Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 16 - On The Road



Cuaca hari itu tampak sangat sempurna, sangat cerah, berhiaskan langit biru dan awan putih yang jarang-jarang, serta cahaya matahari yang menembus diantaranya. Suhu udara diluar juga sangat sempurna, tidak begitu panas. Hangat dengan angin yang bertiup semilir. Jalanan pun tampak sempurna, tanpa macet dan mobil melaju dengan mulus. Segalanya tampak sempurna kecuali keadaan di dalam mobil yang sangat hening nyaris mencekam. Di dalam hanya terdengar suara mobil yang melaju kencang disertai suara jari Ji-Ho yang mengetuk-ngetuk setir mobil, berusaha mencari bahan pembicaraan. Bisa-bisanya ia mati gaya seperti hari ini, padahal ia adalah publik figur yang sudah sering bertemu bermacam-macam orang.


 


Perjalanan itu akan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan, jadi tentu saja akan menjadi kencan gagal kalau keheningan seperti ini bertahan sampai 2 jam. Tapi otak Ji-Ho benar-benar seperti lumpuh, ia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Ia terlalu gugup dengan kencan pertamanya bersama Nara ini. Apalagi ia tadi sudah cukup salah tingkah dengan isi pikirannya yang tiba-tiba menyeruak keluar. Ia takut akan salah bicara lagi.


 


Setelah beberapa saat, akhirnya ia menggelengkan kepala, menyerah untuk berfikir. Kemudian matanya melirik ke arah Park Kyung yang duduk di belakangnya melalui kaca spion depan, berusaha mengirimkan S.O.S. Sayangnya, Park Kyung sedang sibuk menunduk, mencari sesuatu di dalam tasnya. Sekilas Ji-Ho bisa melihat Park Kyung mengeluarkan suatu benda yang terlihat seperti kotak kacamata. Setelah itu Park Kyung memajukan badan dan menyandarkan sikunya pada bahu kursi Nara dan Ji-Ho. Ji-Ho mengerutkan kening bingung melihat tingkah Park Kyung.


 


"Nara-ssi..." panggil Park Kyung pelan.


 


Bersamaan, Ji-Ho dan Nara menoleh untuk melihat Park Kyung yang kini berada diantara mereka. Ji-Ho menaikkan alisnya, seperti bertanya kenapa Park Kyung memanggil Nara.


 


Park Kyung juga ikut menaikkan alis setelah melihat Ji-Ho, kemudian ia mendorong pipi sahabatnya itu agar kembali memperhatikan jalan. "Aku tidak memanggilmu, nama-mu bukan Nara. Kembalilah memperhatikan jalan," sindir Park Kyung membuat Ji-Ho mendengus kesal.


 


Park Kyung mengembalikan perhatiannya ke arah Nara. "Ini..." ia memasangkan sebuah kacamata hitam ke wajah Nara. Mata Ji-Ho melebar saat melihat momen itu, setelahnya ia kembali mendengus cukup keras, tapi Park Kyung dan Nara tidak memperhatikannya.


 


"Um... terima kasih..." Nara menundukkan kepala sopan kemudian mengubah posisinya menghadap depan kembali. Ia menggerakkan tangan untuk memperbaiki posisi kacamata hitam tadi agar pas menempel pada wajahnya. Dalam hati ia berdebar-debar juga, meskipun tidak sehebat yang ia rasakannya saat bersama Ji-Ho sebelum berangkat tadi.


 


"Kau harus melindungi mata indahmu dari sinar ultraviolet," gombal Park Kyung dengan suara yang dimanis-maniskan, suara yang selalu ia gunakan saat menggoda perempuan. Ji-Ho mengerang jijik.


 


"Kau keberatan?" ia berusaha menahan tawa melihat reaksi Ji-Ho


 


"Iya, keberatan!" Ji-Ho meluruskan lengan kanannya dan meletakkan telapak tangan pada bahu kursi Nara, membuat lengannya menjadi pembatas antara Park Kyung dan Nara.


 


Park Kyung memutar bola matanya. Ji-Ho memang sangat gampang dibuat cemburu. Bahkan jika hanya percakapan kecil bisa membuat Ji-Ho cemburu berat.


 


"Nara, abaikan saja dia. Dia dan perlakuan manisnya tidak bisa dipercaya," Nara tertawa kecil saat mendengar Ji-Ho berkata seperti itu.


