Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 6 - Shy Guy



Sementara itu. Masih pagi yang sama. Di suatu salon di kota Seoul.


 


Desahan nafas meluncur dari bibir Ji-Ho saat bunyi pesan masuk berkumandang dari ponselnya. Ia bersyukur mendapati Nara membalas pesannya. Terlebih lagi, balasannya sangat cepat muncul. Setelah Nara menolak tawarannya semalam, awalnya ia jadi ragu untuk mengirim pesan lain setelah mengucapkan selamat malam dan tidur nyenyak. Ia takut Nara benar-benar menolak karena merasa terganggu akan kehadirannya. Bisa saja ternyata Nara sudah punya pacar, dan kemudian merasa risih dengan ajakan kencannya, dan mungkin malah ingin menjauhi Ji-Ho. Tapi ternyata ia terlalu banyak berfikir dan berasumsi. Ia merasa lebih tenang ketika melihat balasan Nara hari ini.


 


Ji-Ho memandang kembali foto dirinya dengan Nara sembari menunggu balasan gadis itu. Senyum terukir di bibirnya melihat senyum lebar Nara.


 


"Ji-Ho-ssi, giliranmu setelah Park Kyung. Dia hampir selesai," lamunan Ji-Ho buyar ketika seorang penata rias menghampirinya dan memintanya untuk bersiap. Ji-Ho menganggukkan kepala mengerti. Kemudian pandangannya tertuju pada Park Kyung yang sedang dirias di meja salon tak jauh darinya.


 


Park Kyung yang menyadari seseorang sedang memperhatikannya, mengangkat wajah. Dari cermin di depannya ia bisa melihat Ji-Ho sedang menatapnya dengan pandangan tajam. Melihat hal itu, Park Kyung hanya tersenyum jahil, membuat Ji-Ho geram.


 


Pikiran Ji-Ho merangkak kembali menuju tadi malam, saat ia sangat ingin menjitak kepala temannya yang jahil itu sekeras-kerasnya. Awalnya ia memang merasa sangat kesal dengan tingkah Park Kyung. Tapi saat ini ia cukup mensyukurinya. Well, 30% bersyukur, 10% masih kesal, dan 60% akan ia tentukan nanti.


...


 


Malam sebelumnya. Apartemen 7Seasons. Kamar Park Kyung dan Ji-Ho.


 


"Ji-Ho-ya, aku membuat ini tadi siang. Ya hanya satu verse sih, tapi kau harus mendengarnya," Park Kyung membuka laptop di kasurnya dengan semangat menggebu-gebu. Membuka folder-folder di dalamnya, lalu memainkan lagu ciptaannya yang ia maksud tadi.


 


Suara jentikan jari Park Kyung juga mulai ikut terdengar, mengikuti ritme dari musiknya. Lagu tersebut sudah hampir selesai ketika ia menyadari Ji-Ho yang sedang duduk di kasur sampingnya tidak memperhatikannya sama sekali. Bahkan sepertinya mendengar lagu tadi pun tidak. Sahabatnya itu hanya memandang ponselnya dalam diam sambil memeluk boneka Hello Kitty kesayangannya. Ji-Ho seperti mematung menatap ponselnya. Bahkan melakukan suatu gerakan kecil pun tidak.


 


"Ji-Ho-ya!" Park Kyung coba memanggil.


 


"Ji-Ho-ya!" panggilan kedua, tidak ada respon.


 


"Ji-Ho-ya!" tetap tidak ada respon.


 


"Ya!!" dengan teriakan emosi yang meledak Kyung akhirnya melempar bantalnya ke kepala Ji-Ho.


 


"Ige mwoya?! Ya! Micheosseo?! Jeugulle?!" Ji-Ho yang terkejut akibat bantal Park Kyung yang menghantam kepalanya mengeluarkan sumpah serapah tanpa sadar.


 


"Apa yang kau lakukan? Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak meresponku. Kau sedang apa sih?" Kyung bangkit dari kasurnya lalu berdiri di area kosong yang membatasi kasurnya dan kasur Ji-Ho. Sebelah alisnya terangkat dengan kedua lengannya terlipat di depan dada, bersiap mengomel seperti wanita tua.


