mu menelpon nanti, katakan padanya betapa baiknya aku," protes Ji-Ho. Ia sampai menahan langkahnya, menarik tangan gadis di genggamannya untuk membuat gadis itu juga berhenti berjalan. "Pokoknya kau harus katakan bagaiman aku sangat berbeda dengan yang ada dalam pikirannya dan katakan juga kau sudah bertemu denganku secara langsung,"
Nara hanya menanggapi dengan tawa.
"Ayolah, kau harus menceritakan padanya hal-hal baik tentangku," rengeknya.
Nara mengibaskan tangan. "Sudahlah, lupakan saja. Tidak apa kalau nenek-ku tidak menyukaimu. Yang penting kan aku menyukaimu,"
"Kau menyukaiku?" senyum Ji-Ho terkulum.
"Iya. Aku kan fansmu," jawab Nara santai lantas melepaskan tangannya dari genggaman Ji-Ho kemudian kembali berjalan, membuat Ji-Ho menyusul di belakangnya dengan senyum sumringah.
Nara berhenti di pagar pembatas taman dengan danau buatan. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar itu dengan kedua tangan sebagai penyangga. Wajahnya mendongak, matanya terpejam, menikmati semilir angin hangat yang sedang menyapa. Rasanya segar disana. Meskipun panas karena memang sedang musimnya, tapi setidaknya anginnya masih bersih, berbeda dengan tempat-tempat lain di Seoul yang padat dengan orang-orang dan aktivitas transportasi.
Di sampingnya, Ji-Ho memandangi tanpa bosan. "Nara," panggilnya pelan. Nara menoleh dan mengangkat alis. "Ada lagi yang ingin kau ceritakan padaku?"
"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Nara balik.
Di sampingnya, Ji-Ho mengendikan bahu. "Entahlah, apa saja. Karena aku tadi sudah tau beberapa hal yang kau sukai, bagaimana kalau sekarang hal-hal yang kau benci atau takuti?"
"Bagaimana kalau aku meberi pilihan lagi?" usul Ji-Ho.
Tapi Nara menggeleng. "Tidak, pilihan untuk sesuatu yang dibenci akan sulit. Biar kusebutkan saja," Nara mengangkat tangannya untuk menghitung. "Aku benci buncis, melon, daging sapi atau ayam yang masih merah, minuman herbal, bau rokok, jalanan macet, kegelapan, susu strawberi, bau formalin, hmm... apalagi ya?" Nara menimang-nimang apalagi hal-hal yang tidak disukainya. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi sepertinya ia harus mengerucutkannya menjadi yang paling tidak disukainya saja. Untuk mengatakan semuanya mungkin butuh seharian. "Aku juga benci suara nyamuk, mengupas apel, jaringan internet yang lambat, menunggu, ditinggalkan, dan keramaian. Mungkin itu," akhirnya ia mengakhiri daftar panjangnya.
"Kau juga benci keramaian?" tanya Ji-Ho. Yang terakhir itu menangkap perhatiannya karena ia pun sama. Selain konser dan jumpa fans, atau syuting acara TV dan pemotretan yang memerlukan banyak staff, ia benci keramaian lainnya. Mungkin juga efek dari ia terlalu banyak menghabiskan waktunya di studio yang sepi. Atau karena jika ia keluar ke tempat ramai, ia takut ada yang mengenalinya, dan bisa-bisa ia diburu fans hingga tidak bisa fokus dengan apa yang ingin dilakukannya.
"Kalau keramaian sebenarnya bukan benci. Aku punya fobia," terang Nara dengan nada santai. Setelah menceritakannya kepada Chul Goo, entah kenapa menceritakannya lagi pada Ji-Ho kini jauh lebih mudah dan santai.
"Fobia?"
"Ya, seperti itulah. Dulu, aku bahkan tidak bisa keluar rumah sama sekali. Aku akan terkena serangan panik. Ramai ataupun tidak, sama saja. Jika bukan di rumah, lama kelamaan aku akan sesak nafas, pusing, bahkan biasanya sampai pingsan. Setelah berobat jauh lebih membaik, aku sudah bisa keluar rumah sendirian. Tapi untuk datang ke tempat yang ramai atau berisik aku belum bisa. Gangguan panikku masih sering muncul di tempat seperti itu," jelas Nara.
