Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 20 - The Truth



Beberapa hari setelahnya. Seoul International School.


 


"Kau sedang chatting dengan siapa?"


 


"Bukan siapa-siapa,"


 


"Benarkah? Atau kau hanya merahasiakannya dariku?"


 


"Tidak,"


 


"Kalau begitu beritahu aku siapa,"


 


"Bukan orang yang penting,"


 


"Baguslah. Kalau begitu tidak ada salahnya kan kalau kau memberitau ku,"


 


"Tapi..."


 


"Kau tidak mau?"


 


"Bukan begitu...tapi...Ugh...oke! Aku akan memberitau-mu...tapi tidak sekarang,"


 


"Apa? Kenapa?"


 


"Kau pasti akan tau juga nanti, tapi tidak sekarang,"


 


"Kenapa?"


 


"Um...karena aku terlalu malas untuk menjelaskan?"


 


"Really? Itu alasanmu?"


 


Chul Goo mendengus sebal ketika Nara tidak menjawab pertanyaan terakhirnya. Gadis itu hanya memandang kosong ke arah tengah gelanggang olahraga yang masih kosong.


 


Mereka akan kembali melakukan presentasi di sekolah, tapi harus menunggu dulu sampai pelajaran jam pertama berakhir. Jadi disinilah mereka, di gelanggang olahraga yang sekaligus menjadi aula sekolah ini, menunggu. Teman-teman Nara yang lain sibuk mengatur presentasi mereka, sementara Nara sendiri duduk di bangku penonton bersama Chul Goo yang sedang menginterogasinya.


 


"Orang itu sama dengan yang pergi bersamamu minggu kemarin ya?" Chul Goo mendekatkan dirinya, merapat ke Nara, berusaha kembali menggali rahasia gadis itu. Nara menghela nafas. Sepertinya Chul Goo memang tidak akan menyerah. "Ayolah, ceritakan padaku. Aku sangat penasaran," kali ini Chul Goo menyenggol-nyenggol bahu Nara dengan bahunya, memohon.


 


Dengan malas Nara mendorong bahu lebar Chul Goo. "Hentikan. Kau benar-benar bertingkah seperti perempuan sekarang,"


 


"Iya memang, tingkahku seperti perempuan. Aku akan berhenti jika kau memberitau-ku," Chul Goo menuntut. Ia benar-benar penasaran dengan 'seseorang' itu. Beberapa hari belakangan, Nara selalu sibuk dengan ponselnya, bertukar pesan, sering tersenyum dan terkekeh sendiri saat memandang ponselnya. Belum lagi, kadang ia tidak ikut bergabung saat teman serumahnya sedang berkumpul dan berbincang di ruang tengah, hanya untuk mengunci dirinya di dalam kamar, entah melakukan apa, atau berkata ingin keluar untuk membeli sesuatu.


 


Chul Goo tau Nara tidak punya pacar di Indonesia dan setiap kali ia bertanya dengan siapa Nara bertukar pesan, gadis itu selalu menjawab Zaza, sahabatnya. Tapi Chul Goo tidak termakan kebohongan itu. Tidak mungkin hanya Zaza jika ia selalu meliat mata Nara yang berbinar senang dan bersemangat saat memandang ponselnya. Seperti gadis yang sedang jatuh cinta.


 


Sampai akhirnya kemarin, tanpa sengaja Chul Goo melihat nama kontak seseorang yang berkirim pesan dengan Nara itu, dan tertulis JH. Saat ia ingin mengecek lebih jauh, Nara datang dan mengambil ponselnya. Karena itulah ia mati penasaran, ingin mengetahui siapa JH itu. Tapi ia juga tidak bisa bilang ke Nara kalau ia melihat pesannya.


 


'Siapa JH? Bagaimana dan dimana mereka bertemu? Apakah Nara sudah mengenal lama laki-laki itu sebelum ia datang ke korea? Apa hubungan mereka? Apakah ia langsung saja membahas dengan frontal tentang JH oppa?' pikir Chul Goo dalam hati.


 


"Baiklah, aku akan memberitau-mu," pasrah Nara akhirnya meskipun masih terdengar ragu-ragu. Ia akhirnya menyerah karena lelah mendengar rengekan Chul Goo sejak tadi malam.


 


Chul Goo melemparkan kepalan tangannya di udara karena merasa menang Nara akhirnya menyerah dan akan mengungkapkan rahasianya. Akhirnya. Ia mendekatkan kepala agar telinganya bisa mendengar lebih jelas.


 


"Kau tau aku penggemar berat Ji-Ho kan?" Nara mulai dengan kata-kata itu. Chul Goo mengangguk cepat agar bisa langsung mendengar inti cerita. Ia sedang tidak mood untuk basa basi.