 


Ji-Ho menjadi ciut. Kyung tidak boleh tau apa yang membuatnya melamun tadi, pikirnya. Mata Ji-Ho bergerak menghindari tatapan Kyung, dan dengan mencurigakan ia menurunkan ponselnya. "Tidak ada," elaknya seolah tidak menyembunyikan sesuatu. Kini ponselnya ia letakkan di atas kasur dengan layar menghadap seprai.


 


Tapi Kyung bisa mencium ada sesuatu yang mencurigakan. Percuma ia bersahabat dengan Ji-Ho selama hampir 20 tahun kalau ia tidak bisa melihat keanehan ini. Ia tau Ji-Ho sedang menyembunyikan sesuatu jika ia menutupi ponselnya.


 


Dengan bibir terkatup rapat, Kyung terus memandangi Ji-Ho yang berdehem-dehem sambil mengelus-elus tengkuknya dan masih juga menghindari tatapan Kyung. Semakin mencurigakan.


 


Kyung mengalihkan pandangannya ke ponsel Ji-Ho yang tergeletak di atas kasur, tanpa penjagaan apapun. Kesempatan bagus. Secepat kilat ia meraih ponsel Ji-Ho lalu berlari ke dalam kamar mandi dan mengunci dirinya sebelum Ji-Ho berhasil menangkapnya.


 


"Ya!! Park Kyung!! Buka pintunya!!" Ji-Ho mengedor-ngedor pintu kamar mandi berulang kali dengan sekuat tenaga. Tapi Kyung tidak berniat membuka pintu sampai ia selesai mengecek ponsel Ji-Ho.


 


"Ya!! Park Kyung!! Dasar rubah!! Buka pintunya!! Kau juga tidak akan bisa membuka ponselku, ada passwordnya!! Ya!!!" suara Ji-Ho menjadi lebih kencang. Bahkan tetangga apartemen mereka mungkin juga bisa mendengar kehebohan itu.


 


Pintu yang memisahkan mereka belum terbuka, tapi Ji-Ho bisa mendengar suara cekikan Park Kyung dari dalam sana. Ada sesuatu yang Ji-Ho tidak ketahui, minggu lalu saat mereka dalam perjalanan menuju studio untuk rekaman, Park Kyung mengintip dari kursi di belakang Ji-Ho dan melihat Ji-Ho mengetikkan password pada ponselnya. Karena itulah Park Kyung bisa mengetahui password Ji-Ho.


 


Masih dengan tawa cekikannya Park Kyung bergerak menurunkan penutup kursi toilet lalu duduk diatasnya. Ia mengetikkan password pada layar ponsel dan layarnya pun berganti. Layar ponsel itu kini menampakkan foto Ji-Ho dan seorang gadis pada akun media sosial. Pada bagian lokasi foto tertera Hongik University. Dahi Park Kyung mengkerut bingung. Mereka tidak punya kegiatan di Universitas Hongik sebelumnya. Apa yang Ji-Ho lakukan disana? Dan siapa gadis ini? Ia belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Dan sesungguhnya Ji-Ho tidak pernah menaruh perhatian untuk gadis manapun yang men-tag-nya di media sosial, bahkan penggemarnya sekalipun. Pasti ada sesuatu dengan gadis ini.


 


Dengan rasa penasaran yang mengebu-gebu, Kyung menekan akun gadis itu. @woshiNR? Kedua bola matanya bergulir turun untuk membaca kolom profil dari akun tersebut. NR, University of Indonesia, Medical Student. Travel, books, and fur lover. 7Princess. Park Kyung mendelik. Jadi mungkin namanya berinisial NR, mahasiswa kedokteran dari Indonesia, dan dia memang penggemar grup kami, 7seasons, itulah yang bisa ia tangkap.


 


Setelah itu Park kyung menggulirkan layar ponsel ke bawah untuk melihat foto-foto yang pernah diunggah gadis itu. Tapi sepertinya tidak ada yang spesial selain foto dirinya dengan Ji-Ho yang terakhir diunggahnya. Park Kyung pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


 


"Siapa gadis ini?" Park Kyung memperlihatkan layar ponsel tepat di depan wajah Ji-Ho saat pintu kamar mandi sudah ia buka.


 


Ji-Ho mengerjap sesaat lalu berusaha mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana cara kau membukanya?" tanyanya berusaha berdalih.


 


"Jangan mengalihkan. Siapa gadis ini?"


