Summer Night's Dream

Summer Night's Dream
Episode 21 - Concert



Sudah sepuluh menit lamanya Nara terpaku menatap gedung putih di hadapannya. Di bagian depan atas gedung itu terpampang kata Main Hall, terbuat dari stainless steel, yang saat ini tertimpa cahaya matahari dan membuat mata silau saat memandangnya. Jam di tangan kanannya telah menunjukkan pukul 4 sore, tapi ternyata matahari masih heboh-hebohnya memancarkan sinar dan hawa panas.


Nara mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, berusaha membuat hawa panas itu berkurang dengan angin dingin dari tangannya. Tapi usahanya itu tidak berhasil. Semestinya ia memang berjalan masuk untuk merasakan dingin dari pendingin ruangan, tapi hal itu urung dilakukannya sejak 10 menit lalu.


Konser di dalam sana pasti sudah dimulai, tapi entah Ji-Ho sudah tampil atau tidak. Ini bukan konser solonya, tapi konser kolaborasi, ada artis-artis lain juga yang tampil, dan Nara tidak tau pukul berapa atau giliran ke-berapa Ji-Ho akan tampil, karena ia sendiri sudah bilang kalau dirinya tidak akan datang. Memang tidak mungkin ia menonton konser itu, mungkin hanya mendengar suara penonton yang sudah pasti sangat banyak itu dari luar saja akan membuat rasa paniknya memberontak keluar.


Untuk menguji dirinya, Nara berjalan beberapa langkah mendekati pintu masuk. Tapi baru sekitar 20 meter berjalan, suara dentuman musik sudah sayup-sayup terdengar diiringi sorakan penonton. Nara mengurungkan langkahnya lalu bergerak mundur beberapa langkah dan kembali terpaku di tempatnya sambil menghela nafas panjang. Tidak akan berhasil. Kalaupun ia minum obat penenang sebelumnya, mungkin ia hanya akan tahan mendengarkan dari luar, tidak akan mempan di dalam dengan begitu banyak orang dan suara musik yang begitu keras.


"O! Nara-ssi!!" suara menyeru tiba-tiba terdengar dari belakang Nara disertai derap kaki yang semakin mendekat.


Sekejap Nara tersentak kaget mendengar namanya dipanggil.  Kemudian ia langsung membalikkan badan dan melihat Park Kyung setengah berlari ke arahnya dengan tangan melambai.


"O! Park Kyung-ssi," balas Nara dengan mimik kaku ketika Park Kyung telah berdiri di depannya. Dalam hati dirinya merasa seperti tertangkap basah bertemu dengan Park Kyung diluar area konser Jiho, ia merasa panik. Ia panik memikirkan kelanjutan dari pertemuannya dengan Park Kyung ini.  Pasti ujung dari percakapan mereka, Park Kyung akan mengajaknya masuk. Sudah terlambat untuk lari sekarang.


"Katanya kau tidak bisa datang?" tanya Park Kyung menyela pikiran Nara, sembari menyeka peluh setitik dua titik yang bermunculan di dahinya.


Mendengar itu Nara sedikit terkesiap, tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya begitu jelas. Otaknya berputar berusaha mencari alasan. Mestinya memang dia tidak usah datang saja, lagipula dia sudah terlanjur berkata seperti itu kemarin. Bukan salah siapa-siapa kalau sekarang ia bingung untuk mencari alasan karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan yang ia katakan. "Ah, iya, urusanku ternyata selesai lebih cepat. Jadi aku memutuskan untuk datang," akhirnya alasan itulah yang keluar dari mulut Nara. "Tapi kenapa kau datang terlambat, Park Kyung-ssi?"


"Oh itu, tadi aku ada pemotretan dulu. Jadi selesai pemotretan aku baru kesini," Nara hanya mengangguk menanggapi penjelasan singkat Park Kyung. "Ayo kita masuk Nara-ssi! Sepertinya penampilan Jiho hanya tinggal 2 atau 3 lagu lagi," ajak Park Kyung kemudian tanpa melanjutkan basa basi sambil berjalan mendahului Nara.


Dengan hati mencelos, badan Nara berputar mengikuti badan Park Kyung yang berjalan mendahuluinya mengarah ke pintu masuk gedung.


Tapi Nara tidak beranjak dari tempatnya berdiri, ia hanya melihat punggung Park Kyung yang mulai menjauh. Ia terlalu takut untuk melangkah. Ia takut untuk memasuki gedung itu. Tangannya mulai basah dalam remasannya ketika ia kembali mendengar gema suara penonton disertai dentakan musik yang membahana. Suara itu bahkan terdengar sangat jelas dari luar tempatnya berdiri saat ini, bagaimana jika ia di dalam.


Nara menunduk menatap lantai di bawahnya dengan intensitas nafas yang mulai meningkat. Tanpa ia sadari, Park Kyung ternyata sudah menghentikan langkahnya ketika menyadari sekitarnya kosong tanpa ada yang mengikuti. "Nara-ssi?" panggilnya, tapi Nara tidak bergeming.


