Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 17 - Sokcho



Mobil Ji-Ho --mobil Pak Kyung lebih tepatnya-- akhirnya menepi di pelataran parkir destinasi pertama mereka di Sokcho. Nara masih belum tau tepatnya dimana mereka sekarang. Ketika ia melongokkan kepala berusaha melihat keadaan diluar jendela, tidak ada apa-apa yang bisa dilihatnya selain mobil-mobil lain di sekitar mereka. Ia mengangkat sedikit badannya, berharap dengan melakukan itu ia bisa melihat ada apa di balik deretan-deretan mobil, tapi tetap saja usahanya gagal.


 


"Kita ada dimana?" tanya Nara sambil membuka sabuk pengamannya.


 


"Nanti kau juga akan tau," jawab Ji-Ho. Kemudian sebuah topi baseball mendarat di atas kepala Nara, membuatnya mendongak dan melihat Ji-Ho tersenyum singkat lalu kembali sibuk mematikan mesin dan mengumpulkan barang-barang yang akan dibawanya keluar. "Ayo," ujarnya lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar


 


Nara dan Park Kyung langsung menyusul keluar dari mobil dan mereka bertiga pun berjalan menyusuri pelataran parkir ke tempat apapun itu yang mereka tuju. Secara berangsur-angsur, mobil yang mereka lihat menjadi semakin kurang dan berganti menjadi deretan tenda-tenda yang menjual pernak-pernik oleh-oleh, bermacam-macam topi, kacamata hitam, dan bahkan buah-buahan. Ada juga gedung toko yang memajang beberapa payung pantai dan matras di depan tokonya. Tepat saat itu, Nara langsung saja memiliki gambaran kemana mereka akan pergi.


 


"Kita akan pergi ke pantai?" Nara berhenti berjalan dan mengambil beberapa langkah mundur perlahan-lahan. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar takut. Entahlah kalau 2 laki-laki yang menemaninya itu menyadarinya.


 


Tapi ternyata pertanyaannya tadi tidak butuh jawaban lagi. Ia bisa melihat hamparan pasir putih berkilau tak jauh lagi dari mereka dengan orang-orang yang berlarian, duduk, bersantai, bercakap, bahkan bermain voli pantai di atasnya. Tidak lupa, hamparan air berwarna biru-zamrud dan ombak yang tidak begitu keras menghantam hamparan pasir tadi. Nara merasa mual melihat banyaknya orang disana. Kakinya seperti menempel pada tanah tempat ia berpijak, ia tidak bisa bergerak sedikit pun. Tangannya juga mulai terangkat dan ia meletakkannya di dada, sekaan-akan cara itu bisa membuat degup jantungnya melambat.


 


"Nara? Ada apa?" Ji-Ho baru tersadar kalau Nara tidak lagi mengekor di belakangnya. Ia memutar badan lalu berjalan mendekati Nara yang mematung. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi karena sekarang ia bisa melihat jelas wajah Nara yang memucat.


 


"Bisa tidak kalau kita tidak pergi ke pantai?" tawar Nara hati-hati sembari menunduk menatap ke bawah, menghindari bertatap mata dengan Ji-Ho. Ia takut Ji-Ho bisa membaca kepanikan dari matanya.


 


"Kenapa?"


 


"Aku..." Nara berusaha memikirkan alasan untuk segera menghindar dari pantai, menghindar dari keramaian. Matanya bergerak bergantian menatap Ji-Ho dan tanah di bawahnya. "Um...cuma...aku tidak suka pantai," sambungnya sambil mengangkat bahu berusaha terlihat sesantai mungkin dengan alasannya. Tapi masih saja terdengar canggung karena ia sempat terbata-bata.


 


Ji-Ho membungkukkan badan agar matanya sejajar dengan mata Nara yang lebih pendek darinya. Ia manatap kedua mata yang menghindari tatapannya itu. Tapi Ji-Ho masih bisa melihatnya, kedua mata itu memang memancarkan rasa tidak nyaman dan satu hal yang Ji-Ho tidak inginkan hari ini adalah merusak kencannya. Jadi, jika Nara memang tidak menyukainya, untuk apa mereka ke pantai.