 


Ji-Ho merebut ponselnya dari tangan Park Kyung. "Cuma penggemar biasa," ucapnya dengan nada seakan tidak begitu peduli.


 


 


"Apa? Siapa bilang..."


 


"Jangan bohong!" potong Park Kyung. "Aku mengenalmu. Kita sudah berteman sejak kecil," ia kembali melipat lengan di depan dada, masih dengan pandangan menyelidik.


 


"Okay fine. Aku memang...memandangi foto itu," aku Ji-Ho akhirnya. "Dia penggemar yang kutemui di Universitas Hongik ketika aku menemani Taewoon hyung  kesana..." Ji-Ho mulai memberi tahu Park Kyung bagaimana ia bertemu gadis itu disana. "Jadi ya sebenarnya memang foto penggemar saja," ia mengakhiri ceritanya. Masih berusaha terlihat setidak peduli mungkin.


 


"Tapi kau menganggapnya manis? Cantik? Kau tertarik?" Park Kyung bertanya tanpa basa-basi lagi ketika Ji-Ho mengakhiri ceritanya. Ji-Ho tidak menjawab. Ia malah membalikkan badan dan berjalan ke kasurnya sambil berdehem-dehem dan mengelus-elus tengkuknya, tanda ia gugup dan sedang berusaha menghindar.


 


"Oh my god, you do!" Park Kyung berteriak heboh ketika melihat sahabatnya itu salah tingkah. "Sebelumnya kau tidak pernah peduli ketika kau di tag oleh sesorang di media sosial manapun. Tapi sekarang kau terus menerus memandangi foto itu!!" masih kegirangan, Park Kyung melompat ke kasur Ji-Ho dan berbaring di sampingnya. Sementara itu Ji-Ho masih juga menutup mulutnya, tidak menanggapi.


 


"Hmm...tapi menurutku sih dia tidak begitu cantik. Ya menurutku standar lah, dan dari yang kulihat dia bukan orang Korea kan? Kenapa bisa kau menyukainya? Ada sangat banyak gadis cantik di Seoul,"


 


Boneka hello kitty Ji-Ho terlempar mengenai wajah Park Kyung. "Michin-nom!" umpatnya dengan wajah gusar.


 


Park Kyung mengangkat boneka Ji-Ho dari wajahnya, melemparnya ke samping kasur, sambil mendengus kesal. "Jadi, siapa nama gadis itu?"


 


"Aku tidak tau," Ji-Ho mengangkat bahu dengan polos. Ia baru tersadar tadi saat memandangi foto itu kalau mereka sesungguhnya belum berkenalan sampai ketika mereka harus berpisah. Bahkan ia baru tau kalau gadis itu berasal dari Indonesia saat melihat profilnya. "Hmm.. Woshi mungkin? Nama akunnya kan WoshiNR," tambahnya.


 


"Kau tertarik padanya tapi kau bahkan tidak tau namanya?! That's so lame! Aigo~," Park Kyung berdecak dan memandang Ji-Ho dengan tatap kasihan. "Lagipula..." ia bangkit dari keadaan berbaring dan duduk bersila tepat di samping Ji-Ho. "Kau ini bodoh ya? Bahkan aku saja sadar kalau 'woshi' di nama akunnya itu adalah bahasa mandarin. Wo shi bla bla bla, yang artinya aku adalah bla bla bla," sebuah toweran mendarat di kepala Ji-Ho.


 


Ji-Ho mendelik kesal, tapi tidak bisa membantah apa-apa. Jadi ia hanya berkata "Oh ya?" dengan polos sambil mengelus bekas toweran Park Kyung.


 


"Lalu, kenapa kau tidak menghubunginya?"


 


"Kau kan tau aku pemalu. Aku benar-benar tidak tau mengambil langkah awal. Kau sendiri tau sudah lama sejak aku terakhir berkencan. Belum lagi, gadis-gadis yang kukencani sebelumnya, mereka yang selalu menghubungiku duluan, bukan aku," memang terdengar seperti pamer, tapi Ji-Ho berkata jujur. Terlebih setelah Ji-Ho menjadi terkenal, semua wanita yang dikenalnya selalu menghubunginya duluan, bahkan mendekatinya duluan. Bahkan beberapa ada yang menyatakan perasaannya duluan.