"Nara-ssi?" Park Kyung lagi-lagi memanggil. Kali ini sambil berjalan kembali mendekati Nara.


Nara baru tersadar ketika kedua tangan Park Kyung sudah memegang bahunya pelan. Gelagapan, Nara sontak mengangkat kepalanya dan mendapati wajah laki-laki di hadapannya sedang menatap bingung "Hah?"


"Kau tidak apa-apa? Kenapa kau terlihat pucat?"


"Aku...aku tidak apa-apa," jawab Nara berusaha terdengar setenang mungkin. Tapi Park Kyung tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Yang ia lihat sekarang adalah Nara yang pucat pasi seperti orang yang sedang sakit, dan ia percaya itu bukan tidak ada apa-apanya. Setelah beberapa saat berfikir, Park Kyung menarik sesuatu dari kantung bajunya.


"Pakai ini," Park Kyung mengagantungkan sebuah papan nama di leher Nara. "Itu milik staff yang aku kenal. Kalau menggunakan ini mereka tidak akan bertanya-tanya soal identitasmu, mereka hanya akan mengira kau salah satu staff. Para reporter atau paparazi yang datang juga tidak akan curiga," jelas Park Kyung panjang lebar ketika menyadari Nara memandangnya dengan tatapan penuh tanya. "Ayo, kita ke belakang panggung saja, sepertinya akan tanggung kalau kita juga masuk nonton sekarang. Dan lagi kau bisa istirahat di ruang ganti Jiho,"


Nara tertegun menatap papan nama yang dikenakannya. Lee Yong Ah, hair stylist. Degup jantung dan nafasnya sudah mulai tenang mendengar ide dari Park Kyung. Setidaknya ia bisa tenang karena laki-laki itu tidak lagi mengajaknya masuk ke area konser. Jadi kini, isi pikirannya sudah mulai teralih.


Mengikuti Park Kyung, Nara berjalan menyusuri bagian depan gedung yang dihiasi jejeran pilar tinggi lalu berbelok memasuki jalan setapak yang berada di antara gedung Main Hall tadi dan gedung di sebelahnya. Jalan setapak itu teduh, karena diapit 2 gedung yang cukup tinggi sehingga mengahalang sinar matahari.


Sembari berjalan, Nara menatap Park Kyung sesekali yang hanya berjalan diam dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiran gadis itu. "Kau sering melakukan ini ya? Ini caramu untuk mengajak gadis-gadis ke backstage?" candanya, menyikut-nyikut lengan Park Kyung yang berjalan di sampingnya, berusaha mengganggu.


Tanpa menanggapi Nara, Park Kyung hanya memutar bola matanya, sama sekali tidak merasa terganggu. "Asal kau tau saja, itu ide Ji-Ho. Awalnya dia memang menyuruhku membawamu ke belakang panggung selesai penampilannya. Tapi melihat kondisimu lebih baik kita kesana saja sekarang. Kau bisa istirahat di ruang ganti Jiho, dan lagi..." kata-kata Park Kyung terhenti ketika ia berbalik dan mendapati Nara menatapnya dengan alis bertaut. Ekspresi wajah Nara terlihat cukup kesal.


"Jadi dia sering melakukan hal ini? Sering mengundang gadis-gadis lain ke backstage?" tanya Nara, tidak sadar suaranya terdengar ketus.


"Benarkah?" tatapan Nara masih menampakkan raut tidak percaya. Tapi karena melihat Park Kyung mengangguk dan masih dengan wajah menenangkan, Nara pun ikut mengangguk menerima kata-kata itu.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di bagian belakang gedung Main Hall. Mereka berdua berbelok ke kiri, mencari pintu belakang gedung. Tak lama, mereka akhirnya sampai di pintu dengan nuansa coklat yang dikawal oleh seorang petugas keamanan berbaju hitam dengan badan tegap dan tinggi sekurang-kurangnya 2 meter. Awalnya Nara merasa ciut, melihat wajah garang petugas keamanan itu dan tubuhnya yang menjulang tinggi. Juga karena ia tidak percaya diri dan merasa akan dilarang masuk, tapi Park Kyung mendorong bahu kirinya untuk tetap berjalan hingga mereka berhadapan dengan petugas keamanan itu.


"Jin Woo Ahjussi, annyeonghaseyo!" Park Kyung membungkuk sopan di depan petugas itu. Melihat hal itu mata Nara membulat. Ia menatap Park Kyung dan petugas keamanan bergantian. Dirinya tidak menyangka, Park Kyung terlihat sangat mengenal petugas keamanan itu sampai mengetahui namanya.


Sang petugas kemanan yang bernama Jin Woo itu ikut membungkuk, membalas salam Park Kyung. "Ne, annyeonghaseyo,"


Karena merasa tak enak jika ia tidak ikut membungkuk, Nara pun melakukan hal sama dengan yang Park Kyung lakukan. Ia menundukkan badan ke arah Jin Woo sambil tersenyum yang langsung dibalas dengan senyum dan bungkukan pula oleh Jin Woo.