 


"Terima kasih kembali!" Park Kyung menggumam sambil memundurkan kembali badannya dan menyandarkan punggung di kursi mobil. Alis Ji-Ho mengernyit berusaha mencerna maksud Park Kyung tadi mengatakan 'Terima kasih kembali'. Dan beberapa detik kemudian ia pun mengerti. Mulutnya kini membentuk huruf 'o' tanpa bersuara. Ia mengerti sekarang, Park kyung berusaha membantunya membunuh keheningan diantara mereka. Jadi setelah menangkap maksud Park Kyung, ia membalikkan badan dan buru-buru mengucapkan terima kasih tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir.


 


"Terserah," balas Park Kyung dengan suara cukup keras membuat Ji-Ho protes, tapi masih tanpa suara. "Bagaimana kalau kita mendengarkan lagu? Kita butuh keceriaan disini," Park Kyung menambahkan.


 


Ji-Ho menghela nafas lega lalu mengangguk setuju. Jadi ia menyalakan pemutar musik mobilnya dan menyerahkan kavel sambungan pada Nara. "Kau ingin memutar sesuatu?"


 


Nara terlihat ragu-ragu selama beberapa saat, namun ia tetap mengambil kabel itu. Setelahnya ia menyambungkan kabel tadi ke ponselnya dan menggulirkan layar untuk melihat daftar lagu yang ia punya. Ia memilih satu lagu dan menaikkan volume ponselnya agar terdengar lebih keras juga pada pengeras suara mobil. Tepat ketika intro lagu mulai mengalun, Park Kyung yang duduk di kursi belakang mulai berteriak heboh.


 


"Woahhh Nara!!! Pilihan yang tepat!!" teriak Park Kyung saat mendengar lagu yang dibuatnya, berjudul Walking in The Rain  dimainkan. Memang selain Ji-Ho, salah satu produser dan composer di 7Seasons adalah Park Kyung. Meskipun begitu, lagu yang dibuatnya tidak sebanyak yang Ji-Ho buat. Park Kyung turut mendendangkan lagunya dengan gembira sambil menepuk-nepuk kursi Ji-Ho mengikuti irama.


 


Ji-Ho berdecak. "Really? Kau memilih lagunya dibanding laguku? Kau ini benar-benar penggemarku bukan sih?" ia melanjutkan dengan suara melengking seperti suara kucing terjepit.


 


"Aku kan penggemar 7Seasons juga, secara keseluruhan," balas Nara polos, berusaha membenarkan diri. Ya, meskipun ia ngefans pada Ji-Ho, ia juga menyukai satu grup itu secara keseluruhan. Hanya saja ketertarikannya pada Ji-Ho memang lebih besar dibandingkan pada anggota lain. Tapi, ia tidak bisa menyangkal lagu yang dibuat Park Kyung belakangan ini memang sangat bagus. Musik dan liriknya yang ceria sangat menyenangkan untuk didengar, membuatnya sangat sering mendengarkan lagu itu berulang-ulang. "Lagipula aku ingin memainkan lagu yang musiknya ceria, karena itulah aku memilih lagu ini,"


 


Park Kyung masih sibuk menyanyikan lagu ciptaannya sendiri sambil mengayunkan kepala. Kemudian ia memajukan badannya mendekati Ji-Ho saat menyanyikan bait terakhir hook, "I'm walking in the rain!!" ia mengejek Ji-Ho dan hal itu membuat Nara tertawa.


 


 


X-X-X


 


Sementara itu. Rumah peserta program.


 


Chul Goo mengayunkan kepalan tangannya di pintu kamar Nara, berusaha membangunkan pemilik kamar. Tapi hening, tidak ada tanggapan. Ia mencoba kembali mengetuk, dan kali ini sambil memanggil nama. Tapi tetap tidak ada tanggapan. Jadi pelan-pelan ia memutar kenop pintu dan membuka pintu kamar.


 


"Nara?" ia melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan dalam kamar, tapi tidak ada siapa-siapa disana. Ruangan itu kosong dan tempat tidurnya sudah di rapikan. “Kemana dia?” batin Chul Goo dengan dahi berkerut penuh tanya. Perlahan-lahan menarik daun pintu untuk kembali menutup.


 


Tepat saat itu, Juno melangkah menuruni tangga dari lantai atas, terlihat segar sehabis mandi, dengan handuk tersampir di rambutnya yang basah. "Nara dimana?" tanya Chul Goo dengan suara keras ketika Juno hampir sampai pada anak tangga terakhir.


