
“Oh iya, ini sudah akhir pekan, kau masih sibuk? Kalau tidak, bagaimana kalau kita sama-sama ke Sokcho?” Nara membaca lagi pesan dari Ji-Ho semalam sambil mengucek matanya. Semalam ia jatuh tertidur dan hanya membaca pesan Ji-Ho itu tanpa membalas. Tapi, baru saja ia akan membalas, sebuah ketukan di pintu kamar menginterupsinya.
Nara meletakkan ponselnya di atas nakas lalu bergerak keluar dari selimut untuk membuka pintu. Wajah Chul Goo menyambutnya saat pintu tersebut telah terbuka lebar. Laki-laki itu berdiri disana dengan senyum cerahnya dan tangan terangkat berniat untuk menyapa. Namun ekspresi wajahnya langsung berubah melihat Nara hanya berdiri malas dengan ekspresi datar dan mata setengah jatuh. Nara masih merasakan kantuk merambati tubuhnya karena saat itu jam masih menunjukkan pukul 6 pagi dan semalam ia tidur sekitar jam 2 dini hari.
"Kau sedang apa disini?" Nara menguap sembari menanyakan hal tersebut.
Dahi Chul Goo mengkerut saat melihat kelakuan gadis di depannya itu. "Ya! Ainara!"
"Apa?" kali ini Nara berganti mengucek-ngucek matanya, berusaha menghilangkan rasa kantuk yang belum hilang.
"Begini ya, ketika seorang perempuan bertemu laki-laki, biasanya mereka menjaga perilakunya, jaga image. Perempuan biasanya akan berusaha tampil baik dan menunjukkan sisi feminin mereka. Tapi kau..." Chul Goo mengangkat telunjuknya dan menunjuk Nara dari kepala hingga ujung kaki. Kepala Nara pun ikut bergerak mengikuti jari Chul Goo. Setelah dipikir-pikir ia memang membuka pintu tanpa merapikan dirinya sedikit pun. Ia bahkan tidak menyisir rambutnya yang sudah bisa ia pastikan terlihat seperti singa saat ia baru bangun tidur. Pasti ia terlihat sangat berantakan sekarang. Tadi ia pikir yang mengetuk hanya Lisa, yang selalu membangunkannya untuk sarapan. Ia tidak pernah menyangka yang muncul adalah laki-laki. "Kau bahkan menguap di hadapanku. Ckckck. Kau ini benar-benar perempuan bukan sih?" decak Chul Goo sambil menggelengkan kepala takjub.
Tapi tiba-tiba tangan Chul Goo berpindah ke perut karena Nara mencubitnya keras hingga membuatnnya berteriak. "Karena itulah, apa yang kau lakukan datang kesini sepagi ini? Ini masih jam 6 pagi tau!"
"Aaaahhh! Ya!! Ya!!" teriak Chul Goo sambil berusaha melepaskan cubitan Nara dari perutnya. Gadis ini kadang gila juga ternyata. Chul Goo meringis sambil mengelus-elus perutnya. "Aku mau mengajakmu olahraga pagi, jogging di sekitar daerah ini. Lalu kita bisa sarapan bersama setelahnya," Chul Goo menjelaskan alasan ia datang.
Nara mengernyit mendengar alasan Chul Goo. "Maaf, aku tidak tertarik. Aku sangat mengantuk Chul Goo-ya. Olahraga pagi itu bukan style-ku," Nara mendorong daun pintu untuk menutupnya dan kembali ke alam mimpi. Tapi dengan cepat Chul Goo menghentikan aksi Nara.
"Tunggu..." tahannya. "Ayolah, cuacanya sangat cerah. Kita harus keluar," ia tetap berusaha meyakinkan Nara.
Tapi Nara tetap menggeleng. "Coba tanya yang lain saja. Juno mungkin, atau Lisa, atau Wang," rasa kantuk dan kesempatan tidur selalu memenangkan hati Nara lebih dari apapun. Jadi ia tidak berubah pikiran.
"Mereka pasti mabuk dan masih pingsan sekarang karena kebanyakan minum semalam,"
"Kalau begitu aku juga pingsan," Nara meninggalkan pintu yang masih ditahan Chul Goo dan merangkak masuk ke dalam selimutnya. Ia menarik selimut itu menutupi tubuhnya hingga ujung kepala dan kembali tidur dengan damai. Meninggalkan Chul Goo yang kehilangan kata-kata dan hanya mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya.