 


Nara mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan. "Jadi, aku bertemu dengannya minggu lalu. Sejak saat itu ia selalu mengirimiku pesan dan kami menjadi dekat," ia menyelesaikan penjelasannya dengan singkat.


 


Chul Goo mengedipkan mata berulang kali setelah mendengar penjelasan Nara. "Oh, benarkah?" kemudian ia memutar bola matanya. "Kalau begitu kekasihku adalah Taylor Swift. Kami sudah berkencan sejak tahun lalu saat aku berlibur di L.A dan bertemu dengannya disana," sarkasnya dengan suara ketus.


 


Nara mengerang frustasi. Ia tau respon Chul Goo tidak akan jauh berbeda dengan Juno. "Pikir saja semaumu kalau begitu," gumam Nara terdengar kesal sembari berdiri untuk meninggalkan gelanggang.


 


"Tunggu...What the hell? Dia serius?" Chul Goo terpaku dengan mulut menganga dan mata kembali berkedip-kedip tidak percaya.


 


X-X-X


 


Malamnya, Nara yang baru saja akan menarik selimut untuk menutupi badannya yang sudah terbaring di tempat tidur, tersentak kaget saat mendengar suara tawa yang menggelegar dari ruang tengah. Suara tawa itu diyakininya berasal dari Juno, Wang, Gabriel, Anne, serta Chul Goo. Tadi ketika Nara akan masuk kamar, mereka masih menonton film di ruang tengah. Awalnya Nara juga bergabung dengan mereka, tapi saat Juno datang dan membawa berkaleng-kaleng bir dan beberapa botol soju, ia memutuskan untuk masuk kamar dan tidur saja daripada melihat mereka mabuk-mabukan.


 


Nara menggelengkan kepala saat suara tawa kembali menggema, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Mungkin ia harus memasang earphone agar tidurnya tidak terganggu dengan suara tawa itu, pikirnya. Baru saja tangannya akan bergerak meraih earphonenya di laci nakas, ponselnya berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Nara pun beralih meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.


 


Dirinya tertegun saat melihat nama yang tertera di layar. JH? Ji-Ho? Ada apa dia menelepon malam-malam begini? Lamunan Nara terhenti saat dering ke-lima mengembalikannya ke alam sadar. Ia segera menjawab panggilan itu sebelum berdering lebih lama lagi.


 


"Halo?"


 


"Nara, kau sudah menerima kirimanku?" tanya suara di ujung telepon tanpa basa basi.


 


Nara mengerutkan kening bingung. "Kiriman apa?" ia menendang selimut yang menutupi kakinya dan bangkit dari posisi tidur.


 


 


"Tunggu sebentar ya," Nara bangkit menuruni kasur lalu berjalan keluar untuk membuka pintu. Saat melewati ruang tengah, Wang yang melihat Nara berjalan menuju pintu langsung berkomentar, "Itu tamu untukmu ya? Siapa yang datang jam segini?"


 


Nara mengendikan bahu menjawab Wang. "Entahlah. Aku juga tidak yakin,"


 


Kemudian ia meneruskan langkah menuju pintu depan dan melihat Chul Goo sudah berdiri di depan pintu yang terbuka. Tangannya memegang sebuah bingkisan tipis berbentuk persegi panjang seukuran kira-kira 15 x 5 centimeter. Nara semakin mengerutkan keningnya heran.


 


"Ini untukmu," ujar Chul Goo saat mendongak dan menyadari Nara sedang berjalan ke arahnya. "Dari Lee Ji An. Siapa dia?"


 


"Itu nama ibuku, aku mengirim atas namanya untuk menghindari pelanggaran privasi jasa pengirim," Ji-Ho menyahut dari seberang telepon yang masih terhubung, kembali bisa ikut mendengar suara yang ada di sekitar Nara.


 


"Ah..." Nara menjawab sambil mengangguk-angguk mengerti meskipun sebenarnya Ji-Ho tidak bisa melihat gerakan kepalanya.


 


Kemudian Nara merebut bingkisan itu dari tangan Chul Goo sambil mengucapkan 'thank you' tanpa suara, hanya gerakan mulut, lalu berbalik cepat dan setengah berlari menuju kamarnya kembali.


 


Sementara itu Chul Goo hanya terpaku melihat kegesitan Nara. Masih setengah sadar ia memandang bergantian punggung Nara yang bergerak cepat menjauhinya dan tangannya yang sudah tidak memegang bingkisan lagi. Setelahnya ia berdecak kesal merutuki otaknya sendiri yang memunculkan sebuah nama seseorang yang mungkin menjadi pengirim sebenarnya bingkisan itu.