 


"Dia sudah pergi. Tadi pagi-pagi sekali. Dia bilang akan pergi bersama temannya keluar kota," jelas Juno.


 


"Teman? Siapa?" Chul Goo mengelus dagu, berfikir siapa orang yang pergi dengan Nara itu. Apa Nara punya teman lain selain panitia dan para peserta program di korea? Chul Goo tidak bisa memikirkan satu nama pun yang mungkin pergi dengan Nara sepagi itu selain dirinya. Peserta program lain, termasuk Juno, terlalu sering pergi minum di malam-malam sebelum weekend, jadi paginya pasti mereka akan masih mabuk. Pengecualian pagi ini, kaget juga ia melihat ketumbenan Juno pagi ini sudah segar. Sedangkan panitia lain juga tidak sedekat itu dengan Nara. Jadi siapa orang yang Nara maksud?


 


Juno mengendikan bahu menjawab pertanyaan Chul Goo tadi, yang artinya ia juga tidak tau.


 


"Dia kemana?" tanya Chul Goo lagi, bersikap terlalu protektif.


 


Juno kembali mengendikan bahu. Ia tau Nara pergi cuma karena semalam gadis itu berkata padanya. Tapi Nara hanya mengatakan bahwa ia akan pergi pagi-pagi sekali dengan temannya. Dan ketika Juno bertanya siapa dan kemana, Nara hanya membuat gerakan mengunci mulut lalu kabur masuk ke kamar dan menguncinya.


 


Chul Goo menghela nafas berat. Ia tidak tau kenapa tapi memori saat Nara menangis di tengah-tengah keramaian melintas di pikirannya. Separuh dirinya hanya tidak ingin hal sama terjadi pada Nara lagi, karena itulah ia harus menjaganya. Ia tau dirinya tidak bisa berada 7x24 jam di sekitar Nara untuk membantu mencegah gangguan paniknya muncul kembali dan ia tau kalau sesungguhnya Naea bisa menjaga dirinya sendiri dengan menghindari keramaian sebelum terjebak di dalamnya. Tapi tetap saja, ia tidak bisa merasa tenang. Bayangan Nara yang entah bagaimana terjebak di dalam keramaian dan mengalami gangguan panik terus menerus muncul di pikirannya. Terkadang ia sangat membenci dirinya sendiri karena terlalu protektid dan paranoid. Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi sifatnya.


 


Chul Goo tak hentinya berjalan mondar mandir sampai akhirnya ia memilih untuk mengambil ponselnya dan langsung menelpon Nara. Ia harus memastikan kalau siapapun teman Nara itu, orang itu bisa dipercaya dan bisa melindungi Nara.


 


"Kenapa kau menelponnya?" Juno mengintip ponsel Chul Goo dan dapat melihat siapa yang orang itu hubungi.


 


"Aku panitia. Aku harus menghawatirkan dan mengurus peserta dari program ini," alasan yang bodoh. Tapi ia harus memberikan alasan yang sedikit masuk akal dan nyambung atau kalau tidak ia harus memberi tau Juno rahasia Nara.


 


"Yeah right," Juno memutar bola matanya. Agak merasa rancu dengan alasan Chul Goo. "Kalau begitu kau harusnya menghawatirkan Lisa. Dia sudah tidak pulang sejak tadi malam," pesan Juno sebelum menyandarkan punggungnya di sofa.


 


"Apa?" Chul Goo mematikan panggilannya ke Nara. Ia berbalik memandang Chul Goo dengan ekspresi kaget bercampur dongkol. Bukan kali pertama Lisa bertingkah seperti itu. Ia sudah sering pulang terlambat, bahkan pulang pagi saat pergi ke club. "Serius? Dia tidak ada disini? Lagi?" ia mengulangi apa yang baru saja didengarnya. Juno mengangguk, membenarkan.


 


"Haish, gadis itu benar-benar!!" Chul Goo menggaruk kepalanya dengan frustasi. Ia sampai lupa niatannya untuk menelpon Nara dan jadinya beralih menelpon Lisa. Berkali-kali ia menarik nafas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Setidaknya Nara sedang bersama temannya. Dan meskipun hatinya berusaha keras meragukan, tapi otaknya berusaha keras berfikir kalau teman Nara itu bisa menjaga Nara. Jadi sekarang ia harus menangani Lisa, si pembuat masalah.


 


X-X-X