X-X-X
Pagi yang sama. Studio milik Ji-Ho.
Mungkin sudah lebih dari dua puluh kali sejak semalam Ji-Ho mengecek ada tidaknya pesan baru dari Nara. Ia menghela nafas berat ketika lagi-lagi menemukan pesannya yang terakhir, pesan dimana ia mengajak Nara untuk pergi ke Sokcho dengannya, belum dibalas.
Apakah ia ditolak lagi? Mungkin kali ini Nara benar-benar menolaknya dan tidak mau mebalas pesannya lagi. Apakah ia terlalu terlihat agresif dan membuat Nara takut? Mungkin Nara terganggu akan kehadirannya, begitukah? Ji-Ho menggelengkan kepala untuk menghilangkan segala pikiran negatif itu. Well, mungkin Nara ketiduran, karena itulah ia belum membalas sampai sekarang. Nara pasti akan membalasnya nanti, ia harus berfikir positif.
Setelah membalikkan kutub dari pikirannya, Ji-Ho pun menegakkan lagi posisi duduk, berusaha mengumpulkan kembali fokus untuk melanjutkan pekarjaannya tadi. Ia sedang mengerjakan sebuah lagu baru yang sudah digarapnya sejak 2 minggu lalu, dan sejak 2 hari terakhir ia melakukan pengeditan di beberapa bagian untuk membuatnya terdengar lebih bagus lagi. Namun layar di depannya tidak menunjukkan kemajuan apapun sejak semalam, sama dengan percakapannya dengan Nara. Lagi-lagi ia menghela nafas. Ternyata pikirannya masih belum bisa teralih dari pesan yang tidak terbalaskan.
Ji-Ho menjatuhkan kepalanya ke atas meja, sadar kalau tetap saja sangat sulit untuk mengembalikan fokusnya saat ini. Tiba-tiba, kepala dan matanya terasa sangat berat, namun ia merasa sangat nyaman menyandarkannya di atas meja seperti ini. Ia belum tidur dengan baik selama 2 minggu terakhir. Jadwalnya yang padat disertai kegiatannya membuat lagu baru membuatnya hanya tidur paling lama 4 jam dalam sehari. Belum termasuk 2 hari ini, karena selama 2 hari terakhir ia hanya tidur kira-kira 1 jam sehari, itupun di studionya, bukan di apartemen. Seperti inilah dia saat sedang mengerjakan lagu baru. Ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika lagu yang dibuatnya tidak sempurna. Sempurna dalam tolak ukurnya.
Semilir angin dari pendingin ruangan membuat kelopak mata Ji-Ho yang sudah terlanjur berat tersapu-sapu lembut membuat pertahanannya runtuh. Perlahan, mata itu mulai tertutup dan ia pun jatuh tertidur.
Getaran berulang dari ponsel Ji-Ho membangunkannya dari tidur. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dan menjawab panggilan yang masuk tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Kau dimana?" suara Park Kyung yang setengah berteriak terdengar di seberang sana saat Ji-Ho merapatkan ponselnya ke telinga.
"Umm..." Ji-Ho meregangkan badannya dulu sebelum menjawab. Melemaskan otot-otot punggung dan lengannya yang pegal karena tertidur dengan posisi tidak nyaman. "Di studio. Kenapa?" balasnya dengan suara mirip dengkuran pada akhir kata-katanya.
"Get a grip, bro! Pulanglah! Sudah 2 hari kau disana. Kau harus istirahat. Berhentilah pergi ke studiomu. Gunakan waktu luangmu selama 2 hari ini!" Park Kyung mulai mencemaskan sahabatnya itu.
Park Kyung tau sahabatnya itu seorang workaholic, tapi ia juga tidak bisa berhenti menghawatirkan Ji-Ho yang seperti merusak tubuhnya dengan pekerjaan. Mereka sebagai grup telah sibuk dengan comeback dan promosi album baru mereka beberapa bulan belakangan ini. Jadwal grup pun menumpuk dari minggu ke minggu setelah mereka comeback, dan minggu-minggu itu terasa sangat melelahkan, diisi dengan promosi lagu di acara-acara musik, mengisi acara televisi, pemotretan majalah, fanmeeting, dan juga syuting tawaran iklan baru. Tapi pekerjaan Ji-Ho tidak berhenti disitu saja, karena album baru mereka ini mendapat sambutan baik, Ji-Ho berencana membuat comeback untuk B.O.P, sub-unit 7Seasons yang berisikan U-In, Baek Dongwan, dan In Pyo. Karena itulah pekerjaannya bertambah lagi selain pekerjaan sebagai grup, ia berusaha membuat lagu sejak 2 minggu lalu.