 


Di dalam kamarnya, Nara duduk bersila di samping tempat tidur dengan bahu kanan terangkat menahan ponsel menempel di telinganya dan kedua tangan bergerak menguliti pembungkus bingkisan dari Ji-Ho. "Apa isi bingkisan ini?"


 


"Kau kan sedang membukanya. Tunggu saja sampai kau melihatnya langsung. Tidak akan menjadi surprise kalau aku memberitau-mu sekarang," Ji-Ho terkekeh di seberang telepon, mebuat Nara menyunggingkan senyum di bibirnya. Ah, ingin sekali ia melihat tawa Ji-Ho secara langsung. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, sudah beberapa hari ia tidak melihat Ji-Ho dengan matanya secara langsung, tidak melihat tawa itu secara langung.


 


Pembungkus bingkisan tersebut pun terbuka sempurna dan kini terpampang sebuah kotak seperti kotak dompet. Nara mengangkat penutup kotak itu dan melihat di dalamnya tergolek secarik kertas yang terlihat seperti sebuah tiket. Tulisan di kertas itu semuanya ditulis dalam tulisan hangeul , dan yang bisa ia tangkap hanyalah angka-angka yang menunjukkan tanggal dan jam. 14-7-2018? Sabtu ini? Pukul 16.00?


 


"Itu tiket konser festival kampus. Aku akan mengisi acara disana selama sekitar 15 menit, 5 lagu. Kau datang ya menontonku. Konsernya sabtu ini jam 4 sore di aula universitas Hankook. Mungkin setelahnya kita bisa pergi makan atau berjalan-jalan sebelum aku pergi ke jadwalku selanjutnya," Ji-Ho akhirnya angkat bicara setelah hanya keheningan yang menjalar dari seberang telepon. 80% ia yakin Nara sudah melihat isi bingkisan darinya.


 


Nara yang sedang termenung semakin termenung saat mendengar penjelasan Ji-Ho. Benar dugaannya. Ini adalah tiket konser. Kalau ia datang ke konser, keramaiannya...


 


"Nara?" suara Ji-Ho mengembalikan Nara ke alam sadar. Nara mengerjap sebelum akhirnya berdehem untuk mengendalikan suaranya yang akan mengatakan kebohongan.


 


"Maaf Ji-Ho, sepertinya Sabtu ini aku tidak bisa," elak Nara dengan alasan yang dibuat-buat. Sabtu dan mestinya Minggu semestinya menjadi hari kosongnya, tidak ada aktivitas yang berhubungan dengan program dan sesungguhnya mereka libur.


 


"Oh ya? Bukannya kalian tidak ada kegiatan di akhir pekan?" tebak Ji-Ho dengan nada heran. Dan tebakannya benar. Atau sebenarnya bukan tebakan. Nara pernah mengatakannya pada Ji-Ho sebelumnya, dan ia mengingatnya.


 


Nara kembali tergagap. Otaknya berputar keras berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Aku sudah duluan berjanji akan menemani Lisa berbelanja. Ya, aku akan menemani Lisa berbelanja sabtu ini, Lisa teman programku," ia sampai mengulang alasannya dua kali, berusaha menekankan dan terdengar meyakinkan.


 


Akhirnya terdengar desah kecewa dari bibir Ji-Ho di seberang telepon. "Sayang sekali. Berarti aku harus menjadwalkan kencan lain,"


 


Nada Ji-Ho yang terdengar benar-benar kecewa membuat Nara merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, ia belum bisa mengutarakan alasan sebenarnya pada Ji-Ho. Padahal ia memang sangat ingin bertemu lagi dengan idolanya itu, apalagi melihatnya tampil di atas panggung yang selama ini dilihatnya hanya dari layar televisi, ponsel atau laptop. Seandainya saja bukan saat konser, saat orang-orang akan sangat banyak berkumpul, saat dentuman musik mengalun kencang, dan saat keramaian mengelilinginya. Nara ikut mendesah pelan lalu mengucapkan "Maafkan aku,"


 


"Tidak apa-apa," kini Ji-Ho berusaha membuat suaranya se-ceria mungkin agar Nara tidak merasa bersalah. "Kita bisa mengatur kencan di lain waktu. Ah, aku harus pergi sekarang, sudah waktunya aku berangkat ke tempat pemotretan. Aku akan menghubungimu lagi nanti,"


 


"Baiklah, selamat bekerja. Jangan lupakan perkataanku tentang makan dan tidur,"


 


