Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 28 - After Effect



Nara menyentuh puncak bibirnya dengan jemari. Masih terasa hangat. Sial! Sudah berulang kali ia berusaha tidak membayangkan momen itu. Tapi dengan bandelnya, seperti sebuah video rusak, momen itu berkali-kali kembali menghampiri pikirannya tanpa diminta. Sudah berulang kali ia memukul-mukul kepalanya agar bayangan itu hilang, tapi tidak juga berhasil. 'Ciuman pertamanya... Ah, tidak, itu hanya kecupan. Sadarlah, Nara! Sadar!' batinnya memberontak.


 


'Jangan jadi gila hanya karena sebuah kecupan. Ayo, kau harus tenang. Tarik nafas... hembuskan...' Nara kembali berbicara sendiri dalam hati sembari mempraktekkan apa yang diperintahkan oleh pikirannya. Dengan tangan di depan dada, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya ikut naik turun berbarengan dengan nafasnya dan ia melakukannya berkali-kali.


 


'Oke, sekarang mari bermeditasi,' pikirannya kembali memerintahkan. Ia meletakkan kedua tangannya di paha, menutup mata dan mulai mengatur nafas. 'Lupakan saja...lupakan... ciuman pertama... ah, tidak, kecupan pertama... mimipi apa aku mendapatkan ciuman-kecupan- pertama dari Ji-Ho? Berhenti! Berhenti menyebutkan kata itu! Arggggghh! Gadis macam apa yang memikirkan ciuman-kecupan- yang didapatkannya terus menerus? Ainara! Kau bermeditasi untuk melupakan! Hush! Hush!'


 


Nara sibuk dengan pembicaraan dalam pikirannya. Ia bahkan tidak sadar, ternyata Ji-Ho sudah kembali masuk ke dalam mobil dan menyodorkannya minuman.


 


Ji-Ho keheranan melihat Nara yang sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua mata gadis itu terpejam. Tapi, ekspresinya serius, tubuhnya yang duduk tegap, dan kedua alisnya yang bertaut rapat menunjukkan jelas kalau gadis itu sedang berfikir keras.


 


"Nara? Nara?" panggil Ji-Ho. Tapi gadis itu tidak bergeming. Sedetik kemudian, tangan gadis itu terangkat dan menyentuh bibirnya sekilas, tapi dengan cepat berganti menjadi memukul kepalanya. Ji-Ho tertawa tanpa suara.


 


"Ainara!" seru Ji-Ho akhirnya tepat di samping telinga Nara.


 


Nara terlonjak di tempat duduknya. Hampir saja ia melempar cup yang disodorkan Ji-Ho di hadapannya. Untung saja refleks Ji-Ho lebih cepat, menyingkirkan cup itu tepat waktu.


 


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ji-Ho dengan senyum terkulum. Sepertinya ia tau apa yang dipikirkan gadis itu. Ia hanya ingin menggoda. Melihat wajah Nara memerah seperti kepiting rebus membuat rasa jahilnya mengambil alih. Padahal dirinya sendiri juga malu untuk mengatakannya secara langsung. Yang dilakukannya tadi hanya seperti refleks tidak terkendali. Tubuhnya bergerak begitu saja bahkan sebelum ia menyadarinya. Bahkan, di perjalanan dari taman menuju coffee shop, jantungnya tidak berhenti berdetak kencang seperti akan melompat keluar. Baru saat keluar dari mobil dan pergi memesan minuman ia merasakan sedikit lebih tenang.


 


"Tidak," Nara buru-buru menggeleng. "Aku tidak memikirkan apa-apa," suaranya kecil, mencicit.


 


Ji-Ho menyipitkan mata. "Oh ya? Ka..."


 


"Huahhhh!" Nara berteriak kencang, memotong apa yang hendak dikatakan Ji-Ho. Lalu ia menepuk kedua telinga berulang-ulang dan memejamkan mata. "Aaaaaaa!!! Aku tidak akan mendengarkan. Berhenti menggangguku."


 


Ji-Ho terbahak. Padahal ia sama sekali tidak berniat menggoda lebih lanjut. Ia hanya ingin mengatakan 'Kalau begitu ayo kita jalan ke Myeongdong sekarang', tapi Nara sudah duluan berburuk sangka.


