
1 jam kemudian.
Mereka telah duduk di salah satu kedai makanan laut Sokcho. Ji-Ho masih tidak bisa berhenti tersenyum senang, sedangkan panas wajah Nara masih belum mendingin. Ini pertama kalinya Nara dibonceng sepeda oleh seseorang, dan pada realitanya, ia baru saja memeluk Ji-Ho, idolanya, selama hampir 45 menit. Bertemu dengan Ji-Ho saja sudah seperti cerita dongeng, dan hari ini ia bahkan memeluknya. Apa ini cuma mimpi? Nara mencubit pahanya, tapi ia masih mendesis merasakan sakit, jadi ini bukan mimpi.
"Apa kita akan memesan sesuatu atau hanya duduk diam disini?" Park Kyung akhirnya angkat bicara dengan nada sarkatis setelah melihat dua orang yang menemaninya masih diam.
Ji-Ho jadi gelagapan. "Ah, iya, kau, ehm, benar," kemudian ia berdehem pelan sebelum memanggil ibu pelayan. "Imo~ jeogi~ " ia melambaikan tangan di udara.
Seorang ibu pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Setelah menunggu kurang lebih 30menit diselingi bercakap-cakap, pesanan mereka pun datang. Di meja akhirnya tersedia masing-masing semangkuk nasi, seporsi salmon mentah segar, seporsi sup makanan laut, seporsi gurita pedas, dan seporsi ikan kakap mentah.
"Maaf, saya lupa mengeluarkan ini," ibu pelayan tadi kembali datang dengan membawa sepiring penuh gurita. Mentah. Sudah dipotong menjadi potongan-potongan kecil, namun masih bergerak dan menggeliat di atas piring.
Nara tidak bisa mengalihkan pandangannya dengan setengah melotot dari saat piring itu masih di tangan ibu pelayan hingga piring itu mendarat di meja mereka. Mulutnya kini sedikit terbuka, masih merasa takjub.
"Kau belum pernah mencoba ini sebelumnya?" Park Kyung yang duduk di hadapan Nara bisa melihat jelas ekspresi gadis itu yang setengah kaget dan setengah takjub.
Nara menggelengkan kepala. "Aku pernah melihat di TV sebelumnya, tapi belum pernah mencoba,"
Park Kyung mengambil sepasang sumpit pada kotak yang disediakan di atas meja. "Kalau begitu kau harus mencobanya. Akan terasa bergerak di dalam mulutmu," ia mengambil satu potongan gurita yang bergerak dengan sumpitnya lalu mengangkatnya mendekati bibir Nara yang tertutup, bermaksud menyuapkannya. "Aaaaaa..."
"Ya! Mwohaneun geoya?” teriak Ji-Ho dengan bahasa korea, lagi-lagi cemburu ketika melihat tingkah Park Kyung.
"Mwo ?? Mwo?? Mwo??”
"Jugeullae? "
"Wae? Neo jigeum jiltu haneun geoya?"
"O! Neomu! Bi-kyeo!"
"Sagaji! "
"MWO? Michin nom!"
"Jal meoggesseubnida~ Geumanhaeyo, ne? " buru-buru Nara berkata seperti itu untuk menghentikan perdebatan Ji-Ho dan Park Kyung. Ia mengusap tengkuknya yang kelelahan karena bergerak ke kiri dan kanan menatap 2 orang itu bergantian. Meskipun ia tidak begitu fasih berbahasa Korea, ia tau kalau mereka berdua sedang melemparkan kata-kata sumpah serapah terhadap satu sama lain. Saat ia menonton drama, kata-kata itu sering muncul.
Kedua laki-laki di hadapannya kini menatap Nara dengan wajah melongo, membuat gadis itu menjadi kikuk. Ia mengambil sepotong gurita yang menggeliat dengan sumpitnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Namun setelah kunyahan pertama, ia mengambil tissue dan membuang isi mulutnya karena rasanya yang aneh dan gurita itu masih terasa bergerak di mulutnya. Belum lagi ada sensasi lengket dan jadinya sulit untuk dikunyah. Nara tidak menyukainya.
"Hangugmal haseyo? " rahang Park Kyung jatuh membuat mulutnya sedikit menganga saat ia menyadari kalau gadis yang duduk di hadapannya itu bisa berbahasa korea.
Di sisi lain, Ji-Ho meringis sambil menepuk pelan dahinya. Ia benar-benar lupa kalau sebenarnya Nara bisa mengerti sedikit bahasa korea, ketika mereka pertama bertemu dan ia berbicara dengan wanita yang ketumpahan susu di bajunya, ia kan bicara dengan bahasa korea. Kini ia merasa salah sudah berbicara seperti itu dengan Park Kyung.
"Jogeum, " Nara mendekatkan ibu jari serta jari telunjuknya, menyisakan sedikit cela di antaranya.
"Maafkan bahasa kami," ujar Ji-Ho buru-buru.
"Kau tau kan kami berdua sudah berteman sejak lama, jadi kami tidak begitu memperhatikan kata-kata kami lagi. Karena meskipun kami saling bersumpah serapah kami tau dalam hati kalau kami saling menyayangi satu sama lain," tambah Park Kyung. Mendengar itu Ji-Ho membuat gaya seperti muntah dan menggelengkan kepala sambil matanya berkedip-kedip jijik.
Nara tertawa melihat tingkah 2 sahabat itu, namun tidak lama, karena Park Kyung tiba-tiba menyela. "Jadi, kau sadar tidak kalau tadi Ji-Ho cemburu?" Park Kyung memiringkan kepala dan melemparkan seringaian ke arah Ji-Ho.