 


Ji-Ho kembali menegakkan badannya dan memandang kejauhan dengan kening berkerut sambil bercakak pinggang. Ia harus segera membawa Nara ke tempat lain di Sokcho, tapi kemana? Mungkin langsung pergi ke kedai makanan laut segar lebih baik.


 


"Maaf, aku tidak tau kau tidak suka pantai. Aku pikir kita bisa menikmati pantai di Sokcho dulu sebelum pergi makan. Tapi tidak apa-apa jika kau ingin langsung pergi makan sekarang tanpa ke pantai," Ji-Ho mengelus tengkuknya. Ekspresinya menunjukkan rasa bersalah.


 


"Tidak, ini bukan salahmu, tolong jangan minta maaf. Kau bahkan tidak tau aku tidak suka pantai, jadi tidak apa-apa. Dan aku sebenarnya juga sangat ingin ke tempat wisata Sokcho sebelum kita makan, tapi bisakah kita ke tempat lain yang tidak se-ramai itu?" Nara mengarahkan telunjuknya ke keramaian di pantai.


 


Kemudian dia menambahkan alasan lain sebelum Ji-Ho sempat merespon. "Aku sedang tidak mood berada di tempat yang ramai hari ini. Selain itu, ada kau dan Park Kyung, jadi sepertinya lebih baik kita ke tempat yang tidak begitu ramai dan menghindari keributan,"


 


"Ah, benar juga. Orang akan dengan mudahnya mengenali wajah terkenalku ini," celetuk Park Kyung yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mereka. Perkataan itu sontak membuat Nara tertawa dan sedikit melupakan kepanikannya tentang keramaian pantai.


 


Ji-Ho menolehkan wajahnya sedikit ke arah Park Kyung dan memberikan sahabatnya itu tatapan tajam untuk tidak menyela waktu pendekatannya dengan Nara. Tapi Park Kyung hanya mengangkat bahu, bersikap tidak peduli.


 


"Aku tau tempat yang bisa kita datangi. Bagaimana kalau danau Yeongnangho? Tempat itu juga salah satu tempat wisata pemandangan alam di Sokcho, dan menurutku akan kurang orang disana pada musim ini. Mereka pasti lebih memilih pantai,"


 


Ji-Ho mengangguk mendengar usul Park Kyung. Bagus juga ide itu. "Aku setuju kalau Nara juga setuju," pandangan Ji-Ho beralih ke Nara dengan tatapan bertanya-tanya apakah ia setuju. Dan Nara mengangguk mengiyakan.


 


Setelah kembali naik mobil dan berkendera sekitar beberapa belas menit, mereka akhirnya sampai di danau Yeongnangho. Dan betul saja, sesuai yang Park Kyung prediksikan, tempat wisata itu sama sekali tidak ramai. Hanya segelintir orang yang ada disana. Dua pasang kekasih berpiknik di pinggir danau, dan sekitar 3 orang terlihat bersepeda mengelilingi danau. Nara menghembuskan nafas melihat semua itu. Kini ia tidak perlu khawatir lagi gangguan paniknya kambuh.


 


Mereka beranjak keluar dari dalam mobil dan seketika Nara bisa merasakan angin hangat menyapu wajahnya. Ia menghirup nafas dalam, menikmati udara yang sangat segar tanpa polusi itu. Di depan mereka terpampang pemandangan danau biru yang terlihat tenang, dikelilingi deretan pohon-pohon dengan daun hijau cerah yang rindang. Sangat cantik dan terasa menentramkan.


 


"Bagainana? Kau menyukainya?" tanya Ji-Ho, sudah berdiri di samping Nara. Gadis itu hanya menjawab dengan senyum lebar di wajahnya, yang membuat Ji-Ho tidak bisa mengalihkan pandangan dan terus memandang sambil ikut tersenyum.


 


Merasa dipandangi, Nara menoleh ke arah Ji-Ho, membuat idolanya itu salah tingkah. "Bagaimana kalau kita bersepeda keliling danau?" tanya Ji-Ho spontan karena malu telah tertangkap basah.


 


"Aku tidak bisa naik sepeda," jawab Nara pelan sembari mengigit bibir bawahnya menahan malu.