 


Ji-Ho menangkap tangan kiri Nara, menahan dan menjauhkannya dari telinga gadis itu. "Apa yang aku ingin katakan tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku tidak akan mengganggumu," ucap Ji-Ho.


 


Nara menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Ji-Ho. Ia mengerjap dengan mata besarnya lalu mengeluarkan cengiran lebar, merasa bersalah. "Ah, benarkah? Mianhe, oppa," kekehnya canggung.


 


 


"Jadi sekarang kita kemana, oppa?" Nara menoleh dan mendapati Ji-Ho sudah menenggelamkan wajahnya di lengan yang bertumpu di atas setir.


 


"Oppa? Oppa?" Nara mendorong bahu Ji-Ho. Takut laki-laki itu kenapa-kenapa karena tidak menanggapi. "Oppa?!" panggilnya lagi.


 


Ji-Ho mendongakkan kepala. Wajahnya terlihat merah padam. Ia menghela nafas panjang dan bergumam dengan pandangan menerawang, "Hhh, aku benar-benar belum terbiasa dengan panggilan itu."


 


Nara tertegun sesaat, tapi kemudian ia tersadar. "Kau seperti ini karena aku memanggilmu 'oppa'?" tanyanya memastikan.


 


Ji-Ho berusaha bersikap tidak acuh. Nara pasti akan menganggapnya konyol karena terlalu berlebihan menanggapi panggilan 'oppa'. Tapi ia memang sesenang itu -dan juga semalu itu-. Dengan ekspresi tidak peduli, Ji-Ho menegapkan badan dan berpura-pura sibuk membereskan barangnya. "Kita...eh, ehm... jalan saja dari sini. Ehm...jalan utama Myeongdong ..ehm.. sudah tidak jauh," jelas Ji-Ho sembari berdehem beberapa kali, menyembunyikan rasa gugupnya.


 


Kali ini giliran Nara yang terbahak. "Astaga, oppa. Lihat, wajahmu bersemu semakin merah saat aku memanggilmu 'oppa'!" serunya sambil menekan pipi Ji-Ho dengan jari telunjuknya. Kali ini ia balas menggoda Ji-Ho.


 


Nara memajukan badannya, mencari wajah Ji-Ho yang sudah berusaha menoleh ke arah jendela menghindari pandangan Nara. "Oppa? Oppa? Oppa?" panggil berkali-kali lalu tertawa karena Ji-Ho tidak menanggapinya.


 


"Ya! Kau juga berhenti menggodaku," perintah Ji-Ho karena Nara sudah mulai memanggilnya sembari menarik bahunya untuk membuatnya menoleh.


 


Nara menyandarkan diri ke punggung kursi dengan sisa-sisa tawanya. "Arasseo... arasseo..."


 


Ia melirik Ji-Ho yang juga sudah menyandarkan diri sambil menghela nafas tanpa suara. "Heol, aku tidak mengerti kenapa laki-laki di Korea sangat lemah dengan panggilan 'oppa'," guraunya membuat Ji-Ho memutar bola mata.


 


"Jadi mau kemana kita sekarang?" tanya Nara sambil menyesap iced americano yang dibelikan Ji-Ho tadi. Segar sekali rasanya di tengah-tengah hawa panas Seoul. Padahal hari sudah petang, dan matahari sudah akan terbenam. Tapi hawa panas masih saja terasa.


 


Ji-Ho memutar badan, mengambil sesuatu di jok belakang. Sebuah topi dan masker berwarna abu-abu kini sudah di tangannya. "Mau ke Myeongdong kan. Kau pakai ini ya. Kita jalan saja dari sini, jalan utama Myeongdong sudah tidak begitu jauh," ia menyodorkannya ke Nara sembari menjelaskan.


 


Nara meraih pemberian Ji-Ho dan langsung memakainya. Tapi dalam hati ia cemas. Saat ia berbalik ke arah Ji-Ho, wajahnya terlihat ragu. "Kau yakin aku bisa melewati jalan utama Myeongdong?"


 


X-X-X