
Bus yang ditumpangi Nara melaju membelah gelapnya malam kota Seoul. Dengan earphone yang terpasang di telinga dan musik yang mengalun melalui benda itu, Nara memusatkan pandangannya keluar jendela. Ia bukan sedang menikmati pemandangan diluar jendela itu, bukan juga sedang meneliti jalanan-jalanan kota Seoul yang sedang dilewatinya. Pikirannya masih melanglang buana ke kejadian tak terduga sore tadi. Otaknya masih memutar-mutar ulang setiap detik kejadian itu, membuatnya kembali mengingat orang tak terduga yang tadi ia temui, mengingat gerak-geriknya, kata-katanya, dan tentu saja, yang paling berkesan, senyumnya. Memikirkannya lagi membuat senyum tipis kembali terulas di bibir Nara.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" sebuah suara menyela pikiran-pikiran indahnya saat ini.
Nara terlonjak dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke orang yang menegurnya tadi, orang yang duduk di kursi di sampingnya. Ya, ia tidak sendiri. Chul Goo menemaninya pulang dengan bus.
Seusai acara penyambutan mereka tadi, para panitia dan peserta memutuskan untuk melanjutkan acara di kedai ayam goreng. Awalnya Nara senang karena sesungguhnya ia sangat suka ayam goreng ala korea, tapi setelah beberapa saat disana ia menjadi risih juga. Hampir semua orang yang ikut meminum bir, bahkan mereka lebih banyak menghabiskan bir mereka dibandingkan ayam goreng. Beberapa dari mereka juga sudah terdengar mabuk setelah menghabiskan beberapa gelas bir. Nara sendiri bukanlah tipe yang suka minuman beralkohol, karena itulah ia risih berada diantara mereka.
Belum lagi, merasa tidak cukup di kedai ayam goreng, para rombongan itu akhirnya memutuskan untuk melakukan ronde kedua di kedai barbecue. Bisa dipastikan disana nanti mereka hanya akan meminum soju atau minuman alkohol lainnya. Tapi dengan alasan lelah dan tidak enak badan, Nara berhasil meloloskan diri dari ronde kedua itu dan memilih pulang.
Awalnya Chul Goo menawarkan diri untuk mengantarkan Nara dengan mobilnya. Tapi, karena ia juga sempat meminum bir, ia tidak bisa menyetir dengan adanya kadar alkohol dalam tubuhnya. Meskipun tidak mabuk, ia tetap bisa ditilang polisi jika darahnya memiliki kadar alkohol. Para polisi juga sangat gencar melakukan pemeriksaan di beberapa jalan besar, karena itulah Chul Goo takut mengambil resiko. Alhasil, Chul Goo memutuskan untuk mengantar Nara dengan bus dengan alasan takut Nara akan nyasar kalau sendirian.
"Hah?" Nara kembali bertanya karena tidak begitu mendengar pertanyaan Chul Goo tadi.
"Kau tidak apa-apa? Apa perutmu sakit lagi?" suara Chul Goo terdengar setengah cemas, setengah seperti berusaha menahan tawa.
Nara mengerutkan kening bingung. "Hah?" lagi-lagi ia tidak mengerti apa yang Chul Goo yang maksud.
"Kau tidak perlu turun untuk ke toilet kan?"
Mendengar itu pikiran Nara pun kembali terhubung ke kejadian sore tadi.
...
"Ji-Ho??" Nara tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Ia mengambil dua langkah mundur, merasa sosok di depannya mungkin hanya ilusi. Dan mungkin ilusi itu akan hilang jika ia mendekat.
Lelaki itu mendongak sehingga tatapannya bertemu dengan Nara. "Oh, annyeonghaseyo," ia membungkuk sopan menyapa Nara.
"Annyeonghaseyo," Nara sontak membalas dengan ikut membungkuk 90 derajat.
"Um..." jari telunjuknya bergerak menunjuk Nara dan bibirnya bergerak hendak mengatakan sesuatu, namun ia mengambil waktu sejenak untuk berfikir sambil mengelus-elus tengkuknya sebelum akhirnya melanjutkan, "Kau gadis yang tadi menyanyi di aula kan?" tanyanya dengan bahasa inggris yang fasih.