 


"Benarkah? Kalau begitu baguslah, kita naik satu sepeda saja, aku akan memboncengmu," Ji-Ho menyeringai lebar, berusaha terlihat tenang padahal dalam hati gugup.


 


Nara mengetuk-ngetukkan kakinya sambil memikirkan tawaran Ji-Ho, sedangkan Ji-Ho dengan gelisahnya menunggu jawaban apa yang Nara berikan. Padahal Ji-Ho bukan sedang menyatakan perasaannya dan meminta Nara untuk menjadi kekasihnya. Tapi kenapa ia sangat gugup? Dan kenapa Nara harus berfikir lama?


 


"Baiklah," akhirnya jawaban Nara terucap. Dan hal itu membuat cengiran Ji-Ho menjadi lebih lebar dari sebelumnya.


 


"Kalau begitu kau harus pergi meminjam sepeda," lagi-lagi Park Kyung menyela. Lebih tepatnya memerintah Ji-Ho.


 


"Kalau begitu kau harus nya membantuku membawa sepeda itu," balas Ji-Ho sambil merangkul bahu Park Kyung yang lebih pendek darinya, kemudian menarik paksa tubuh itu untuk mengikutinya ke tempat meminjam.


 


Tapi dengan cepat Park Kyung melepaskan diri dan bersandar kembali pada pintu mobil. "Tidak mau. Aku malas. Aku akan menunggu disini dengan Nara,"


 


 


"Baiklah!" Ji-Ho mengehela nafas, menyerah, tau dirinya tidak akan menang. Ia memajukan badannya mendekati Park Kyung. "Tapi kumohon ingat, kau jangan bicara yang macam-macam ya," bisiknya memohon. Park Kyung hanya mengangguk dan mengibaskan tangannya mengusir Ji-Ho.


 


"Bagaimana kalau aku saja yang membantumu?" Nara yang sedari tadi diam angkat bicara. Ia menatap Park Kyung dan Ji-Ho bergantian. Keduanya berespon sama, menggelengkan kepala dan mengayunkan tangan mereka dengan cepat.


 


"Tidak usah, aku saja yang pergi. Kau tunggu disini ya," pesan Ji-Ho sambil menepuk bahu Nara pelan. Kemudian ia berjalan mundur sambil melambai lalu berbalik dan mempercepat langkahnya menuju tempat peminjaman.


 


"Jadi, Nara-ssi," Park Kyung memulai pembicaraan setelah Ji-Ho terlihat menjauh.


 


"Ya?"


 


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


 


"Boleh. Oh, dan sebelum kau melanjutkan, bisa tidak memanggilku 'Nara' saja dibandingkan 'Nara-ssi'? Menurutku lebih nyaman seperti itu,"


 


"Oke, baiklah. Jadi, yang ingin kutanyakan itu..." Park Kyung terlihat ragu untuk beberapa saat. Tapi akhirnya ia memantapkan hati dan mengatakan apa yang mengganjal di pikirannya sejak tadi. "Perasaanmu ke Ji-Ho seperti apa? Maksudku...ketika aku mendengar percakapanmu dengannya tadi pagi, aku merasa kau selalu mencoba atau mungkin kau benar-benar ingin membuat Ji-Ho menyadari perasaannya padamu itu salah dan tidak nyata. Kenapa?"


 


Nara tertegun mendengar pertanyaan Park Kyung. Tapi setelah tersadar, bukannya menjawab pertanyaan itu, ia malah memilin-milin ujung bawah kaosnya sambil menunduk. Ia berharap Ji-Ho ada disini dan ia tidak perlu menjawab pertanyaan Park Kyung. Sesungguhnya untuk jawaban pertanyaan itu, ia bukannya tidak bisa menjawab, ia hanya ragu apakah harus mengatakannya atau tidak.


 


"Nara?" panggil Park Kyung untuk memastikan gadis itu tidak tertidur dan segera menjawab pertanyaannya.