Pesan Nara membuat Ji-Ho kembali terkekeh. "Ya, aku sudah makan tadi sebelum menelponmu, dan aku akan coba untuk tidur selama perjalanan di mobil. Kalau begitu selamat malam, mimpi indah, atau semoga kau memimpikanku,"


 


Nara mengulum bibir menahan senyumnya. "Ya, selamat malam,"


 


"Aku merindukanmu," Ji-Ho menyempatkan menyebut kata-kata itu sebelum akhirnya benar-benar memutuskan sambungan telepon dan membuat Nara terpaku di tempatnya. Padahal ia diam tidak bergerak, tapi jantungnya bekerja cepat seperti dirinya sedang berlari kencang. Tangannya terangkat memegang pipinya yang memanas. Ah, mungkin hanya akibat ponsel yang menempel tadi, pikirnya berusaha mengalihkan kenyataan hatinya yang sebenarnya.


 


Cukup lama Nara terpaku sampai dua ketukan dari balik daun pintu menyadarkannya. Ia segera bangkit dan berjalan ke arah pintu kamarnya, memutar kenop berwarna emas, dan menarik daun pintu agar terbuka. Dari baliknya terlihat Chul Goo yang berdiri menunggu dengan kedua tangan disisipkan kedalam saku celana. "Kado dari Ji-Ho?" tembaknya cepat dengan alis terangkat penasaran.


 


Nara tidak menjawab. Ia berbalik meninggalkan Chul Goo di depan pintu yang terbuka lalu melangkah malas merapikan bingkisan yang tadi dibukanya. Merasa tidak diacuhkan, Chul Goo memutuskan untuk berjalan masuk dan mendorong pelan pintu di belakangnya. "Jadi kau tidak bercanda saat berkata orang yang kau maksud adalah Ji-Ho?" tanya Chul Goo dengan punggung yang kini sudah bersandar di daun pintu.


 


Nara memutar bola matanya mendengar pertanyaan Chul Goo. Ia sudah duduk di pinggir tempat tidurnya dengan posisi badan menghadap Chul Goo dan kedua tangan melipat di depan dada setelah membereskan bungkisannya. "Aku tidak bercanda,"


 


"Ceritakan padaku," pinta Chul Goo. Dan kali ini Nara tidak menolak. Akhirnya ia menceritakan semuanya pada laki-laki di hadapannya itu, mulai dari saat ia pertama kali bertemu Ji-Ho, sampai kencan mereka di Sokcho. Bahkan ia juga tidak melewatkan pengakuan tiba-tiba Ji-Ho yang berkata suka.


 


Tentu saja Chul Goo terkejut mendengar semua itu. Ia tak hentinya mengucapkan 'Apa?!' dalam bahasa inggris dan korea secara silih berganti di sela-sela cerita Nara. Dahinya tidak berhenti berkerut, dan kerutannya menjadi semakin dalam saat sampai di penghujung cerita. Beberapa saat ia tidak menanggapi dan hanya larut dan pikirannya sendiri sampai akhirnya ia angkat bicara dengan berkata pelan, "Bagaimana kalau tiba-tiba penggemarnya yang lain tau dan tiba-tba kau menjadi pusat perhatian? Kau harus memikirkan serangan panikmu,"


 


Nara menarik nafas panjang sebelum menanggapi perkataan temannya tadi. "Chul Goo-ya, biar aku ingatkan beberapa hal. Pertama, aku tidak resmi berpacaran dengannya. Kedua, aku sendiri masih tidak tau hubungan apa sebenarnya yang kami punya. Dan lagi, aku yakin dia tidak akan pernah membuat hubungan kami terbongkar,"


 


"Tetap saja, kau pikir penggemarnya akan diam melihatmu mendekati idola mereka? Dan bagaimana kau bisa seyakin itu?"


 


Nara tidak langsung menanggapi. Tapi setelah beberapa detik terdiam, ia mengendikan bahu, "Entahlah, tapi aku percaya dia tidak akan seceroboh itu dan membuat skandal. Lagi pula ia bisa saja menyangkal dan berkata kami hanya kenalan biasa kan. Kami memang belum ada hubungan apa-apa," nada bicara Nara terdengar yakin, sama dengan ekspresinya.


 


Hal itu membuat Chul Goo akhirnya pasrah dan hanya bisa menghela nafas panjang. "Baiklah, tapi kalau dia menyakitimu, kau harus segera menghubungiku. Atau kalau kau merasa ada orang mencurigakan yang mengikutimu, hubungi aku juga. Atau kalau tiba-tiba ada penggemarnya yang tau, hubungi aku, aku akan membantumu membungkam mulutnya,"


 


Nara tersenyum dan menganggukkan kepala. "Baiklah, aku mengerti,"


 


x-x-x