Mulut Nara ternganga. Selama 5 tahun menjadi fans, baru kali ini ia tau kalau Ji-Ho bisa berbahasa inggris.
"Ah...iya...itu..." Nara tergagap menyadari Ji-Ho masih menatapnya menunggu balasan sambil tersenyum. "Um...iya benar, kau melihatnya?" Nara merasakan kegugupan manghampiri dirinya. Sebagian karena ia merasa terhipnotis melihat senyum Ji-Ho, dan sebagian lagi karena ia terkejut Ji-Ho ternyata menyaksikan penampilannya.
Ji-Ho tertawa kecil sebelum menjawab. "Iya, aku tidak sengaja melintas tadi saat kau sedang tampil. Karena penasaran kuputuskan untuk singgah menonton. Ah, aku sedang menemani kakakku, ia ada urusan di kampus ini," jelasnya singkat.
Nara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Harus bilang apa ia sekarang? Harus menanggapi apa? Masa hanya mengangguk atau berkata oh? Rasa gugup membuat otaknya buntu dan ia jadi bingung harus merespon apa. "Ohh...begitu ya...ohh...karena itu..." akhirnya hanya itulah yang ia katakan sambil tergagap.
"Dan ngomong-ngomong penampilanmu tadi bagus. It's really cool, thumbs up!" seperti bisa merasakan derita Nara, akhirnya Ji-Ho memotong dan langsung memberikan pujian dengan kedua ibu jarinya bergerak naik.
"Ah, terima kasih Ji-Ho-ssi!" balasan Nara terdengar canggung, belum lagi ia malah kembali membungkuk 90 derajat dengan sangat sopan.
Melihat hal itu Ji-Ho juga ikut merasa canggung. Ia mengibaskan kedua tangannya berusaha melunturkan kecanggungan diantara mereka berdua. "Hahaha. Tidak apa-apa, kau tidak perlu bersikap sesopan itu. Kurasa umur kita juga tidak terlalu jauh, jadi kau bisa bersikap santai saja. Kau bisa memanggilku Ji-Ho, cukup Ji-Ho,"
"Kita beda 5 tahun, Ji-Ho-ssi. Aku 5 tahun lebih muda darimu" koreksi Nara. Sudah pasti ia mengetahui umur Ji-Ho, namun tidak sebaliknya.
"Oh, begitukah?" Nara hanya mengangguk mengiyakan. "Tapi aku benar-benar tidak masalah jika kau hanya memanggilku Ji-Ho. Menurutku Ji-Ho-ssi terdengar canggung. Atau kau ingin memanggilku Ji-Ho oppa ?" tanya Ji-Ho dengan memiringkan kepala dan menyunggingkan senyum jahil.
"Hah? Itu... aku..."
'Now you know, all you need is me I'm your toy...I'm your toy...I'm your toy...' dering ponselnya yang nyaring membuat Nara terlonjak. Buru-buru ia merogoh saku celananya untuk mencari benda ribut itu. Segera setelah mendapatkannya, ia melihat nama penelpon sekilas lalu segera menggerakkan gambar telepon berwarna merah untuk menolak panggilan tersebut.
‘Ngapain sih Zaza menelpon disaat-saat seperti ini?!’ rutuk Nara dalam hati.
Nara menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana lalu kembali memusatkan perhatiannya ke Ji-Ho. Lelaki itu ternyata memandangnya dengan alis terangkat. Entah apa yang ada dipikirannya tapi melihat itu lagi-lagi membuat Nara canggung. "Heheheh, maaf. Tadi..."
'Now you know, all you need is me I'm your toy...I'm your toy...I'm your toy...' ponsel Nara kembali berdering nyaring. Nara mendesis kesal dengan gigi terkatup. "Zazaaaa~" ia mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi. Kembali ia mengambil ponsel itu dari sakunya.
"Maaf aku sepertinya harus mengangkat panggilan ini. Aku permisi sebentar," ujar Nara dengan harapan Ji-Ho tidak akan meninggalkannya saat ia menerima panggilan itu. Ji-Ho pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
Nara berjalan beberapa langkah menjauhi Ji-Ho sebelum menerima panggilan itu. "Ya! Ada apa?" Nara nyaris berteriak tepat setelah panggilan Zaza dijawabnya. Namun ia menahan diri karena Ji-Ho berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa telponku yang pertama di-reject?" Zaza bertanya balik dari seberang sana, merasa curiga ada sesuatu yang terjadi.