Promosi album baru grup mereka sebenarnya sudah selesai sejak minggu lalu dan mereka diberikan waktu libur oleh pihak agensi sejak kemarin hingga 2 hari kedepan. Tapi Ji-Ho kembali menggunakan waktu liburnya untuk bekerja di studio. Padahal anggota grup yang lain sudah memanfaatkan hari libur itu untuk keluar bersama keluarga atau teman-teman mereka atau hanya bersantai di rumah, tapi Ji-Ho malah menyia-nyiakannya.
Ji-Ho telah melakukan banyak hal untuk 7Seasons. Sebagai leader, ia merasa sangat bertanggung jawab atas kelangsungan grup mereka. Sejak debut, kehidupan Ji-Ho hanyalah tentang bekerja. Bahkan, jadwal Ji-Ho sehari-hari jauh lebih padat dibandingkan anggota lainnya. Meskipun tidak sedang dalam periode promosi album grup mereka, ia tetap disibukkan dengan hal lain, seperti tampil di festival-festival kampus, mengisi konser hip-hop, kolaborasi dengan artis lain, reality dan variety show, hadir di acara-acara fashion show, pemotretan, syuting iklan solo, menyiapkan album solonya atau album sub-unit anggotanya, tampil di acara penghargaan, mebuat lagu di studionya, dan masih banyak lagi. Tapi, pekeraan yang paling menyita waktunya adalah bekerja di studio. Jangankan di waktu sibuk, saat mendapatkan hari libur dari agensi sekalipun, Ji-Ho juga biasanya menghabiskan waktunya di studio untuk membuat lagu. Bisa dikatakan studionya itu sudah seperti asrama baginya dibandingkan apartemen mereka. Bahkan terkadang jika anggota mereka ingin berkumpul dan hanya menghabiskan waktu santai, mereka akan melakukannya di studio agar Ji-Ho ikut bergabung.
"Aku tau," Ji-Ho menutup aplikasi-aplikasi yang terbuka pada layar komputernya. Park Kyung benar. Sepertinya ia memang butuh istirahat sekarang, dan mungkin setelah itu ia bisa mendapatkan kembali fokusnya. "Aku akan segera pulang. Sampai jumpa," Ji-Ho mengakhiri panggilan mereka.
Setelah mematikan komputer dan seluruh perangkat lainnya, Ji-Ho mengambil ponselnya dan tas jinjing yang ia letakkan di atas sofa sudut ruangan kemudian melangkah keluar dari studionya. Sembari melangkah menuju parkiran, ia membuka notifikasi pesannya yang sudah menumpuk satu per satu. Satu pesan dari Nara. Akhirnya! Ji-Ho membuka pesan itu dengan tidak sabar.
“Bagaimana kalau besok? Sepertinya aku tidak bisa hari ini. Hehe,” balasan itu hampir membuat Ji-Ho melompat lalu menari di sepanjang sisa perjalanannya menuju mobil. Tapi ia menahan diri karena takut akan mengundang perhatian.
Ji-Ho mengetikkan balasan. “Besok boleh juga. Aku akan menjemputmu. Bilang saja dimana. Oh iya, apa yang kau lakukan hari ini?”
“Ok, aku akan mengirimimu alamatku nanti. Aku akan pergi dengan Chul Goo hari ini. Ia memintaku menemaninya ke suatu tempat,” Kali ini balasan Nara sukses membuat Ji-Ho menganga lebar. Laki-laki itu lagi?!! Dammit that guy! Apakah laki-laki itu benar-benar berusaha mendekati Nara?
“Chul Goo? Seo Chul Goo? Temanmu semalam? Kalian mau kemana?” Ji-Ho mengetikkan balasannya dengan cepat, secepat ia ketika bernyanyi rap.
Ji-Ho sudah sampai di mobilnya. Ia masuk dan duduk di kursi supir tanpa menyalakan mobilnya dulu.
“Iya, yang itu. Aku juga tidak tau. Dia belum memberi tauku apapun,”
Membaca pesan itu membuat Ji-Ho melayangkan pukulan ke setir mobilnya. Entah kenapa ia merasa sangat kesal. Perasaan seperti sedang mengikuti balapan dan tiba-tiba ada mobil yang melambung. Sial. Where the hell they will go?!
X--X-X