"Ahahaha...Jal meoggeosseubnida," dengan canggung Nara mengambil salmon mentah dan memakannya untuk menghindari pertanyaan Park Kyung. "Umm...ini enak sekali," ia menggerakkan pinggul dan kepalanya dengan gembira. Salmon itu seperti meleleh di dalam mulutnya dan ia bisa merasakan kesegarannya dengan rasa manis dari salmon dan rasa asin dari soysauce.
"Baguslah kalau kau menyukainya," reaksi Nara membuat Ji-Ho tertawa kecil. Menurutnya reaksi itu sangat imut.
"Umm... ih hilli huut, i loh it (it's really good, I love it)" Nara kembali mengoceh sambil mengunyah nasi dan ikan kakap yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Ia kembali bersenandung senang. Dirinya memang sangat menyukai makanan laut, meskipun mentah --well, kecuali gurita mentah--. Ia tidak bisa berhenti menyuapkan makanan-makanan itu ke dalam mulutnya.
Ji-Ho menumpukan sikunya ke atas meja dan menopang pipinya dengan telapak tangan sementara matanya terpaku ke arah Nara. Kedua bola matanya itu seperti bersinar cerah saat mengikuti setiap gerakan yang Nara buat. Jika kebiasaan makan yang buruk yang Nara katakan tadi pagi adalah seperti ini, ia tentunya tidak akan keberatan, karena menurutnya semua itu terlihat menggemaskan.
"Jadi besok kau akan kembali sibuk?" tanya Ji-Ho, masih tersenyum dengan mata yang tidak sedikit pun teralih.
"Aku? Yahh mungkin...tapi aku bertaruh tidak akan sesibuk dirimu," Nara menyeringai.
"Well, minggu ini kami sudah selesai mempromosikan album baru,"
"Jadi kau tidak ada pekerjaan lain?"
"Tidak juga, kami masih punya tawaran iklan dan tawaran acara TV, dan untukku seperti biasa, membuat lagu baru," jelas Ji-Ho yang disambut Nara dengan anggukan.
"Kau pasti sudah tau kan kalau dia ini workaholic. He's a gold digger," sela Park Kyung. Ji-Ho menghela nafas mendengar hal itu. Ia bahkan tidak bisa menyangkal. Dunianya selalu berputar pada pekerjaan. Seluruh waktunya, bahkan waktu luangnya ia gunakan untuk bekerja. Sejujurnya ia tidak perlu khawatir karena ia memang tidak punya siapa-siapa ymuntuk menghabiskan waktunya selain anggota grup dan keluarganya. Tapi kini ada Nara, meskipun mereka bukanlah sepasang kekasih atau sebagainya, ia sangat ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadis itu dan lebih mengenalnya. Jadi ia khawatir jika suatu saat ia harus memilih antara Nara atau pekerjaannya.
"Itu karena Ji-Ho bekerja dengan passion-nya. Aku sangat iri," komentar Nara dengan menampilkan wajah sedih yang dibuat-dibuat.
"Iya, aku juga iri. Iri pada uang yang dihasilkannya," dengan bercanda Park Kyung menyatakan hal itu sambil menekankan kata uang. Dan mereka bertiga pun tertawa bersamaan.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini sebenarnya? Maksudku di Korea," tanya Park Kyung setelah mereka berhenti tertawa.
Nara pun mulai bercerita tentang program pertukarannya dan kegiatan-kegiatan apa yang mereka lakukan di Korea. Park Kyung mengangguk sekali dua kali saat mendengarkan, sementara itu Ji-Ho hanya ikut mendengarkan dalam diam karena ia sudah pernah menanyakannya.
"Jadi berapa lama kau akan tinggal disini?"
"Sekitar 3 bulan, tapi mungkin aku akan memperpanjang tinggalku untuk berjalan-jalan sekitar 2 minggu,"
"Jadi kau hanya akan tinggal selama 3 setengah bulan?" selagi memastikan, Park Kyung memandang Ji-Ho dengan tatapan bertanya apakah ia tau soal ini. Ji-Ho yang sadar sedang ditatap menghentikan gerakan sumpit memasuki mulutnya.
Ji-Ho berbalik dan mengangguk ke arah Park Kyung, bisa membaca pikiran sahabatnya itu. Park Kyung kembali melemparkan tatapan 'Kau gila ya?' pada Ji-Ho. Tapi Ji-Ho hanya membalas dengan mengangkat bahu sebagai tanda ia tidak begitu peduli.
Park Kyung menghela nafas frustasi. Ia tidak tau kalau Nara hanya akan tinggal dalam waktu sesingkat itu di Korea. Park Kyung benar-benar mengakui sekarang kalau Ji-Ho bisa sangat gila jika sedang jatuh cinta. Rasanya ia ingin menampar pipi Ji-Ho untuk membuatnya sadar. Apa yang sahabatnya itu pikirkan? Apa yang sahabatnya itu harapkan? Nada hanya akan tinggal selama 3 bilan lebih dan setelah Nara kembali ke Indonesia lalu bagaimana? Jika Nara nanti akan membalas perasaanya, lalu mereka berpacaran, lalu apa mereka akan putus lagi karena jarak? Ini sama saja seperti kembali ke kasus Hye Jung dulu. Bertahan dalam hubungan jarak jauh saja sudah sulit, apalagi dengan jarak yang sangat jauh ini, Korea dan Indonesia! 3280.8 kilometer jauhnya!
"Ada apa?" Nara menatap Ji-Ho dan Park Kyung bergantian, merasa ada yang janggal.
Tapi, ketika salah satu dari mereka akan menjawab, suara panggilan masuk dari ponsel Nara menyela.
X-X-X