"Aku lagi sama orang penting sekarang. Sudah dulu ya," Nara hendak menutup panggilan itu.
"Tungguuuu!!" teriak Zaza sebelum panggilan itu dimatikan.
"Kenapa? Ada hal penting yang kamu mau bilang?" Nara menaruh ponsel kembali ke telinganya.
"Tidak. Aku cuma mau tau kamu disana apa kabar dan..."
"Hang up!!" Nara menutup panggilannya bahkan sebelum Zaza selesai bicara. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali ke tempat Ji-Ho menunggunya.
"Ahahah, maaf, tadi itu temanku yang menelpon..."
"Kau pakai lagu 7Seasons sebagai nada deringmu?" Ji-Ho mengabaikan kata-kata Nara dan malah menunjuk ponsel yang sedang digenggam gadis itu. Ia terengah. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba senang mendengar lagu ciptaannya menjadi nada dering Nara. Itu artinya gadis itu menyukai lagunya kan?
"Ah...iya. Aku memang penggemarmu," Nara menjawab, berusaha setenang mungkin agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa sukses membuat dirinya setenang itu sejak tadi, padahal yang ditemuinya adalah idola yang sudah ia sukai selama 5 tahun. Meskipun tadi ia merasa agak canggung, tapi ia tidak se-histeris penggemar lainnya dan tidak se-histeris yang ada di bayangannya dulu saat ia memikirkan jika suatu saat ia bertemu salah satu member 7seasons.
Atau mungkinkah ia bisa setenang ini karena merasa gugup dan bingung harus berkata serta bersikap bagaimana? Lagipula ia tidak pernah menyangka akan bertemu idolanya seperti ini. Hal ini masih seperti mimpi baginya.
"Benarkah?" Alis Ji-Ho terangkat mendengar jawaban Nara. Sedetik kemudian matanya menyipit curiga sambil memandang Nara dari bawah ke atas. "Tapi kenapa aku merasa tidak seperti itu?" Ji-Ho memasang senyum miring mengutarakan hasil penilaiannya.
"Maksudnya...?" Nara mengernyitkan dahi, merasa bingung dengan maksud pertanyaan Ji-Ho.
"Maksudku...kau terlihat tidak begitu kegirangan bertemu denganku seperti ini. Para penggemarku yang lain pasti akan heboh, seperti 'Oh my God, Ji-Ho oppa!' atau 'Omo ! Omo! Oppa aku penggemarmu, bolehkah aku bersalaman?'" badan Ji-Ho bergerak kesana kemari dengan tangan mengibas-ngibas berusaha menirukan tingkah penggemar saat bertemu dengannya. Suaranya melengking tinggi persis seperti suara penggemar wanita yang histeris.
Tawa Nara lepas melihat semua itu. Iya memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras. "Oh ya?" sahut Nara disela gelak tawanya.
Ji-Ho mengangguk sembari tersenyum tipis melihat Nara yang tertawa lepas.
Nara mengangkat tangan untuk menghapus sebulir air di sudut matanya yang terlepas karena tertawa. Kemudian ia berdehem untuk menenangkan kembali suaranya sebelum berbicara lagi. "Ya aku pikir... kalau aku bertingkah seperti itu kau pasti kaget, atau lebih parahnya lagi, akan ketakutan," Nara mengangkat bahu santai. Well, tidak sepenuhnya jujur. Kurang lebih ia memang tidak mau menanggung malu kalau nanti Ji-Ho kaget atau ketakutan melihat dirinya bertingkah seperti itu. Dan lagi ia sudah cukup gugup untuk melakukannya.
"Benar juga. Kadang kelakuan seperti itu memang membuatku kaget. Penggemarku memang terkadang menakutkan. Yeah, you have a point," Ji-Ho terkekeh mengakui ucapan Nara. Ada baiknya juga kalau semua penggemarnya seperti Nara. Telinganya tidak akan perlu sesakit biasanya mendengar teriakan histeris.