 


"Aku...tidak tau bagiamana tepatnya perasaanku pada Ji-Ho," Nara memulai penjelasannya sambil memandang kosong ke depan. "Maksudku, aku memang menyukainya, tapi sebagai artis, sebagai idola. Hanya saja sebagai 'seseorang' aku tidak begitu mengenalnya. Selama ini aku tau seperti apa dia hanya dari interview, acara-acara televisi, tapi apa bisa aku mempercayai itu? Aku memang menyukai karakter yang selalu Ji-Ho tampilkan di semua acara yang kulihat itu, tapi apakah semua itu diri Ji-Ho yang sebernarnya? Apa bisa aku menyimpulkan kalau aku menyukainya bahkan mencintainya hanya dari semua itu? Aku tidak akan pernah tau kan? Kecuali kalau aku bertemu dan mengenalnya secara langsung. Dan itulah yang kulakukan sekarang," Nara berhenti sesaat untuk mengatur nafasnya.


 


Sementara itu di sampingnya Park Kyung hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mulut sedikit pun dan tidak mencoba untuk memotong pengakuan Nara, hanya menjadi pendengar yang baik.


 


"Dan bukannya aku mencoba membuat Ji-Ho menyadari dan merasa perasaannya padaku itu salah dan tidak nyata, tapi aku sendiri masih merasa ragu. Kenapa dia menyukaiku? Kenapa aku? Bahkan di sekitarnya sangat banyak wanita. Idola-idola perempuan. Artis-artis cantik. Tapi kenapa tiba-tiba aku? Orang yang selama ini hanya bisa kutemui di dalam mimpi tiba-tiba berkata ia menyukaiku. Apa kau bisa percaya? Kami hanya pernah bertemu sekali dan sisanya hanya dari percakapan teks, apa mungkin perasaanya itu muncul secepat itu? Apa perasaanya tulus?" lagi-lagi Nara mengambil jeda. Kali ini ia menghela nafas sebelum melanjutkan. "Aku hanya tidak ingin menyakiti diriku sendiri. Aku tidak ingin terbang terlalu tinggi dan ketika sadar semuanya hanya delusi, harus jatuh terhempas. Aku tidak ingin nanti baru tersadar kalau orang itu tidak benar-benar menyukaiku, orang itu tidak benar-benar menyayangiku, dan semua ini hanya permainan perasaan. Aku tidak ingin perasaanku dipermainkan," Nara mengangkat wajahnya, menengadah membelakangi posisi Park Kyung berdiri. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha melawan air matanya terbentuk lebih banyak, atau lebih buruknya lagi jatuh.


 


"Ji-Ho itu..." Park Kyung akhirnya angkat bicara setelah melirik Nara yang mengalihkan pandangannya dan tidak berkata-kata lagi. "Dia orang yang sangat pemalu. Bukan pemalu dalam artian tidak bisa tampil di depan umum atau semacamnya, tapi dia sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Bahkan kami anggota grupnya pun kadang tidak tau apa isi perasaannya, kami hanya tau saat ia sedang marah atau kesal," kini Nara kembali menoleh memandang Park Kyung yang bergerak maju beberapa ke depan dari tempatnya berdiri sambil kedua tangan dimasukkan ke saku celana.


 


"Dulu, saat kami masih SMA, dia pernah menyukai seseorang. Dia adik kelas kami. Ji-Ho menyukainya sejak gadis itu tidak sengaja menemukan anjing Ji-Ho yang hilang. Ah, nama gadis itu Hye Jung. Ya, mereka bahkan tidak pernah bicara sebelumnya dan hanya bertemu pertama kali pada saat itu, tapi Ji-Ho sangat menyukainya. Tiap hari dia hanya mengagumi Hye Jung dari jauh sampai aku akhirnya turun tangan dan membantunya mendekati Hye Jung,"


 


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Nara dengan sini. Aneh, entah kenapa mendengar itu ia merasa sangat cemburu. Dan hal itu terdengar jelas dari caranya bicara, membuat Park Kyung tersenyum tipis.


 


"Ya pada akhirnya mereka resmi berpacaran. Semua orang sangat iri melihat kedekatan mereka. Mereka seperti match made from heaven. Tapi sayangnya, mereka harus berpisah karena Ji-Ho harus melanjutkan sekolahnya di Jepang. Tapi Hye Jung lah yang memutuskan Ji-Ho, karena ia tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh. Bahkan sepulangnya ia dari Jepang, ia masih mencari Hye Jung, yang sayangnya juga sudah pindah ke Busan. Cukup lama sampai Ji-Ho bisa berhenti memikirkan mantan kekasihnya itu. Kira-kira barulah saat kami sangat sibuk akan memulai debut ia berangsur-angsur melupakan Hye Jung."