"Apa kabar Kyung? Baik-baik saja?" tanya Jin Woo langsung dengan bahasa korea setelah menegakkan badan dan kembali melihat Park Kyung.


"Iya, ahjussi, aku baik-baik saja. Ahjussi bagaimana?" jawab Park Kyung dengan senyum terkembang. Sedangkan Nara hanya terdiam, lagi-lagi menatap Park Kyung dan Jin Woo bergantian karena mereka berbicara dengan bahasa Korea.


"Iya, tentu juga baik-baik saja. Aku harus baik-baik saja jika ingin menjadi petugas keamanan kan?" jawabnya sambil tertawa renyah. Nara tertegun. Kesan menakutkan yang tadi muncul pun sekarang hilang sudah, tergantikan dengan kesan hangat.


"Kau pasti kesini untuk bertemu Ji-Ho kan?" tanya Jin Woo sembari menepuk bahu Park Kyung dengan ramah. Park Kyung membalas dengan anggukan.


Pandangan Jin Woo kemudian beralih ke arah Nara. Tersenyum sedikit lalu berbalik ke arah Park Kyung lagi, "Lalu dia siapa?" tanyanya kembali.


"Ah, dia asisten stylist kami yang baru," jawab Park Kyung santai dan tidak semencurigakan mungkin sambil menunjuk Nara.


Nara yang sesungguhnya tidak mengerti apa yang Park Kyung dan Jin Woo bahas merasa dirinya sedang bicarakan karena Park Kyung menunjuknya. Bingung harus berkata apa, Nara hanya mengangguk sekali sambil tersenyum ke arah Jin Woo.


"Baiklah, kalian masuk saja. Sepertinya Ji-Ho sudah hampir selesai. Mungkin cuma 1 atau 2 lagi," Jin Woo mulai membukakan pintu di belakangnya, mempersilahkan Park Kyung dan Nara masuk.


"Gomawoyo ahjussi," sahut Park Kyung dan Nara bersamaan yang hanya dibalas dengan lambaian tangan Jin Woo saat mereka berdua mulai berjalan memasuki area backstage.


"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Nara saat mereka berdua berjalan ditengah temaramnya cahaya ruang backstage. Suara dentuman musik, suara Ji-Ho membawakan lagunya, serta suara penonton bersorak menyatu dan menggema hingga ke belakang panggung. Nara memegang dadanya yang berdegup kencang, efek dari gema itu, tapi untung saja di backstage ini tidak begitu banyak orang, jadi ia bisa sedikit tenang.


"Tentu saja aku tau, dulu aku kan kuliah disini. Saat banyak penggemar yang datang dan membuatku bahkan tidak bisa naik ke mobil, Jin Woo ahjussi yang selalu membantuku," jelas Park Kyung panjang lebar. Ia berbelok ke sisi kanan ruangan dan terus melangkah hingga mencapai pintu putih bertuliskan nama Woo Ji-Ho di depannya.


"Ayo masuk," Park Kyung memutar kenop, mendorong daun pintu, dan mempersilahkan Nara masuk terlebih dahulu sebelum ikut melangkah masuk.


Ruangan tunggu itu cukup kecil, hanya berukuran 2 x 2 meter dengan nuansa putih di dalamnya. Tidak ada orang, hanya ada meja rias, gantungan baju, serta meja kecil yang diatasnya tertata berbagi aksesoris di sisi kanan ruangan dan satu sofa panjang di seberangnya. Di atas kaca rias terpajang televisi 20 inchi yang sedang memutarkan penampilan live dari acara yang sedang berlangsung di gedung Main Hall. Jadi saat ini di televisi itu sedang terpampang Ji-Ho yang melompat kesana kemari di atas panggung membawakan lagunya.


Pandangan Nara langsung saja tertuju pada layar. Berdiri di tengah-tengah ruangan, ia tidak sadar dirinya kini setengah menganga dengan mata membulat penuh binar menonton Ji-Ho. Padahal kalau dipikir-pikir sudah hal biasa dirinya menonton Ji-Ho dari layar -ponsel, komputer, laptop, maupun televisi-, tapi entah kenapa dirinya selalu saja terpana bego tiap melihat penampilan Ji-Ho yang baru.


Di belakangnya, Park Kyung berkali-kali menyuruhnya untuk duduk di sofa, menonton dari sana. Tapi Nara tidak bergeming, ia sudah tidak mendengarkan apa-apa lagi selain suara Ji-Ho yang keluar dari speaker televisi.


Pada akhirnya Park Kyung pun menyerah. Sudut bibirnya hanya terangkat menampilkan senyum tipis melihat tingkah Nara. "Kalau seperti ini, tidak mungkin rasa suka Ji-Ho bertepuk sebelah tangan," batinnya dalam hati.


x-x-x