"Ah, tapi ngomong-ngomong," jentikan jari Nara membuat Ji-Ho kembali meninggalkan pikirannya dan kembali memusatkan perhatiannya ke gadis itu. "Karena bagaimanapun juga aku adalah penggemarmu, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Boleh tidak aku berfoto denganmu?" Nara bertanya dengan hati-hati. Ia tau sudah sewajarnya seorang penggemar minta berfoto dengan idolanya saat mereka bertemu. Tapi ia juga sadar Ji-Ho pun hanya manusia biasa, bisa saja ia menolak. Terkadang ada artis yang seperti itu juga. Entah mereka sedang tidak ingin, atau sedang sibuk dan harus buru-buru, atau sedang tidak ingin privasinya terganggu. Tapi Nara sangat ingin setidaknya mengabadikan kejadian langka ini, dimana ia bisa bertemu seorang Ji-Ho.
"Tentu saja boleh. Ambil sebanyak yang kau mau. Anggap saja ini sebagai hadiahmu telah menjadi penggemar yang bersikap baik," Nara membeku ketika Ji-Ho menepuk-nepuk lembut puncak kepalanya. Mungkin beginilah perasaan para penggemar saat pergi fanmeeting dan bersalaman langsung dengan idolanya.
"Ponselmu?" Ji-Ho mengulurkan tangan, berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Ya, mungkin memang hal itu bukan apa-apa baginya, mungkin hanya Nara yang bertingkah dan merasa berlebihan.
"Apa? Oh iya.." Nara tersadar dan dengan tergagap segera membuka aplikasi kameranya. Kemudian ia menggerakkan ponselnya mengarah ke dirinya sembari mencari posisi dan cahaya yang tepat untuk mengambil foto.
Setelah mendapatkan posisi dan cahaya yang tepat, Ji-Ho mendekatkan diri ke arah Nara. Ia mengangkat tangan dengan 2 jari terbentang membentuk peace sign. Bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus dan matanya menatap tajam ke arah kamera. Sementara itu disisi lain Nara juga mengangkat tangannya membentuk peace sign dengan kedipan sebelah mata dan senyum cerah. "Hana...dul...set..." Click. "Sekali lagi?"
Kali ini Ji-Ho menaruh tangannya di pundak Nara dan tersenyum lebar. Sementara itu Nara menunjuk Ji-Ho dengan jari telunjuknya sembari menampilkan wajah terkejut. "Hana...dul...set..." Click.
Nara mengecek hasil selfie mereka, dan tersenyum senang saat mendapati ternyata hasilnya cukup bagus. "Terima kasih, Ji-Ho-ssi. Ah, maksudku Ji-Ho," Nara mengoreksi kata-katanya ketika melihat mata Ji-Ho yang memelototinya.
"Kau yakin tidak ingin memanggilku Ji-Ho oppa?" tanya Ji-Ho sekali lagi, masih dengan senyum jahil.
Nara hanya tersenyum kaku mendengarnya. Sebenarnya hal itu biasa saja ia lakukan ketika di Indonesia, saat ia sendiri atau sedang bercerita dengan Zaza. Tapi mengatakannya langsung ke orang yang asli entah kenapa membuatnya malu.
"Oh iya, boleh tidak foto ini kumasukkan ke media sosialku?" Nara berusaha mengalihkan pembicaraan dengan meminta izin Ji-Ho. Seperti yang ia pikirkan tadi, bagaimana pun juga Ji-Ho adalah seorang idola, seorang artis. Ia harus memikirkan privasi Ji-Ho, jadi ia merasa harus meminta izin dulu apakah bisa mengunggah foto ini atau tidak.
"Boleh saja. Dan jangan lupa menautkan akunku di foto itu," ujar Ji-Ho santai. Ternyata Ji-Ho jauh lebih ramah dari yang pernah Nara pikirkan. Nara membuat bulatan dengan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk tanda 'ok'.
"Ah, kalau sudah tidak ada lagi," Ji-Ho melirik jam di tangannya. "Sepertinya aku harus pergi menyusul kakakku," Ji-Ho menunjuk ke belakang bahunya, mengisyaratkan ia harus pergi.
"Tunggu!" Nara menggenggam pergelangan tangan Ji-Ho, menahannya untuk pergi. Ji-Ho tertegun, ia melihat Nara yang segera sadar dan melepaskan genggamannya dengan kikuk.