Ji-Ho merenung mendengar penjelasan Nara. Ah, apa mungkin karena itu Nara berkata tidak bisa datang ke konsernya? Mungkin hanya alasan saja saat itu dia bilang ada urusan.
"Memangnya dulu, ada masalah apa sampai kau bisa terkena fobia?"
Nara mengatupkan bibirnya rapat. "Masalah? Sepertinya tidak. Datang begitu saja dengan sendirinya," elaknya.
"Begitu ya..." Ji-Ho mengangguk-anggum paham. Lalu ia mengusap-usap dagunya dengan kening berkerut, memikirkan sesuatu. "Kalau begitu..." tak lama kemudian ia berucap. "Mungkin kita memang sudah ditakdirkan bersama ya? Aku yang seorang idol terkenal tidak bisa berada di keramaian karena takut terhadap paparazi dan diserbu penggemar, sedangkan kau tidak bisa di keramaian karena agorafobiamu. Cocok sekali kan?"
Pernyataan Ji-Ho tadi membuat Nara tertawa gemas. Tapi mungkin ada benarnya juga.
"Tapi... bagaimanapun juga, kau harus menyembuhkan fobiamu. Aku ingin melihatmu di deretan penggemar saat aku konser. Kau pasti juga ingin melihat konserku atau konser 7Seasons secara live kan?"
Nara mengangguk. Mau, ia sangat mau. Itu sudah menjadi impiannya sejak dulu. Bahkan menjadi salah satu alasan ia ingin sembuh dari fobianya.
"Aku akan membantumu. Aku akan membantumu terbiasa dengan keramaian," ucap Ji-Ho dengan yakin.
"Caranya?"
"Um...bagaimana kalau nanti kita ke Myeongdong?"
"Myeongdong?"
"Iya. Weekend seperti ini pasti disana akan sangat ramai,"
Wajah Nara terlihat ragu mendengar usul Ji-Ho. Ia pernah melihat video turis-turis yang menghabiskan waktu di Myeongdong dan ia ingat saat itu di otaknya langsung muncul pemikiran bahwa sepertinya ia tidak akan pernah kesana, melihat keramaiannya. Apalagi ini weekend, seperti yang dikatakan Ji-Ho tadi, pasti akan sangat ramai. "Sepertinya bukan ide bagus," gumam Nara.
Tapi Ji-Ho masih tidak menyerah. Ia merasa, salah satu cara menyembuhkan Nara adalah mempertemukan dia dengan ketakutannya untuk membuatnya terbiasa dan mencari celah untuk tidak merasakan panik lagi. "Ayolah, ada aku. Percayalah padaku. Ya?" bujuknya.
Sepersekian menit berfikir, akhirnya Nara menarik nafas panjang dan mengangguk setuju. "Baiklah..."
"Okay!" Ji-Ho mengepalkan tangannya di udara.
Senyum Nara terkembang melihat laki-laki di sampingnya yang begitu bersemangat. Laki-laki itu juga ikut tersenyum. Senyum yang begitu cerah dan hangat. Nara merasa, diantara berbagai macam kesialan yang ia hadapi selama hidupnya, hal ini adalah salah satu keberuntungan yang menyenangkan, bisa mendapatkan senyum itu. Rasanya seperti bermimpi saja.
Dan kalau memang ini adalah mimpi, ia tidak ingin terbangun. "Terima kasih, oppa," kata-kata itu meluncur begitu saja mulut Nara.
Ji-Ho sontak saja menoleh, dengan mata sipitnya membulat sempurna. "Oppa?" ulangnya memastikan.
Nara mengalihkan pandangannya. Pura-pura melihat ke depan, seperti ada sesuatu yang menarik jauh disana.
Tapi Ji-Ho berpindah dari tempatnya. Tubuh tingginya kini berada di depan Nara, menghalangi pandangan gadis itu. Kedua tangannya menahan pundak Nara. "Maksudnya tadi, 'oppa' dalam artian 'sayang' kan? Bukan dalam artian 'kakak'?" Wajah Ji-Ho merah padam saat mengatakannya. Ia malu, tapi ia juga ingin memastikan isi hati Nara.
Pipi Nara juga sudah bersemu. Jawaban dari pertanyaan Ji-Ho hanya keluar seperti cicitan. "I guess..."
Tidak disangka Nara, detik berikutnya, dengan gerakan cepat, Ji-Ho menunduk. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Nara dan mengecup pelan bibir gadis itu.
X-X-X