 


Mendengar Ji-Ho, Park Kyung memutar bola matanya. "That's even lame. Kau ini sudah 25 tahun"


 


Ji-Ho tidak menanggapi. Mereka berdua kembali hanyut dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing. "Berikan ponselmu," Park Kyung kembali angkat bicara selama beberapa lama terdiam.


 


"Untuk apa?" Ji-Ho menjauhkan ponselnya dari jangkauan tangan Park Kyung dengan tatapan curiga.


 


"Bukan apa-apa. Aku cuma ingin melihat fotonya sekali lagi," Park Kyung membuat ekspresinya se-meyakinkan mungkin. Tapi seringaian terbentuk di bibirnya saat Ji-Ho memberikan ponsel tanpa sedikit pun rasa curiga.


 


Foto itu kembali muncul pada layar ponsel saat Park Kyung selesai mengetikkan password. Kemudian ia mengetuk bagian bawah foto dan memilih opsi 'direct message'. "Kau tau..." ia berbicara pelan sambil melanjutkan aksinya. "Media sosial ini..." ia mengetik pesan dengan cepat agar Ji-Ho tidak sadar. "...ada fitur 'direct message'-nya." Selesai.


 


"Mm... aku tau," Ji-Ho mengangguk santai, belum sadar sesuatu telah terjadi. "Tunggu... apa?!" tidak sampai semenit ia pun tersadar, merasa aneh Park Kyung tiba-tiba membahas 'direct message' pada media sosial itu. "Apa yang kau lakukan dengan 'direct message'?"


 


Ji-Ho merampas ponselnya dari tangan Park Kyung. Pada layar ponsel tampak panel 'direct message’ ke akun gadis itu, @woshiNR. Kata-kata 'Hey, whassup?' dengan sebuah emoticon senyum tertera pada balon pesan. Ji-Ho tersentak. Apa-apaan ini? Bisa-bisanya ia percaya Park Kyung tidak akan melakukan sesuatu.


 


Baru saja Ji-Ho mempersiapkan suaranya untuk meneriaki Park Kyung, sebuah balasan muncul. Ia merapatkan kembali mulutnya yang tadi terbuka. Ekspresinya berubah seketika. Kedua ibu jarinya kini sibuk mengurimkan balasan lain dengan senyum lebar di wajahnya.


 


Percakapan ponselnya berlanjut beberapa saat sampai suara ketukan menginterupsi fokusnya pada ponsel. Pintu kamar terbuka dan kepala Jae Hyo, salah satu member grupnya, muncul dari celah pintu. "Ji-Ho-ya, manager kita ingin bicara denganmu," kali ini satu tangannya juga muncul untuk menyerahkan ponsel.


 


"Ada apa?" tanya Ji-Ho sembari beranjak dari kasur dan buru-buru menaruh ponselnya. Ia mengambil ponsel Jae Hyo setelah melihatnya hanya mengendikan bahu, sebagai tanda ia juga tidak tau apa yang terjadi. Mereka berdua pun keluar dari kamar, meninggalkan Park Kyung sendirian di dalam.


 


Ponsel Ji-Ho kembali berdering menandakan ada pesan masuk. Park Kyung meraih ponsel Ji-Ho lalu membuka percakapan Ji-Ho dengan gadis tadi untuk mengeceknya. Ji-Ho mungkin saja terlihat sangat keren dan berwibawa dari luar, tapi ia sangat bodoh untuk urusan berkencan, itulah yang Park Kyung selama ini pikirkan.


 


Sebuah ide telintas di otak Park Kyung untuk membatu Ji-Ho. Ia pun kembali mengetikkan sesuatu pada layar ponsel Ji-Ho, buru-buru, sebelum Ji-Ho kembali masuk ke dalam kamar. Setelah itu ia menaruh kembali ponsel Ji-Ho ke tempat awal ia mengambilnya agar terlihat tidak ada sesuatu yang terjadi.


 


Ji-Ho kembali ke kamarnya setelah menelpon manajer mereka, dan langsung melangkan ke tempat ponselnya berada untuk mengeceknya. Mata sipitnya menjadi 10 kali lebih besar dan mulutnya menganga lebar saat melihat pesan yang terkirim ke Nara. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. 'Nara, bagaimana kalau kita bertemu lagi? How about a date? Should we?' Terkirim.


 


"Ya!!! Park Kyung!!!!"


 


X-X-X