"Itu...Um...aku ingin memberikanmu sesuatu. Kau tau kan, biasanya penggemar akan melakukan hal seperti itu. Tapi aku tidak membawa apa-apa selain ponselku..." Nara menggaruk kepalanya bingung.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memberikanku sesuatu," Ji-Ho mengibaskan tangan menolak.
Tapi Nara tidak merespon. Otaknya tetap berfikir ingin memberikan sesuatu kepada Ji-Ho. Setidaknya, ia ingin Ji-Ho memiliki sesuatu darinya untuk mengingatkan Ji-Ho kalau ia adalah salah satu penggemar yang pernah ditemuinya.
Nara menundukkan kepalanya untuk memikirkan sesuatu, tapi tiba-tiba matanya menangkap tali kacamata yang tergantung di lehernya. Ia melepaskan tali kacamata itu dari lehernya dan menggenggamnya. Tali kacamata itu berwarna hitam dengan model rantai, cukup bergaya laki-laki. Mungkin akan cocok jika ia berikan pada Ji-Ho. Tapi mana mungkin dia memberikan barang bekasnya ke Ji-Ho. Yang artis kan bukan dia. Biasanya penggemar yang ingin memakai barang yang pernah digunakan oleh idolanya, bukan sebaliknya. Tapi tidak ada hal lain yang bisa ia berikan sebagai kenang-kenangan. ‘Apa kurenungkan saja niatku?’ Batin Nara, mulai merasa ragu.
Ia masih saja menimang-nimang barang itu dalam genggamannya selama beberapa saat. Berikan? Tidak? Berikan? Tidak?
"Kau ingin memberikan itu padaku?" tanya Ji-Ho membuyarkan pergulatan hati Nara.
"Hah?" Nara tersadar. Tapi karena masih bingung ia hanya menatap Ji-Ho dan tali kacamata di tangannya secara bergantian tanpa berkata apa-apa.
"Berikan padaku," Ji-Ho berusaha mengambilnya dari tangan Nara, tapi dengan cepat Nara menjauhkan tangannya dari jangkauan Ji-Ho.
"Tapi ini barang bekas. Tidak mungkin aku memberikanmu barang yang sudah kupakai," elak Nara.
"Tidak apa-apa," Ji-Ho mengambil langkah maju hingga jaraknya hanya beberapa jengkal dari Nara. Sementara itu Nara mematung melihat Ji-Ho sangat dekat dengannya. "Kau bisa memberikanku ini. Dengan begitu aku punya sesuatu yang akan terus mengingatkanku kalau kau adalah salah satu penggemarku," Ji-Ho meraih tali kacamata tersebut dari tangan Nara yang tidak lagi bergerak. Kemudian ia berjalan mundur dan tersenyum melihat Nara masih mematung.
Ji-Ho melepaskan tali kacamata tersebut dari kacamata Nara. Setelah menyimpan tali kacamata Nara di saku celananya, ia mengulurkan tangan mengacak-acak rambut Nara, sementara sebelah tangannya lagi menyerahkan kacamata Nara. "Terima kasih ya," ujarnya sambil kembali tersenyum menawan.
Nara masih terdiam. Rasanya ia ingin waktu berhenti saat itu juga, detik itu juga. Tapi sayang, keinginannya tidak terwujud, karena momen itu terhenti dengan berderingnya ponsel Ji-Ho.
Ji-Ho mengambil ponselnya, mengecek panggilan masuk. Nama Tae Woon, kakaknya, muncul di layar ponsel. "Sepertinya urusan kakakku sudah selesai. Aku harus segera menyusulnya," Ji-Ho menaruh kembali ponselnya tanpa menerima panggilan itu, seperti sudah bertelepati dengan kakaknya. "Aku pergi dulu. Bye my cool fan," Ji-Ho terkekeh sambil kembali mengacak-acak rambut Nara. Kemudian ia melangkah mundur sambil melambaikan tangannya pelan dan dengan senyum yang tak luput dari bibirnya. Saat Nara membalas lambaian tangannya, barulah ia membalikkan badan lalu berlalu dengan cepat meninggalkan Nara.