 


Nara kelihatannya tenang mendengarkan, namun dalam hati, tangannya sangat gatal ingin segera mengambil ponsel dan mencari tau seperti apa gadis dari masa lalu Ji-Ho itu. Ia sangat ingin melihat wajah Hye Jung, seperti apa orangnya, dengan mencari ke sosial-sosial media.


 


Park Kyung melanjutkan. "Tapi hal yang ingin aku sampaikan adalah.Ji-Ho tidak pernah main-main dengan perasaannya. Ia bukan tipe laki-laki yang mengejar seseorang hanya karena ingin bermain-main sesaat atau tidak benar-benar menyukainya. Ketika ia menyukai seseorang, meskipun dia akan terlihat sangat canggung dan tidak berani menunjukkan perasannya pada awalnya, tapi setelah perasaannya terungkap ia akan berusaha keras menunjukkan rasa sukanya dan lebih jujur dengan perasaannya. Dan menurutku, perasaannya padamu itu serius,"


 


Kata-kata terakhir Park Kyung membuat Nara sesak. Entah karena kupu-kupu yang berterbangan di perutnya menabrak diafragmanya, atau karena jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang.


 


"Terima kasih, Park Kyung-ssi," ucap Nara akhirnya setelah merasa sedikit tenang. Tepat saat itu, ia melihat Ji-Ho berjalan ke arah mereka dengan 2 sepeda masing-masing di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Buru-buru Nara melangkah meninggalkan Park Kyung untuk membantu Ji-Ho yang terlihat kewalahan.


 


"Terima kasih," Ji-Ho hanya mengucapkan kata itu, tapi masih tetap tidak membiarkan Nara membantunya. Ia berhenti berjalan dan menurunkan standar sepeda di sisi kirinya. "Ya! Kyung-ah, kemari dan ambil sepedamu!" teriak Ji-Ho ke arah Park Kyung.


 


Park Kyung berjalan malas mendekati kedua sejoli itu lalu mengambil sepeda di sisi kanan Ji-Ho. "Kalian berdua silakan pergi bersama, jangan mengikutiku," kemudian ia melompat menaiki sepeda dan mulai mengayuh untuk pergi berkeliling sendirian.


 


Ji-Ho mendengus geli melihat tingkah percaya diri Park Kyung. 'Siapa juga yang ingin mengikutinya?' batin Ji-Ho lalu ikut melompat naik ke atas sepedanya. Kemudian ia menoleh ke arah Nara dan menepuk-nepuk kursi belakang.


 


Nara tersenyum sebelum akhirnya naik dengan posisi duduk menyamping karena dirinya menggunakan rok. Setelah itu ia menjadi bingung sendiri, berpegangan pada Ji-Ho atau tidak? Ia takut terjatuh karena posisinya yang beresiko untuk jatuh, tapi ia juga malu untuk menyentuh Ji-Ho.


 


"Berpeganganlah . Aku tidak mau kau terjatuh karena aku," seperti bisa membaca pikiran Nara, Ji-Ho berkata seperti itu. Jadi Nara pelan-pelan mencubit sweater Ji-Ho dan menjadikannya pegangan. Merasakan hal itu, Ji-Ho kembali berkomentar. "Kau akan membuat kita berdua terjatug jika seperti itu," kemudian Ji-Ho meraih tangan Nara di belakangnya dan membuat tangan itu melingkari pinggangnya.


 


Tingkah Ji-Ho itu bukan hanya membuat wajah Nara memerah, tapi wajahnya sendiri pun ikut memerah. Ia menarik nafas pelan, menenangkan diri lalu berkata, "Ready?"


 


Nara mengangguk sembari menggerakkan tangannya yang satu lagi untuk ikut melingkari pinggang Ji-Ho, memeluknya. Setelah itu Ji-Ho menginjak pedalnya, menjalankan sepedanya berkeliling danau dan menikmati pemandangan danau Yeongnangho.