Nara terpaku di tempatnya selama beberapa menit, tersenyum seperti orang bodoh. Ia tidak percaya segala hal yang terjadi padanya barusan. Ia merasa seperti sedang bermimpi saat ini. Tangannya terangkat mencubiti pipinya untuk mengetes apakah ia betul-betul bermimpi atau tidak. Tapi cubitan itu terasa sakit, yang artinya ia tidak sedang bermimpi. Nara kembali tersenyum sambil menaruh kedua tangannya di dada. Kali ini diiringi dengan kepalanya mengayun ke kiri dan ke kanan dengan gembira.
"Kau sedang apa disini?" Nara terlonjak mendapati seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia berbalik dan mendapati Chul Goo sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Aku...um..." Nara bingung harus menjawab apa. Apa ia harus mengatakan kalau tadi ia bertemu Ji-Ho?
"Apa yang kau pikirkan?" sanggah Chul Goo sebelum Nara bahkan sempat mengatakan apa-apa lagi. "Kau darimana saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana! Kenapa kau tiba-tiba meninggalkan panggung? Kau tidak apa-apa?" Chul Goo terdengar sangat khawatir. Kedua tangannya mengguncang-guncang bahu Nara, berusaha mendapatkan jawaban.
"Um...Aku ada...urusan mendadak?" dengan suara yang tidak yakin Nara memberikan alasannya sambil menunjuk gambar toilet tak jauh darinya. Ia mengurungkan niat untuk mengatakan bahwa tadi ia bertemu Ji-Ho. Lagipula mengatakan itu juga tidak akan menjelaskan kenapa ia tiba-tiba pergi dari panggung.
"Tapi kenapa lama?" tanya Chul Goo lagi. Awalnya di pikiran Chul Goo, 'urusan mendadak' Nara adalah kebelet pipis, makanya gadis itu menunjuk toilet.
Nara terdiam beberapa saat, kembali memikirkan alasan. "Umm..."
"Ah! Aku tau!" tiba-tiba Chul Goo menjentikkan jarinya, seperti telah menemukan titik terang. "Pasti urusan 'besar' kan?" tebaknya sok tau.
Nara mengernyitkan dahi mendengar tebakan Chul Goo. "Hah?"
"Ei~ tidak usah malu," Chul Goo menepuk-nepuk bahu Nara. Sedangkan Nara sendiri sudah tidak bisa berkata apa-apa mendengar celotehan Chul Goo. "Pantas saja kau langsung lari turun dari panggung. Tadi juga aku perhatikan saat menyanyi, dahimu berpeluh keringat. Pasti perutmu sudah sakit sejak saat itu ya?"
Nara menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan mengendus kesal. "Kenapa? Perutmu masih sakit? Kau mau kucarikan obat diare?" tanya Chul Goo lagi dengan wajah polos.
Melihat hal itu, aliran darah Nara serasa berbondong-bondong naik menuju wajahnya. Ia bisa merasakan wajahnya memanas. Bisa-bisanya Chul Goo berfikir kalau ia sedang diare. Bahkan Nara sendiri merasa malu mendapati dirinya di pikiran Chul Goo sedang bolak balik toilet karena sakit perut.
Pada akhirnya Nara tidak menjawab. Ia berjalan cepat meninggalkan Chul Goo tanpa berkata apa-apa.
"Hei! Tunggu aku! Kau harus minum obat, Nara! Nara!" teriak Chul Goo khawatir sambil berusaha mengejar Nara yang sudah beberapa langkah di depannya.
Sedangkan yang dikejar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar Chul Goo sok tau!" rutuknya dalam hati.
...
"Tahanlah, tinggal dua bus stop lagi dan kita sampai," suara Chul Goo kembali memecah lamunan Nara.
Tapi kali ini Nara sudah bisa mencerna kenapa Chul Goo berkata seperti itu. Ia mungkin berfikir Nara benar-benar sedang ada gangguan perut. Nara mendelik mendengar kata-kata Chul Goo tadi lalu menghempaskan tinjuan pelan ke lengan lelaki itu.
"Karena aku lagi senang, tinjuannya segini saja," ujar Nara.
"Senang kenapa?" alis Chul Goo tertaut, penasaran dengan maksud perkataan Nara.
Tapi Nara hanya tersenyum kecil dan kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Rahasia,"
X-X-X